INTERMESO

Pemburu Nazi
Sampai Mati

“Mereka orang terakhir di muka bumi ini yang layak mendapatkan simpati.”

Foto para korban kamp konsentrasi Auschwitz, Polandia

Foto: Getty Images

Rabu, 27 Juli 2016

Bagi Efraim Zuroff, tak ada maaf bagi anggota Nazi dan orang-orang yang terlibat pembantaian Yahudi. Sekalipun mereka sudah lanjut usia, sakit-sakitan, bahkan nyaris sekarat, Efraim tak ragu menyeret mereka ke pengadilan.

John Demjanjuk misalnya. Dalam kondisi ginjal sakit parah, pada usia hampir 90 tahun, John diseret ke Pengadilan Muenchen, Jerman, di atas kasur. John didakwa turut bertanggung jawab atas kematian ribuan Yahudi saat bertugas sebagai penjaga kamp konsentrasi Treblinka di Polandia pada 1942-1943.

Menurut Efraim, orang seperti John tak pantas mendapatkan simpati. “Itu simpati yang salah tempat. Mereka orang terakhir di muka bumi ini yang layak mendapatkan simpati,” kata Efraim kepada Huffington Post. “Kalian jangan melihat mereka hari ini, orang tua yang rapuh. Tapi bayangkan mereka pada saat kondisi fisik dan kekuatannya masih prima, tapi memakai kekuatannya untuk membunuh perempuan, laki-laki, dan anak-anak.”

Kamu menjadi bagian dari organisasi yang melakukan kejahatan di Auschwitz…. Tidak benar jika kamu tak punya pilihan lain. Kamu bisa minta dikirim ke garis depan pertempuran."

Lebih dari 70 tahun setelah kamp-kamp konsentrasi yang dibangun Nazi di sejumlah negara untuk menampung tawanan Yahudi ditutup, Efraim dan Simon Wiesenthal Center di Los Angeles masih terus mengejar orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ribuan Yahudi di kamp-kamp itu. Baru sebulan lalu Pengadilan Austria menjatuhkan hukuman penjara selama empat tahun atas Reinhold Hanning.

Reinhold, 94 tahun, pernah bekerja sebagai penjaga kamp konsentrasi Auschwitz selama dua setengah tahun. “Kamu menjadi bagian dari organisasi yang melakukan kejahatan di Auschwitz…. Tidak benar jika kamu tak punya pilihan lain. Kamu bisa minta dikirim ke garis depan pertempuran,” kata hakim Anke Grudda, dikutip Guardian. Reinhold Hanning hanya membisu.

Adolf Hitler dan pejabat Nazi dalam Olimpiade 1936 di Berlin. 
Foto: Getty Images 

Persis setahun lalu, hakim Pengadilan Jerman mengetuk palu vonis penjara empat tahun untuk Oskar Groning. Oskar, kala itu 94 tahun, tak terlibat langsung dalam pembunuhan massal di kamp Auschwitz, Polandia. Dia bekerja sebagai petugas pencatat tawanan.

Oskar menuturkan, saat pertama dikirim ke Auschwitz sebagai prajurit Schutzstaffel alias SS, kesatuan paramiliter di bawah kendali Partai Nazi, dia tak tahu apa yang terjadi dalam kamp konsentrasi itu. Malam pertama setelah tiba, dia dan teman-temannya yang baru datang dijamu dengan vodka oleh komandan SS di Auschwitz.

“Aku minum lima sloki vodka,” Oskar menuturkan di pengadilan. Malam itu pula dia baru tahu apa itu kamp konsentrasi Auschwitz, tempat semua Yahudi yang dianggap tak layak menjadi buruh paksa “dibuang”. “Aku terus memikirkannya sampai bangun keesokan harinya.”

Sejak pagi itu pula dia mulai menyaksikan hal-hal mengerikan di depan matanya. “Aku melihat seorang komandan SS mengambil bayi dan melemparkannya ke atas lori…. Itu pemandangan paling mengerikan yang pernah aku saksikan,” kata Oskar.

Tak tahan melihat pemandangan mengerikan setiap hari, dia mengajukan permohonan pindah tugas. Permintaan pertama langsung ditolak komandannya. Baru setelah tiga kali mengajukan pindah tugas, permintaannya dikabulkan. Tapi semua itu tak membuat Oskar lepas dari hukuman, bahkan setelah 70 tahun dari dia meninggalkan Auschwitz.

* * *


Bekas kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau di Polandia. 
Foto: Getty Images 

Sudah puluhan tahun Efraim Zuroff memburu anggota Nazi yang terlibat dalam pembunuhan Yahudi lebih dari 70 tahun silam.

“Selama itu pula, tak sekali pun aku menemui anggota Nazi yang menunjukkan penyesalan mereka. Tak pernah,” kata Efraim kepada Huffington Post. Dia tak tahu persis berapa banyak lagi anggota Nazi dan orang-orang yang terlibat di kamp-kamp konsentrasi Nazi yang masih hidup. “Tapi aku yakin jumlahnya lebih banyak dari yang orang sangka.”

Heinrich Muller, misalnya, komandan Gestapo, polisi rahasia Nazi, tak pernah ditemukan sampai hari ini. Alois Brunner, tangan kanan Adolf Eichmann, komandan SS yang bertanggung jawab atas kematian ribuan Yahudi, tak pernah dihukum sampai meninggal di Suriah dua tahun lalu.

Oskar Groning, mantan prajurit SS di kamp konsentrasi Auschwitz, Polandia
Foto: Getty Images

Menurut Efraim, sebagian besar negara hanya setengah hati membantu mereka mencari orang-orang itu. Negara-negara itu, kata Efraim, sengaja membiarkan para pelaku itu mati tanpa dihukum supaya tak membuat malu. Tapi Efraim pantang menyerah.

Sampai hari ini, Efraim dan Simon Wiesenthal Center sudah membantu memenjarakan lebih dari 1.000 orang yang terlibat dalam pembunuhan Yahudi di kamp konsentrasi. Di antaranya Franz Stangl, komandan kamp konsentrasi Treblinka dan Sobibor di Polandia. Kendati sudah 67 tahun, Efraim belum berniat pensiun dari memburu orang-orang ini.

Efraim Zuroff di Backa, Hungaria
Foto: Wikimedia

“Ini bukan sekadar pekerjaan, tapi ini misi bagiku,” kata Efraim kepada NewStatesman. Kepada JerusalemPost, Efraim mengatakan merasa beruntung bekerja untuk sesuatu yang dia sukai. “Tapi aku bukan orang yang obsesif…. Sebab, jika kalian membiarkan pekerjaan seperti ini mengambil alih hidupmu, kalian punya masalah besar.”

Sekarang dia punya satu misi, yakni Lithuania. Menurut Efraim, Lithuania merupakan salah satu “pertempuran” terbesarnya. Lebih dari 250 ribu Yahudi mati dibunuh oleh warga Lithuania sendiri sejak 1941. “Tapi tak ada seorang pun warga Lithuania yang pernah dipenjara bahkan untuk satu hari sekalipun,” kata Efraim. Lithuania tak pernah mengakui kolaborasinya dengan tentara Nazi saat Perang Dunia II.

“Aku mengakui betapa sulitnya bagi Lithuania untuk mengakui keterlibatannya,” kata Efraim dalam bukunya, Our People: Journey with an Enemy. Prancis perlu 50 tahun untuk mengakui kesalahan yang sama. Lithuania, kata Efraim, barangkali butuh 90 tahun untuk mengakui kesalahannya.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.