INTERMESO
Kejutan budaya dihadapi anak-anak diplomat tak cuma di negara tempat orang tua bertugas, tapi juga saat kembali ke Tanah Air.
Christophorus Adhipandito Tito bersama teman-teman SMA di Madrid, Spanyol.
Foto: dok. pribadi
Seperti apa sih rasanya menjadi anak diplomat? Fathia Izzati punya sederet penjelasan yang dia unggah ke YouTube. Menurut gadis yang pernah tinggal di Afrika Selatan (Pretoria) saat bayi hingga berusia 3 tahun, lalu pindah ke Kanada dan Amerika Serikat, itu menjadi anak diplomat harus pandai beradaptasi dengan setiap lingkungan yang baru.
“Selalu siap dengan senyum yang baru, tatapan baru, dan sewaktu-waktu juga harus siap mengucapkan kata-kata perpisahan,” tuturnya dalam video bertajuk “What It's Like to be a Diplomat's Daughter”, yang disaksikan lebih dari 52 ribu kali sejak diunggah pada 19 Juni 2016.
Sebagai anak diplomat, ia melanjutkan, setiap saat akan mendapatkan teman atau tetangga baru. Ia harus berupaya ramah dan santun, terutama saat berada di meja makan. Selain itu, setiap anak diplomat dituntut bisa menari dan memainkan alat musik tradisional serta mengenal dan memahami tradisi leluhur. Dan selalu siap menampilkannya di hadapan publik di negara tempat orang tua bertugas.
Begitu kembali ke Tanah Air, anak diplomat harus siap hidup apa adanya, berbeda dengan mereka yang anak pengusaha atau anak-anak orang kaya pada umumnya. “Meski begitu, sebagai anak diplomat, aku tetap merasa sebagai orang kaya. Aku kaya pengalaman,” ujar Fathia, yang pernah membuat video berbahasa Inggris dalam 21 aksen dan ditonton hingga 2,2 juta kali.
Fathia Izzati
Foto: Screenshot "21 Accent"
Kakak-adik Christophorus Adhipandito Tito dan Teresa Amely Pigiazia (Tesa) mengakui kemampuan beradaptasi menjadi modal utama untuk bisa survive sebagai anak diplomat. Kejutan budaya tak hanya dialami saat berada di negara baru tempat orang tua bertugas, tapi juga saat kembali ke Tanah Air. “Sejak usia 6 tahun, saya mulai galau dengan identitas dan jati diri saya. Saya ini sebenarnya orang Indonesia atau orang mana, sih,” tuturnya.
Sejak usia 6 tahun, saya mulai galau dengan identitas dan jati diri saya. Saya ini sebenarnya orang Indonesia atau orang mana, sih."
Putra pasangan T. Satrio Nugroho dan Maria Angela Endang Widowati itu pernah tinggal di Kuba, Peru, dan Spanyol. Mungkin karena merasa kurang berhasrat di bidang kesenian seperti lazimnya yang harus dimiliki anak-anak diplomat, ia lebih banyak berkiprah di bidang pendidikan.
Bersekolah dengan bahasa pengantar bahasa Inggris sejak sekolah dasar membuatnya fasih berbahasa Inggris. Hal ini amat berguna saat tinggal di Madrid, Spanyol. Ketika usia Tito baru 15 tahun, pastor paroki di lingkungan tempatnya tinggal pernah menyurati orang tuanya agar mengizinkan Tito menjadi penerjemah. Padahal syarat menjadi relawan dan penerjemah di event World Youth Day 2011 itu minimal berusia 18 tahun.
Tito bertugas mendampingi delegasi asal Malaysia. Ia membantu menerjemahkan bahan-bahan tertulis dari bahasa Spanyol ke Inggris, juga mengantar delegasi ke sejumlah tempat bersejarah dan tempat rekreasi. Di tengah kesibukannya itu, Tito juga terlibat sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera pada 17 Agustus di halaman Kedutaan Besar RI. “Saya juga pernah juara satu lomba debat di ajang European Youth Parliament untuk Spanyol pada 2011,” katanya.
Sementara itu, adik Tito, Teresa Amely Pigiazia (Tesa), 13 tahun, kerap dilibatkan dalam berbagai acara kesenian yang digelar KBRI. Selain memainkan alat-alat musik, Tesa kerap tampil menari. Meski tak terlalu menikmatinya, Tesa berusaha melakukannya sebaik mungkin. “Bisa tak bisa ya harus bisa, kan orangnya terbatas,” ujarnya dalam bahasa Indonesia yang masih patah-patah.
Nardiena Althafia Pratama dan Emirio Syauqi Pratama barangkali sedikit lebih beruntung. Selama mengikuti sang ibu, Masriati Lita Saadia, bertugas di London, keduanya bisa tetap berpartisipasi dalam acara-acara di KBRI tanpa harus berlatih keras menari atau mempelajari alat musik tradisional. Kemampuan sang ayah, Husni Pratama, yang mahir memainkan flute, saksofon, dan piano, menular kepada mereka. Apalagi, selama di London, mereka juga mengikuti sekolah musik (piano) di London College of Music di University of West London.
“Pada Agustusan tahun lalu, keduanya menjadi tim musik pengiring aubade. Saya yang buat aransemen dan mengajar tim musik,” kata Husni.
Soal kejutan budaya yang dialami anak-anak diplomat, menurut Utami A. Witjaksono, semua pasti mengalaminya. Utami, yang lahir di Damaskus, Suriah, pun merasa galau dan tak betah tinggal di Jakarta. Utami kecil merajuk minta kembali ke luar negeri. “Kala itu saya merasa kepanasan terus dan banyak nyamuk. Saya pun merajuk minta pulang, padahal ya Jakarta itu kampung halaman saya sebenarnya,” tuturnya mengenang masa lalunya disambut tawa hadirin dalam acara peluncuran buku Di Balik Gerbang: Inspirasi dari Kisah 7 Pendamping Diplomat, Selasa, 21 Juni 2016.
Utami A. Witjaksono
Foto : dok. Belindomagz
Teresa Amely Pigiazia (Tesa)
Foto : dok. Pribadi
Emirio (pianika), Nardiéna (kibor)
Foto: dok. Dimas Darsono, KBRI London
Dua pertiga hidup saya dijalani di luar negeri. Tapi hati saya Merah-Putih murni."
Ketika kemudian punya suami seorang diplomat, gaya hidup nomaden Utami berlanjut. Sementara bersama sang ayah ia tinggal di Suriah, Portugal, Uni Soviet, Meksiko, Prancis, dan Tiongkok, selama mendampingi suami, Witjaksono Adji (Eropa Tengah dan Timur Kementerian Luar Negeri RI), Utami tinggal di Osaka (Jepang), New York, dan Den Haag (Belanda).
“Jadi dua pertiga hidup saya dijalani di luar negeri. Tapi hati saya merah putih murni. Saya selalu berupaya mengibarkan panji-panji Merah-Putih dalam setiap kesempatan,” tuturnya.
Mungkin karena menyadari beratnya kemampuan beradaptasi yang harus dijalani seorang anak diplomat, Tito tak berniat mengikuti jejak sang ayah. Ia kini mahasiswa semester V Jurusan Kimia Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Keputusan ini ditempuh karena sejak masih SMP lebih menyukai pelajaran IPA. “Cukup saya saja yang menjadi anak diplomat, anak-anak saya kelak tak perlu seperti saya,” ujarnya tersenyum.
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.