INTERMESO

Prajurit-prajurit Transgender

"Komitmenku untuk membela negara ini masih sama besarnya."

Sersan Shane Ortega, dia terlahir perempuan
Foto: Kent Nishimura

Kamis, 23 Juni 2016

Melihat otot-otot Sersan Shane Ortega, tak akan ada yang tahu bahwa dia lahir sebagai seorang perempuan. Otot-otot di lengan, dada, paha, juga kaki Sersan Ortega menggelembung besar, tak kalah dengan lengan binaragawan laki-laki.

Selama lebih dari sepuluh tahun berdinas militer, Sersan Shane sudah tiga kali terlibat dalam pertempuran di dua medan perang yang ganas, Irak dan Afganistan. Dua kali dikirim bersama kesatuan Marinir, sekali dikirim bersama Divisi Infanteri Ke-25 Angkatan Darat Amerika Serikat. Dua kali berangkat sebagai perempuan, dan sekali berangkat ke medan tempur sebagai prajurit laki-laki.

Walaupun fisik Sersan Shane sama sekali tak lagi mirip perempuan, sampai hari ini Militer Amerika masih mencatatnya sebagai prajurit perempuan. Walhasil, setiap kali ada upacara resmi, Sersan Shane tetap harus mengenakan seragam rok militer. "Aku terlihat sangat konyol," kata Sersan Shane kepada ABC beberapa bulan lalu. Hanya seragam ukuran paling besar yang mampu menampung otot-ototnya yang menggelembung.

Lahir di Patuxent River, Negara Bagian Maryland, sebagai anak perempuan di keluarga militer, sejak kecil Shane tak pernah merasa sebagai perempuan. Ayahnya seorang prajurit di Angkatan Laut, sementara ibunya berdinas di Angkatan Laut, sebelum pindah tugas ke Angkatan Darat. Dua pamannya pernah bertempur di Vietnam.

Menjadi prajurit adalah satu-satunya cita-cita Shane Ortega. "Ayahku sering mengatakan, ‘Jadikanlah perubahan seperti apa yang ingin kamu lihat di dunia,’” kata Shane, dikutip Washington Post. Sekarang Sersan Shane ingin menjadi bagian dari perubahan besar di militer Amerika.

Shane Ortega joging di tepi pantai
Foto: Meaws

Sudah beberapa tahun Shane menjalani operasi dan terapi hormon untuk membuatnya "berubah" menjadi seorang laki-laki. Dia menjadi prajurit transgender pertama di kesatuan militer Amerika yang secara terbuka mengakui perubahan gender. Tapi, gara-gara terapi hormon tersebut, Sersan Shane "diparkir" sementara dari tugasnya sebagai awak helikopter tempur. Perubahan level hormon testosteron di atas normal pada tubuh Shane dianggap sebagai satu masalah kesehatan. Kini dia hanya bertugas di kantor, mengerjakan rupa-rupa pekerjaan administrasi.

Karena selama ini transgender masih dianggap sebagai "kelainan" dalam dinas militer Amerika, ditaksir ada ribuan prajurit transgender yang masih menutupi statusnya."

Sebagai prajurit, Shane merasa tak ada yang berubah pada kemampuannya kendati dia bukan lagi seorang perempuan. "Komitmenku untuk membela negara ini masih sama besarnya.... Aku pernah mengepalai beberapa anak buah dan unit senapan mesin. Aku pernah terjun dalam ratusan misi tempur di Irak dan Afganistan," kata Sersan Shane Ortega. Tapi peraturan tetap peraturan.

Saat ini paling tidak ada 77 prajurit aktif di militer Amerika yang secara terbuka menyatakan diri sebagai transgender. Mereka ada yang lahir sebagai perempuan, ada pula yang lahir sebagai laki-laki. Menurut Instruksi Pertahanan 6130.03, transgender merupakan satu di antara sejumlah masalah psikoseksual, dus seorang transgender tak boleh menjadi prajurit di medan tempur.

Tapi, dari unit ke unit, dari kesatuan ke kesatuan, penerapan peraturan ini tak seragam. Sersan Ortega tak ditendang dari Angkatan Darat, hanya "diparkir" dalam kantor. Tapi lain nasib Landon Wilson, kini 26 tahun. Tiga tahun lalu, dia dipaksa mundur dari dinas militer. Lahir sebagai seorang perempuan, kini Landon tampak sepenuhnya seperti seorang laki-laki.

Sekian tahun menjadi analis sandi di Komando Operasi Informasi Angkatan Laut Amerika, Landon punya posisi strategis. Tugasnya menguping lalu lintas komunikasi di luar sana dan menyaringnya menjadi informasi yang bermanfaat untuk rupa-rupa operasi militer.

Menurut seorang temannya di Angkatan Laut, Landon merupakan prajurit yang sangat berdedikasi dan berprestasi. Sudah berkali-kali ia mendapat medali penghargaan. "Tak banyak prajurit seperti Landon di militer.... Dia tak sekadar memenuhi semua persyaratan, tapi jauh melampauinya," kata Shayne Allen, mantan analis sandi di Angkatan Laut.

Landon Wilson terlahir sebagai perempuan
Foto: Upworthy

Bagi Landon, semua berawal pada akhir 2012. Setelah mendapat restu dari sang ibu, Landon mulai menjalani terapi hormon untuk "menjadi" laki-laki. Setelah beberapa bulan, fisik, otot-otot, dan suaranya mulai berubah. Teman-temannya di markas bukannya tak sadar dengan perubahan fisik Landon, tapi mereka tak peduli. "Bagiku, dia tetap Landon Wilson, tak peduli apakah dia seorang perempuan atau laki-laki," ujar seorang temannya.

Masalah mulai muncul saat Landon mengajukan diri untuk berangkat ke Afganistan. Petugas kesehatan sempat mencatatnya sebagai perempuan dan memintanya menjalani tes kehamilan. Anehnya, Landon lolos tes kesehatan, diberi seragam prajurit laki-laki, dan ditempatkan di barak laki-laki. Sesama prajurit di barak itu tak ada yang tahu bahwa Landon seorang perempuan. Menurut Landon, itulah masa-masa paling indah sebagai prajurit.

"Aku merasa menjadi bagian dari persaudaraan prajurit yang selama ini hanya aku dengar dari cerita orang. Pengalaman itu tak ternilai buatku," ujarnya. Begitu mendarat di Afganistan, Landon langsung sibuk dengan pekerjaannya memantau jalur komunikasi Taliban. Perasaan takut orang akan tahu bahwa dia seorang perempuan mulai luntur. "Aku tak lagi memikirkannya. Aku sangat yakin bahwa aku mampu menjalankan pekerjaanku."

Hingga komandannya mulai memproses kenaikan jabatannya. Di berkas Angkatan Laut, Landon Wilson tetap seorang perempuan. Sang komandan heran lantaran tak ada seorang "perempuan" bernama Landon Wilson dalam kesatuannya. Dia memanggil Landon menghadap.

"Dokumen ini mengatakan kamu seorang perempuan. Apa kamu sebenarnya?" tanya sang komandan. "Saya seorang laki-laki," jawab Landon. Jawaban itu tak membuat Landon bisa bertahan di Afganistan. Kurang dari sebulan setelah mendarat, Landon berkemas dan dipulangkan ke Amerika. Setiba Landon di Amerika, pengacara militer hanya memberinya dua pilihan: melanjutkan transisi menjadi laki-laki atau tetap berdinas di militer. Landon memilih yang pertama.

* * *

Logan Ireland, prajurit Angkatan Udara Amerika ini lahir sebagai perempuan.
Foto: Air Force Times

Pertengahan tahun lalu, Menteri Pertahanan Amerika Ashton Carter meniupkan kabar adem untuk para transgender berseragam militer. Pentagon, menurut Menteri Carter, berencana menghapus larangan bagi transgender untuk menjadi prajurit dan mengakui statusnya secara terbuka.

Pentagon telah membentuk kelompok kerja untuk mengkaji pelbagai implikasi dari rencana penghapusan tersebut. "Di bawah arahanku, kelompok kerja itu akan mulai bertugas dengan asumsi bahwa prajurit transgender dapat bertugas tanpa mempengaruhi kesiapan dan efektivitas militer," kata Menteri Carter, dikutip USA Today, setahun lalu.

Dalam hal pengakuan atas hak-hak transgender dalam militer, Amerika tertinggal dari negara-negara sekutunya, seperti Inggris, Kanada, dan Australia. Selain tiga negara itu, ada 15 negara lain yang telah membuka pintu bagi transgender di kesatuan militernya. Di negara-negara itu, sejak beberapa tahun lalu, larangan bagi prajurit transgender tersebut dicabut. Australia, misalnya, sejak 2013 membebaskan prajurit transgender berdinas dalam kesatuan militernya. Keputusan itu, menurut Laksamana Madya Ray Griggs, Wakil Panglima Pasukan Pertahanan Australia, merupakan perubahan budaya terbesar dalam sejarah militer mereka.

Lantaran selama ini masih dianggap sebagai "kelainan" dalam dinas militer Amerika, ditaksir ada ribuan prajurit transgender yang masih menutupi statusnya. Menurut penelitian Williams Institute, Universitas California, pada 2014, diperkirakan seperlima transgender di Amerika masuk dinas militer. Tapi, sampai hari ini, tak sampai 100 orang yang terang-terangan mengakui sebagai prajurit transgender.

Sersan Jane, misalnya, dia adalah perempuan yang "terperangkap" dalam tubuh laki-laki. Jane, bukan nama sebenarnya, sudah beberapa lama menjalani terapi hormon untuk menjadi perempuan. Hanya operasi yang belum dia lakukan lantaran masih mengumpulkan nyali.

Selama 25 tahun menjadi prajurit di Angkatan Udara Amerika, bertempur dan terbang di sejumlah medan perang, serta mendapat medali demi medali, Jane adalah seorang laki-laki. Namun berpura-pura menjadi laki-laki sungguh melelahkan bagi Jane. "Aku tak tahu sampai kapan sanggup bertahan," kata Jane kepada BBC.

Tentara dalam sebuah latihan tempur  
Foto: WallPaperUp

Hampir setahun setelah pernyataan Menteri Carter, belum ada tanda-tanda bakal bertiup angin perubahan dari Pentagon. Pejabat dari Pentagon berdalih, isu transgender merupakan isu yang sangat rumit, melibatkan rupa-rupa persoalan terkait biaya, perawatan kesehatan, juga soal kesiapan tempur.

Mestinya, menurut Aaron Belkin, Direktur Palm Center, lembaga riset soal gender dalam militer, Pentagon bisa belajar dari negara-negara sekutunya yang sudah jauh lebih berpengalaman soal prajurit transgender, seperti Inggris dan Australia. "Dalam hal derajat kesulitan yang dihadapi militer Amerika, masalah ini ada pada level paling bawah," kata Aaron.

Entah apa yang membuat Pentagon maju-mundur soal pencabutan larangan bagi prajurit transgender. Penelitian Rand Corporation, atas permintaan Pentagon, menyimpulkan dampak pencabutan larangan itu bagi militer Amerika sangat kecil. Rand menaksir, "hanya" akan ada sekitar 29 hingga 129 prajurit yang akan beralih gender setiap tahun. Walhasil, biaya untuk terapi transisi gender ini pun tak seberapa besar.

Menteri Carter mengatakan banyak hal detail soal kebijakan itu yang masih digodok Pentagon. Dia menekankan, bukan soal gender yang jadi ukuran dalam militer Amerika. "Tapi kualitas dan kesiapan pasukan yang paling utama. Itulah tujuan paling penting," kata Carter, setelah menghadiri wisuda Akademi Angkatan Udara, pertengahan Mei lalu.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.