INTERMESO
Mengagumi film-film produksi Hollywood sejak kanak-kanak, di tengah kekuasaannya, Bung Karno membiarkan para pendukungnya mengganyang film-film dari Amerika.
Presiden Sukarno bersama Marilyn Monroe dalam sebuah acara di Amerika Serikat
Foto: repro buku Sinema pada Masa Soekarno
Situasi kampus Universitas Indonesia memanas menjelang akhir Februari 1964. Para mahasiswa yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia menuntut Rektor UI mencabut jabatan Nugroho Notosusanto selaku Pembantu Rektor III. Nugroho dituding telah melakukan tindakan kontrarevolusioner.
"Dia disebut-sebut sebagai biang keladi pemutaran film Hollywood di Istana Presiden pada 18 Februari 1964 untuk mengadu domba Presiden dengan rakyat," kata sosiolog dan penulis buku Sinema pada Masa Soekarno, Tanete Pong Masak, saat berbincang dengan detikX di kediamannya, kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu, 6 Agustus 2016. Tanete meraih gelar doktor bidang sejarah sosial dan cinema dari Universitas Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris (1980-1989). Promotornya adalah sejarawan terkemuka Asia Tenggara, Profesor Doktor Denys Lombard.
Kala itu, kata Tanete, Presiden Sukarno acap kali melontarkan kritik-kritik tajam mengenai imperialisme dan budaya Barat melalui pidato-pidatonya. Dia antara lain menentang keras musik ngak-ngik-ngok dan dansa-dansi. Si Bung juga menuding kaum imperialis ingin merusak moral bangsa Indonesia melalui penetrasi kebudayaan. Menteri Pendidikan Prijono akhirnya turun tangan menengahi. Pemutaran film Sodom and Gomorrah karya sutradara Robert Aldrich dan Sergio Leone itu merupakan idenya. "Prijono menyebut film itu produksi Italia, bukan Amerika, dan punya pesan moral sangat baik," ujar Tanete, yang sehari-hari mengajar mata kuliah ilmu komunikasi di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.
Poster kegiatan bedah buku Sinema pada Masa Soekarno di Jakarta.
Foto: Pasti Liberti/detikX
Penentangan film produksi Amerika Serikat telah berlangsung jauh sebelumnya. Gerakan ini dimulai pada Maret 1957, dimotori Sarekat Buruh Film dan Sandiwara (Sarbufis), yang berafiliasi dengan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Seniman-seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pun mendukung perlawanan tersebut. Mereka mengecam dominasi film Amerika Serikat di pasar Indonesia. “Menurut mereka, itulah yang menyebabkan semua masalah perfilman nasional," kata Tanete.
Perlawanan mencapai puncaknya ketika Lembaga Kesenian Nasional milik Partai Nasional Indonesia dan Lembaga Seni Budaya Indonesia milik partai Indonesia ikut bergabung. Koalisi gerakan ini kemudian dilembagakan menjadi Panitia Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS) pada awal Mei 1964 yang dipimpin Ratu Aminah Hidajat dan Utami Suryadharma. Sejumlah poster yang berisi tuntutan boikot film bermunculan di Jakarta, terutama di bioskop-bioskop. "Film AS Mentjekik Film Nasional" dan "Film AS Sumber Kebedjatan Moral" menjadi isi poster. Cabang-cabang pun didirikan di berbagai daerah.
Walaupun ada yang mempertanyakan film Amerika, sikap kolektif orang Indonesia zaman itu adalah terpesona pada imajinasi Hollywood.”
Tanete Pong Masak, sosiolog dan penulis buku Sinema pada Masa SoekarnoFilm produksi Amerika memang merajai bioskop-bioskop di Indonesia. Jumlah kopi film produksi Amerika yang diterima Badan Sensor Film Indonesia pada 1950 mencapai 660. Jumlah yang sama diterima Badan Sensor Film pada tahun berikutnya dan meningkat menjadi 675 kopi film pada 1952. "Walaupun ada yang mempertanyakan film Amerika, sikap kolektif orang Indonesia zaman itu adalah terpesona pada imajinasi Hollywood. Bahkan menembus sampai ke pedesaan di Pulau Jawa," ujar Tanete.
Amerika Serikat pun memandang Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial. Direktur Utama 20th Century Fox, Murray Silverstone, pada Februari 1955 datang secara khusus untuk memperlengkapi bioskop dan perusahaan produksi Indonesia dengan peralatan sinemaskop. Beberapa hari setelah kedatangan Murray, bioskop kelas satu Menteng memutarkan film The Robe, yang diproduksi pada 1953. "Presiden Sukarno dan wakilnya, Mohammad Hatta, serta beberapa pejabat penting menjadi tamu khusus saat itu," kata Tanete.
* * *
Presiden Sukarno bersama Jackie Kennedy (kedua dari kanan) dan Marilyn Monroe (kiri)
Foto: repro buku Sinema pada Masa Soekarno
Pada usia 7 tahun, Sukarno sudah menjadi pencinta film Hollywood. Sukarno muda antara lain memuja aktris dan aktor Mary Pickford, Tom Mix, Eddie Polo, Fatty Arbuckle, Beverly Baine, dan Francis Bushman. Setiap bungkus rokok Westminster keluaran Inggris, menurut Sukarno, berisi gambar seorang bintang sebagai hadiah. Dia telaten mengumpulkannya satu demi satu.
“Aku mengumpulkan bungkus-bungkus rokok yang sudah terbuang dan menempelkan pahlawan-pahlawan yang kupuja itu di dinding,” kata Sukarno kepada Cindy Adams seperti yang dikutip dari buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Aku menjaga kumpulan ini dengan nyawaku. Ini adalah harta milikku sendiri yang pertama.”
Tanete Pong Masak menuturkan, sebagai seorang pengagum bintang Hollywood, Sukarno muda menyisihkan uangnya untuk menonton film walaupun membeli tiket termurah. "Sukarno duduk di belakang layar, sehingga harus membaca teks secara terbalik. Dia menyebut dirinya pencinta berat film Amerika."
Saat berkesempatan mengunjungi Amerika dalam rangka perjalanan dinas pada Mei 1956, Sukarno sengaja mengunjungi Hollywood. Dia mengagungkan para pemimpin Hollywood sebagai kaum "radikal dan revolusioner". Pemimpin Hollywood, kata Tanete, dinilai Sukarno mempercepat perkembangan politik di Asia dan Afrika serta membuat masyarakat Asia dan Afrika sangat merindukan apa-apa yang dimiliki orang Amerika, yang terlihat dalam film-film, seperti kulkas, kendaraan, dan alat masak listrik.
Sukarno duduk di belakang layar, sehingga harus membaca teks secara terbalik. Dia menyebut dirinya pencinta berat film Amerika."
Tanete Pong Masak
Tanete Pong Masak
Foto: Pasti Liberti/detikX
Puja-puji Sukarno itu memunculkan amarah insan perfilman di Tanah Air. Terlebih karena Sukarno pernah mengecam film-film Indonesia karena kurang menggambarkan kenyataan kehidupan rakyat. "Film Indonesia menurut Bung Karno sama sekali tidak menarik. Itu dikatakan Bung Karno sekitar 1956 dalam pidato resmi," kata Tanete
Sutradara Usmar Ismail, yang pernah berdiskusi soal film dengan Bung Karno di Istana Presiden, pun terkejut akan luasnya pengetahuan Sukarno mengenai bintang film dan film-film baru Amerika. Padahal banyak film itu dilarang oleh badan sensor. "Makanya banyak yang mengatakan Sukarno sama sekali tidak memiliki sikap yang sama dengan PAPFIAS. PAPFIAS hanya digunakan Bung Karno sebagai senjata untuk kebijakan politik luar negerinya," kata Tanete.
Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.