INTERMESO
Berangkat haji melalui negara-negara tetangga bisa lebih mudah, murah, dan tak perlu antre.
Suasana Masjid Nabawi, Madinah
Foto: Thinkstock
Kabar perusahaan melakukan restrukturisasi diterima Eko Kusumawijaya dengan waswas. Ia akhirnya menerima surat keputusan mutasi ke kantor pusat PT Philips Seafood di Bangkok, Thailand, pada 2007. Rencananya menunaikan ibadah haji pada 2008 pun terancam buyar. Benar saja, bos-bosnya memberitahukan, Eko tak diizinkan berhaji pada tahun pertama berkantor di Bangkok. “Akhirnya kursi haji saya dan istri hangus, rasanya pahit banget,” kata Eko saat dihubungi detikX, Jumat, 26 Agustus 2016.
Namun niat berhaji pria yang kini berusia 46 tahun itu sudah bulat. Ia pun mencari-cari informasi kemungkinan berangkat dari Thailand. Sungguh di luar dugaannya, mengurus haji di Negeri Gajah Putih ternyata jauh lebih mudah dibandingkan dengan di Indonesia. Proses pendaftaran dan keberangkatan bisa dilakukan pada tahun yang sama alias tak perlu antre bertahun-tahun. Maklum, calon jemaah haji di negeri itu tak sebanyak di Indonesia. Saat mendaftar pun dia tak perlu izin khusus, cukup melampirkan dokumen izin kerja dari perusahaan. “Ditambah surat keterangan dari Kedutaan Besar RI dan sudah mendapatkan vaksin,” kata ayah satu anak itu.
Berangkat haji dari Thailand sangat mudah. Bahkan biayanya lebih murah daripada ONH plus di Indonesia."
Eko dan istrinya, Nina Ginasari, mendaftar pada Juli 2008 ke sebuah agen perjalanan dan dijadwalkan berangkat pada awal Desember 2008. Rupanya, akibat krisis ekonomi di Amerika Serikat, perusahaan pengolahan seafood tempat Eko bekerja terpaksa melakukan perombakan besar-besaran. Dia dikembalikan ke Lampung pada September 2008. Padahal proses pengurusan haji di Bangkok hampir selesai. Karena itu, Eko dan istrinya memutuskan melanjutkan proses itu sampai visa haji dikeluarkan Kedutaan Arab Saudi di Bangkok.
Rencana perjalanan pun disusun. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu merancang berangkat dari Jakarta menuju Bangkok pada 28 November 2008. Ternyata saat itu Thailand tengah dilanda krisis politik. Demonstrasi antipemerintah terjadi secara besar-besaran. Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, yang menjadi tujuan Eko, dikuasai demonstran dan ditutup. Begitu juga Bandar Udara Don Muang. “Terpaksa kami mengambil jalur alternatif,” ujar Eko.
Edwin bersama rombongan komunitas muslim di Victoria, Australia, di Madinah
Foto: dok. pribadi Edwin via Facebook
Eko Kusumawijaya dalam acara peluncuran bukunya, Haji Ngeteng
Foto: dok. pribadi Eko via Facebook
Eko Kusumawijaya bersama istri
Foto: dok. pribadi Eko via Facebook
Ia akhirnya mengubah tujuannya ke Kuala Lumpur, Malaysia. Dari Kuala Lumpur, mereka menuju sebuah kota kecil di wilayah selatan Thailand bernama Krabi. “Setelah itu, kami melewati perjalanan darat 11 jam ke Bangkok.”
Setelah Eko tiba di Bangkok, ternyata masalah belum selesai. Eko dan calon jemaah haji lainnya, termasuk 10 warga negara Indonesia lainnya, menghadapi kendala belum dibukanya akses bandara. Berkat bantuan staf Kedutaan Besar RI di Bangkok, akhirnya mereka bisa berangkat melalui Phuket. “Rombongan kami harus jalan darat lagi ke selatan selama 10 jam,” kata Eko. Dari Phuket, dengan menumpang pesawat Egypt Air, mereka terbang menuju Jeddah melalui Kairo, Mesir.
Eko kemudian menuliskan pengalaman naik hajinya itu dalam buku Haji Ngeteng, yang diterbitkan pada 2012. Ia kini bermukim di Pati, Jawa Tengah, dan bekerja di PT Dua Putra Utama Makmur, sebuah perusahaan pengolahan seafood.
Agen perjalanan haji di Australia ditunjuk langsung oleh Kedutaan Besar Arab Saudi. Tiap agen punya kuota dan biasanya tidak terisi penuh."
Sebenarnya, kata Eko, jika tak ada masalah, berangkat haji dari Thailand sangat mudah. Bahkan biayanya lebih murah daripada ongkos naik haji (ONH) plus di Indonesia. “Saya ketemu jemaah dari Indonesia di hotel, dengan fasilitas yang sama, biaya dari Thailand lebih murah,” ujarnya. Ia mengaku mengeluarkan biaya Rp 52 juta untuk perjalanan haji selama 12 hari, sementara ONH plus dari Indonesia saat itu sekitar Rp 80 juta.
Kelebihan lain, kata Eko, komunitas muslim asal Indonesia di Thailand yang pernah berhaji biasanya dengan senang hati memberi pelatihan manasik kepada calon jemaah. “Manasik kami lakukan di kantor Kedutaan,” katanya.
Pengalaman berhaji dari luar negeri pun disampaikan Edwin Widodo, yang saat ini bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Pada 2013, saat menempuh studi doktoral di University of Melbourne, dia menyempatkan diri berangkat ke Tanah Suci. “Tahun sebelumnya saya mencari informasi kira-kira berangkat haji dari Australia itu caranya bagaimana. Kebetulan di sana ada komunitas muslim Indonesia,” ujar Edwin.
Edwin Widodo di Mekah
Foto: dok. pribadi Edwin via Facebook
Komunitas muslim Indonesia di Melbourne secara rutin menggelar pengajian. Biasanya, mendekati musim haji, ada latihan manasik dan informasi mengenai haji. Dari informasi yang didapatkan, ternyata syarat berhaji cukup mudah. Selain bagi warga negara Australia dan warga negara asing yang punya visa seumur hidup, pengajuan permohonan visa haji dimungkinkan bagi warga negara asing yang sudah menetap minimal dua tahun di Australia. “Visa saya pelajar, saya dua tahun lebih di Australia berdasarkan cap di paspor,” ujar pria berumur 35 tahun itu.
Edwin, yang berada di Melbourne sejak 2010, akhirnya mendaftar kepada agen perjalanan milik warga Australia keturunan Mesir. “Saya mencari travel agent yang jemaahnya paling banyak dan berpengalaman sejak 1983.”
Agen perjalanan haji di Australia ditunjuk langsung oleh Kedutaan Besar Arab Saudi. Kedutaan, kata Edwin, tidak akan mengeluarkan visa haji di luar yang diajukan agen-agen yang sudah ditunjuk. “Tiap agen punya kuota dan biasanya tidak terisi penuh.” Paket yang ditawarkan agen bervariasi, dengan kisaran Rp 70-80 juta. Namun fasilitas yang didapatkan pun cukup sebanding. Akomodasi, transportasi, dan konsumsi yang diterima jemaah haji cukup baik. “Di Arafah, tenda dilengkapi dengan karpet dan sofa lipat.”
Jemaah haji di sela-sela menunaikan syarat dan rukun haji
Foto: dok. pribadi Edwin via Facebook
Edwin mendaftar pada Maret 2013, dan baru melunasi biaya pada Juli. Sedangkan seluruh dokumen untuk keperluan visa haji diserahkan pada pertengahan Agustus. Ia berangkat menuju Mekah pada akhir September. Acara pelepasan jemaah haji bersama 40 orang Indonesia lainnya dilangsungkan secara sederhana di Masjid Westall, masjid komunitas Indonesia di Melbourne. “Tapi ada juga yang minta berangkat dari Jakarta dan ketemu rombongan di Dubai. Pingin mampir dulu ke Indonesia, ketemu keluarga. Mungkin pulang buat syukuran,” kata Edwin.
Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.