INTERMESO
“Aku tak pernah memikirkannya sekali pun…. Semua orang itu memang layak mati.”
Polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran di New Delhi pada Desember 2012.
Foto: Daniel Berehulak/Getty Images
Kamis, 11 Agustus 2016Ada lebih dari sepuluh film Bollywood lahir dari kisah mereka. Dalam film Ab Tak Chhappan atau Fifty Six So Far, yang disutradarai oleh Shimit Amin, Sadhu Agashe adalah pahlawan bagi Kota Mumbai, India. Inspektur Sadhu bukan hanya suami dan ayah yang hebat bagi keluarganya, tapi dia juga ringan tangan mengulurkan bantuan bagi orang-orang miskin.
Tapi, bagi para bandit, pencoleng, dan begal di Kota Mumbai, Sadhu adalah mimpi buruk mereka. Tak perlu banyak basa-basi dan omong kosong, Inspektur Sadhu terus memburu dan mengeksekusi mereka. Ram Gopal Varma, produser Fifty Six So Far, memang menaruh simpati kepada para polisi yang menumpas para kriminal dengan tangan besi tanpa ampun, tak peduli melanggar hukum atau tidak.
“Geng-geng bandit itu bisa disapu bersih berkat mereka,” kata Ram Gopal, kepada Wall Street Journal, beberapa waktu lalu. Fifty Six bukan satu-satunya film soal polisi bertangan besi yang dibuat oleh Ram Gopal. Tiga tahun lalu, Ram Gopal menyutradarai sendiri film Department.
Sebagai polisi, tugas kami adalah membersihkan kota ini dari para kriminal. Dan itulah yang kami kerjakan."
Pradeep Sharma, polisi India
Di film tersebut, Mahadev Bhosale, yang diperankan oleh Sanjay Dutt, mendapat tugas dari komandan Kepolisian Mumbai untuk menyapu bersih geng kriminal di kota tersebut. Mahadev merekrut Shiv Narayan, polisi yang berani dan jujur, sebagai tangan kanannya.
Department, menurut Ram Gopal, terinspirasi dari kisah nyata pasangan polisi Mumbai, Pradeep Sharma dan Dayanand “Daya” Nayak. Dua nama polisi ini memang kondang di India ketika Kepolisian Mumbai tengah getol-getolnya menyikat geng bandit belasan tahun lalu. “Aku pikir tak ada nama lain yang lebih ngetop dari Pradeep Sharma dan Daya Nayak kala itu…. Hampir seluruh India tahu nama mereka,” kata Ram Gopal.
Bagi Pradeep Sharma, hanya “bahasa peluru” yang bisa dipakai untuk berhubungan dengan para bandit. “Hanya itu bahasa yang mereka pahami,” kata Pradeep beberapa tahun lalu. “Rekor” Pradeep, kini 55 tahun, memang luar biasa dalam menumpas bandit Mumbai. Pada awal Juni 2004, Pradeep menembak mati Kamalakar Satardekar, salah satu pembantu utama Chhota Rajan alias Junior Rajan alias Rajendra Sadashiv, salah satu bos geng bandit besar di Kota Mumbai.
Kamalakar menjadi bandit ke-100 yang mati di tangan Pradeep selama belasan tahun kariernya di kepolisian. Hingga diberhentikan sementara dari kepolisian pada 2008, 112 bandit mati ditembak Pradeep Sharma. Di daftar “korban” Pradeep lainnya, ada Vinot Matkar, pembantu Chhota Rajan, dan Sadiq Kalya, pembantu utama Dawood Ibrahim, bos besar sindikat D-Company yang punya pengaruh besar di sejumlah kota di India. Sebelum memisahkan diri, Chhota Rajan pernah menjadi pembantu Dawood.
Namun, menurut Pradeep, bukan “rekor” itu yang dia kejar. “Pekerjaanku masih jalan terus.... Pekerjaan polisi bukan hanya berkeliling mencari bandit untuk dibunuh,” kata Pradeep kepada Daily Telegraph kala itu. Pradeep bukan satu-satunya “algojo” di Kepolisian Mumbai.
* * *
Polisi New Delhi mengejar aktivis Tibet pada 2008
Foto: Uriel Sinai/Getty Images
Kala itu, pada awal 1980-an, dunia “bawah tanah” Mumbai dikuasai oleh sejumlah geng yang dipimpin oleh Dawood Ibrahim, Chhota Rajan, Ashvin Nike, Ravi Pujari, dan Arun Gawli. Untuk menumpas geng-geng bandit tersebut, Komisioner Kepolisian Mumbai Julio Ribeiro mengusulkan taktik yang lebih keras untuk menyikat mereka.
Dia membentuk unit khusus, Mumbai Encounter Squad. Kepolisian Mumbai butuh tenaga-tenaga muda yang sigap dan masih bersih dari “polusi” birokrasi. Sebagian dari para “algojo” di Kepolisian Mumbai ini sudah kenal sejak masih muda. Mereka sama-sama angkatan 1983 di Akademi Kepolisian Nashik, Negara Bagian Maharashtra, India.
Selain Pradeep, beberapa anggota kesatuan khusus yang berasal dari Akademi Nashik antara lain Vijay Salaskar, Praful Bhosale, Arun Borude, Aslam Momin, dan Ravindranath Angre. Arvind Inamdar, mantan Kepala Akademi Kepolisian Nashik, masih ingat bagaimana mereka saat masih taruna muda.
Pradeep dan teman-temannya, menurut Arvind, adalah taruna-taruna yang tertib dan disiplin. “Tak sekali pun ada keluhan terhadap mereka,” kata Arvind, kepada India Today. Bersama Daya Nayak, Sachin Waze, Raju Pillai, dan Sanjay Khadam, alumni 1983 ini melibas sindikat Dawood, Chhota Rajan, dan sebagainya, tanpa ampun. Sebagian besar tangan mereka bergelimang darah para bandit.
Selama lebih dari 20 tahun “berperang” melawan sindikat kriminal, kesatuan khusus ini kabarnya sudah melibas lebih dari 1.200 bandit. Daya Nayak mengklaim telah membunuh 83 kriminal. Sachin Waze telah menembak mati 63 bandit. Ravindranath Angre mengaku membunuh 54 penjahat. Pradeep, dikutip oleh BBC, mengatakan mereka hanya menjalankan tugas. “Sebagai polisi, tugas kami adalah membersihkan kota ini dari para kriminal. Dan itulah yang kami kerjakan,” kata Pradeep.
Demonstran penentang Undang-Undang Pemerkosaan melemparkan batu ke arah polisi di New Delhi, Desember 2012.
Foto: Daniel Berehulak/Getty Images
Daya Nayak
Foto: InShort
Pradeep Sharma
Foto: ProBollywood
Soal begitu banyaknya bandit yang mati, menurut Daya Nayak, sebagian besar dia bunuh “tanpa sengaja”. “Mereka menembak kami dan, untuk membela diri, kami balas menembak…. Aku seorang keturunan Brahmin dan vegetarian, bahkan aku tidak minum teh dan kopi. Untuk apa kami membunuh tanpa alasan?” kata Nayak, kini 49 tahun, kepada DNA India. Beberapa kali, nyawa Nayak juga hampir “lewat” setelah terkena peluru saat baku tembak dengan anggota sindikat.
Bagi sebagian orang, Pradeep, Nayak, dan teman-temannya merupakan pahlawan. Mereka membersihkan Mumbai dari geng kriminal. Tapi orang-orang yang tak suka pada mereka yang enteng tangan menarik pelatuk pistol juga tak sedikit. Beberapa polisi Mumbai juga diduga memperkaya diri dengan memeras atau bekerja menjadi kaki tangan sindikat penjahat. Sekarang mereka harus jatuh-bangun berkelit dari jeratan hukum yang terus membuntuti.
Pada 2008, Pradeep, yang sudah puluhan tahun mengabdi untuk Kepolisian Mumbai, diskors lantaran diduga punya hubungan akrab dengan kelompok kriminal saat ditugaskan di Kandivli dan Nagar. “Sudah diketahui banyak orang bahwa Pradeep bekerja untuk Dawood Ibrahim,” kata Chhota Rajan, pesaing Dawood, dikutip India Today, melontarkan tuduhan kepada Pradeep Sharma. Pradeep lolos dari tudingan tersebut.
Namun dia tersandung kasus lain. Bersama sejumlah polisi Mumbai lain, dia diduga merekayasa penembakan Ram Narain Gupta alias Lakhan Bhaiyya, anggota sindikat Chhota Rajan. Sekali lagi, pada 2013, Pengadilan Mumbai membebaskan Pradeep. Pada 2014, Pradeep terjun ke arena politik dengan bergabung ke Partai Republiken India, tapi belakangan malah mengundurkan diri. “Aku tak lagi terlibat dengan partai politik,” kata Pradeep kepada majalah Open.
Setelah serangan teroris ke sejumlah target di Mumbai pada 2008, polisi menjaga Nariman Jewish Centre di Pasar Colaba.
Foto: Uriel Sinai/Getty Images
Kawan dekat Pradeep, Daya Nayak, juga dibelit kasus. Pada 2006, Biro Anti Korupsi (ACB) menggeruduk rumah Nayak untuk mengumpulkan bukti korupsi. ACB curiga dengan kekayaan Nayak yang dianggap tidak wajar untuk ukuran seorang polisi. Sempat dua minggu menginap di penjara, Nayak bebas dari tuduhan lantaran kurang bukti. Pada 2010, Mahkamah Agung India membebaskan Nayak dari semua tuduhan korupsi. Tapi, baru dua tahun kemudian, Kepolisian Maharashtra mempekerjakan dia kembali.
Pradeep Sharma, Daya Nayak, juga Ravindranath Angre, semua terbelit kasus, tapi berhasil bebas. Namun desas-desus miring soal mereka masih terus berembus. “Aku sama sekali tak ragu bahwa Pradeep membunuh anggota geng. Tapi dia memilih targetnya sesuai dengan pesanan kelompok lain,” kata seorang polisi di Mumbai, kepada India Today.
Ravindranath membantah tudingan bahwa nama-nama target mereka disetor oleh sindikat kriminal lain. Menurut Ravindranath, semua tindakan mereka dan semua target yang mereka buru telah mendapat restu dari pejabat-pejabat Kepolisian di Mumbai.
“Setiap pagi kami bertemu dengan pejabat-pejabat polisi dan nama-nama yang harus kami buru diberikan pada saat itu,” kata Ravindranath. Tak aneh jika dia sewot berat mendengar semua tudingan miring terhadap dia dan teman-temannya. “Dulu mereka bilang akan mendukung kami. Tapi sekarang kami dibilang bertindak sendiri dan menerima pesanan dari sindikat kriminal.”
Ram Gopal Varma, sang sutradara Bollywood, menaruh simpati dengan nasib Pradeep, Nayak, dan teman-temannya. “Merekalah yang turun ke jalan melibas geng-geng kriminal itu pada saat kita hanya menutup pintu dan bersembunyi di rumah,” kata Ram Gopal. Sachin Waze, anggota unit khusus polisi Mumbai, sama sekali tak menyesali semua pembunuhan yang dia lakukan. “Aku tak pernah memikirkannya sekali pun…. Semua orang itu memang layak mati,” kata Sachin kepada Guardian. Berkat kerja mereka, menurut Sachin, Kota Mumbai lebih aman. “Dalam darahku, aku seorang polisi. Dan aku tak melakukannya untuk uang.”
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.