INTERMESO
Pasca-Proklamasi, di Jakarta beredar selebaran yang menyebut etnis Ambon-Manado sebagai musuh yang layak dibunuh.
Upacara peleburan kompi KNIL menjadi APRIS di Jakarta, 24 April 1950. Letkol Taswin Natadiningrat mengganti tanda pangkat KNIL dengan tanda pangkat APRIS
Foto: dok. Perpusatakaan Nasional
Rumah milik keluarga Pelmelay di Kramat V, Senen, Jakarta Pusat, sepi. Hanya terdengar suara sekelompok pria separuh baya bercakap dalam dialek Minahasa dari warung yang berada di samping rumah tua bercat biru muda itu. Ruben Pelmelay keluar dari kamar sambil membawa pedang yang bilah logamnya dibiarkan berkarat. "Hanya ini peninggalan bapak saya," kata dia sambil menunjukkan pedang sepanjang 60 sentimeter dengan pegangan kayu dan pelindung tangan dari besi. Pedang yang dikenal dengan kelewang itu khusus dibuat untuk prajurit Koninklijkk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia.
Orang-orang Eropa, Belanda, Ambon, dan Manado di KNIL mendapat bayaran lebih tinggi daripada orang-orang Jawa.”
Ayah Ruben bernama John David Pelmelay berasal dari Pulau Luang. Pulau
itu sekarang masuk wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya. John David
bergabung dengan KNIL sekitar akhir 1930 di Ambon. Ditempatkan di Dinas
Penerbangan Militer KNIL atau Militaire Luchtvaart van het KNIL
(ML-KNIL) Flight 4 Skuadron 2 di Laha, Ambon, yang berada di bawah Grup 4
Madiun. "Bapak cerita, dia sempat juga disekolahkan ke Australia," kata
Ruben. Pamannya, Ateng Pelmelay, kata dia, juga mengabdi untuk Belanda.
Namun Ateng bertugas di Angkatan Laut.
Sebagai prajurit KNIL, menurut Ruben, ayahnya menerima fasilitas cukup baik. Bila sakit, John David bisa berobat dengan gratis. Ia juga mendapatkan roti dan susu. “Pokoknya, kata Bapak, semua dijamin."
Ruben Pelmelay
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX
Setelah KNIL dibubarkan pada 1950, John David tidak ke mana-mana. Berbeda dengan Ateng, yang memilih pindah ke Belanda. Baru beberapa tahun kemudian John David bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia di satuan Penerbang Angkatan Darat dengan pangkat letnan dua. “Tapi hanya 5 tahun, lalu pilih pensiun. Alasannya saya tak tahu," kata Ruben. John David akhirnya bekerja di maskapai Garuda Indonesia dan meninggal pada Agustus 1960.
Sampai sekarang, berbagai mitos keliru masih menyelubungi KNIL. Banyak yang berpendapat KNIL didominasi perwira atau prajurit asal Eropa dan Ambon atau Maluku. Padahal, menurut C.A. Heshusius dalam bukunya, Het KNIL van Tempo Doeloe, komposisi serdadu KNIL yang berdarah Eropa dan Indo pada 1929 menjelang Perang Dunia II hanya sekitar 18 persen dari jumlah total prajurit KNIL sebanyak 37 ribu orang. "Bagian terbesarnya justru orang-orang dari kepulauan Nusantara," ujar Jean Rocher dalam acara peluncuran buku KNIL yang ditulisnya bersama Iwan Santosa, di Jakarta, Kamis, 2 Juni 2016.
Pada 9 September 1945, kami terkejut melihat di mana-mana tertempel pamflet berbunyi Maklumat Perang kepada Indo, Ambon, dan Manado."
Mantan Atase Militer Kedutaan Besar Prancis di Jakarta itu menyebutkan
komposisi ras serdadu dari Nusantara yang terbesar justru orang-orang
Jawa, yang mencapai 45 persen. Berikutnya etnis Minahasa sebanyak 15
persen, Ambon Lease, yang mencakup Pulau Nusa Laut, Haruku, Saparua, dan
wilayah Maluku Selatan (12 persen), kelompok Sunda (5 persen), dan kelompok Timor 4
persen. Saat Perang Pasifik pada 1941, KNIL masih memiliki satuan tempur
dari legiun Mangkunegoro di Surakarta dan kompi legiun Paku Alam di
Yogyakarta.
Sejarawan Rushdy Hoesein menuturkan, mitos tersebut mungkin berkembang karena serdadu-serdadu KNIL asal Ambon terlihat lebih menonjol. "Mereka mempunyai keberanian yang lebih dan menguasai teknik bertempur dengan baik," ujarnya.
Petrik Matanasi, yang menulis buku Pribumi Jadi Perwira KNIL, menyebutkan sikap loyal prajurit Ambon-lah yang membuat mereka dianggap suku terbanyak dari Nusantara yang menjadi tentara KNIL. Loyalitas itu pulalah yang membuat serdadu Ambon menjadi berani. "Kompi Ambon dan Manado ini merupakan pasukan penggempur yang bertugas melibas musuh," kata Petrik. Sedangkan kompi Jawa personelnya lebih banyak bertugas menciptakan stabilitas di daerah yang sudah ditaklukkan.
Karena loyalitas itu pula, serdadu Ambon dan Manado diberi ganjaran lebih tinggi ketimbang serdadu Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Dalam hal gaji, orang-orang Eropa, Belanda, Ambon, dan Manado mendapat bayaran lebih tinggi daripada orang-orang Jawa. "Bahkan pada awalnya orang Jawa tidak diberi sepatu karena loyalitasnya diragukan," kata Petrik.
* * *
Mantan Ketua Yayasan Dana Beasiswa Maluku Jopie Taihattu
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX
Mengapa banyak orang Ambon yang tertarik bergabung dengan KNIL? Sesepuh masyarakat Maluku di kawasan Kramat, Jakarta Pusat, Jopie Taihattu, mengatakan, berdasarkan sejarah, semua berawal dari masa VOC pada abad ke-16, yang datang mencari rempah di Maluku. "Interaksi pun terjadi, bahkan sampai kawin-mawin," kata Jopie di kediamannya, Jalan Kramat 7, Jumat, 17 Juni lalu. Hal inilah yang menyebabkan orang Ambon merasa memiliki kedekatan dengan Belanda.
Bekas Duta Besar Indonesia untuk Nepal, Johannes Dirk de Fretes, menuliskan, sistem penjajahan Belanda membentuk struktur pendidikan, terutama buku-buku bacaan sekolah rakyat di Ambon, yang di dalamnya ditanamkan prasangka atas suku Jawa dan lain-lain. "Sampai-sampai pemuda-pemuda di Ambon hanya bersekolah dengan cita-cita kelak bisa menjadi anggota tentara KNIL dan marine," tulis Johannes dalam otobiografinya, Kebenaran Melebihi Persahabatan.
Perihal ini jugalah, Johannes melanjutkan, yang menyebabkan orang-orang Maluku mengalami kesusahan pada zaman pendudukan Jepang sampai setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ia, yang sesaat setelah Proklamasi ditunjuk sebagai Sekretaris Gubernur Maluku J. Latuharhary, harus bersusah payah menyelamatkan keluarga-keluarga Maluku, termasuk keluarga prajurit KNIL, di Jakarta dan kota-kota besar di Jawa. Ia dibantu Ketua Angkatan Pemuda Indonesia Ambon Nono Tanasale.
Bagian dalam gedung MULO tempat pengungsian keluarga KNIL yang sekarang menjadi SMA PSKD 3 Jakarta
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX
"Pada 9 September 1945, kami terkejut melihat di mana-mana tertempel
pamflet berbunyi Maklumat Perang kepada Indo, Ambon, dan Manado," tulis
Johannes. Pamflet itu juga berbunyi, kelompok tersebut merupakan musuh
dan harus dibunuh.
Warga Ambon-Manado yang bisa diselamatkan dari berbagai daerah pinggiran Jakarta, kata Jopie Taihuttu, kemudian membentuk perkampungan di Kramat 5, 6, dan 7. Sementara itu, keluarga KNIL dari Batalion X, yang bermarkas di Lapangan Banteng, tepatnya di lokasi Hotel Borobudur, diungsikan ke beberapa sekolah di kawasan Kwini. Mereka menempati gedung Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yang kini digunakan sebagai gedung SMA PSKD 3, gedung SD Negeri 03 Senen, dan gedung Stovia. Gubernur Ali Sadikin kemudian memindahkan mereka pada 1973 ke Kompleks Permata, Cengkareng.
Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.