INTERMESO
“Aku sudah melihat orang-orang datang ke kota ini dengan sedikit uang atau banyak sekali uang…. Tapi sebagian besar tak bertahan lama."
Riza Aziz (kiri) bersama Joey McFarland dan dua bintang The Wolf of Wall Street, Leonardo DiCaprio dan Margot Robbie.
Foto: Anthony Harvey/Getty Images
Jumat, 22 Juli 2016Malam itu, pertengahan Mei 2011, adalah malamnya pesta di sepanjang Pantai Cote d’Azur, Cannes.
Di Hotel InterContinental Carlton Cannes, yang menghadap pesisir di tenggara Prancis, itu, Gilles Jacob, Presiden Festival Film Cannes, tengah menjamu sejumlah selebritas dan bos-bos industri film Hollywood sebagai penghormatan kepada bintang film senior Robert De Niro.
“Kalian akan membuat aku menangis,” kata Robert De Niro, seperti dikutip New York Times, terharu dengan penghormatan tersebut. Di belahan lain pantai itu, ada pesta yang lebih meriah lagi.
Red Granite Pictures menyewa satu tempat dan mengundang rapper kondang, Kanye West, bersama bintang Hollywood, Jamie Foxx, untuk memanaskan malam. Sampanye mengalir membasahi kerongkongan tamu yang mulai kering. Semburan kembang api berulang kali menambah hidup pesta pada malam itu.
Dengan topi rendah hampir menutup wajah, Leonardo DiCaprio mondar-mandir sambil menenteng sebotol sampanye. Sesekali bintang di film Inception dan The Revenant itu bergoyang mengikuti lagu Gold Digger yang dilantunkan Kanye West bersama Jamie Foxx.
Riza Aziz, anak tiri Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, dan Joey McFarland
Foto: Anthony Harvey/Getty Images
Now I ain't sayin' she a gold digger
(when I'm in need)
But she ain't messin' with no broke niggas
(She gives me money)
Now I ain't sayin' she a gold digger
(when I'm in need)
Di antara tamu yang menyesaki pantai itu, barangkali hanya segelintir yang pernah mendengar soal Red Granite. Perusahaan film asal Los Angeles ini memang masih “bayi” kala itu. Umurnya belum genap setahun.
Pantas jika Leonardo tengah bungah. Sudah lebih dari tiga tahun dia membeli hak atas film The Wolf of Wall Street, tapi juragan-juragan film Hollywood enggan membiayai pembuatan film tersebut lantaran sepanjang film ini bertebaran adegan dan percakapan vulgar. Red Granite, perusahaan yang masih bau kencur itu, bersedia menanggung ongkos pembuatan film tersebut.
Menurut situs Internetnya, pendiri Red Granite pada 2010 adalah Riza
Aziz dan Christopher “Joey” McFarland. Keduanya nama yang asing di
Hollywood, karena mereka memang bukan orang film. Joey, kini 44 tahun,
lulus dari Universitas Louisville dan pernah bekerja di perusahaan
investasi. Ibunya bekerja sebagai tukang roti, sementara ayahnya menjadi
broker properti. “Aku bukan berasal dari keluarga kaya,” Joey
mengakui. Terang bukan dia yang menjadi cukong di balik Red Granite.
Yang “istimewa” adalah Riza Aziz. Joey berkenalan dengan Riza lewat Low Taek Jho alias Jho Low, sohib Riza sejak masih sekolah di Inggris. Riza lulus dari Sekolah Ekonomi London (LSE) dan pernah bekerja sebagai konsultan di KPMG dan HSBC hingga 2008. Soal karier memang tak ada yang istimewa dari Riza. Tapi dia merupakan anak tiri Najib Razak, Perdana Menteri Malaysia.
Sejak 2010, sudah enam film yang dibiayai oleh Red Granite. Selain The Wolf of Wall Street, Red Granite mengongkosi film Dumb and Dumber to yang bintangi Jim Carrey, Out of the Furnace yang dibintangi Christian Bale, dan Daddy’s Home dengan bintang Mark Wahlberg.
Dengan semua bintang kondang itu, terang tak kecil duit yang dikucurkan Red Granite. Walaupun menghasilkan duit yang tak kecil, film Leonardo paling tidak menghabiskan ongkos US$ 100 juta atau lebih dari Rp 1,3 triliun. Untuk Dumb and Dumber to, juragan Red Granite keluar ongkos sekitar US$ 40 juta atau Rp 525 miliar.
Sungguh disayangkan, sejumlah pejabat korup memperlakukan dana milik rakyatnya bak rekening pribadi mereka.”
Jaksa Agung Amerika Loretta Lynch“Yang jadi incaran kami adalah film-film yang ‘mati’ di studio…. Film bagus yang, lantaran satu dan lain hal, tak lolos di studio lain,” kata Joey, kepada LA Times. Menurut Riza, mereka lentur dalam menentukan jenis film dan kerja sama dengan studio-studio lain. “Setiap film berbeda-beda.”
Graham King, produser sejumlah film Leonardo seperti Aviator, memberikan salut untuk Red Granite yang berani menggerojokkan duit untuk film-film “berisiko”.
“Aku angkat topi untuk siapa saja yang masuk dan berani menyelam sedalam itu…. Pada akhirnya, bukankah itu satu perjudian?” kata Graham. Tapi James Robinson, produser Robin Hood: Prince of Thieves, memperingatkan manajemen Red Granite. “Aku sudah melihat orang-orang datang ke kota ini dengan sedikit uang atau banyak sekali uang…. Tapi sebagian besar tak bertahan lama. Banyak sekali kapal yang tenggelam di bisnis ini.”
Kini Red Granite tengah bersiap membuat film monumental The General tentang George Washington.
* * *
Riza Aziz bersama bintang Dumb and Dumberer.
Foto: Kevin Winter/Getty Images
Sebagai mantan karyawan junior di HSBC dan KPMG, Riza terang bukan orang kaya. Ayah tirinya, Najib Razak, memang punya kuasa besar di Malaysia, tapi Najib juga bukan pengusaha kaya raya.
Tak aneh jika banyak orang bertanya-tanya, dari mana sumber duit Red Granite? Produser Brad Krevoy dan Steve Stabler pernah menggugat Riza dan Joey. Kedua produser itu menuding Riza menggaruk duit haram dari Indonesia, Rusia, Timur Tengah, dan Malaysia untuk membiayai film-filmnya.
Riza terang membantah tudingan itu. Dia menunjuk Mohamed Ahmed Badawy al-Husseiny, bos perusahaan investasi asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Aabar Investments, sebagai penyokong duit utama Red Granite.
“Aku sudah kenal Riza bertahun-tahun dan sudah berbisnis dengan Red Granite sejak awal pendiriannya,” kata Mohamed kepada New York Times beberapa waktu lalu. Menurut Riza, kini 39 tahun, dia bertemu dengan mitranya itu saat masih bekerja di HSBC, London. “Tak ada uang dari Malaysia…. Kami juga tak menerima duit dari Rusia maupun Indonesia.”
Tapi lain pula cerita detektif di Biro Investigasi Federal (FBI). Menurut penuturan seorang detektif FBI kepada Wall Street Journal, ada uang 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang mengalir ke Red Granite. Uang inilah yang kini jadi sumber masalah.
Perusahaan investasi 1MDB diambil alih pemerintah Malaysia dari Negara Bagian Terengganu saat Najib Razak masih menjabat Menteri Keuangan Malaysia. Di 1MDB, Najib duduk sebagai Ketua Dewan Penasihat. Kini 1MDB tengah “dikuliti” oleh Bank Negara Malaysia dan Badan Pengawas Keuangan setelah terlilit utang hingga 42 miliar ringgit Malaysia atau sekitar Rp 150 triliun. Salah satu yang jadi sorotan adalah kerja sama 1MDB dengan International
Petroleum Investment Company (IPIC), induk usaha Aabar Investment. Pada
2012, 1MDB menerbitkan surat utang dengan jaminan dari IPIC. Sebagai
jaminan atas kerja sama dua perusahaan investasi ini, 1MDB mengirimkan
US$ 1,4 miliar atau Rp 1,85 triliun ke Aabar.
Salah satu yang jadi sorotan adalah kerja sama 1MDB dengan International
Petroleum Investment Company (IPIC), induk usaha Aabar Investment. Pada
2012, 1MDB menerbitkan surat utang dengan jaminan dari IPIC. Sebagai
jaminan atas kerja sama dua perusahaan investasi ini, 1MDB mengirimkan
US$ 1,4 miliar atau Rp 1,85 triliun ke Aabar.
Peluncuran DVD The Wolf of Wall Street di luar Bursa Saham New York, Maret 2014.
Foto: Jemal Countess/Getty Images
Namun, menurut penelusuran FBI, alih-alih dikirim ke rekening Aabar di Abu Dhabi, duit itu malah dikirim ke perusahaan lain, dengan nama yang nyaris serupa: Aabar Investment PJS Limited, yang berbasis di British Virgin Islands. Dari Aabar yang ada di British Virgin, sebagian duit itu, US$ 155 juta atau Rp 2,1 triliun, mengalir ke Red Granite.
Dua transfer pertama, masing-masing US$ 60 juta dan US$ 45 juta, dilakukan langsung dari British Virgin. Transfer ketiga, sebesar US$ 50 juta, dikirim lewat sejumlah perusahaan perantara, salah satunya adalah Telina Holding, perusahaan yang juga berbasis di British Virgin yang didirikan oleh Mohammed Ahmed Badawy bersama bosnya di IPIC, Khadem al-Qubaisi. Sebagian duit yang digelontorkan Aabar inilah, menurut penelusuran Wall Street Journal, yang dipakai mengongkosi pembuatan film The Wolf of Wall Street.
Juru bicara Red Granite mengatakan mereka tak tahu ada “yang tak biasa” dari sumber dana Aabar. Red Granite berjanji akan mengembalikan semua duit dari Aabar. Yang jadi soal, Aabar yang ada di British Virgin sudah ditutup. Mohammed dan Khadem juga sudah dilorot dari jabatannya di IPIC dan Aabar-Abu Dhabi.
Sekarang duit itu jadi “bola panas” yang bisa jadi bakal menggelundung hingga Petaling Jaya, Malaysia, tempat Najib Razak berkantor. Beberapa hari lalu, Kejaksaan Agung Amerika Serikat memerintahkan penyitaan sejumlah aset senilai lebih dari US$ 1 miliar yang diduga dibeli dengan duit haram dari 1MDB.
Dengan rupa-rupa cara, “dicuci” lewat sejumlah bank di Amerika, Luksemburg, British Virgin Island, Swiss, dan Singapura, menurut gugatan Kejaksaan Amerika, orang-orang dekat Najib menggaruk lebih dari US$ 3,5 miliar dari 1MDB untuk memborong rupa-rupa aset di Amerika.
Riza Aziz dan Leonardo DiCaprio
Foto: Kevin Winter/Getty Images
Selain sejumlah properti mewah dan pesawat jet Bombardier, duit itu dipakai untuk membeli beberapa lukisan sangat mahal. Dua di antaranya adalah La Maison de Vincent a Arles karya pelukis kondang Vincent van Gogh dan Saint Georges Majeur karya Claude Monet.
Riza Aziz, sohibnya, Jho Low, dan Mohammed Ahmed Badawy ada dalam daftar nama orang-orang yang terkait dengan lalu lintas duit superjumbo itu. “Sungguh disayangkan, sejumlah pejabat korup memperlakukan dana milik rakyatnya bak rekening pribadi mereka,” kata Loretta Lynch, Jaksa Agung Amerika, dikutip Voice of America. “Kami tak akan membiarkan sistem keuangan Amerika dipakai untuk mencuci duit hasil korupsi.”
Dari semua duit yang disedot dari 1MDB, berdasarkan dokumen Kejaksaan Amerika, sekitar US$ 238 juta atau Rp 3,1 triliun masuk ke rekening Red Granite di Singapura. Sebagian duit itu, sekitar US$ 94 juta, dipakai Riza untuk membeli properti mewah di Beverly Hills dan New York.
Sebagian duit lainnya dipakai untuk rupa-rupa keperluan. Sekitar US$ 64 juta, dikirim dalam 11 kali setoran, ditransfer ke rekening perusahaan TWOWS LLC yang terdaftar di Delaware, Amerika. TWOWS merupakan singkatan dari The Wolf of Wall Street.
“Padahal tak satu perak pun keuntungan dari film itu yang pernah dilihat manajemen 1MDB atau rakyat Malaysia,” kata Jaksa Agung Loretta dikutip DelawareOnline.
Juru bicara Red Granite, dikutip New York Times, percaya Riza Aziz tak bersalah. Dalam salah satu dokumen yang didapat Kejaksaan Amerika, Mohammed Ahmed Badawy menjelaskan bahwa duit yang ditransfer Aabar Investment di British Virgin ke rekening Red Granite milik Riza Aziz merupakan “hadiah”. “Duit itu dikirim semata-mata berdasarkan kedekatan pribadi kami,” Ahmed Badawy, dikutip MalaysiaKini, menulis.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.