INTERMESO
"Aku benci Muhammad Ali. Tuhan mungkin tak suka aku bicara seperti itu, tapi aku mengatakannya dari lubuk hatiku."
Foto: Sport Magazine
Ketika Joseph "Joe" Frazier meninggal empat setengah tahun lalu, Muhammad Ali datang ke pemakamannya. Joe bukan sobat karib Ali, justru "musuh" bebuyutannya. Tiga kali mereka baku pukul hingga berdarah-darah di ring tinju.
Ali, yang sudah kesulitan bicara lantaran penyakit parkinson, menulis kata-kata perpisahan untuk Frazier. "Istirahatlah dengan damai, Joe, sampai kita bertemu lagi nanti. Tapi nanti kita tak akan berantem lagi, kita akan berpelukan," Ali menulis, dikutip Guardian.
Permusuhan Ali dengan Frazier menjadi legenda di atas ring tinju, melampaui sengitnya perseteruan Joe Louis-Max Schmeling atau Sugar Ray Leonard-Thomas Hearns. Setelah Ali mengalahkan Frazier dalam laga terakhir "Thrilla in Manila" pada Oktober 1975, permusuhan mereka masih berlanjut di luar ring. Frazier tak pernah memaafkan Ali.
Bagi Frazier, pertarungan dengan Ali tak pernah berakhir. "Aku benci Muhammad Ali. Tuhan mungkin tak suka aku bicara seperti itu, tapi aku mengatakannya dari lubuk hatiku," kata Frazier, lebih dari 20 tahun setelah "Thrilla in Manila". "Lebih dari 20 tahun aku melawan Ali, tapi aku masih berhasrat mencabik-cabik dia dan memulangkannya kepada Yesus."
Muhammad Ali dalam jumpa pers sebelum melawan Joe Frazier di Manila, 1975.
Foto: SCMP
Sama-sama lahir dari keluarga miskin, sama-sama keturunan Afrika, dan sama-sama pemenang medali emas Olimpiade, Ali dan Frazier tak pernah akur. Tak seperti Floyd Patterson, yang mau memaafkan Ali, Joe Frazier masih sakit hati dengan semua kata yang keluar dari mulut besar Ali.
Mulut Ali kala itu memang sangat "berbisa". Ali memanggil Floyd, yang lebih senior, dengan sebutan kelinci karena "dia ketakutan seperti kelinci". Sebelum baku hantam dengan Frazier di Araneta Coliseum, Kota Quezon, Filipina, Ali juga menghina Frazier habis-habisan.
Ali memanggil Frazier sebagai gorila dan orang yang bodoh. "It will be a killer.... And a chiller..... And a thrilla.... When I get the gorilla.... In Manila," Ali berpantun di depan wartawan. Kemudian merogoh kantongnya, mengeluarkan boneka karet gorila berwarna hitam, dan berlagak memukulinya. "Seperti inilah Joe Frazier jika kalian memukulnya.... Ayo, gorila."
Tak aneh jika Frazier terus memendam sakit hati. Frazier merasa Ali seharusnya berutang budi kepada dia. Saat gelar dan izin bertinju Ali dicabut lantaran menolak ikut berperang di Vietnam, Frazier mengulurkan tangan. "Dia datang ke gym dan meneleponku," Frazier menuturkan kepada Sports Illustrated. Kepada Frazier, Ali menjelaskan rencananya supaya dia bisa mendapatkan lisensi bertinjunya kembali. "Bahkan aku mengantarnya dari Philadelphia ke New York dengan mobilku. Kami bicara soal berapa banyak duit yang akan kami dapat jika kami bertarung. Kami bercakap-cakap dan banyak tertawa. Saat itu kami adalah dua sahabat."
Tapi persahabatan itu menguap entah ke mana. Ali terus mengolok-olok Frazier. "Joe Frazier terlalu konyol untuk jadi juara.... Dia terlalu bodoh untuk jadi juara dunia," kata Ali. "Coba tanya dia, ‘Bagaimana rasanya jadi juara.’ Dia akan menjawab, ‘Duh... duh... duh….’" Semua orang tertawa.
Dia mengkhianati persahabatanku. Dia menyebutku bodoh dan mengatakan bahwa ibuku lari begitu melahirkanku lantaran penampilanku begitu buruk."
Bertahun-tahun kemudian, Ali minta maaf. Dia membela diri bahwa semua itu dia lakukan untuk publikasi. "Joe benar. Aku mengatakan banyak hal yang tak seharusnya aku katakan.... Aku minta maaf. Aku menyukai Joe Frazier," kata Ali, dikutip Chicago Tribune. Lewat Marvis Frazier, putra Joe, Ali juga menitipkan permintaan maaf. "Tolong katakan kepada ayahmu bahwa aku tak sungguh-sungguh mengatakan semua hal itu."
"Dia mestinya menyampaikan sendiri di depan mukaku, Nak," kata Joe Frazier kepada Marvis. Frazier, yang jadi korban, tak bisa menerima penjelasan Ali. "Aku sempat berpikir, apakah orang ini sudah gila? Untuk semua yang telah aku lakukan untuk dia, apa yang dia lakukan sangat kejam," kata Frazier. "Dia mengkhianati persahabatanku. Dia menyebutku bodoh dan mengatakan bahwa ibuku lari begitu melahirkanku lantaran penampilanku begitu buruk."
Ketika Muhammad Ali ditunjuk panitia Olimpiade Atlanta 1996 untuk menyalakan obor Olimpiade, Frazier tak henti menggerutu. "Akan sangat bagus jika dia menjatuhkan obor itu.... Jika ada kesempatan, aku akan dengan senang hati menjerumuskannya," Frazier menulis dalam biografinya, Smokin Joe. Sekarang dua sahabat itu, dua musuh itu, sudah sama-sama ada di alam sana.
* * *
Barangkali, seperti pembelaan Ali, semua kata tajam dan penghinaan kepada lawan-lawannya hanyalah cara dia mempromosikan pertarungannya.
Saat kecil hingga remaja, Ali alias Cassius Clay bukanlah anak yang suka bermusuhan dan suka memancing keributan. Dia tak merokok, tak menenggak minuman beralkohol, dan jauh dari narkotik. Lantaran tak punya duit, Ali tak pernah ikut bus sekolah. Ali pilih berlari. "Mengapa dia tak naik bus sekolah," Socrates, teman sekolahnya, bertanya. "Dia memang gila," Shirlee Lewis Smith, teman sekelas Ali, menjawab pertanyaan Socrates.
Di kelas, menurut Thelma Lauderdale, salah satu gurunya, Ali tak pernah berulah. "Dia tak pernah bikin masalah. Dia pendiam dan pemalu," kata Thelma kepada Sports Illustrated. Di luar kelas, Ali sebenarnya bukan anak pendiam. Menurut teman akrab Ali, Indra Leavell Brown, Ali suka bermain. "Dia anak yang jolly-go-happy," ujar Jimmy Ellis, teman main Ali kecil.
Jubah yang pernah dikenakan tim Muhammad Ali dipamerkan di London, Maret 2016.
Foto: Getty Images
Jemaah Masjid River Road di Kota Kentucky menunaikan salat di depan poster Muhammad Ali, 5 Juni 2016.
Foto: Getty Images
Dalam hal pelajaran sekolah, Ali memang bukan anak pintar. Saat lulus SMA pada 1960, Ali ada di peringkat ke-376 dari 391 murid. Untuk pelajaran bahasa Inggris dan sejarah Amerika, misalnya, dia hanya dapat nilai 65. Hanya satu hal nilai Ali di atas rata-rata, yakni olahraga. Saat itu, hidup Ali memang hanya untuk tinju.
Untuk tinju, Ali sangat serius dan fokus. "Anak itu mau mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang dia anggap sangat berharga," kata Joe Martin, orang pertama yang melatih Ali bertinju. Dibanding anak-anak lain, semangat Ali juga jauh lebih unggul. "Bisa dibilang, dia anak yang paling keras berlatih yang pernah aku kenal."
Bukan cuma gigih berlatih, Ali juga sangat berdisiplin menjaga makanan dan pola hidup. Kadang dia membawa susu dan telur mentah ke sekolah. "Dia akan memecahkan telur itu, mengaduknya dalam susu, dan langsung menenggaknya. "Sekarang aku siap bersekolah," Yates Thomas, teman SMA Ali, menirukan.
Setiap hari, apa pun yang dia lakukan bersama teman-temannya, dia akan pulang sebelum pukul 10 malam untuk istirahat. Ali juga tak makan makanan banyak lemak, seperti daging babi. "Daging babi tak bagus untuk kalian," Cassius alias Ali mengingatkan teman-temannya.
Kendati berbadan besar dan jago bertinju, menurut Joe Martin, Ali bukan anak yang suka cari gara-gara. "Bahkan aku tak pernah sekali pun mendengar dia menyumpah," kata Martin. Sepanjang berteman dengan Ali, kata Indra Brown, hanya sekali dia menyaksikan Ali melayani orang yang mencari gara-gara dengannya. Saat itu mereka baru pulang sekolah dan ada dua anak menghadang hendak cari gara-gara dengan Ali.
"Ayo, lawan kami," dua anak itu terus memojokkan Ali. Ali tak mau melayani dan terus menghindar. "Tinggalkan kami," kata Ali. Tapi dua anak itu terus mendesak hingga akhirnya Ali naik darah dan memukulnya sekali. Anak itu tumbang seketika. "Ali tampak menyesal sekali. Dia seperti mau menangis," kata Indra.
Di atas ring tinju, Muhammad Ali bisa menjadi petarung yang buas, tapi di luar arena, Ali hanya orang biasa. "Ayahku orang yang baik, tapi dia memang bukan orang yang setia," kata Hana Ali, putri Ali dari Veronica Porsche. Dalam hal kesetiaan terhadap istri, Ali memang bukan juaranya. "Aku masih ingat saat kami tinggal di California, kami ada dalam Rolls-Royces dan melihat satu keluarga gelandangan tengah menunggu bus ke Florida. Ayahku berhenti, mengangkut mereka ke rumah, memberi makan, mengantar mereka ke stasiun kereta dan mengirim mereka pulang ke Florida."
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.