Bayi-bayi-Made-in-India

INTERMESO

Bayi-bayi Made in India

“Kami mendapatkan uang dan pasangan-pasangan itu bahagia…. Kenapa pemerintah malah keberatan?”

Para perempuan yang "dititipi" janin oleh pasangan yang punya masalah kehamilan
Foto: Business Insider

Selasa, 30 Agustus 2016

Shanti, bukan nama sebenarnya, dan suaminya sudah lama berharap bisa segera menimang cucu. Tapi putra mereka tak berniat naik pelaminan. Pasangan asal Kolkata, India, itu tinggal berharap pada ibu pengganti atau surrogate mother dan donor sel telur supaya bisa memiliki cucu.

Putra mereka sudah bersedia punya anak lewat ibu pengganti, tapi harapan Santhi dan suaminya kini perlahan luntur. “Kami sangat berharap bisa punya cucu…. Tapi sekarang sepertinya tak mungkin lagi,” kata Shanti, kepada Times of India, pekan lalu. Padahal putranya sudah dua kali mencoba punya anak dari dua ibu pengganti. “Dua usaha pertama gagal…. Kami sudah menghubungi lagi agen ibu pengganti untuk mencari calon ibu yang lain.”

Pada 2012, pemerintah India menerbitkan larangan “jasa” ibu pengganti untuk pasangan homoseksual. Tiga tahun kemudian, pada Oktober 2015, giliran jasa ibu pengganti bagi pasangan suami-istri warga asing yang dilarang. Desas-desus yang berembus mengabarkan, dalam Rancangan Undang-Undang Teknologi Proses Reproduksi dengan Bantuan yang tengah digodok pemerintah India bersama parlemen, jasa ibu pengganti juga bakal tertutup bagi pasangan suami-istri warga India.

Padahal, selama bertahun-tahun, media memberi julukan India sebagai “Ibu Kota Ibu Pengganti Dunia”. Setiap tahun—tak ada data resmi—diduga ada ribuan bayi made in India yang lahir dari rahim ibu India di lebih dari 3.000 klinik kesuburan di negara itu. Bayi-bayi itu kemudian dibawa pulang oleh orang tua biologisnya ke kampung halaman mereka.

Bayi dari seorang ibu pengganti di Anand, Gujarat, India
Foto: World Crunch

Jika kalian bertanya apakah kami merasa puas dengan bayaran yang kami terima, aku tak tahu."

Priya, ibu pengganti dari Kota Bangalore

Penelitian yang disokong Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2012 menghitung ada lebih dari US$ 400 juta atau Rp 5,3 triliun duit yang berputar dalam bisnis jasa ibu pengganti di India. Sebagian besar pemakai jasa “titip” janin ini memang bukan berasal dari dalam negeri, melainkan pasangan dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan negara-negara makmur lain.

Di beberapa negara seperti Australia, Kanada, Italia, dan Prancis, jasa “titip” janin di rahim ibu lain seperti di India merupakan praktek haram. Australia dan Kanada hanya mengizinkan ibu pengganti secara sukarela tanpa bayaran. Di Amerika, walaupun praktek ibu pengganti tak dilarang, ongkosnya sangat mahal. Orang yang hendak memakai jasa ibu pengganti paling tidak mesti menyiapkan ongkos sekitar US$ 100 juta atau Rp 1,35 miliar.

Di India, ongkos punya anak lewat jasa “titip” janin ini hanya sepertiga biaya di Amerika. Bagi ibu-ibu dari keluarga miskin di India, duit dari hasil menyewakan rahim ini seperti “penyambung nyawa” bagi hidup mereka. Tiga tahun lalu, suami Sarika Gaikwad meninggal tanpa meninggalkan banyak harta bagi istri dan dua anaknya. Untuk menyambung hidup, Sarika, kini 30 tahun, bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Bayi dari seorang ibu pengganti di Ulhasnagar, India
Foto: VQR

Tapi berapalah gaji sebagai pembantu rumah tangga di Kota Pune. Setiap bulan, Sarika hanya membawa pulang gaji sekitar 3.000 rupee atau Rp 600 ribu. Jauh dari cukup untuk membayar sewa rumah dan menghidupi dia serta dua anaknya yang masih kecil.

Setahun lalu, dia memutuskan menyewakan rahimnya untuk pasangan suami-istri dari Kota Pune. “Seorang perantara menghubungi aku…. Dia mengatakan ada pasangan suami-istri yang punya masalah kesehatan dan tak mengandung anak,” kata Sarika kepada Indian Express. Sebelum menerima tawaran menjadi ibu pengganti, dia minta pendapat orang tua dan saudara-saudaranya.

Bagi keluarga itu, tawaran bayaran 400 ribu rupee atau hampir Rp 80 juta terang susah ditolak. Seumur-umur, Sarika tak pernah punya duit sebanyak itu. “Apalagi dokter dan pasangan suami-istri itu sangat perhatian…. Istrinya meneleponku hampir setiap hari menanyakan kondisiku,” Sarika menuturkan. Supaya tak jadi bahan gunjingan tetangga, bagaimana seorang janda bisa hamil, Sarika dan anak-anaknya “mengungsi” ke kota lain. Dua bulan lalu, bayi yang dititipkan di rahimnya tersebut lahir tanpa kurang satu apa pun.

Mendengar kabar rencana pemerintah India melarang jasa ibu pengganti, Sarika tak habis pikir. Berkat duit dari menyewakan rahimnya, dia bisa membelikan baju-baju yang bagus untuk kedua anaknya. “Sekarang aku juga punya biaya untuk sekolah mereka,” katanya. Bagi Sarika dan beberapa calon ibu pengganti, bisnis sewa rahim ini merupakan bisnis saling menguntungkan. Semuanya mendapat manfaat. “Kami mendapatkan uang dan pasangan-pasangan itu bahagia…. Kenapa pemerintah malah keberatan?” Lata Shinde, bukan nama sebenarnya, ibu pengganti asal Indira Nagar, Negara Bagian Karnataka, mengkritik rencana pemerintah India.

* * *

Sama halnya bisnis-bisnis lain, tak sedikit tipu daya dalam bisnis jasa ibu pengganti. Seperti biasa, pihak yang paling lemahlah yang hampir selalu jadi korban tipu-tipu itu, yakni ibu-ibu dari keluarga miskin tersebut.

Sebagian besar ibu-ibu pengganti ini tak paham bahasa Inggris dan tak mendapatkan surat kontrak untuk mengandung bayi selama sembilan bulan. Berapa besar duit yang akan mereka terima hanya disampaikan secara lisan. Dua tahun lalu, Divya bersedia mengandung bayi dari pasangan asal Australia. Sang perantara menjanjikan, dia akan menerima 3.000 rupee atau Rp 600 ribu per bulan untuk rupa-rupa kebutuhan.

Tapi ternyata lebih dari separuhnya dipotong oleh perantara itu. Saat bayi itu lahir, Divya, kini 29 tahun, juga hanya menerima 200 ribu rupee atau hampir Rp 40 juta, jauh dari rata-rata yang diterima ibu pengganti lain. Ibu muda asal Mumbai itu tak bisa berbuat apa-apa lantaran tak punya surat kontrak. Sebagian besar duit atas jasa menyewakan rahim tentu saja masuk ke pemilik klinik-klinik kesuburan.

Calon ibu-ibu pengganti di Anand, Gujarat, India
Foto: Hindustan Times


Hal seperti ini tak terjadi satu atau dua kali, tapi ribuan ibu-ibu miskin di India tak kapok menyewakan rahimnya. Bahkan ada sebagian ibu yang menyewakan rahimnya berkali-kali. “Jika kalian bertanya apakah kami merasa puas dengan bayaran yang kami terima, aku tak tahu…. Yang pasti, aku benar-benar butuh bayaran 300 ribu rupee itu untuk melunasi utang-utang suamiku,” kata Priya, ibu pengganti dari Kota Bangalore.

Bukan cuma perlindungan terhadap ibu-ibu pengganti ini yang sangat lemah, tapi juga kesadaran mereka mengenai dampak jangka panjang menyewakan rahim. Kadang ibu-ibu ini harus menjalani berkali-kali “uji coba” sampai akhirnya embrio yang dititipkan di rahim mereka bisa tumbuh besar dan selamat sampai lahir.

Bayi titipan itu telah membantu mereka memiliki dan membangun rumah."

“Sebagian besar ibu-ibu ini tak paham risiko kesehatan yang akan mereka tanggung,” kata Deepa V., aktivis kesehatan perempuan dari Sama. Pada sejumlah kasus, ibu-ibu ini harus menanggung berkali-kali keguguran dan kelahiran bayi prematur. “Dan berapa besar duit yang mereka terima? Kurang dari 500 ribu rupee…. Ketidakadilan ini tampak sekali di depan mata,” kata Ranjana Kumari, Direktur Pusat Riset Sosial.

Shivani Sachdev Gour, salah satu dokter di klinik kesuburan, berpendapat, mestinya pemerintah India tak menutup pintu, tapi memberikan jalan lain untuk bisnis jasa ibu pengganti. “Pemerintah berdalih, 99 persen ibu pengganti semata-mata berharap mendapatkan kompensasi. Tapi bagaimana dengan 99 persen pasangan yang berharap punya anak lewat ibu pengganti, apa alternatif untuk mereka?” Shivani, dikutip Indian Express, melontarkan pertanyaan.

Pemerintah, menurut Nayna Patel, pemilik klinik kesuburan yang sangat kondang di Kota Anand, Gujarat, mestinya juga memikirkan nasib ibu-ibu pengganti yang selama ini bergantung pada “honor” mengandung dan melahirkan bayi titipan.

“Bayi titipan itu telah membantu mereka memiliki dan membangun rumah…. Sekarang aku ingin bertanya kepada mereka yang mengkritik bisnis jasa ibu pengganti ini: apa yang kalian bisa lakukan untuk ibu-ibu ini? Apakah kalian bisa membantu mereka memiliki rumah dan menyekolahkan anak-anaknya?” tanya Nayna, lewat Hindustan Times.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim


Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE