INTERMESO
“Aku selalu bermimpi untuk hijrah ke Israel…. Tapi, justru di Israel, aku kehilangan anakku.”
Yahudi Yemenite di Aden, Yaman
Foto: Haaretz-GPO
Kendati kulitnya lebih legam dan fisiknya tak mirip dengan kedua orang tuanya, Gil Grunbaum tak pernah mempertanyakan hubungannya dengan ayah-ibunya. Selama 40 tahun, Gil percaya bahwa merekalah orang tuanya yang sebenarnya.
Padahal istrinya kerap bertanya, mengapa Gil tak punya foto saat dia masih bayi. Gil juga tak memiliki akta kelahiran. Rahasia itu baru terungkap saat istri Gil menghubungi Dinas Kesejahteraan Anak Israel. Tak sengaja, petugas yang mestinya merahasiakan informasi soal anak-anak yang diadopsi memberi tahu bahwa Gil merupakan anak angkat keluarga Grunbaum, pengusaha garmen asal Tel Aviv.
Dua lembar dokumen adopsi di Dinas Kesejahteraan sama sekali tak menjelaskan siapa orang tua biologis Gil Grunbaum. Gil segera mencium ada yang tak beres dalam proses adopsinya. “Aku melihat ada yang mencurigakan. Di dokumen adopsi itu tak ada tanda tangan orang tuaku maupun hakim,” Gil menuturkan kepada Al-Jazeera beberapa hari lalu.
Gil benar-benar tak menyangka dia hanya anak angkat kedua orang tuanya. Selama beberapa pekan dia hanya bengong. “Sepanjang hari aku hanya menatap layar televisi dengan tatapan kosong, terus memikirkan hidupku selama ini,” kata Gil. Dia memutuskan keluar dari pekerjaan. “Aku tak bisa berkonsentrasi.”
Yahudi Yemenite diterbangkan dari Aden ke Israel
Foto: Haaretz
Menelusuri siapa orang tuanya bukan urusan gampang. Kendati tahu siapa orang tua biologis Gil, petugas Dinas Kesejahteraan menolak memberikan datanya. Selama tiga tahun, dia menelusuri sendiri jejak ayah dan ibu kandungnya lewat para tetangga orang tuanya, hingga akhirnya menemukan mereka.
Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ibu kandung Gil masih hidup dan tinggal di Kota Haifa. Ibu dan ayahnya merupakan imigran Yahudi dari Tunisia. Lebih dari setengah abad lalu, mereka tiba di Israel. Beberapa tahun setelah tinggal di Israel, pada 1956 sang ibu melahirkan bayi Gil Grunbaum. Kepada ayah dan ibunya, perawat di rumah sakit mengabarkan bahwa bayi mereka meninggal dan sudah dikuburkan. Mereka tak pernah melihat jenazah, apalagi nisan makam anaknya.
Puluhan tahun meyakini bahwa anaknya telah meninggal, ibu Gil, yang shock berat, sempat menolak bertemu dengan anaknya yang hilang. Ketika akhirnya bertemu dengan anaknya yang dikabarkan telah meninggal puluhan tahun lalu itu, ibu Gil tak bisa menahan haru. “Dia memelukku dan kami bertangisan,” kata Gil, kini 60 tahun.
Khawatir menyakiti hati orang tua angkatnya, Gil tak pernah memberi tahu mereka bahwa dia sudah menemukan ibu kandungnya. Sekarang kedua orang tua angkatnya sudah meninggal. Melihat dokumen adopsi yang tak lengkap, Gil menduga orang tua angkatnya tahu ada “masalah” dalam proses adopsi anaknya.
Gil Grunbaum adalah satu di antara ratusan, bahkan mungkin ribuan, anak-anak Yahudi yang “dicuri” dari orang tua kandungnya pada akhir 1940-an hingga pertengahan 1950-an. Saat itu, kala negara Israel masih sangat muda dan miskin, ada ratusan ribu imigran Yahudi yang hijrah dari sejumlah negara.
Yahudi Yemenite di lokasi penampungan di Israel pada 1950
Foto: Haaretz
Di tengah keriuhan dan kekacauan administrasi itulah anak-anak imigran Yahudi, yang datang dari Yaman, Tunisia, Irak, dan sebagainya, tersebut “hilang”. Pemerintah Israel sudah empat kali membentuk komite untuk menyelidiki kasus hilangnya anak-anak itu—sebagian besar anak-anak Yahudi dari Yaman atau Yemenite.
“Anak-anak itu diambil dan diberikan kepada orang lain. Aku tak tahu mereka dibawa ke mana…. Mungkin kita tak akan pernah tahu,” kata Tzachi Hanegbi, kepada stasiun televisi Channel 2, beberapa pekan lalu. Tzachi adalah menteri yang ditugasi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menginvestigasi kembali kasus anak-anak yang hilang setengah abad lalu. Menurut Tzachi, belum ada bukti keterlibatan pemerintah Israel dalam hilangnya anak-anak tersebut.
* * *
Ribuan anak-anak Yahudi yang hilang itu barangkali tak akan bernasib “baik” seperti Gil Grunbaum, Tziona Heiman, dan Tzila Levine. Gil, Tziona, dan Tzila berhasil bertemu dengan ibu kandungnya setelah berpuluh tahun terpisah.
Pada 1949, Margalit Umaysi, 18 tahun, belum setahun melahirkan saat keluarga dan kerabatnya memutuskan hijrah ke Israel. Dari Sada, kota kecil di wilayah utara Yaman, mereka berjalan kaki selama tiga hari ke kamp penampungan Geula di luar Kota Aden. Di Geula, mereka menunggu jadwal untuk diterbangkan ke Israel. “Aku selalu bermimpi untuk hijrah ke Israel,” kata Margalit. “Tapi, justru di Israel, aku kehilangan anakku.”
Setelah tiba di kamp penampungan Rosh Ha’ayin, Margalit diminta membawa bayinya, Sadaa, ke klinik untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Kepada LA Times beberapa tahun lalu, Margalit menuturkan, perawat di klinik itu tak mengizinkannya membawa pulang bayinya. Dia hanya boleh membesuk dan menyusui anaknya.
Sampai suatu hari, Sadaa tak ada lagi di klinik itu. “Pada malam harinya aku masih menyusui dia, tapi pagi harinya anakku sudah tak ada lagi di sana,” kata Margalit. Perawat, dokter, dan petugas keamanan di klinik itu mengaku tak tahu di mana Sadaa. Selama dua tahun, Margalit terus mencari bayinya yang hilang, tapi tanpa hasil. Margalit menikah kembali dan punya anak lain. “Tapi aku tak pernah kehilangan harapan untuk anak yang hilang.”
Bayi Margalit yang hilang itu diadopsi oleh pasangan imigran Yahudi dari Polandia, Mordechai dan Anda Rosen. Mereka tinggal di permukiman Yahudi Ashkenazi di kota kecil di wilayah utara Israel. Bayi Sadaa sudah berganti nama menjadi Tzila. Saat Tzila berumur 6 tahun, Mordechai memberi tahunya bahwa dia merupakan anak angkat. Namun ayah angkatnya itu mengaku tak tahu siapa ayah dan ibu kandung Tzila. Menurut Mordechai, dia mendapatkan Tzila dari seorang dokter anak di Kota Haifa. Di klinik dokter itu, ada bayi-bayi lain yang menunggu orang tua angkat.
Setelah dewasa, Tzila menikah dengan Carl Levine dan hijrah ke California, Amerika Serikat. Namun hasrat Tzila untuk menelusuri jejak orang tua kandungnya tak pernah padam. Melihat kulitnya yang legam dan setelah menyimak berita soal anak-anak Yahudi dari Yaman yang hilang, Tzila yakin bahwa dia salah satu dari mereka.
Dengan bantuan Sampson Giat, Presiden Asosiasi Yahudi Yemenite Amerika, dan pengacara Israel, Rami Zuberi, Tzila mencari jejak ibunya. Dia memasang iklan di surat kabar Israel dan memasang fotonya saat masih kecil. Melihat iklan di koran itu, Margalit langsung mengenali anaknya. Dia segera menghubungi Rami Zuberi.
Untuk memastikan hubungan darah Tzila dengan Margalit, dengan bantuan Hasan Khatib, peneliti di Universitas Hebrew, Yerusalem, dilakukan tes DNA. Hasilnya, 99,99 persen ada hubungan darah di antara mereka. “Aku yang melahirkanmu…. Aku tahu,” kata Margalit kepada Tzila alias Sadaa. Tzila sempat tinggal bersama Margalit di rumahnya di Ramat Gan, daerah pinggiran Kota Tel Aviv.
Apa yang terjadi dengannya, kata Tzila kepada New York Times, merupakan bukti bahwa “pencurian” anak-anak Yahudi itu benar-benar terjadi. “Akulah bukti hidupnya,” kata Tzila Levine, kini 67 tahun. “Pencurian anak ini tindakan yang tak bisa diterima…. Sudah waktunya pemerintah Israel meminta maaf dan mengungkapnya.”
Sampai hari ini, kasus hilangnya anak-anak Yahudi itu tetap jadi teka-teki dan masih jadi bahan silang pendapat. Shifra Shvarts, peneliti di Universitas Ben Gurion, dan Dov Levitan, peneliti soal Yahudi Yemenite di Universitas Bar-Ilan, tak percaya bahwa “pencurian” anak tersebut merupakan satu tindakan sistematis dan terorganisasi. “Kondisi saat itu benar-benar kacau,” kata Shifra kepada majalah Tablet.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.