INTERMESO

"Sejarah tanpa Bukti Visual Itu Hoax"

ANRI berusaha menarik kembali arsip dan foto-foto yang tersimpan di berbagai negara, terutama di Belanda. Juga mendekati beberapa keluarga tokoh nasional.

Kelompok tentara pelajar dengan kacamata hitam tengah berjalan santai
Foto: repro Th. van de Burgt - Nationaal Archief

Selasa, 23 Agustus 2016

Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari, 45 tahun, tersenyum simpul melihat foto sekelompok tentara pelajar yang berjalan santai. Tiga orang di antaranya tampak trendi memakai kacamata hitam dengan gagang tebal. Lengkap dengan baret di kepala, senjata disandang di bahu, serta amunisi dipinggang, mereka sangat percaya diri.

Tentara-tentara muda itu rupanya tahu akan dipotret. Dengan kompak mereka menoleh ke arah sang fotografer yang memotret mereka. "Zaman itu tentara kita sudah kenal kacamata hitam ya, itu kacamata rampasan?" kata Puti dalam nada tanya saat pembukaan pameran foto "71 th RI Bingkisan Revolusi" di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, Jumat malam, 19 Agustus 2016.

Foto yang menarik perhatian putri tunggal pasangan Guntur Soekarnoputra dan Henny Emilia Hendayani itu merupakan hasil penjepretan Th. van de Burgt, fotografer yang bertugas di Dienst Legercontacten (DLC) atau Army Contact Service. Sejarawan dari Yayasan Bung Karno, Rushdy Hoesein, menjelaskan kepada Puti, foto yang aslinya tersimpan di Nederland Nationaal Archief, Den Haag, Belanda, itu diambil saat penarikan pasukan Belanda dari Solo pada 12 November 1949. "Bukan kacamata rampasan, barang-barang seperti itu bisa didapatkan di pasar gelap di Solo dan Yogya saat itu," kata Rushdy.

Saya bertanya pada ayah seperti apa Eyang Karno. Yang dikeluarkan adalah lembaran foto-foto Bung Karno dan seluruh perjalanan sejarah yang pernah beliau torehkan bagi Indonesia."

Selain foto Th. van de Burgt, dipamerkan juga puluhan foto zaman revolusi yang dihasilkan dari sudut pandang prajurit Belanda lainnya, yakni Charles van der Heijden. Dari kamera Charles, yang berpangkat sersan dan bertugas di DLC, bisa dilihat aktivitas pasukan Belanda saat Agresi Militer I di Jawa Timur. Sebagian besar karya Charles kini tersimpan di Museum Bronbeek, Arnhem, yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Kerajaan Belanda.

Potret Bung Karno yang berada dalam pesawat Dakota juga menarik minat Puti. Foto koleksi Firman Ichsan, anak Sekretaris Negara Mochamad Ichsan, itu memperlihatkan Presiden Sukarno sedang bercakap santai dengan salah satu anggota rombongannya dalam perjalanan ke Aceh dan Sumatera Utara pada Juni 1948. Foto-foto itu hasil bidikan pewarta foto Indonesia Press Photo Service (IPPHOS).

Puti Guntur Soekarnoputri (pink) dan Meutia Farida Hatta (berkebaya cokelat) tengah mengamati foto Bung Hatta dalam pameran foto "71 th RI, Bingkisan Revolusi" di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, Jumat malam, 19 Agustus 2016.

Foto-foto: Yudhi Mahatma/Antara







Rombongan Presiden Sukarno menumpang pesawat Dakota dalam perjalanan ke Sumatera Utara dan Aceh.
Foto: Repro IPPHOS -- koleksi Firman Ichsan


Puti mengaku belum pernah melihat foto-foto perjalanan Presiden Sukarno ke Sumatera. Sebab, dia baru lahir jauh dari peristiwa sejarah tersebut. Keponakan Megawati Soekarnoputri itu baru lahir pada 26 Juni 1971. Ia mengaku foto-foto masa lalu menjadi salah satu bahan untuk berkenalan dengan sosok kakeknya, Bung Karno. "Saya bertanya pada ayah, seperti apa Eyang Karno. Yang dikeluarkan adalah lembaran foto-foto Bung Karno dan seluruh perjalanan sejarah yang pernah beliau torehkan bagi Indonesia."


Direktur Eksekutif Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Oscar Motuloh mengatakan merawat dan melestarikan sejarah sebagai bekal pembelajaran bagi generasi masa kini dan mendatang adalah hal yang mulia dan heroik. Tak kalah dengan bagaimana cara memperoleh kemerdekaan itu. Pameran foto mulai dari kemerdekaan sampai penyerahan kedaulatan ini, menurut dia, merupakan salah satu misi merawat kemerdekaan dengan segala keterbatasannya. “Karena sejarah tanpa bukti visual itu nol. No pict hoax kata anak sekarang," kata Oscar, yang juga kurator pameran tersebut.

Pengumpulan materi pameran, penerima Penghargaan Kebudayaan 2015 dari Kementrian Pendidikan itu melanjutkan, berlangsung hampir dua tahun. Kesulitannya adalah bagaimana mendapatkan sumber primer, bukan sekedar hasil repro. Menggunakan sumber primer menjadi sangat penting terutama untuk fotografi karena itu artinya menghargai para perintis negeri untuk membangun Republik Indonesia. Ribuan foto pun lantas dipilih dan dipilah. "Foto peristiwa, kalau cuma sekedar peristiwa yang tidak mengandung tonggak sejarah, akan kita pinggirkan. Bukan berarti tidak penting. Pada saatnya nanti mungkin akan berarti," ujar Oscar.

Pamflet Propaganda Republik
Foto: Koleksi ANRI

Seluruh materi pameran yang berjumlah 253 itu juga dibukukan sebagai bagian dari upaya merawat kemerdekaan. Pameran yang digelar hasil kerja sama Antara Foto, Museum Bronbeek, dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) tersebut akan digelar sampai 19 September mendatang. Bukan hanya foto-foto bersejarah, dalam pameran itu juga ditampilkan arsip-arsip, poster, filateli, serta komik strip Put On di koran Sin Po, dan Wiro Anak Rimba.

Direktur Layanan dan Pemanfaatan ANRI Agus Santoso mengatakan ANRI berinisiatif mendekati beberapa keluarga tokoh nasional untuk menyerahkan arsip-arsipnya yang berkaitan dengan sejarah. ANRI, kata Agus, menjanjikan perawatan maksimal atas arsip-arsip tersebut. "Kita lakukan pendekatan secara humanis. (Foto) asli kita ambil, mereka kita kasih softcopy," ujar Agus.

Selain itu ANRI berusaha menarik kembali arsip dan foto-foto yang tersimpan di berbagai negara, terutama di Belanda. Sayang, usaha tersebut tak mudah. "Belanda juga menginginkan arsip tersebut. Jadi langkah yang bisa dilakukan meminta softcopy. Begitu juga sebaliknya."


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim


Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.