INTERMESO
“Dia berasal dari keluarga miskin dan sekarang tinggal di Istana. Kesuksesan dan kekuasaan telah meracuninya.”
Presiden Erdogan
Foto: Chris McGrath/Getty Images
Rabu, 20 Juli 2016Sungguh mahal harga yang harus dibayar Ahmet Sik untuk menulis satu buku. Bahkan untuk sebuah buku yang belum diterbitkan.
Suatu pagi pada awal Maret 2011, terdengar ketukan di pintu rumah Sik. Rupanya tamu tak diundang itu tidak datang untuk bertamu. Sekelompok polisi itu datang untuk menangkap wartawan investigasi koran Radikal itu.
Pada pagi itu, polisi juga menangkap Nedim Sener, wartawan investigasi harian Milliyet. Dua wartawan Turki ini dituduh punya kesalahan sama, yakni menjadi anggota kelompok bawah tanah Ergenekon. Tuduhan yang dibantah keduanya.
Semua yang menyentuh Gulen akan terbakar."
“Semua orang tahu, tuduhan polisi terhadap dua orang ini benar-benar absurd, tak masuk akal,” kata Fikret Ilkiz, pengacara Sik, kepada Der Spiegel, kala itu.
Menurut Fikret, Sik pernah menjadi redaktur majalah Nokta, yang menginvestigasi rencana kudeta sejumlah jenderal. Tulisan Sik dan teman-temannya menjadi salah satu bukti untuk memberangus kelompok Ergenekon.
Setahun diterungku tanpa jelas kesalahannya, Sik dan Sener bebas. Ahmet Sik yakin bukan dugaan keterkaitannya dengan Ergenekon yang membuatnya dijebloskan dalam penjara, melainkan gara-gara naskah buku yang sedang ditulisnya.
Saat polisi menyeretnya dari rumah, Sik sudah hampir tuntas menulis bukunya, Imamin Ordusu atau Tentara-tentara Sang Imam. Dalam bukunya, Sik menulis soal gerakan yang dipimpin Fethullah Gulen, ulama asal Turki yang sejak 1999 bermukim di Saylorsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Pasukan loyalis Erdogan memburu tentara pemberontak di Marmaris, Senin 18 Juli.
Foto: Reuters
Kendati Gulen tak punya kendaraan politik, Sik menggambarkan dengan detail betapa besar dan kuatnya pengaruh Sang Imam di sejumlah lembaga pemerintah Turki, seperti kepolisian dan pengadilan. Pengaruh Gulen, menurut Sik, berurat berakar lantaran sejak 1980-an anak buahnya sudah menyusup ke lembaga-lembaga itu. Bahkan, di kepolisian, kata Sik, 80 persen anggotanya merupakan pengikut atau simpatisan Gulen.
Nedim Sener juga pernah menulis soal gerakan Gulen atau lebih dikenal sebagai Hizmet. Salah satu bukunya memuat soal kasus pembunuhan wartawan asal Armenia, Hrant Dink, pada 2007. Sener menuding, tentara dan polisi yang terlibat dalam pembunuhan Dink punya kaitan kuat dengan kelompok Hizmet.
“Semua yang menyentuh Gulen akan terbakar,” kata Ahmet Sik kepada New York Times, sehari setelah keluar dari penjara pada Maret 2012. Fethullah Gulen membantah tudingan sebagai orang di balik penangkapan dua wartawan itu.
* * *
Siapakah Fethullah Gulen? Tinggal di kompleks yang lapang di Saylorsburg, Pennsylvania, Gulen relatif tertutup dari publikasi. Dia sangat jarang melayani permintaan wawancara dengan wartawan.
Tak aneh jika banyak orang terpana saat majalah Foreign Policy dan majalah Prospect menobatkan Fethullah Gulen sebagai intelektual paling berpengaruh pada 2008. Selama beberapa pekan, dua majalah itu menggelar survei terbuka lewat Internet dan selama itu pula ribuan orang mengusulkan nama Fethullah Gulen, jauh mengungguli ilmuwan kondang, seperti Noam Chomsky. “Aku tak pernah membayangkan akan terpilih untuk sesuatu yang sangat penting di dunia seperti itu,” kata Gulen kepada Foreign Policy.
Pendukung Presiden Tayyip Erdogan merayakan kegagalan kudeta militer.
Foto: Ammar Awad/Reuters
Lahir di Desa Korucuk, di luar Kota Erzurum, Turki, pada 1941, sejak muda Gulen menghabiskan umurnya untuk berdakwah dari masjid ke masjid. Pada 1958, Gulen lulus ujian imam dari Kementerian Agama Turki. Tugas pertamanya adalah menjadi imam kedua di Masjid Serefeli di Kota Edirne. Karier imamnya terus menanjak dan dia dipromosikan untuk memimpin masjid yang lebih besar di Kota Izmir. Sejak itu Gulen terus berpindah dari masjid ke masjid. Jemaahnya terus berkembang, bahkan hingga ke luar Turki. Rekaman khotbah-khotbahnya tersebar luas, menambah besar pengaruh Gulen.
Kudeta militer pada 1980 membuat Gulen kesulitan. Tanpa alasan yang jelas, penguasa militer melarangnya memberikan khotbah selama enam tahun. Selama itu, dia terus melakukan sohbet, berdakwah dalam kelompok-kelompok kecil dari rumah ke rumah.
Christopher L. Miller dalam bukunya, The Gulen Hizmet Movement, menggambarkan bagaimana khotbah-khotbah Gulen yang emosional dan inspiratif menyedot banyak pengikut. Alih-alih menyebarkan kebencian, Gulen pilih menyebarkan kasih sayang. Alih-alih menolak modernitas, seperti halnya ulama kondang Turki, Said Nursi, Gulen sangat yakin bahwa Islam dan sains bisa saling melengkapi. Sains, menurut Gulen, adalah alat untuk memahami alam semesta.
Lewat ribuan sekolah yang ada di bawah kendali Hizmet, Gulen dan pengikutnya menebar jaring pengaruh. Konon, ada lebih dari 2 juta murid yang belajar di sekolah-sekolah di bawah jejaring Hizmet. Di Amerika saja, ada 126 sekolah di 26 negara bagian yang dikelola oleh Gulen dan anak buahnya.
Menurut Gulen, dia tak mengendalikan semua sekolah itu. “Aku hanya menyarankan dan mendorong…. Mustahil untuk mengontrol semuanya secara terpusat,” kata Gulen kepada Foreign Policy. Dari sekolah, gurita Hizmet melebar hingga perusahaan media, bank, stasiun televisi, dan perusahaan-perusahaan lain.
* * *
Foto: Baz Ratner/Reuters
“Aku tak pernah, dan tak akan pernah, punya ambisi politik,” Fethullah Gulen menjelaskan sikapnya kepada Foreign Policy pada 2008.
Sampai detik ini, Gulen memang tak pernah menjadi anggota atau pengurus partai politik mana pun di negaranya, Turki. Tapi ulama yang mengklaim tak punya ambisi politik ini berulang kali dituding ada di balik layar upaya kudeta di Turki, termasuk pemberontakan tentara pekan lalu.
Erdogan orang yang haus kekuasaan dan dia pikir orang lain juga serupa.”
Sudah lama militer Turki pasang mata terhadap aktivitas kelompok Gulen. Para jenderal di Turki, menurut Faruk Mercan, penulis buku Fethullah Gulen, curiga Gulen tengah membangun kekuatan politik untuk menegakkan syariat Islam, berlawanan dengan cita-cita negara sekuler Turki.
Pada akhir 1980-an, militer menangkap Gulen, tapi Perdana Menteri Turgut Ozal membebaskannya. Pada tahun 2000, militer Turki kembali melontarkan tuduhan bahwa Gulen dan pengikutnya berniat meruntuhkan fondasi negara sekuler Turki.
Stasiun televisi ATV menyiarkan satu rekaman pada 1999 yang memperkuat tudingan itu. Dalam video tersebut, Gulen terekam tengah memberikan “arahan” kepada pengikutnya.
“Keberadaan teman-teman kita di pengadilan, di lembaga pemerintahan lainnya, merupakan jaminan bagi masa depan Islam…. Kalian harus menelusup ke dalam arteri sistem pemerintahan tanpa seorang pun tahu hingga sampai ke pusat kekuasaan…. Kalian harus menunggu hingga bisa mendapatkan semua kekuasaan negara, hingga kalian memegang semua kekuasaan lembaga konstitusional,” kata Gulen seperti dikutip BBC. Gulen dan anak buahnya menuding video itu dipalsukan.
Presiden Erdogan berpidato di depan pendukungnya saat menghadiri upacara pemakaman korban kudeta di Istanbul, Minggu 17 Juli.
Foto: Reuters
Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan sebenarnya berasal dari “kemah” yang sama. Sama-sama pemimpin muslim, sama-sama punya pengalaman buruk dengan militer Turki. Ketika menjadi Wali Kota Istanbul, Erdogan menyaksikan bagaimana militer Turki memaksa guru politik dan bosnya di Partai Refah, Perdana Menteri Necmettin Erbakan, turun dari kursinya. Setahun kemudian, Mahkamah Konstitusi Turki membubarkan Partai Refah.
Ketika naik kekuasaan bersama Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) pada 2002, Erdogan masih miskin pengalaman. Dia juga butuh sekutu untuk melawan kelompok nasionalis sekuler yang disokong militer. Demi menghadapi musuh yang sama, yakni militer, menurut Gareth Jenkins, analis politik Turki di Central Asia-Caucasus Institute, Erdogan merangkul Gulen dan pengikutnya. Padahal Gulen mendukung keputusan Mahkamah untuk membubarkan Partai.
“Itu merupakan ‘pernikahan’ yang dipaksakan,” kata Ahmet Sik. Bersama-sama, Erdogan dan pengikut Gulen melucuti pengaruh militer. Tapi “perjodohan” yang dipaksakan itu akhirnya bubar juga.
Pada 2012, hubungan kedua kelompok mulai retak. Bermula dari masalah “kecil” saat kelompok Gulenis berniat memeriksa Hakan Fidan, kepala intelijen Turki dan sekutu Erdogan, ribut-ribut itu menjadi “perang” terbuka setahun kemudian.
Erdogan menembakkan peluru pertama. Pada pertengahan 2013, Erdogan menyampaikan niatnya untuk menutup lebih dari 4.000 lembaga kursus persiapan perguruan tinggi. Padahal hampir sepertiga lembaga kursus ini dimiliki oleh pengikut Gulen.
Wisatawan berfoto di depan tank di Alun-alun Taksim, Istanbul, Minggu, 17 Juli
Foto: Reuters
Hubungan Presiden Erdogan dengan Gulen makin panas dan akhirnya benar-benar bubar sejak terungkapnya skandal korupsi dalam transaksi emas dan gas dengan Iran pada Desember 2013. Kasus ini menyeret sejumlah menteri dalam kabinet Erdogan—kala itu Perdana Menteri Turki—dan sejumlah petinggi partainya, Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP).
Menurut bocoran dokumen ke sejumlah media di Turki, dua putra Erdogan, Bilal dan Ahmed Burak Erdogan, juga menjadi target penangkapan polisi. Tapi, sebelum Bilal dan Burak Erdogan diseret ke penjara, Erdogan merombak besar-besaran petinggi kepolisian. Ratusan polisi dicopot dari jabatannya, termasuk sejumlah pejabat kunci dalam investigasi kasus korupsi.
Erdogan menuding Gulen dan pengikutnya ada di balik kelompok yang berniat menjatuhkannya lewat skandal korupsi itu. “Erdogan orang yang haus kekuasaan dan dia pikir orang lain juga serupa,” kata Gulen kepada Der Spiegel. “Dulu dia berasal dari keluarga miskin dan sekarang tinggal di Istana. Kesuksesan dan kekuasaan telah meracuninya.”
Sekarang, Erdogan kembali menuding Gulen dan pengikutnya ada di balik kudeta oleh tentara Turki pada Jumat pekan lalu. Tuduhan yang dibantah oleh Gulen. Dia balik menuding Erdogan sebagai sutradara di balik kudeta yang gagal itu.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.