INTERMESO
“Semua orang ingin pergi ke Amerika…. Inilah negara terbaik di dunia.”
Petugas patroli perbatasan menyaksikan sekelompok imigran yang berusaha menyelundup ke Amerika lewat perbatasan dengan Meksiko, Juni 2006.
Foto: David McNew/Getty Images
Rabu, 3 Agustus 2016Pupus sudah “mimpi Amerika” Monjur Islam, 20 tahun. Selama empat bulan sejak November 2014, bersama sebelas temannya, pemuda asal Noakhali, Bangladesh, itu sudah menempuh jarak lebih dari 15 ribu kilometer, melewati sebelas negara, dengan pesawat, disambung menumpang bus, naik perahu, dan berjalan kaki, hingga mencapai tujuan impiannya: Amerika Serikat.
Dia girang tak kepalang saat akhirnya bisa melewati perbatasan Panama, melintasi Guatemala, lolos dari kejaran petugas imigrasi Meksiko, menembus perbatasan Amerika Serikat, dan tiba di California pada akhir Maret 2015. Monjur bermimpi, di Amerika dia bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, paling tidak untuk ukuran Bangladesh, dan mengirim dolar ke keluarganya di kampung.
Beberapa kali Monjur dan teman-temannya ditahan petugas imigrasi di beberapa negara yang mereka lewati. “Kami dilepas setelah menjelaskan bahwa tujuan akhir kami adalah Amerika Serikat,” kata Monjur kepada The DailyStar.
Tapi sial bagi Monjur dan teman-temannya. Permohonan suaka mereka ditolak imigrasi Amerika. Selama 14 bulan Monjur mendekam dalam tahanan imigrasi dan akhirnya dikirim pulang ke Bangladesh dua bulan lalu. Bersama Monjur, ada 27 imigran Bangladesh lain yang dipulangkan ke kampung halamannya.
Sekelompok imigran gelap dari Meksiko berjalan di tengah gurun setelah melintasi perbatasan.
Foto: John Moore/Getty Images
“Tangan kami diborgol selama 72 jam penerbangan,” kata Monjur. Sia-sia semua perjalanan serta pengorbanan Monjur dan teman-temannya. Padahal, untuk berangkat ke Amerika, mereka membayar puluhan juta rupiah kepada makelar. “Hidup kami sudah hancur. Kami kehilangan uang, kehilangan semuanya,” kata Rasel Akhmad, 30 tahun, imigran asal Sylhet, Bangladesh.
Bukan hanya bagi warga negara-negara tetangganya, seperti Meksiko, Honduras, Guatemala, dan El Salvador, gemerlap mimpi hidup di Amerika Serikat juga menarik ribuan imigran dari negara-negara yang sangat jauh, seperti Bangladesh, Pakistan, Nepal, Afganistan, juga negara-negara Afrika, seperti Somalia dan Sudan. Tanpa dokumen yang sah, ribuan imigran ini menyelundup lewat jalur-jalur “tikus” dari Brasil, Kolombia, Panama, Guatemala, dan menembus Amerika lewat perbatasan Meksiko, yang terbentang sejauh ratusan kilometer. Kadang mereka menempuh perjalanan selama berminggu-minggu dengan “panduan” jaringan penyelundup imigran. Jalan apa pun mereka tempuh: menembus hutan, berhari-hari naik perahu mengarungi sungai, ratusan kilometer berjalan kaki atau menumpang truk dan kereta barang. Semua demi mengejar “mimpi Amerika”.
Kalian bisa melihat banyak kerangka manusia di sepanjang perjalanan di hutan Darien.”
George, imigran asal KamerunGorjit meninggalkan kampungnya di wilayah utara India dengan mimpi hidup nyaman di Amerika. Pemuda itu menempuh jalan berliku hingga tiba di Tapachula, Meksiko, beberapa bulan lalu. Setelah menjual rumahnya di India, Gorjit terbang ke Qatar dan berlanjut ke Brasil dengan visa turis. Lantaran bekalnya menipis, Gorjit sempat bekerja di Argentina selama enam bulan.
Setelah uang terkumpul, dia siap mengejar “mimpi Amerika” lagi. “Teman-temanku bilang hidup di Amerika jauh lebih baik,” kata Gorjit kepada Vice. Pada Januari lalu, setelah berbulan-bulan meninggalkan kampungnya, dia sampai di Tapachula, kota kecil di Negara Bagian Chiapas, tak jauh dari perbatasan Meksiko dengan Guatemala.
Di kota itu gampang sekali dijumpai wajah-wajah Asia dan Afrika seperti Gorjit, Ismael dari Somalia, dan George asal Kamerun. Bahkan ada sejumlah warung makan dan hotel yang “khusus” melayani mereka. Di warung-warung itu, para imigran melepas lelah sembari berbagi cerita, suka dan duka. Mereka semua memang punya mimpi yang sama.
Sebelum berangkat ke Amerika, Ismael sempat tinggal di Afrika Selatan. Tapi kerusuhan anti-orang asing membuat dia buru-buru angkat kaki. “Mereka mengancam akan membunuhku hampir setiap hari,” kata Ismael. Untuk menebus paspor palsu, tiket pesawat ke Brasil, dan jasa “pengantaran” oleh jaringan penyelundup imigran, Ismael harus menguras isi kantongnya habis-habisan. Dia mesti membayar sekitar Rp 60 juta.
Imigran dari Guatemala menyeberangi sungai di perbatasan dengan Meksiko dalam perjalanan menuju Amerika Serikat.
Foto: John Moore/Getty Images
Perjalanan orang-orang ini adalah drama yang heroik, kadang pula tragis. Ahmed Hassan, 26 tahun, meninggalkan istri dan anaknya pada lewat tengah malam buta. Setelah mencium kening putrinya yang baru 2 tahun, Hassan buru-buru keluar dari rumah dan melompat ke bak belakang truk yang akan membawanya dari kampungnya, Sacoow, ke Mogadishu, Somalia.
Hassan pergi tengah malam untuk menghindari gerombolan Al-Shabaab, yang sudah berhari-hari memaksanya bergabung dengan mereka. Jika berani menolak, nyawa taruhannya. Dengan bekal seadanya dan pengetahuan nyaris nol, Hassan memutuskan “lari” ke Amerika Serikat. “Istriku terus bertanya, ‘Kapan kamu akan pulang?’” Hassan hanya bisa menggeleng. Dia tak tahu kapan bisa bertemu lagi dengan anak dan istrinya.
Dari Somalia, Hassan menyeberang ke Kenya dan lanjut terbang ke Brasil. Dari sana, dia menyusuri sejumlah negara hingga tiba di perbatasan Kolombia dan Panama. Lantaran jalur biasa makin ketat, hanya jalur hutan Darien yang sangat lebat satu-satunya rute yang bisa dia lewati. Hutan ini sangat berbahaya. Bukan hanya rawa, ular berbisa, dan binatang buas yang jadi tantangan, hutan Darien juga jadi persembunyian gerilyawan komunis FARC.
“Tak ada air dan makanan, hanya ada ular. Aku pikir aku akan mati di sana,” kata Hassan kepada Wall Street Journal. Beberapa waktu lalu, dia tiba di Meteti, kota kecil di Panama.
* * *
Identitas palsu yang dipakai oleh para imigran gelap di New Mexico.
Foto: John Moore/Getty Images
Cerita horor soal imigran-imigran yang mati di tengah belantara hutan Darien atau di gurun pasir Sonoran, tenggelam di sungai, jatuh dari atap gerbong kereta, atau dibunuh perampok yang mengincar harta mereka tak terhitung banyaknya. Pada 2010, 72 imigran tewas dibantai kartel kokain Zeta di Negara Bagian Tamaulipas, Meksiko.
“Kalian bisa melihat banyak kerangka manusia di sepanjang perjalanan di hutan,” kata George, imigran asal Kamerun, setelah melewati hutan Darien. Tapi tak ada satu pun cerita itu yang membuat para imigran mengurungkan niat pergi ke Amerika Serikat. Justru makin banyak imigran dari negara Amerika Tengah, bahkan dari negara-negara di Asia Selatan dan Afrika.
“Semua orang ingin pergi ke Amerika…. Inilah negara terbaik di dunia,” kata Rrahim, 21 tahun, dari Afrika Selatan kepada Al-Jazeera. Ancaman keamanan dan hidup melarat di kampungnya membuat para imigran ini siap mempertaruhkan segalanya untuk pergi ke Amerika.
Fahd Ahmed, Direktur Eksekutif DRUM NYC, organisasi imigran dari Asia Selatan di Kota New York, pertama kali mendengar ada imigran Asia menyelundup ke Amerika lewat Meksiko pada 2010. “Biasanya imigran Asia masuk ke Amerika dengan visa kunjungan,” kata Fahd.
Sekarang, ada banyak sekali jalur yang dipakai imigran Asia atau Afrika dan jaringan penyelundup imigran untuk masuk Amerika Serikat lewat jalur darat. “Para penyelundup itu tahu banyak rute dan punya kontak di setiap titik,” kata Ahmed. Imigran dari Asia bisa terbang dari Dubai ke Brasil, Bolivia, Peru, Ekuador, atau Guatemala, baru melanjutkan perjalanan lewat sungai atau darat menuju Meksiko. Biasanya para imigran ini butuh waktu berbulan-bulan hingga tiba di garis perbatasan Meksiko-Amerika.
Imigran asal Guatemala diperiksa petugas imigrasi Amerika sebelum dipulangkan ke negaranya, Juni 2014.
Foto: John Moore/Getty Images
Bagi warga Pakistan atau Bangladesh, Ekuador sama sekali tak mereka kenal di peta wisata dunia. Hingga sepuluh tahun lalu, hampir tak ada warga Bangladesh dan Pakistan yang tercatat datang ke Ekuador. Tapi, pada 2009, ada hampir 900 warga Bangladesh dan Pakistan yang berkunjung ke negara itu. Jejak mereka hilang begitu masuk Ekuador. Bisa ditebak, mereka memang tak berniat pulang lagi ke negaranya.
Jumlah orang-orang seperti ini makin banyak dari hari ke hari. Sepanjang 2013 hingga 2015, patroli perbatasan Panama menangkap 1.003 imigran dari Nepal dan 910 imigran dari Bangladesh. Wilson, pemilik rakit di Sungai Suchiate, yang membatasi wilayah Guatemala dengan Meksiko, mengatakan ada belasan imigran dari Asia dan Afrika yang dia antar ke seberang setiap pekan.
“Seperti beberapa hari lalu, aku menyeberangkan sekelompok besar imigran Asia dan Afrika…. Saat tiba di seberang sungai, salah seorang bertanya, ‘Ada di mana aku sekarang?’ Aku bilang, ‘Kamu ada di Meksiko, Man.’ Dia melompat kegirangan seperti kanguru,” Wilson menuturkan.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.