INTERMESO

Teka-teki Kudeta Setengah Hati

Dear Mr. President, aku sudah bilang sebelumnya. Tangkap Fethullah Gulen atau pulangkan dia ke Turki. Tapi Anda tak mendengarkan."

Tank militer Turki bersiaga tak jauh dari Istana Presiden di Ankara.
Foto: Getty Images

Rabu, 20 Juli 2016

Sekitar pukul 3 lewat dini hari, Steve, bukan nama sebenarnya, terbangun dari tidur dan berniat buang air kecil. Setelah menuntaskan hajat di toilet, dia terkejut mendengar suara menderu-deru di atas Hotel Grand Yazici Club Turban, tempat dia menginap bersama keluarganya.

Buru-buru dia membangunkan istrinya dan bergegas mencari tahu ke meja resepsionis. Tapi, pada Sabtu pagi minggu lalu itu, tak ada satu pun orang yang berjaga di meja resepsionis hotel bintang lima di Marmaris, kota pantai yang menghadap Laut Marmara, Turki, tersebut.

Steve buru-buru kembali ke kamarnya. Suara senapan menyalak berulang kali terdengar. Dari balkon kamar, istrinya mendongak ke langit dan melihat kilatan-kilatan cahaya. “Aku segera sadar bahwa itu adalah sorotan laser bidik di senapan,” Steve menuturkan pengalamannya kepada Sky News, dua hari kemudian.

Rupanya, tiga helikopter yang mengangkut prajurit dari kesatuan elite Bordo Bereliler alias Baret Merah Marun ini menyerbu Hotel Grand Yazici untuk menangkap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Tapi prajurit-prajurit Bordo kecele. Presiden Erdogan sudah terbang ke Istanbul dari Bandara Dalaman hanya beberapa menit sebelumnya.

Fethullah Gulen
Foto: Reuters

Prajurit-prajurit Baret Merah Marun itu merupakan bagian dari sekelompok kecil tentara Turki yang berniat menggusur pemerintahan Presiden Erdogan. Kurang dari 24 jam setelah mereka menyerbu sejumlah target di Kota Ankara dan Istanbul pada Jumat malam, kudeta itu gagal total.

Sebagai orang yang menderita akibat kudeta militer berulang kali selama puluhan tahun, dituduh terlibat gerakan seperti itu adalah satu penghinaan."

Mereka memang sempat menguasai markas tentara dan menyandera Jenderal Hulusi Akar, Panglima Tentara Turki. Lewat pernyataan tertulis kepada media-media di Turki, seperti dikutip Reuters, pemimpin pemberontak Dewan untuk Perdamaian Turki mengatakan upaya kudeta itu bertujuan memulihkan demokrasi di Turki. Tapi pemberontakan tersebut cepat sekali loyo.

Puluhan prajurit muda yang masih miskin pengalaman mengendarai barisan tank ke Istanbul. Tapi, di bawah todongan senapan pasukan yang loyal kepada pemerintah dan kepungan pendukung Erdogan, mereka segera mengibarkan bendera putih nyaris tanpa perlawanan. Upaya pasukan pemberontak menguasai markas dinas intelijen di Ankara dan menangkap bosnya, Hakan Fidan, juga gagal total.

“Kudeta ini direncanakan cukup baik, tapi sepertinya menggunakan gaya tahun 1970-an,” kata Gareth Jenkins, peneliti militer di Istanbul. Mereka menyerbu saat Presiden tak ada di Ibu Kota Ankara, menyerang target-target strategis, seperti bandar udara, gedung parlemen, dan stasiun televisi pemerintah TRT, juga berusaha menguasai jalan-jalan utama. Tapi jaringan media sosial dan sinyal telekomunikasi masih tetap hidup. Jalur telekomunikasi inilah yang dipakai Presiden Erdogan dan Perdana Menteri Binali Yildirim untuk menggerakkan massa pendukungnya.

“Mari kita berkumpul di lapangan sebagai satu bangsa…. Kita akan mengatasi masalah ini. Segera turun ke jalan dan beri mereka jawabannya,” Presiden Erdogan mengajak massa pendukungnya. Lewat aplikasi Facetime, sebelum mendarat di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul, Erdogan melayani wawancara dengan CNN Turk, sekaligus menyebarkan perintahnya.

Memanfaatkan Twitter, Perdana Menteri Yildirim memerintahkan imam-imam masjid mengajak umatnya turun ke jalan menghadang tentara pengkudeta. Hanya beberapa jam kemudian, massa pendukung Erdogan menguasai jalan-jalan di Istanbul dan Ankara.

Dua tentara Turki yang lari ke Yunani dikawal polisi di Kota Alexandroupolis, Minggu, 17 Juli.
Foto: Reuters

Kabar bahwa Presiden Erdogan dan pejabat kunci lain selamat segera tersebar ke seluruh dunia. Saat itu juga kudeta tersebut sudah kehilangan momentum. “Kudeta itu sudah gagal bahkan sebelum mulai,” kata Fadi Hakura dari Chatham House kepada BBC. Selain gara-gara sejumlah blunder yang mereka lakukan, menurut Sinan Ulgen, peneliti soal Turki di Carnegie Europe, kudeta itu gagal total lantaran gerakan tersebut beroperasi di luar rantai komando tentara sehingga gagal memobilisasi dukungan militer.

Tak ada satu pun panglima angkatan yang terlibat. Akin Ozturk, jenderal bintang empat yang kabarnya memimpin kudeta, akan pensiun pada Agustus nanti dan sudah setahun lalu menyerahkan tongkat komando Angkatan Udara Turki kepada Jenderal Abidin Unal. Kolonel Muharrem Kose, yang konon jadi otak di balik kudeta gagal ini, dilorot dari jabatannya sebagai penasihat hukum Panglima Militer Turki pada Mei lalu lantaran diduga punya hubungan akrab dengan kelompok pengikut Fethullah Gulen, “lawan politik” Presiden Erdogan.

Kepada Reuters, seorang pensiunan perwira Turki mengatakan kudeta digelar lebih dini dari rencana lantaran kelompok itu sudah lama diawasi pemerintah. “Mereka belum benar-benar siap,” dia menjelaskan. Kudeta terlalu dini itu menewaskan hampir 300 orang dan melukai ribuan orang lainnya.

* * *

Begitu pasukan pemberontak bisa disikat, Presiden Erdogan dan loyalisnya bergerak cepat. Mereka sepertinya sudah punya daftar siapa saja yang harus dibekuk atau disingkirkan.

Hanya dalam empat hari, lebih dari 45 ribu orang ditangkap, dipecat, atau dirumahkan. Ratusan jenderal dan perwira menengah dijebloskan ke penjara. Kementerian Pendidikan Turki, menurut kantor berita Turki, Anadolu News, memecat dan merumahkan sekitar 15.200 guru dan tenaga pendidikan. Kementerian Dalam Negeri menggusur 8.777 pegawainya.

Mereka yang ditangkap di antaranya Jenderal Akin Ozturk, 64 tahun, dan menantunya, Letnan Kolonel Halkan Karakus, Komandan Pusat Doktrin dan Pelatihan Angkatan Darat Letnan Jenderal Metin Iyidil, Komandan Pasukan Antiteror Letnan Jenderal Adem Huduti, serta Komandan Divisi Ketiga Angkatan Darat Letnan Jenderal Erdal Ozturk. Bahkan dua penasihat Presiden Erdogan, Kolonel Ali Yazici dan Letnan Kolonel Erkan Krivak, juga ikut kena garuk.

Anadolu News sempat melansir berita pengakuan Jenderal Ozturk soal keterlibatannya dalam kudeta. Kabarnya, mantan Kepala Staf Angkatan Udara inilah yang menggerakkan tentara untuk mendongkel pemerintahan Presiden Erdogan.

Tapi, tak lama setelah berita itu beredar di Internet, muncul bantahan tertulis Jenderal Ozturk lewat pengacaranya. “Aku bukan orang yang merencanakan atau memimpin kudeta,” kata Jenderal Ozturk, dikutip BBC. “Aku tak tahu siapa yang menggerakkan kudeta ini.”

Warga Ankara bersembahyang bagi korban kudeta, Minggu, 17 Juli.
Foto: Reuters

Putra Erol Ince, polisi yang tewas saat kudeta, menghadiri upacara pemakaman di Istanbul, 18 Juli.
Foto: Reuters


Siapa yang menggerakkan dan siapa otak dari kudeta “prematur” ini masih simpang-siur. Selama setengah abad terakhir, tentara Turki memang berulang kali terlibat kudeta atau dituduh merencanakan kup. Namun belum jelas benar apa bukti atau saksi atas “perburuan” dan penangkapan besar-besaran terhadap puluhan ribu tentara, polisi, serta pegawai pemerintah Turki kali ini. Sejumlah analis dan tokoh oposisi khawatir, operasi sapu bersih Erdogan tak hanya melibas orang-orang yang terlibat kudeta, tapi juga lawan-lawan politiknya.

“Kami akan membersihkan virus dari semua lembaga pemerintah karena virus ini telah menyebar,” kata Presiden Erdogan. “Seperti kanker, virus ini telah menggerogoti tubuh pemerintah.” Mereka, orang-orang yang terlibat dalam kudeta, menurut Erdogan, akan membayar mahal atas semua tindakannya.

Virus yang dimaksud oleh Presiden Erdogan adalah Fethullah Gulen dan pengikutnya yang tergabung dalam Hizmet. Tangan ulama Turki yang sejak 1999 bermukim di Saylorburg, Pennsylvania, Amerika Serikat, itulah, menurut Presiden Erdogan, yang bermain di balik layar kudeta di Istanbul dan Ankara. “Negara ini banyak menderita gara-gara gerakan Gulen dan pengikutnya,” Presiden Erdogan, dikutip CNN, melemparkan tudingan. Bagaimana hubungan Gulen dan tentara yang terlibat kudeta masih remang-remang.

Permusuhan Erdogan dengan Gulen sebenarnya bukan barang benar-benar baru. Sudah berulang kali Erdogan mengarahkan telunjuknya ke seberang lautan setiap kali terjadi kisruh di negaranya. Gulen dan pengikutnya yang tergabung dalam Hizmet, menurut Erdogan, membangun jejaring dalam pemerintahan, menciptakan “negara dalam negara”.

Sekarang, setelah kudeta, aku katakan sekali lagi…. Segera ekstradisi orang ini ke Turki. Jika kita memang mitra strategis, kerjakan yang perlu dilakukan."

Presiden Erdogan

“Perang terbuka” antara Presiden Erdogan dan Gulen meletup sejak terungkapnya skandal korupsi dalam transaksi emas dan gas dengan Iran pada Desember 2013. Kasus ini menyeret sejumlah menteri dalam kabinet Erdogan—kala itu Perdana Menteri Turki—dan sejumlah petinggi partainya, Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP). Menurut bocoran dokumen ke sejumlah media di Turki, dua putra Erdogan, Bilal dan Ahmed Burak Erdogan, juga menjadi target penangkapan polisi. Tapi, sebelum Bilal dan Burak Erdogan diseret ke penjara, Erdogan merombak besar-besaran petinggi kepolisian. Ratusan polisi dicopot dari jabatannya, termasuk sejumlah pejabat kunci dalam investigasi kasus korupsi.

Tindakan Erdogan dikritik oleh Fethullah Gulen. “Pembersihan itu dilakukan terhadap pegawai pemerintah yang tengah menjalankan tugasnya,” Gulen menulis surat kepada Presiden Abdullah Gul, kala itu.

Erdogan balas menuding. Menurut Erdogan, ada sekelompok orang yang memanfaatkan kasus korupsi itu untuk “menembak”-nya dan mendongkelnya dari kursi Perdana Menteri Turki. Terang yang dia tuding adalah Gulen dan pengikutnya. Konon, selama bertahun-tahun, pengikut Gulen menyusup dan menguasai sejumlah pos kunci dalam kepolisian, militer, dan lembaga peradilan.

Sejak hari itu, hubungan Erdogan dengan Gulen seperti minyak dan air. Tak hanya “membersihkan” kepolisian, militer, dan lembaga peradilan dari orang-orang Fethullah Gulen, Erdogan juga melibas sejumlah bisnis, media, dan lembaga pendidikan yang terkait dengan Hizmet. Pada awal Maret lalu, pemerintah Turki mengambil alih kendali atas Zaman, koran bertiras 650 ribu eksemplar, yang kabarnya dekat dengan Gulen.

Tentara Turki yang terlibat kudeta menyerah dan dipukuli warga di Jembatan Bosforus, Istanbul, Minggu 17 Juli.
Foto: Reuters

Sekarang Gulen dan pengikutnya kembali dikejar-kejar aparat Turki. Operasi Bank Asya, yang konon juga dikendalikan kelompok pengikut Gulen, dibekukan. Demikian pula sekolah-sekolah yang dekat dengan Hizmet.

Dari rumahnya di Saylorburg, Gulen membantah keterlibatannya dalam kudeta. “Sebagai orang yang menderita akibat kudeta militer berulang kali selama puluhan tahun, dituduh terlibat gerakan seperti itu adalah satu penghinaan…. Posisiku dalam demokrasi sangat jelas. Segala upaya untuk mendongkel pemerintahan merupakan pengkhianatan terhadap kesatuan kita,” kata Gulen dikutip CNN.

Tapi Erdogan sangat yakin bahwa Gulen-lah dalang utama kudeta di negaranya. “Aku sudah bicara dengan Amerika dan Presiden Barack Obama. Dear Mr. President, aku sudah bilang sebelumnya. Tangkap Fethullah Gulen atau pulangkan dia ke Turki. Tapi Anda tak mendengarkan. Sekarang, setelah kudeta, aku katakan sekali lagi…. Segera ekstradisi orang ini ke Turki. Jika kita memang mitra strategis, kerjakan yang perlu dilakukan,” kata Presiden Erdogan.

Pemerintah Turki, menurut Perdana Menteri Binali Yildirim, telah mengajukan permintaan resmi kepada pemerintah Amerika untuk ekstradisi Fethullah Gulen. Gulen menanggapi permintaan ekstradisi itu dengan kalem. “Suatu hari aku pasti akan mati. Apakah mati di kasur atau dalam penjara, aku tak ambil pusing.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.