INTERMESO

Kisah Sulit Air dan Orang-orang Kaya

Pembangunan infrastruktur oleh para perantau mendorong kepala daerah lebih gigih melakukan langkah serupa. Gunungkidul dan Sulit Air contohnya.

Salah satu sekolah di Nagari Sulit Air yang dibangun atas bantuan perantau.
Foto: dok. Sulit Air Sepakat

Senin, 13 Juni 2016

Berada di atas Danau Singkarak, Nagari Sulit Air sebenarnya tak benar-benar tandus. Desa di Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, itu memiliki 70 sumber air minum dan 120 tempat pemandian umum. Setidaknya itu penjelasan Wali Nagari Sulit Air Nasrullah Salim Dt. Polong Kayo, SH, (1969-1974) dalam laporannya yang dibuat pada 31 Desember 1971. Laporan itu dimuat di dalam “Suara SAS” No. 2 Tahun 1972.

Hanya, memang, Sulit Air bukan tanah yang subur karena kandungan mineral serta tembaga yang tak berpotensi diolah. Karena itu, banyak penduduknya yang pergi merantau. Di daerah perantauan, mereka punya daya tahan lebih untuk bersaing hidup sehingga tak sedikit yang sukses secara materi.

"Kalau Anda ketemu orang Minang di Blok M atau Tanah Abang dan mengaku orang Sulit Air, mereka pasti bilang orang Sulit Air kaya-kaya," kata Zakarsyih Nurdin setengah berkelakar saat berbicara dalam diskusi “Philanthropy Learning Forum 7” di gedung UNDP Indonesia, Jakarta, Selasa, 31 Mei 2016.

Salah satu rumah adat di Nagari Sulit Air
Foto: dok. Sulit Air Sepakat

Para perantau asal Sulit Air, terutama yang sukses, tak pernah menawar jika dimintai bantuan untuk membangun sekolah, masjid, jembatan, jalan, dan rumah gadang. Zakarsyih, yang juga Ketua Umum Sulit Air Sepakat—organisasi diaspora asal Minang yang telah berusia 44 tahun—menyebut lebih dari separuh infrastruktur Sulit Air dibiayai para perantau. "Kalau sudah bicara soal membangun Sulit Air, pasti mereka akan turun tangan," ujarnya.

Kantor Pos di Sulit Air menginformasikan, hampir Rp 1 miliar uang setiap bulan dikirimkan warga di perantauan untuk penduduk di kampung halaman."

Ketika tahun lalu Masjid Raya Sulit Air akan direhabilitasi dan membutuhkan dana sekitar Rp 1 miliar, begitu kabar itu diumumkan, dana segera terkumpul. Donatur untuk dana sebesar itu cuma berasal dari empat orang. "Memang susah dinalar, tapi ini modalnya kecintaan pada kampung halaman," kata Zakarsyih.

Infrastruktur lain di daerah Sulit Air yang terwujud berkat gotong-royong para perantaunya antara lain lima sekolah dan pesantren, puskesmas, perpustakaan, jembatan, balairung sari, rumah gadang, proyek air bersih, sarana olahraga, dan obyek wisata. Tak sekadar membangun fisik, menurut Zakarsyih, belakangan perantau juga menanggung biaya rutin pengelolaan sekolah dan masjid serta beasiswa untuk pelajar kurang mampu dan berprestasi.

Wali Nagari Sulit Air Alex Suryani
Foto: dok. pribadi

Ketua Umum Sulit Air Sepakat Zakarsyih Nurdin
Foto: dok. pribadi

Pada 1970-an sampai pengujung 1990-an, ketika lalu lintas pengiriman uang masih memakai jasa kantor Pos, Sulit Air dikenal sebagai negeri Pos wesel. Denyut nadi kehidupannya banyak bergantung pada kiriman uang via wesel dari perantauan. "Kantor Pos di Sulit Air menginformasikan, hampir Rp 1 miliar uang setiap bulan dikirimkan warga di perantauan untuk penduduk di kampung halaman," ujar Zakarsyih.

Wali Nagari Sulit Air Alex Suryani mengatakan Desa Sulit Air dengan luas 80 kilometer persegi memang sejak dulu bergantung pada bantuan perantau karena sulitnya mendapat anggaran pembangunan dari pemerintah daerah. "Kepedulian perantau memang sangat kuat membangun Sulit Air," ujar Suryani.

* * *

Kondisi alam Gunungkidul di Yogyakarta mirip Sulit Air, bahkan mungkin lebih buruk karena tandus. Pemerintah menggolongkannya sebagai daerah tertinggal. Tapi, dalam beberapa tahun belakangan, muncul kesadaran dari warga Gunungkidul yang bermigrasi ke kota-kota besar untuk ikut membantu kampung halaman mereka. Mereka antara lain terhimpun dalam Ikatan Keluarga Gunungkidul. Anggotanya mencapai 270 ribu orang atau sekitar 90 ribu keluarga, yang tersebar di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Salah seorang perantau yang lumayan besar kiprahnya dalam membangun Gunungkidul adalah Eddy Sukirman. Pada 1975, di usia 19 tahun, ia merantau ke Jakarta cuma bermodal kenekatan dan sedikit uang saku dari orang tuanya. Impian warga Desa Sampang, Kecamatan Gedang Sari, Gunungkidul, itu sangat sederhana: menjadi pegawai pabrik. "Kalau di kampung mesti bertani," ujar Eddy saat berbincang dengan detikX di Jakarta, Jumat, 10 Mei.

Setiba di Jakarta, impiannya itu tak mudah diwujudkan. Eddy, yang menumpang tinggal di kamar kontrakan kawan sekampungnya, akhirnya bekerja serabutan. Ia pernah jadi pembantu, kerja serabutan di pasar. Ia mesti tidur di pasar juga. Ketika akhirnya mendapat pekerjaan sebagai buruh pabrik jamu, ternyata hasilnya tak seberapa. Eddy pun keluar dan menjadi distributor jamu dan obat.


Sayang, pabrik jamu itu gulung tikar karena utang menumpuk. Pada 1987, setelah mencari usaha di sana-sini, ia mendapat pekerjaan sebagai tenaga pemasaran produk antirayap. Merasa cocok dengan usaha itu, Eddy pun mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan antirayap serta membangun jaringan. "Akhirnya saya membuka usaha sendiri dengan nama PT Duta Chemical. Tuhan memberikan berkat yang lebih baik, saya justru mempunyai pabrik," tuturnya.

Orang Jawa bilang usia 40 kamu harus berada di puncak. Kalau saya, usaha saya naik ke puncak saat usia 34 tahun."

Eddy Sukirman, Ketua Umum Ikatan Keluarga Gunungkidul

Usahanya terus tumbuh. "Orang Jawa bilang, usia 40 kamu harus berada di puncak. Kalau saya, usaha saya naik ke puncak saat usia 34 tahun," kata Eddy sambil tersenyum. Ayah tiga putra itu berhasil mendirikan 11 perusahaan lainnya di berbagai bidang, di antaranya penyalur peralatan militer, konstruksi, dan pertambangan. Kini dia mempekerjakan sedikitnya 200 orang di perusahaannya.

Di tengah kesuksesan usahanya, Eddy tak lupa tanah kelahirannya, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari ibu kota Kabupaten Gunungkidul, Wonosari. Dia membantu memperbaiki jalan di kampungnya yang bahkan sepeda motor pun kesulitan untuk melaluinya. "Saya sumbang aspal dan semen," katanya. Namun, belakangan, usahanya membantu perbaikan jalan diambil alih pemerintah setempat. "Mungkin bupatinya malu disumbang terus," ujarnya sambil tertawa.

Pada 2012, ia membeli tanah seluas 2.000 meter persegi di kampungnya dan membangun klinik seluas 700 meter persegi. Kalau sudah selesai, ia akan menghibahkannya ke pemerintah daerah. “Mau diperluas lagi jadi rumah sakit tidak masalah, yang penting untuk kepentingan warga," katanya.

Eddy, yang sejak awal 2016 terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Keluarga Gunungkidul bertekad tak cuma berkutat membangun infrastruktur bagi daerahnya. Bersama para pengurus paguyubannya, ia menggagas peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Mereka membantu pelaku-pelaku usaha kecil-menengah serta industri kecil meningkatkan kualitas pemasaran dengan memberikan modal atau memperluas jaringan pemasaran. "Kami bisa hubungkan dengan investor, atau beberapa pengusaha asal Gunungkidul juga bisa jadi pendana," katanya.

Klinik milik yayasan putra daerah Sampang yang akan dihibahkan kepada pemerintah daerah
Foto: dok. Eddy Sukirman



Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.