INTERMESO

SS-101, Pelukis yang Dikagumi Bung Karno

Pascaperistiwa G-30-S/1965, Sudjojono cuma sehari ditahan tentara
karena Adam Malik menyelamatkannya.

Presiden Sukarno dan lukisan Orang-orang Repolusi. Sejak 2010, lukisan itu kembali dipasang di Gedung Agung Yogyakarta.

Foto: Henri Cartier Bresson

Senin, 1 Agustus 2016

Sebelum Bung Karno diasingkan ke Pulau Bangka pada 1949, pelukis S. Sudjojono menemuinya di Gedung Agung, Yogyakarta. Tujuan utamanya tak lain adalah menagih utang atas lukisan Kawan-kawan Repolusi, yang dibeli oleh sang presiden. Lukisan itu dibeli saat ada pameran lukisan sanggar Seniman Indonesia Muda, yang diselenggarakan oleh Biro Perjuangan pimpinan Mayor Jenderal Djokosudjono di Yogyakarta pada 25 Mei 1947. Biro Perjuangan dibentuk Menteri Negara Urusan Pemuda dalam kabinet Amir Sjarifuddin untuk mengorganisasi laskar-laskar rakyat.

"Uang dua puluh ribu rupiah diserahkan padaku," tulis Mia Bustam, istri Sudjojono, dalam buku Sudjojono dan Aku edisi revisi yang diterbitkan Institut Studi Arus Informasi, Agustus 2013.

Hingga 1965, setidaknya ada 15 karya Sudjojono yang dikoleksi Bung Karno. Di Depan Kelambu Terbuka termasuk yang dibelinya."

Namun sejumlah teman Sudjojono, seperti Daoed Joesoef, yang pernah sama-sama aktif di sanggar Seniman Indonesia Muda Yogyakarta, menilai angka Rp 20 ribu untuk sebuah lukisan kala itu terlampau berlebihan. Sebab, gaji Bung Karno sebagai presiden pada 1945 cuma Rp 1.000, dan Rp 20 ribu pada 1963.

“Pak Daoed lebih percaya jumlah uang yang diterima SS-101 tak lebih dari Rp 2.000,” kata Mikke, yang sejak 2008 menjadi kurator lukisan dan karya seni di Istana Kepresidenan.

Sudjojono mengenakan surjan Yogya dipadukan jas wol saat mengikuti Festival Pemuda dan Mahasiswa Sedunia di Berlin Timur
Foto: Koleksi Tedjabayu

Menurut Mikke, hingga 1965, setidaknya ada 15 karya Sudjojono yang dikoleksi Bung Karno, seperti Pelopor Gerilya, Di Kampung, dan Mengungsi. Dari jumlah itu, 10 karya di antaranya masuk dalam buku Koleksi Presiden Sukarno Edisi Dullah (1956) dan 6 karya yang dimuat dalam buku Koleksi Presiden Sukarno Edisi Lee Man-fong (1964).

Dalam ingatan Tedjabayu, anak sulung Sudjojono, lukisan Kawan-kawan Repolusi dibuat untuk memenuhi tantangan Trisno Sumardjo. Dia meminta Sudjojono membuat lukisan yang dapat selesai dalam waktu singkat. "Trisno meledek Bapak. Katanya, Sudjojono hanya ngomong soal realisme, seniman itu harus bisa kerja cepat," kata Tedjabayu saat berbincang dengan detikX di kediamannya, kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu, 13 Juli 2016.

Model dalam lukisan itu antara lain Mayor Sugiri sebagai pimpinan pasukan pengawal; pelukis Basuki Resobowo; guru Sudjojono, Yudhokusumo; dan prajurit Pemuda Sosialis Indonesia, Dullah. Tedjabayu, yang masih bocah, pun turut dilukis agar tidak rewel karena sedang pilek. Di bagian atas lukisan, Sudjojono menulis, "membawa kami ke satoe rumah, ke satoe rumah, ke satoe langit, ke satoe repolusi. Repolusi ini ialah repolusi Indonesia". "Lukisan itu jadi dalam sehari," kata Tedjabayu.

* * *

Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara, pada 1913. Ia anak pasangan kuli kontrak Sindudarmo dan Marijem. Yudhokusumo, seorang guru, mengangkatnya sebagai anak karena melihat bakat Sudjojono sangat besar. Sudjojono pun diajak pindah ke Jawa untuk bersekolah. Orang tua kandungnya akhirnya menyusul dan menetap di Sunter, Jakarta Utara. Semasa bersekolah, Sudjojono berguru kepada Yasaki, pelukis tua Jepang. "Sudjojono mengikuti pelukis tua itu ke mana pun sambil membawakan sandaran lukisan dan kotak catnya," tulis Mia Bustam. Sudjojono juga pernah belajar melukis kepada Pirngadi.

Lukisan Kawan-kawan Repolusi yang dibuat tahun 1947 di Solo, Jawa Tengah
Foto: koleksi Tedjabayu

Setelah Sudjojono menyelesaikan pendidikan dasar, Yudhokusumo memasukkannya ke Teosofische Kweekschool Gunung Sari di Lembang. Ia mendapatkan nomor induk 101. "Kelak Bapak menandai lukisannya dengan SS-101 sampai lukisan terakhirnya," ujar Tedjabayu. Namun ada juga yang menyebut 101 itu adalah nomor rumah isolasi atau penjara. "Menurut Mia Bustam, Sudjojono tidak pernah dipenjara," kata Tedjabayu.

Sudjojono terhitung anak yang badung, sehingga dikeluarkan dari sekolah dan pindah ke Taman Guru Taman Siswa di Yogyakarta. "Bapak sempat menjadi guru ketika lulus dan kemudian kembali ke Jakarta."

Menjelang Pemilihan Umum 1955, Sudjojono bergabung dengan PKI dan terpilih sebagai anggota DPR."

Saat di Jakarta, Sudjojono kerap mengunjungi lokalisasi di daerah Senen. Salah seorang penghuninya yang bernama Fatimah alias Adhesi, asal Cirebon, Jawa Tengah, lalu diajaknya tinggal bersama di Sunter meski ditentang sang ibu, Marijem.

Dari kehidupannya bersama Adhesi, yang kemudian dinamai Miryam, lahir lukisan Di Depan Kelambu Terbuka. Lukisan itu menggambarkan Miryam dengan sorot mata pasrah duduk di depan ranjang dengan kelambu dihiasi bunga oranjebloesem. "Bung Karno juga membeli lukisan itu," ujar Tedjabayu.

Tak hanya hidup sebagai seniman. Sudjojono pun mengorganisasi pelukis-pelukis lain dengan mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). "Penolakan mereka pada aliran Mooi Indie, yang selalu menggambarkan alam Hindia Belanda yang serba-indah," tulis Mia Bustam.

Lukisan Di Depan Kelambu Terbuka, salah satu yang dikoleksi Bung Karno
Foto: koleksi Tedjabayu

Basuki Resobowo, anggota Persagi, menggambarkan sosok sahabatnya itu memiliki garis-garis wajah yang menunjukkan kekerasan watak serta sorot mata yang menyinarkan daya hidup militan dan mantap. Kemampuannya berbicara boleh dibilang seperti agitator. “Mendengar omongannya membuat kita tercekam ke dalam ide-idenya," tulis Basuki dalam buku Seniman, Seni, dan Masyarakat.

Saat masa pendudukan Jepang, Persagi bubar. Bung Karno kemudian menarik Sudjojono ke Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam divisi kebudayaan bersama muridnya, Dullah dan Affandi. Di sini pula Sudjojono bentrok dengan Bung Karno karena persoalan dengan Basoeki Abdullah. setelah Putera dibubarkan, Ketua Keimin Bunka Shidoso (Lembaga Kesenian Jepang) Agus Djajasoeminta menarik Sudjojono sebagai wakil.

* * *

Menjelang Pemilihan Umum 1955, Sudjojono bergabung dengan Partai Komunis Indonesia dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Istrinya, Mia, dan delapan anaknya tetap tinggal di Yogyakarta. Jauh dari keluarga dan posisinya sebagai politikus membuat Sudjojono berubah dan kembali terlibat percintaan dengan wanita lain. Kali ini dengan Rosalina Poppeck atau Rose Sumabrata, yang kemudian berganti nama menjadi Rose Pandanwangi. Dia seorang penyanyi seriosa yang dikenalnya saat mengikuti festival Pemuda dan Mahasiswa Sedunia di Berlin Timur. Rose waktu itu sedang belajar di salah satu universitas di Praha.

Tedjabayu, putra sulung Sudjojono
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Sebagai anak, Tedjabayu sama sekali tidak mempermasalahkan hubungan mereka. "Tetapi dia meninggalkan delapan anaknya hingga tidak terurus, itu membuat kami kecewa."

Pimpinan partai pun mempermasalahkan kelakuan Sudjojono sehingga membuatnya mengundurkan diri, termasuk sebagai anggota Dewan. Saat peristiwa Gerakan 30 September 1965 pecah, Sudjojono sempat ditahan penguasa meski cuma sehari. Sedangkan kawan-kawannya bernasib berbeda, seperti Trubus Soedarsono dihilangkan dan Basuki Resobowo hidup sebagai eksil di Belanda. "Adam Malik menyelamatkannya dengan memerintahkan pasukan khusus Angkatan Udara menjemputnya di ruang tahanan," ujar Tedjabayu.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.