INTERMESO

Di Ende, Bakat Melukis Bung Karno Tersalurkan

Sukarno pernah bikin mural kecil-kecilan di tembok-tembok di Surabaya untuk mencari tambahan uang saku. Gambar tokoh-tokoh wayang dijualnya kepada noni dan sinyo Belanda.

Seorang pengunjung berfoto di depan lukisan Bung Karno yang berjudul Rini.

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Senin, 1 Agustus 2016

Aktivitas politik Sukarno membuat pemerintah kolonial Belanda gerah. Ia kemudian diasingkan bersama keluarganya ke Ende, Flores, pada awal 1934. Suatu hari dalam masa pengasingan, Sukarno terkena penyakit malaria. Selama beberapa hari, ia dirawat seorang dokter berkebangsaan asing hingga sembuh. Pada masa itu, malaria merupakan penyakit yang menakutkan, apalagi di pengasingan, yang tak memiliki fasilitas kesehatan memadai.

"Setelah (Sukarno) sembuh, salah satu lukisannya digunakan sebagai pengganti ongkos dokter," kata kurator pameran Seni Rupa Koleksi Istana Kepresidenan, Mikke Susanto, kepada detikX, Kamis, 28 Juli. Sayangnya, dia tak mengetahui judul lukisan tersebut.

Pengasingan itu, Mikke melanjutkan, awalnya membuat Sukarno tertekan. Namun, tak berlangsung lama, Sukarno membentuk kelompok sandiwara yang dinamakan Kalimutu. Sepanjang pengasingannya selama empat tahun itu, Sukarno dan Kalimutu berhasil mementaskan 12 naskah drama. Bukan hanya seni pertunjukan, Sukarno pun mendapatkan kesempatan melanjutkan hobi melukisnya. "Selama di Ende, diperkirakan Sukarno menghasilkan 10 lukisan," kata Mikke.

Selama dalam pengasingan di Ende, Bung Karno membuat 10 lukisan. Digunakan untuk membayar biaya dokter.”

Mikke Susanto, kurator pameran Seni Rupa Koleksi Istana Kepresidenan

Lukisannya antara lain berjudul Upacara Sesajen di Bali, yang dibuat pada rentang 1934-1935. Lukisan minyak pada kanvas ini masih tersimpan di Rumah Situs Bung Karno. Sukarno juga mengerjakan lukisan cat air di atas kertas yang berjudul Pantai Flores. Lukisan ini kemudian dihadiahkan kepada seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang juga penari Jawa klasik, Go Tik Swan.

Banyak yang bertanya bagaimana Sukarno, yang berada di pengasingan, mampu membeli cat minyak. Menurut Mikke, selama dalam pengasingan, Sukarno mendapat tunjangan 150 gulden setiap bulan. Uang tersebut sangat berlebihan untuk hidup di kota terpencil seperti Ende. Sisanya kemudian disisihkan untuk membeli alat dan bahan melukis. "Bung Karno menitip kepada awak kapal yang datang untuk dibelanjakan di Surabaya," ujar penulis buku Bung Karno, Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia itu.

* * *

Lukisan cat air dengan judul Kampung Ambugaga karya Sukarno
Foto: repro buku Bung Karno, Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia

Sejak kecil Sukarno tertarik pada kegiatan menggambar. Tokoh-tokoh wayang menjadi obyek gambarnya semasa bersekolah di Eerste Inlandse School di Mojokerto, Jawa Timur, pada 1907-1916. "Semenjak kecil aku mengagumi cerita wayang. Sewaktu di Mojokerto, aku menggambar-gambar wayang di batu tulisku," begitu pengakuannya kepada Cindy Adams, yang dituliskan dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bakatnya itu pun ditunjukkan pada saat bersekolah di HBS Surabaya. Saat menggambar perspektif, yang diasuh J.W. Broekhuysen, Sukarno menyelesaikan dengan baik gambar sebuah kandang anjing. "Gambar itu pulalah yang dipajang di ruang pamer sekolahnya. Bung Karno awalnya memang ingin jadi pelukis," ujar Mikke. Sukarno bahkan pernah bikin mural kecil-kecilan di tembok-tembok di Surabaya. Keandalannya menggambar itu pulalah yang digunakannya untuk mencari tambahan uang saku. Gambar tokoh-tokoh wayang dijualnya kepada noni dan sinyo Belanda.

Persentuhan Sukarno secara akademis dengan seni rupa terjadi ketika dia berkuliah di jurusan teknik sipil Technische Hogeschool, Bandung, yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung. Salah satu dosennya, Wolff Schoemaker, memiliki bakat melukis dan memahat. "Schoemaker memberi pelajaran menggambar di rumahnya dan Sukarno menjadi muridnya," kata Mikke. Dia meneliti koleksi-koleksi lukisan Bung Karno untuk tesisnya di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Puncak pencapaian Bung Karno dalam seni lukis, kata Mikke, terjadi saat menghasilkan lukisan Rini, yang turut dipamerkan dalam Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan di Galeri Nasional, Jakarta. "Kemampuan teknis Bung Karno saat melukis Rini bisa dibilang luar biasa untuk orang yang jarang melukis," ujarnya. Teknik Sukarno dalam melukis tangan obyek lukisan bisa dibilang mendekati sempurna. "Membuat tangan seperti itu, tingkat kesulitannya tinggi." Mikke menyebut Bung Karno adalah pelukis aliran realis.

Lukisan cat minyak berjudul Upacara Sesajen di Bali
Foto: repro buku Bung Karno, Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia

Bung Karno membantu Dullah membuat bingkai lukisan.
Foto: repro buku Bung Karno, Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia

Lukisan yang dibuat dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 50 X 70 cm pada 1958 itu dimiliki sendiri oleh Bung Karno dan dipasang di kamar kerjanya di Istana Bogor. “Tidak ada yang berani memindahkan dari Istana Bogor,” ujar Mikke.

Di balik lukisan Rini pun ada cerita menarik. Saat mengunjungi Istana Tampaksiring, Bali, yang selesai dibangun pada 1958, Sukarno mengajak pelukis Istana, Dullah. Selama 10 hari di sana, Dullah mengerjakan sebuah sketsa lukisan. "Dullah pulang ke Jakarta. Ketika ia balik ke Bali, sketsanya sudah berwarna," kata Mikke.

Selain itu, siapa gerangan yang menjadi model lukisan tersebut juga menjadi pertanyaan tersendiri. Ada yang menyebutnya Sarinah, perempuan yang pernah mengasuh Bung Karno, ada juga yang menyebut perempuan itu adalah perempuan Indonesia kebanyakan. "Lukisan Rini itu maknanya diisukan sebagai Sarinah, pengasuhnya dulu. Sementara isyaratnya di situ Bung Karno bukan sekadar apresiatoris seni rupa, tapi juga seorang pelukis," ujar pengamat seni rupa Agus Dermawan T.

Tapi putra bungsu Sukarno, Guruh, termasuk yang percaya bahwa Rini adalah sosok khas perempuan Indonesia. "Bapak kan kalau melukis itu ada semacam latihan. Menurut saya, itu gambaran idealnya wanita Indonesia. Berkebaya, bergelung, dan cantik," ujar Guruh di sela-sela pembukaan pameran.


Agus Dermawan T. (kiri) dan Mikke Susanto 
Foto: Abdul Haris/20detik

Menurut Agus, lukisan Rini melibatkan Dullah sebagai pihak yang menyempurnakannya. Jadi lukisan itu dibuatkan sketsanya oleh Dullah, diwarnai oleh Bung Karno, dan disempurnakan Dullah.

Dullah pun disebut sebagai guru lukis bagi Bung Karno. Tapi hal itu, menurut Agus, dibantah sendiri oleh Dullah. "Istilah Pak Dullah bukan ngajar. Menurut Dullah, Bung Karno itu orangnya tidak bisa diajar, sak karape dewe. Bung Karno kok diajar," ujar Agus menirukan perkataan Dullah. Agus pernah mewawancarai Dullah untuk penulisan buku biografi sang pelukis Istana pertama itu. Dia termasuk yang meyakini bahwa Bung Karno belajar melukis secara otodidak. “Teman-teman dia sewaktu di ITB banyak pelukis. Gurunya di ITB juga pelukis,” ujarnya.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.