INTERMESO

Perempuan Muslim
di Balik Hillary

"Aku punya seorang anak perempuan. Tapi, jika aku punya anak kedua, ia adalah Huma."

Huma Abedin menyampaikan catatan kepada Hillary Clinton saat dengar pendapat dengan DPR Amerika Serikat. 
Foto: Getty Images

Rabu, 15 Juni 2016

Politico menyebutnya sebagai "bayangan" Hillary Clinton. Majalah Vogue menulis, dialah "senjata rahasia" Hillary. Dia adalah Huma Mahmood Abedin, 39 tahun. Dia seorang muslimah.

Pada 1996, saat masih mahasiswi di Universitas George Washington, Huma magang kerja di Gedung Putih. Dia diperbantukan untuk melayani Hillary Rodham Clinton, kala itu Ibu Negara Amerika Serikat. Sejak hari itu, Huma nyaris tak pernah jauh dari Hillary. Ketika Hillary terpilih menjadi senator mewakili New York, Huma juga turut boyongan ke Gedung Capitol.

Saat Hillary berebut dengan Barack Obama menjadi calon Presiden Amerika dari Partai Demokrat, ke mana-mana Huma membuntuti Hillary seperti bayangannya. Demikian pula saat Hillary ditunjuk Presiden Obama sebagai Menteri Luar Negeri, Huma menjadi salah satu staf kepercayaannya dan ikut terbang ke seluruh penjuru dunia.

Kini Hillary adalah calon Presiden Amerika dari Partai Demokrat dan Huma menjadi Wakil Ketua Tim Kampanye. Dalam tim Hillary, bisa dibilang Huma Abedin merupakan orang kedua setelah John Podesta, Ketua Tim Kampanye.

Huma bersama Hillary Clinton di Los Angeles, 2008.
Foto: Getty Images

Bagi Hillary, Huma sudah seperti putrinya sendiri. "Aku punya seorang anak perempuan. Tapi, jika aku punya anak kedua, ia adalah Huma," kata Hillary saat memberikan sambutan dalam upacara pernikahan Huma dengan anggota Kongres Amerika, Anthony Weiner, enam tahun lalu, seperti dikutip Washington Post.

Aku tak yakin Hillary bisa keluar dari pintu itu tanpa Huma."

Selama 20 tahun, Huma adalah anak, pembantu, sekretaris, pembisik, teman bergosip, penasihat, sekaligus teman mengudap rupa-rupa makanan bagi Hillary Clinton. "Kami sering menggosip soal selebritas, walaupun kemudian kami sering bertanya-tanya, ‘Siapa orang-orang ini?’" kata Huma kepada USAToday.

Huma dan Hillary, kata perancang busana Oscar de la Renta, sama-sama beruntung telah dipertemukan. Mereka seperti botol dengan tutupnya. "Aku tak yakin Hillary bisa keluar dari pintu itu tanpa Huma," kata Mandy Grunwald, mantan penasihat Hillary. Jika Hillary bingung memakai mesin faksimile atau memilih menu makanan, dia akan berpaling ke Huma. "Jika udara ruangan kelewat dingin, Huma akan datang membawakan syal."

Menurut Bob Barnett kepada majalah Vanity Fair, Huma seperti lem yang merekatkan kepingan-kepingan "HillaryLand", orang-orang menyebut dunia di sekeliling Hillary Clinton. "Huma kenal semua orang dan semua orang kenal Huma.... Huma sangat paham apa kekuatan, juga apa kelemahan mereka. Dia juga paham betul bagaimana peran setiap orang," kata Barnett. Satu aset yang tak terkira manfaatnya dalam dunia politik.

Kadang, jika Hillary kelewat sibuk, Huma, yang selalu berdandan licin dan cantik, akan menemui para tokoh politik, pejabat pemerintah, atau juragan-juragan tajir penyandang dana kampanye. Pada Oktober tahun lalu, misalnya, Huma terbang ke Paris bersama Anna Wintour, Pemimpin Redaksi Majalah Vogue, untuk menghadiri penggalangan dana untuk Hillary di kediaman James Cook, pengusaha kaya dari Amerika.

Huma Abedin mendampingi Hillary Clinton di Ground Zero, 2007.
Foto: Getty Images


Semua orang yang kenal Hillary Clinton sangat paham, jika mereka menginginkan sesuatu dari Hillary, mereka tinggal memencet nomor telepon Huma. "Aku tak perlu buang waktu untuk mencari Hillary.... Aku hanya perlu menemui Huma. Itu sudah seperti bicara dengan Hillary," kata Alan Patricof, pendukung dan salah satu penyandang dana kampanye Hillary. Bahkan Bill Clinton pun, mantan Presiden Amerika dan suami Hillary, kadang juga harus melewati Huma sebelum bisa berbicara dengan istrinya.

Huma lahir di Kalamazoo, Michigan, Amerika Serikat. Kedua orang tuanya merupakan intelektual muslim. Ayahnya, Syed Zainul Abedin, muslim dari India, mendapatkan gelar doktor dari Universitas Pennsylvania. Syed Zainul mendirikan Institute of Muslim Minority Affairs di London dan menerbitkan jurnal ilmiah, Journal of Muslim Minority Affairs. Saleha Mahmood Abedin, sang ibu, warga negara Pakistan, menjadi profesor di Universitas Dar al-Hekma, Arab Saudi.

"I'm a proud muslim," Huma yang sangat tertutup menulis surat untuk menanggapi orasi Donald Trump soal niatnya menghalangi imigran muslim ke Amerika, beberapa bulan lalu.

* * *

Sebagian orang di lingkaran Hillary Clinton punya julukan untuk Huma Abedin: Hillary Mini. Bukan cuma lantaran Huma begitu lengket dengan bos besarnya, tapi juga karena kisah hidup Huma mirip dengan Hillary.

Setelah sekian lama mengejar Huma, anggota Kongres Amerika, Anthony Weiner, akhirnya bisa mendapatkan hati Huma. Pasangan ini menikah pada Juli 2010. Bill Clinton dan bos Huma, Hillary, tentu saja hadir dalam pernikahan mereka.

Sebenarnya sangat sedikit kemiripan Weiner dengan Huma. Huma seorang muslim, Weiner keturunan Yahudi. Weiner seorang politikus yang sangat ambisius dan, tentu saja, lebih suka berada di depan layar ketimbang ada di balik layar seperti Huma. Saat mereka menikah, karier politik Weiner memang tengah bersinar terang.

Huma Abedin mendampingi suaminya, Anthony Weiner, saat pemilihan Wali Kota New York, 2013.
Foto: Getty Images


Tapi masa-masa bulan madu mereka hanya berumur singkat. Setahun setelah pasangan ini menikah, saat Huma tengah hamil muda dan sedang mendampingi Hillary Clinton melawat ke Inggris, berita soal kelakuan memalukan Anthony Weiner meledak di media. Lewat Twitter, anggota Kongres Amerika itu mengirimkan foto-foto tak senonohnya kepada beberapa perempuan. Lantaran satu kesalahan Weiner, foto itu malah menyebar ke semua follower-nya. Gara-gara aib itu, Weiner dipaksa lengser dari Gedung Capitol.

Huma dipermalukan habis-habisan. "Aku merasakan semua emosi jadi satu: murka, marah, dan shock," kata Huma kepada New York Times Magazine tiga tahun lalu. Bukan cuma sekali dijerumuskan ke comberan oleh suaminya, tiga tahun kemudian Anthony Weiner kembali mengulang aib yang sama persis.

Kendati tak serupa, Hillary juga pernah dipermalukan oleh kelakuan suaminya, Bill Clinton, kala itu Presiden Amerika Serikat, dengan anak magang di Gedung Putih, Monica Lewinsky. Skandal seks itu hampir menjungkalkan Bill Clinton dari kursi presiden. Demikian Hillary, demikian pula Huma Abedin, keduanya memilih mempertahankan rumah tangganya.

Huma Abedin berbicara dengan Hillary Clinton saat pilpres pendahuluan di Ohio, 2008.
Foto: Getty Images

Dia dan bosnya, Hillary, kata Huma, banyak sekali berdiskusi saat skandal Anthony Weiner terbongkar. "Aku tak bisa menceritakan semua diskusi itu.... Tapi aku rasa dia tak akan keberatan aku mengatakan hal ini: Pada akhirnya, setiap perempuan harus punya kemampuan dan kepercayaan untuk menentukan keputusan apa pun yang dia inginkan dan dia anggap benar dan tak dihakimi lantaran hal itu," kata Huma. Ya, Hillary dan Huma sama-sama membuat keputusan pribadi yang barangkali dipertanyakan banyak orang.

Tiga tahun setelah badai itu berlalu, bulan lalu beredar film dokumenter Weiner yang mengisahkan apa yang terjadi di balik "kelambu" rumah tangga Huma Abedin-Anthony Weiner. "Rasanya aku seperti hidup dalam mimpi buruk," Huma menuturkan perasaannya soal masa-masa kelabu itu.

Bagaimana dandanan Huma tetap licin dengan lipstik tetap merah menyala, tatanan rambut bak baru keluar dari salon, dan wajah dingin tanpa ekspresi selama mengarungi badai rumah tangga, barangkali orang tak akan pernah paham kecuali Hillary Clinton dan lingkaran dalam "HillaryLand". "Dia perempuan yang luar biasa kuat," kata Philippe Reines, salah satu orang dalam di lingkaran Hillary, kepada Washington Post.



Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.