INTERMESO

Hidup Sehat dengan Ganja, Benarkah?

"Jawabannya tak bisa tambah pil dan tambah pil lagi."

Foto: Thinkstock

Kamis, 16 Juni 2016

Selama bertahun-tahun, Jim McAlpine selalu mengalami kesulitan memusatkan pikiran, baik di kelas maupun di luar sekolah atau kampus. Kalau tak ada ujian, tak terlalu jadi soal bagi Jim. Tapi, saat musim ujian, hal ini jadi urusan gawat.

Untuk membantu fokus saat belajar, Jim, kini 46 tahun, punya resepnya. Dia selalu mengisap ganja sebelum belajar. "Pikiranku selalu berjalan ke mana-mana. Aku harus memperlambatnya," kata Jim, kepada The Star, beberapa hari lalu.

Sekarang, setelah beranjak tua, punya anak dan mengelola bisnis pusat kebugaran, Jim tak lantas jauh dari ganja alias mariyuana. Setiap hari paling tidak Jim mengisap ganja dua kali. Dan Jim tak pernah menyembunyikan kebiasaannya itu. Bahkan kini ganja jadi ladang bisnisnya.

Sejak 2012, warga Negara Bagian Colorado boleh mengkonsumsi ganja untuk kesenangan."

Setahun lalu, dia menyelenggarakan lomba lari 5.000 kilometer melintasi jembatan Golden Gate di San Francisco, Amerika Serikat. Lomba 420 Games ini bukan lomba lari "sembarang" berlari. Lebih dari 500 peserta lomba, hampir separuhnya berlari dalam kondisi setengah "melayang" lantaran mengisap mariyuana. Pemenangnya Chris Barnicle. Peserta seleksi nomor maraton tim Olimpiade Amerika Serikat ini berlari dalam kondisi "melayang" dan mencatatkan waktu 15 menit 57 detik.

Sekarang, bersama Ricky Williams, mantan atlet sepak bola Amerika, Jim mendirikan pusat kebugaran yang "ramah" bagi para pengisap ganja di San Francisco, Power Plant Fitness. "Aku pikir dunia sudah siap menerimanya, setelah semua propaganda yang keliru soal mariyuana disingkirkan," kata Jim. Suatu kombinasi yang ganjil, ganja dan pusat kebugaran?

Tapi Jim tak kurang pendukung, salah satunya Ross Rebagliati, pemenang medali emas Olimpiade 1998 untuk nomor ski es. Ross juga aktivis pendukung legalisasi ganja. Menurut Ross, ganja dan hidup sehat bisa jadi satu kombinasi. "Mariyuana bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat," kata Ross meyakinkan.

Maria Secue menunjukkan tanaman ganja di halaman rumahnya di Toribio, Kolombia, Februari 2016.
Foto: Jaime Saldarriaga/Reuters

Di sejumlah negara bagian di Amerika, seperti Oregon dan Colorado—Jim kuliah di Universitas Colorado Boulder—ganja alias mariyuana alias cannabis memang bukan lagi barang terlarang bagi warga di atas umur 21 tahun. Pada tahun 2000, pemerintah Colorado memperbolehkan ganja untuk kebutuhan medis, dan sejak 2012 warga negara bagian itu boleh mengkonsumsi ganja untuk kesenangan. Seperti halnya minuman beralkohol, konsumsi ganja dibatasi.

Kanada, negara tetangga di sebelah utara Amerika, sepertinya tinggal menghitung waktu, bakal menyusul Colorado. Selama bertahun-tahun, menurut angka dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan (UNICEF), remaja di Kanada paling doyan mengisap ganja ketimbang semua remaja di negara lain. Ketimbang anak-anak mereka mengisap mariyuana diam-diam, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau berencana menghalalkan ganja untuk kesenangan.

Samantha Martinuk, 24 tahun, adalah salah satu yang akan menyambut rencana Perdana Menteri Trudeau dengan sukacita. Gadis asal Vancouver ini sudah lama jadi pelanggan ganja. "Aku merokok mariyuana selama kuliah dan aku tetap selalu menjadi mahasiswi berprestasi," kata Samantha kepada CBC. "Ganja tak menjadikanku manusia tanpa otak seperti kata orang."

Benarkah ganja tak memberikan efek buruk bagi kesehatan badan dan pikiran?

* * *

Pengobatan dengan ganja di sebuah klinik di Israel
Foto: Uriel Sinai/Getty Images

Matt Ciolo, 25 tahun, masih menyesali bagaimana dia bisa kecanduan ganja. Mariyuana, menurut Ciolo, telah merusak masa depannya.

"Sejujurnya, aku berharap tak pernah berkenalan dengan ganja," kata Ciolo kepada CBC. Saat masih remaja, dia merupakan pemain golf berbakat. Namun, setelah berkenalan dengan mariyuana, motivasinya perlahan luntur. "Ganja telah merusak sifatku. Aku tak lagi percaya kepada diriku sendiri."

Ganja, paling tidak menurut Matt Ciolo, adalah barang laknat yang hanya berefek buruk bagi pemakainya. Tapi sebenarnya, di kalangan peneliti, masih belum jelas benar apa manfaat dan apa efek buruk dari mariyuana.

Dua pekan lalu, jurnal JAMA Psychiatry merilis hasil penelitian Madeline Meier, profesor psikologi di Universitas Negeri Arizona, Amerika, soal dampak ganja. Madeline dan timnya melacak pengaruh ganja pada 1.000 warga Selandia Baru yang mengisap ganja sejak umur 18 tahun. Hasilnya ternyata sungguh mengejutkan.


Seorang laki-laki mengisap ganja dalam Festival 4-20 di Vancouver,
Kanada, April 2016.


Foto: Jeff Vinnick/Getty Images

Menurut Madeline, nyaris tak ada kaitan antara ganja dan kondisi kesehatan mereka. Pada beberapa kasus, walaupun jumlahnya kecil, mengisap ganja malah membawa efek positif seperti kadar gula dan kolesterol yang terkontrol. Dia membandingkan dengan para pecandu rokok tembakau. Para pengisap mariyuana relatif tak mengalami persoalan kesehatan yang serius, tapi lain soal dengan perokok tembakau, yang menghadapi rupa-rupa masalah kesehatan.

Tapi tunggu dulu sebelum menyimpulkan bahwa merokok ganja tak akan berbuntut masalah selain masalah hukum. Sudah lebih dari 20 tahun Wayne Hall, Direktur Centre for Youth Substance Abuse Research di Universitas Queensland, Australia, memelototi riset soal dampak konsumsi mariyuana.

Kematian akibat overdosis ganja, menurut Wayne, kemungkinannya memang sangat kecil. Tapi merokok ganja dalam waktu lama, apalagi jika dimulai setelah dewasa, sangat besar kemungkinan akan membuat kecanduan. Merokok ganja juga tak akan membuat orang jadi bodoh, kecuali dia merokok seperti cerobong asap.

Pemakai K2 alias Spice, mariyuana sintetis, di East Harlem, New York, Agustus 2015
Foto: Spencer Platt/Getty Images

"Tapi mengisap ganja dalam jangka panjang akan mengurangi kemampuan belajar bahasa dan kemampuan memusatkan perhatian," Wayne mengingatkan, dikutip Livescience. Dan jangan menyetir kendaraan bermotor setelah merokok ganja. Sebab, kemungkinan akan mengalami kecelakaan berlipat dua ketimbang mereka yang menyetir dengan pikiran jernih tanpa pengaruh tetrahydrocannabinol (THC), zat aktif dalam mariyuana.

Ganja, di sejumlah negara, memang masih jadi sumber silang pendapat. Sejumlah peneliti yakin, jika dipakai dengan takaran yang tepat, mariyuana bisa bermanfaat, bahkan bisa jadi obat. Sebelum dilarang di pelbagai negara, selama ratusan tahun ganja dipakai untuk menangani rupa-rupa penyakit. Sekarang Israel, Kanada, Uruguay, dan Republik Cek adalah negara-negara yang ada di garda depan dalam pemakaian ganja untuk pengobatan.

Pemerintah Israel, misalnya, mengizinkan sejumlah perusahaan untuk menanam dan membiakkan mariyuana. Salah satunya Breath of Life (BOL) Pharma. Perusahaan ini punya 50 ribu tanaman ganja di kebunnya. Tanaman ganja, menurut Tamir Gedo, bos BOL Pharma, cocok dibiakkan di Israel. "Kami punya iklim dan kelembapan udara yang baik, dengan 300 hari terus terpapar matahari," kata Tamir kepada Ynet. Ada lebih dari 25 ribu pasien yang menggantungkan diri pada ganja dari kebun BOL Pharma, Tikun Olam, dan beberapa perusahaan pembudi daya ganja di Israel.

Kebun mariyuana milik Tikun Olam di Israel
Foto: Uriel Sinai/Getty Images

Tak cuma dimanfaatkan sebagai pengganti obat pereda sakit, menurut riset Institut Teknologi Technion, Israel, konsumsi ganja bisa menekan perkembangan sel-sel kanker. Menurut David Meiri, peneliti kanker di Technion, mereka terus menguji kemampuan 50 jenis tanaman ganja untuk melawan pelbagai jenis kanker. "Pengobatan kanker berbasis cannabinoid bisa menjadi alternatif kemoterapi, tapi tanpa efek samping," kata Eyal Ballan dari Cannabics Pharmaceuticals kepada Haaretz.

Di lapangan sepak bola Amerika (NFL), para pemain yang cedera dan kesakitan sampai hari ini masih ditangani dengan obat-obat turunan opioid. Pemakaian terus-menerus obat pereda sakit ini berbuntut panjang. Tak sedikit pemain yang kecanduan. Dan Johnson, mantan pemain Miami Dolphins, mengaku mengkonsumsi 1.000 butir pil pereda sakit Vicodin per bulan untuk mengurangi penderitaannya. Sempat terlintas untuk bunuh diri supaya bebas dari kecanduan. "Beberapa kali," katanya, kepada ESPN, pahit.

Layaknya atlet yang berlaga di NFL, Eugene Monroe, pemain Baltimore Ravens, juga kerap didera cedera. "Sepak bola adalah sakit.... Aku tak mengeluh. Ini olahraga yang aku cintai," kata Monroe. Yang dia kritik adalah pemakaian obat-obat pereda sakit berbasis opioid. Dia juga hampir terjerumus kecanduan obat-obat itu. Sekarang dia berkampanye untuk mengganti obat-obat itu dengan mariyuana, yang konon efek sampingnya lebih rendah. "Jawabannya tak bisa tambah pil dan tambah pil lagi."



Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.