INTERMESO

Sudarsono, Arsitek Monas dari Solo

Terpikat oleh Tugu Pemuda di depan Balai Kota Malang, Bung Karno meminta Sudarsono menyempurnakan desain Tugu Monumen Nasional rancangan arsitek F. Silaban.

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Senin, 11 Juli 2016

Pada suatu hari Minggu pagi pada April 1952, Sudarsono diminta menghadap Presiden Sukarno di Istana Bogor. Ia diterima Presiden di beranda yang menghadap Kebun Raya Bogor. Saat itu Bung Karno didampingi Kepala Rumah Tangga Militer Presiden Mayor Jenderal Suhardjo Hardjowardojo, arsitek Friedrich Silaban, pelukis Dullah dan Ernest Dezentje, serta pejabat rumah tangga Istana Merdeka, Tukimin. Suhardjo, yang berasal dari Solo, lantas memperkenalkan Sudarsono kepada Bung Karno sebagai orang Solo. "Bukankah dia dari Malang?" ujar si Bung.

Hari itu memang pertemuan kedua mereka. Sebelumnya, pada suatu hari di tahun 1946, keduanya bertemu di Batu, Jawa Timur. Bung Karno kala itu menggagas pembangunan Tugu Pemuda dan kolamnya di depan Balai Kota Malang. Sedangkan Sudarsono bergabung dengan Badan Keselamatan Rakyat Bagian Teknik di Malang. "Sewaktu berkenalan dengan Bung Karno, saya merasa terpesona. Tampak sinar mata Bung Karno menunjukkan kewibawaan," kata dia kepada Solichin Salam yang dituliskan dalam buku Tugu Nasional dan Soedarsono.

Rumah peristirahatan pribadi Bung Karno yang diberi nama Bima Sakti di Batutulis, Bogor, pada 1961 merupakan hasil goresan tangan Sudarsono."

Hasil kerja Sudarsono di Malang yang memuaskan membuatnya dipanggil ke Bogor. Seolah mengujinya, kali ini si Bung meminta Sudarsono membuat gambar pemandangan suatu tempat dengan batu-batuan dan air yang mengalir di lereng perbukitan sebagai lokasi pembangunan rumah kecil. Bung Karno memperhatikan gerakan tangan Sudarsono dan hanya memberikan komentar pendek, "Yah!" Setelah merampungkan tes kecil itu, Sudarsono pun diajak berkeliling Istana Bogor.

"Saya ditarik ke Jakarta untuk pemugaran Istana Bogor dan Istana Cipanas," kata Sudarsono. Ia pun diangkat sebagai arsitek Istana Presiden, menggantikan arsitek Volinga.

Para ahli panjat tebing diperbantukan untuk membersihkan  Tugu Monas, Mei 2014..
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Terhitung sejak 1952, karya Sudarsono dalam bidang arsitektur mulai bermunculan. Dia diminta menggambar gedung SMA Pancasila Yogyakarta. Kemudian pembangunan Istana Tampaksiring di Bali pada 1956. Bung Karno pun memintanya merancang masjid yang akan didirikan di samping Istana Merdeka. Masjid yang kemudian diberi nama Baiturahhim itu mulai dibangun pada 1960 dengan menggunakan batu-batu alam dari Sumatera, ornamen koral dari Bali, lampu krom dari Cekoslovakia, dan permadani dari Arab.

Rumah peristirahatan pribadi Bung Karno yang diberi nama Bima Sakti di Batutulis, Bogor, pada 1961 pun hasil goresan tangan Sudarsono. Tentu yang paling monumental adalah Monumen Nasional.

* * *

Sudarsono dan maket Tugu Monas
Foto : Koleksi Perpustakaan Nasional

Tugu Monas dalam proses penyelesaian
Foto : dok. Bogor Heritage

Sudarsono lahir di Desa Gawok, yang saat itu masuk wilayah Kawedanan Surakarta. Ayahnya masih keturunan kerabat Kasunanan Pakubuwono. Pada 1927, ia lulus HIS Idenburg School, kemudian menempuh ujian sekolah lanjutan ke Technische School Prinses Juliana School di Yogyakarta pada 1928. Waktu itu ia pilih sekolah teknik dengan alasan agar bisa meraih kemajuan sejajar dengan bangsa-bangsa asing. Guru-gurunya orang-orang Belanda dan Prancis. Ia berhasil menyelesaikan studi pada 1932 dengan jurusan Spoorweg dan Waterbouw.

Sudarsono muda berguru pada insinyur bangunan dan pengembangan kota bernama Thomas Nix."

Ayah empat anak itu bekerja bersama ahli-ahli teknik sipil Jepang kelompok Fujitagumi, yang melayani pembangunan keperluan bala tentara Jepang. Biro Fujitagumi dipimpin insinyur lulusan Amerika Serikat bernama Murashima. Saat Jepang menyerah, Sudarsono bergabung dengan Badan Keselamatan Rakyat Bagian Teknik di Malang. Ia ikut aktif dalam pengambilalihan perusahaan yang dikuasai Jepang.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Sudarsono pindah ke Surabaya. Ia bergabung ke Divisi Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Timur dan bertugas di bagian Perencanaan Gedung-gedung Negara dan kemudian ditarik ke Jakarta menjadi arsitek kepercayaan Sukarno.

Presiden Sukarno tengah meninjau pembangunan diorama Perang Diponegoro didalam area Tugu Monas, Desember 1965.
Foto: Koleksi Perpustakaan Nasional

Sejatinya Sudarsono tidak pernah mengenyam pendidikan arsitektur secara formal, baik di universitas maupun akademi. Bakatnya merancang bangunan dikembangkan lewat latihan dan pengalaman. Ketika berada di Bandung sebelum masa pendudukan Jepang, ia berguru pada seorang insinyur bangunan dan pengembangan kota bernama Thomas Nix. Saat itu Nix bertugas di kantor Balai Kota Bandung dan mengerjakan bangunan militer serta perumahan sipil. Nix kemudian menjadi guru besar di Universitas Teknologi Delft, Belanda. Ketika ditanya siapa gurunya, Sudarsono berkata, "Profesor Thomas Nix dan Bung Karno!"


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.