INTERMESO
“Kita sudah menembus hutan Amazon, sekarang mengapa kita tak bisa melewati hutan ini.”
Foto: Getty Images
Rabu, 3 Agustus 2016Linda Benitez selalu berurai air mata setiap kali mengingat pagi itu, hari ketika dia dan keluarganya melepas kepergian sang putri, Marilyn, 17 tahun. Dia dan keluarganya tak punya pilihan lain kecuali memberi izin Marilyn menempuh perjalanan sangat panjang dan berbahaya.
Pada pagi itu dua tahun lalu, Linda dan anggota keluarganya menyaksikan kepergian Marilyn dari depan pintu rumah mereka di Rosario de Mora, sekitar satu jam perjalanan dari San Salvador, ibu kota El Salvador. Dengan truk bak berbuka, Pablo Benitez, ayah Marilyn, mengantar putrinya itu menemui seorang “coyote”, makelar yang akan menyelundupkannya ke Amerika Serikat.
Ongkos “perjalanan” ke Amerika ini sekitar US$ 3.000 atau Rp 40 juta, angka yang sangat besar untuk ukuran keluarga Pablo. Dengan ongkos sebesar itu, tak ada jaminan sama sekali Marilyn bakal bisa sampai di Amerika dengan selamat. Bahkan Linda dan Pablo tak yakin bakal bisa bertemu lagi dengan anaknya. “Rasanya benar-benar tak keruan,” kata Linda kepada Guardian.
Imigran-imigran gelap dari negara Amerika Tengah berbaring di atap gerbong kereta di Meksiko dalam perjalanan ke Amerika Serikat, Agustus 2013.
Foto: John Moore/Getty Images
Apa boleh buat, mereka harus merelakan kepergian Marilyn. Seperti makan buah simalakama, mereka hanya punya dua pilihan yang sama-sama buruk. “Tak ada orang tua yang ingin anaknya pergi. Kami ingin bisa tetap bersama. Tapi dia harus pergi…. Jika pergi, Marilyn menghadapi risiko, tapi kalau tetap tinggal, juga berisiko,” kata Pablo.
Dalam beberapa tahun terakhir, kampungnya menjadi “medan perang” antargeng. Untuk menancapkan pengaruh, geng-geng itu tak segan membunuh bocah yang baru beranjak remaja, tak laki-laki, tak pandang pula perempuan. Dalam beberapa bulan terakhir sebelum Marilyn berangkat, ada enam teman sekolahnya yang mati dibunuh anggota geng.
Marilyn Benitez bukan satu-satunya bocah El Salvador yang pergi meninggalkan keluarganya dan nekat berangkat ke Amerika. Francisco Sanchez baru 16 tahun saat meninggalkan Kampung Ilopango. “Jika dia tinggal di sini, pilihannya hanya mati atau bergabung dengan geng,” kata Clarissa, ibunya.
Clarissa tahu betul seperti apa “neraka” yang bakal dilewati Francisco
sebelum sampai perbatasan Amerika Serikat. Sepuluh tahun lalu, dia
pernah melintasi “neraka” itu. Dengan angkutan umum dan berjalan kaki
selama berhari-hari, Clarissa melintasi wilayah El Salvador, menyeberang
ke Guatemala hingga tiba di perbatasan Guatemala dengan Meksiko.
Aku sudah menempuh perjalanan lewat sungai selama 18 hari….
Lihat kakiku. Aku tak yakin mampu melanjutkan perjalanan lagi."
Setelah “kucing-kucingan” dengan petugas imigrasi Meksiko, akhirnya Clarissa tiba di Kota Arriaga, tempat kereta “La Bestia” akan mengantar para imigran gelap seperti dia ke wilayah utara Meksiko. La Bestia bukanlah kereta yang adem dengan kursi yang empuk. Sebagian orang memberi julukan kereta barang itu “Kereta Kematian”.
Clarissa harus berebut tempat dengan ratusan imigran lain untuk mendapatkan sejengkal tempat duduk di atap kereta atau di gerbong-gerbong barang yang sangat sempit dan panas. Tak sedikit imigran yang mati dalam perjalanan ratusan kilometer di atas gerbong kereta barang itu. Supaya tak pipis dan buang air besar, mereka makan obat untuk menahan buang hajat dan hanya makan apel selama tiga hari perjalanan.
Turun dari La Bestia, Clarissa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati gurun selama beberapa hari hingga tiba di perbatasan Amerika. “Perjalanan itu sangat berbahaya…. Aku tak yakin saat itu bakal bisa selamat,” kata Clarissa. Selama enam tahun dia tinggal di Arizona, Amerika, dan terpaksa pulang lantaran kelewat kangen pada Francisco. Tapi kini dia harus membiarkan putranya itu menempuh jalan berbahaya yang pernah dia tempuh sepuluh tahun silam.
* * *
Patroli perbatasan menangkap imigran gelap tak jauh dari perbatasan dengan Meksiko pada September 2014.
Foto: John Moore/Getty Images
Bagi banyak orang, Amerika adalah negeri impian tempat mereka memimpikan kehidupan yang jauh lebih baik ketimbang di kampung halaman. Amerika adalah lampu, dan mereka adalah kunang-kunang yang berebut mendekati lampu, bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.
Hidup miskin tanpa harapan bisa hidup lebih baik atau perang antargeng kriminal membuat ribuan warga El Salvador, Kuba, Guatemala, Meksiko, Nikaragua, Honduras, dan sejumlah negara Amerika Tengah berbondong-bondong berangkat ke utara setiap hari, ke negara yang jauh lebih makmur: Amerika Serikat.
Kaki Lesandra Martinez, 27 tahun, sudah melepuh saat tiba di Kota Sapzurro, kota di dekat perbatasan Kolombia dengan Panama, pada Mei lalu. Sudah berbulan-bulan dia menempuh perjalanan meninggalkan negaranya, Kuba. Tubuh Lesandra langsung lemas saat dia menjumpai pos perbatasan kedua negara itu ditutup.
Jika dia ingin melanjutkan perjalanan mengejar mimpi mereka, Amerika Serikat, hanya satu rute yang bisa ditempuh, yakni menembus hutan belantara Darien dengan berjalan kaki selama paling tidak empat hari. “Aku sudah menempuh perjalanan lewat sungai selama 18 hari…. Lihat kakiku. Aku tak yakin mampu melanjutkan perjalanan lagi,” kata Lesandra kepada MiamiHerald.
Seorang teman laki-lakinya menguatkan semangat Lesandra. “Kita sudah menembus hutan Amazon, sekarang mengapa kita tak bisa melewati hutan ini,” kata seorang temannya. Pada November tahun lalu, Lesandra terbang dari Kuba ke Guyana. Dia memilih Guyana lantaran bisa berkunjung ke negara ini tanpa visa. Dasar sial, perampok menyikat semua miliknya.
Lesandra menyeberang ke Brasil dan mencari pekerjaan untuk mengumpulkan “modal” perjalanan. Setelah duit terkumpul, lewat jalur sungai menembus belantara Amazon, Lesandra dan teman-temannya melanjutkan perjalanan menuju Kolombia dan lanjut ke Panama. “Apa pun yang terjadi, kami tak akan kembali ke Kuba,” kata Lesandra. Setelah menguatkan diri, dia segera meneguk habis minumannya dan melanjutkan perjalanan melintasi “neraka” belantara Darien. Sekarang, dua bulan kemudian, entah sudah sampai mana perjalanan mereka.
* * *
Para imigran gelap dari negara-negara Amerika Tengah menumpang kereta menuju wilayah utara Meksiko yang berbatasan dengan Amerika.
Foto: John Moore/Getty Images
Dua tahun lalu, Presiden Barack Obama menyatakan Amerika tengah menghadapi krisis kemanusiaan di perbatasan selatan mereka. Ada ribuan imigran gelap, ratusan di antaranya anak-anak tanpa pendamping orang tua, yang setiap hari berusaha menembus perbatasan dari Meksiko.
“Kita bicara soal banyak sekali anak-anak yang tanpa orang tua datang ke perbatasan kita dalam kondisi kepayahan, haus, lapar, dan ketakutan,” kata Craig Fugate, Kepala Badan Manajemen Kedaruratan, di depan Komite Senat untuk Keamanan Dalam Negeri, kala itu. Kedatangan ribuan imigran ini bukan cuma jadi masalah kemanusiaan, tapi juga jadi masalah anggaran bagi Gedung Putih. Untuk mengurus ribuan imigran anak-anak ini, Gedung Putih menaksir butuh anggaran lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 13 triliun dalam setahun.
Untuk meredam banjir imigran gelap dari selatan, Gedung Putih meminta tetangganya di selatan, Meksiko, “berbuat sesuatu”. Meksiko memang menjadi persinggahan terakhir para imigran dari berbagai negara sebelum menyelundup ke Amerika. Di bawah tekanan Amerika, Presiden Enrique Pena Nieto menggelar operasi Frontera Sur, Operasi Perbatasan Selatan.
Petugas imigrasi Meksiko makin getol menghadang para imigran yang masuk lewat Guatemala, negara tetangga mereka di selatan. Ada lebih dari 5.000 petugas imigrasi, polisi, dan tentara yang dikerahkan untuk memelototi 290 kilometer garis perbatasan selatan. “Operasi Frontera Sur mengubah perbatasan selatan menjadi medan perang,” Alberto Donis, Direktur Hermanos en el Camino, mengkritik tindak kekerasan oleh petugas imigrasi terhadap para imigran, dikutip Reuters.
Pemerintah Amerika juga tak berdiam diri untuk menghadang “banjir” imigran dari selatan. Selain memperketat patroli perbatasan, Departemen Keamanan Dalam Negeri makin giat menyisir, menangkap, dan memulangkan para imigran gelap, terutama dari negara-negara Amerika Tengah. Sepanjang 2015, Amerika memulangkan 75 ribu imigran dari Amerika Tengah.
Imigran gelap dari Meksiko dan El Salvador ditangkap patroli perbatasan di Texas, April 2013.
Foto: John Moore/Getty Images
Tapi data dari Departemen Keamanan Dalam Negeri menunjukkan jumlah imigran gelap anak-anak ke Amerika belum menunjukkan tanda-tanda surut. Dari Oktober 2015 hingga Juni 2016, ada 43.300 imigran gelap anak-anak tanpa orang tua yang masuk Amerika, bertambah dari tahun sebelumnya, 39.900 orang. Anak-anak ini menempuh jarak ribuan kilometer dari kampungnya dengan mempertaruhkan nyawa.
Pekan lalu, Gedung Putih mengumumkan kerja sama dengan Kosta Rika untuk menangani imigran anak-anak dari Amerika Tengah ini. Kosta Rika akan menampung sebagian imigran anak-anak selama pengajuan suaka mereka di Amerika diproses. Gedung Putih juga melonggarkan syarat suaka bagi pendamping anak-anak itu.
Upaya ini jelas tak akan membuat para imigran mengurungkan niatnya mengejar mimpi Amerika mereka. “Kami berharap upaya ini paling tidak mencegah para orang tua menyerahkan anak-anaknya ke tangan penyelundup imigran,” kata Amy Pope, Wakil Penasihat Keamanan Dalam Negeri, kepada NBC.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.