Perempuan-perempuan-Pemanggul-Senapan

INTERMESO

Perempuan Anti-ISIS Pemanggul Senapan

“Aku bilang, ‘Aku juga bisa pegang senapan, mengapa aku tak boleh berperang?’”

Prajurit perempuan dari Kurdistan di Rojava, Suriah, pada November 2015

Foto: John Moore/Getty Images

Jumat, 9 September 2016

Mereka adalah perempuan yang marah. Mereka adalah perempuan yang menyimpan dendam. Bagaimana darah yang mengalir di pembuluh darah mereka tak pekat oleh dendam kesumat jika saudara mereka, kerabat mereka, diusir dari rumah, dibunuh, dan diperkosa.

Khatoon Khider masih ingat betul ketika, pada suatu Agustus yang panas dua tahun lalu, prajurit-prajurit Negara Islam alias ISIS datang ke kampung mereka di Sinjar, Provinsi Nineveh, Irak. Tetangga-tetangga mereka meyakinkan keluarga Khatoon dan warga keturunan Yazidi lain bahwa mereka tak akan diganggu oleh prajurit ISIS.

Tapi apa yang terjadi kemudian adalah “neraka” bagi komunitas Yazidi. Dari atas truk yang mengangkut mereka, prajurit-prajurit ISIS menumpahkan peluru ke rumah-rumah keluarga Yazidi. Bagi ISIS, menurut Khatoon, dia dan keluarganya adalah penyembah setan yang tak pantas hidup.

Tapi itu semua belum cukup. Aku tak akan berhenti sampai mereka semua mati.”

Keluarga Khatoon dan kerabatnya berhembalang, lari menyelamatkan diri dari maut yang ditebar prajurit ISIS. Hanya baju yang menempel di badan yang mereka bawa menyelamatkan diri menuju Pegunungan Sinjar. Selama berhari-hari, nyaris tanpa makanan dan minuman, mereka menyeret kaki menjauhi kampung halaman yang sudah berabad-abad, turun-temurun menjadi rumah bagi komunitas Yazidi.

“Kami tak punya makanan dan minuman…. Tak ada pula susu untuk bayi-bayi kami,” Khatoon menuturkan kisah pedih pelarian mereka, kepada Telegraph, beberapa pekan lalu. “Aku melihat sendiri orang-orang tua yang ditinggal di pinggir jalan lantaran keluarga mereka tak sanggup lagi menjaganya. Aku melihat bayi-bayi yang mati pelan-pelan.…”

Prajurit-prajurit perempuan Peshmerga dari keturunan Yazidi
Foto: Reuters

Beberapa saudara perempuannya yang tertinggal dan akhirnya tertangkap prajurit ISIS dipaksa menjadi budak dan dipaksa menikah dengan prajurit ISIS. Seorang teman perempuan Khatoon, Ceylan, memutuskan gantung diri ketimbang hidup teraniaya. “Dia menggantung diri di kamar mandi saat diminta bersiap untuk dikawinkan,” kata Khatoon, 36 tahun.

Kadang Khatoon dan para perempuan Yazidi yang berhasil selamat dari pembantaian ISIS tak habis pikir dengan kekejaman milisi itu. Padahal, sebagian dari mereka, kata Asema Dahir, 21 tahun, merupakan tetangga di Sinjar. “Mereka membunuh pamanku dan menawan istri sepupuku. Padahal dia baru delapan hari menikah,” kata Asema kepada Al-Arabiya.

Tak sudi diinjak oleh ISIS, Khatoon, Asema, Hasiba Nauzad, dan para perempuan Yazidi angkat senapan. Khatoon, yang gemar menyanyi, minta restu kepada ayahnya, veteran Perang Irak-Iran pada 1980-an, untuk “berperang” melawan ISIS.

“Aku mencium kedua tangan ayahku dan melihat dia berlinang air mata…. Ayahku mengatakan ini pekerjaan yang sangat berbahaya,” kata Khatoon. Tapi tekadnya sudah bulat. “Aku meyakinkan ayahku bahwa aku harus siap berkorban demi harga diri kami, keluarga, dan orang-orang Yazidi.”

Guavara, salah satu prajurit perempuan di Tentara Pembebasan Suriah.
Foto: Reuters

Bersama ratusan perempuan Yazidi lain, Khatoon bergabung dengan milisi perempuan Peshmerga, pasukan paramiliter dari Kurdistan di wilayah utara Irak. Mereka meninggalkan sekolah, pekerjaan, bahkan suami, demi harga diri Yazidi. Selama beberapa pekan, para perempuan yang sebelumnya tak pernah pegang senapan ini digenjot latihan tempur oleh prajurit Peshmerga. Sudah kenyang susah dan derita selama lari dari ISIS, latihan perang itu sama sekali tak jadi soal bagi mereka. “Kami diperlakukan sama seperti prajurit laki-laki,” kata Khatoon.

Sudah berbulan-bulan Khatoon dan teman-temannya bertempur melawan ISIS. Sudah beberapa prajurit ISIS yang mati di ujung senapan Khatoon, juga puluhan lain yang mati ditembak prajurit perempuan Yazidi. “Tapi itu semua belum cukup. Aku tak akan berhenti sampai mereka semua mati,” kata Denis, 30 tahun, dikutip Independent. Dia dan teman-temannya bertugas berjaga di luar Desa Kanonshor, di sisi timur Pegunungan Sinjar.

* * *

Dia mengaku sebagai Guevara. Dia seorang perempuan asal Aleppo, Suriah. Guevara jelas bukan nama dia yang sebenarnya.

Mantan guru bahasa Inggris itu terinspirasi nama Ernesto “Che” Guevara, gerilyawan kiri legendaris asal Argentina yang mati di Bolivia puluhan tahun lalu. Sementara Che Guevara angkat senjata melawan rezim-rezim kapitalis, Guevara perempuan asal Aleppo itu angkat senapan melawan rezim Bashar al-Assad di Suriah.


Prajurit-prajurit perempuan Peshmerga dari keturunan Yazidi
Foto: Reuters

Guevara punya dendam sedalam lautan terhadap rezim Assad. Beberapa tahun lalu, dua anaknya, perempuan 10 tahun dan anak laki-laki 7 tahun, tewas dihajar bom yang dijatuhkan pesawat-pesawat tempur loyalis Presiden Assad.

“Anakku sering ketakutan jika ada serangan bom. Dia selalu bertanya apa yang terjadi. Biasanya aku akan berkata, ‘Aku berjanji akan menjaga masa depan kalian,’” kata Guevara kepada Telegraph. Setelah dua anaknya direnggut mesin-mesin tempur Assad, dia punya janji lain untuk anak-anaknya. “Aku tak akan melupakan darah anak-anakku dan akan membalasnya.”

Dengan hijab menutup kepala, Guevara tak tampak seperti “malaikat maut” di Aleppo. Di antara reruntuhan bangunan di kota itu, Guevara mengincar musuh-musuhnya dari balik teropong senapan laras panjang FN. Dari seorang guru bahasa Inggris, perempuan itu menjelma jadi penembak jitu jarak jauh untuk pasukan anti-Assad, Tentara Pembebasan Suriah.

Prajurit-prajurit perempuan Peshmerga dari keturunan Yazidi
Foto: Reuters

“Setiap kali tembakanku mengenai sasaran, aku merasa lebih baik,” kata Guevara. Sebelum perang, Guevara memang pernah berlatih menembak bersama milisi di Libanon. Tapi keterampilan itu tak pernah dia pakai hingga anak-anaknya mati.

Perang telah mengubah perempuan itu. Guevara mengaku bisa menikmati perang melawan rezim Assad. Suaminya, salah satu komandan milisi anti-Assad, sempat melarangnya ikut angkat senjata. Guevara malah balik mengancam. Jika dia tak diizinkan berangkat ke medan tempur, dia minta cerai. “Aku bilang, ‘Aku juga bisa pegang senapan, mengapa aku tak boleh berperang?’”

Di medan tempur, Guevara disegani kawan dan lawan. Menurut dia, tak mudah jadi sniper. “Kalian harus hati-hati, sigap, dan pintar…. Jangan sampai mereka menembakmu lebih dulu,” kata Guevara. Kadang dia harus bersabar saat mengincar sasaran. “Kadang aku menunggu sampai berjam-jam.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE