INTERMESO

Tukang Loak Dulu, Penyair Kemudian

Pada masa pendudukan Jepang, Chairil Anwar bekerja dengan jual-beli barang-barang bekas. Dibantu Des Alwi dan modal pinjaman dari Sutan Sjahrir.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 15 Agustus 2016

Tak lama setelah tentara Jepang datang, Chairil Anwar dan ibunya, Saleha, tiba di Jakarta pada Juli 1942. Keduanya menumpang di paviliun tamu kediaman Sutan Sjahrir di Jalan Latuharhary Nomor 19. Setelah beberapa hari, dia memberanikan diri menghadap sang paman. Kepada Sjahrir, dia meminjam uang untuk modal berdagang barang-barang bekas. Dia optimistis, nyonya-nyonya Belanda yang suaminya ditahan Jepang pasti bakal menjual barang-barang milik mereka untuk bekal menyambung hidup.

Sjahrir tak berkeberatan. Bukan cuma kagum terhadap semangat juang Chairil untuk bertahan hidup di Jakarta, tapi Sjahrir juga amat terkesan oleh kemampuan bahasa Inggris dan Belanda keponakannya itu. “Tapi, kalau di rumah, kami bercakap dalam dialek Banda,” tulis Des Alwi, anak angkat Sjahrir asal Banda, dalam buku Friends and Exiles: A Memoir of the Nutmeg Isles and the Indonesian Nationalist Movement terbitan Cornell University, 2007.

Sjahrir, Des Alwi melanjutkan, kemudian memberi modal 50 gulden. Syaratnya, Des harus ikut serta sembari menunggu masa sekolah yang masih dua bulan berselang. Dalam rencana Chairil, yang disapa Nini oleh Des, barang-barang bekas yang bisa dibeli untuk dijual kembali adalah sepeda, radio, serta barang pecah-belah dari keluarga Belanda dan Indo-Eropa, lalu dijual kepada orang Indonesia.

Sutan Sjahrir
Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Mengapa kamu tidak rampok bank sekalian? Sama saja kamu curi sepasang sepatu atau 10 ribu gulden. Mencuri, ya, mencuri."

Sjahrir, paman Chairil Anwar

Dengan uang 50 gulden itu, Chairil dan Des berkeliling dari rumah ke rumah di kawasan Menteng. Barang pertama yang mereka beli adalah sepeda milik seorang nyonya Belanda. Harganya 35 gulden. Dua hari kemudian, sepeda itu laku dijual kepada Amir Hamzah, seorang pengacara muda teman Sjahrir, seharga 37 gulden. Dari keuntungan tersebut, Chairil, yang merupakan anak seorang bupati di Riau, membeli buku-buku karangan Multatuli, sementara Des mendapat lampu dan dinamo dari sepeda sebelum dijual.

Suatu hari, tulis Des, Chairil menemukan dua kotak kayu besar berisi aneka barang, di antaranya sepasang sepatu bot berukuran besar dan beberapa lampu listrik. Untuk sepatu bot, mereka menjualnya di Pasar Senen seharga 2 gulden, sementara lampu dijual 50 sen per buah. Seperti biasa, Chairil lalu membelanjakan uang perolehannya dengan memborong buku-buku bekas berbahasa Belanda dan Inggris. Sedangkan Des membeli ban untuk sepeda. “Kami juga membeli buah-buahan untuk seisi anggota rumah,” tulisnya.

Dalam perjalanan, Des menyarankan Chairil untuk memberitahukan soal barang-barang yang ditemukan di gudang itu kepada Sjahrir. Chairil mengaku sudah berkali-kali menyampaikan hal itu, tapi sang paman, yang menjabat perdana menteri dari 1945 hingga 1947, tidak meresponsnya. Mungkin karena si pemilik rumah mengatakan itu hanya barang-barang sampah.

Suatu hari, ketika kembali membongkar kotak kayu lainnya, mereka menemukan antena. Keduanya memberikan barang itu kepada Sjahrir untuk radionya dan diterima dengan girang. Selanjutnya, Chairil dan Des memberanikan diri untuk menjelaskan bahwa, selain antena, mereka mengambil dan menjual barang-barang jenis lainnya.




Makam Chairil Anwar
Foto: Tri Aljumanto/detikTV

Des Alwi Abubakar
Foto: dok. detikcom

Buku karya Des Alwi Abubakar
Foto: dok. cornellpress

"Barang apa dan dikemanakan?" Sjahrir menghardik. Sjahrir semakin tak senang ketika Chairil menjelaskan bahwa dirinya telah menjual sepatu dan lampu di Pasar Senen untuk dibelikan buku bekas dan makan di restoran Padang. "Mengapa kamu tidak rampok bank sekalian? Sama saja kamu curi sepasang sepatu atau 10 ribu gulden. Mencuri, ya, mencuri." Sjahrir benar-benar murka oleh ulah keponakannya itu.

Des Alwi mengaku shock dan merasa terluka mendengar istilah “mencuri” dan mengingatnya untuk tidak mengulangi perbuatan sejenis.

Ketika mendapat pekerjaan di Kantor Statistik, menurut Des, Chairil membawa ibunya pindah ke Kwitang. Maklum, gajinya cukup besar, 60 gulden. Meski begitu, jiwa seniman membuat Chairil tak kerasan bekerja kantoran. Setelah dua bulan, dia tidak mau ke kantor lagi. Kepada Sjahrir, Chairil berdalih tidak bisa berlama-lama bekerja di kantor itu, terutama karena Jepang memelintir angka-angka untuk keperluan propaganda.

(Dari kiri ke  kanan) Mochtar Apin, Baharudin, Asrul Sani (merokok), Henk Ngantung, Chairil Anwar, 1948
Foto: Charles Breijer/Nederlands Fotomuseum

Meskipun sudah pindah, Chairil hampir setiap hari singgah ke Jalan Latuharhary untuk makan siang. Sambil menunggu, dia tak pernah lepas dari halaman-halaman buku. Maklum, dia kutu buku. Ada dua gaya Chairil yang mudah ditebak saat sedang punya uang atau sebaliknya. Dia tipe orang yang royal dan gemar mentraktir bila punya uang, yang ditandai dengan penampilannya yang perlente. Es krim dan kue yang dia beli di Cikini biasa dia bagikan kepada Des Alwi. Tapi, ketika dia sedang bokek, gaya rambut Chairil tak tersisir rapi dan pakaiannya kotor.

Dari Medan, ayahnya, Tulus, terkadang mengirimi Chairil uang 30 gulden. Selain untuk membeli buku-buku, Chairil biasa mentraktir Des dan orang-orang di lingkungan rumah Sjahrir menonton film-film Amerika di bioskop. Saleha pun amat memanjakan anak semata wayangnya itu. Tak aneh bila koleksi buku Chairil bertumpuk-tumpuk.

Berkat aneka macam bacaan itulah Chairil tak canggung bergaul dengan siapa saja karena dia selalu punya bahan perbincangan. Ada kalanya dia bercengkerama dengan tukang becak, tukang loak, intelektual, seniman Affandi dan Emiria Sunassa, H.B. Jassin, serta Nursjamsu Mochtar. Tapi, kata Des, Chairil amat menjaga jarak dengan Jepang. Anehnya, kepada orang-orang yang dianggap penjilat Jepang dan oportunis serta orang-orang kaya yang sombong, Chairil gemar meminjam uang. Hal itu diketahui Des setelah mereka mengeluhkan Chairil yang tak kunjung melunasi utangnya.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.