INTERMESO
Para mahasiswa Indonesia di luar negeri memberi donasi dan inspirasi bagi para pelajar di Tanah Air agar bisa mewujudkan mimpi mereka.
Pertemuan adik bintang Yayasan Hoshizora di Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta, 29 Mei 2016
Foto: dok. Hoshizora
Rian Nur Hidayat lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Bahrodin, bekerja sebagai seorang buruh bangunan, sementara ibunya meninggal saat ia baru saja menginjak masa remaja. Bersama ayah dan kakaknya, Rian tinggal di kawasan Palbapang, Bantul, Yogyakarta.
Dia anak yang pemalu. Sampai suatu hari, saat duduk di kelas III SMP pada 2011, ada yang menawarinya program beasiswa dari Yayasan Hoshizora. Ia mengikuti seleksi dan lulus. "Saya mendapat kakak bintang bernama Andhika Sahadewa," tutur Rian kepada detikX, Kamis, 2 Juni 2016. Kakak bintang adalah sebutan bagi pemberi beasiswa di Yayasan Hoshizora. Andhika saat itu sedang menempuh studi lanjutan di University of Michigan, Amerika Serikat.
Seiring dengan berjalannya waktu, kepercayaan diri Rian meningkat setelah mengikuti sesi motivasi dari Hoshizora. "Kakak bintang saya mendorong agar punya impian seperti dia, bisa (bersekolah) ke luar juga," kata Rian. Andhika selalu mendorong Rian untuk mempelajari bahasa Inggris dengan baik.
Kantor Hoshizora Education Center di Bantul, Yogyakarta
Foto: dok. Hoshizora
Saat pertemuan penerima beasiswa dari Hoshizora pada 2012, disosialisasikan program beasiswa pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study. Ikut seleksi program tersebut, Rian lulus masuk ke Watertown High School, New York, pada pertengahan 2013. "Bahasa Inggris ya pokoknya berani saja. Walaupun kadang belepotan," ujarnya sambil tertawa.
Kami mau anak Indonesia punya mimpi yang tinggi, setinggi bintang di langit dan cemerlang seperti bintang."
Selama di Amerika, dia tinggal bersama keluarga Bill Jorden. Kurikulum sekolah itu memberinya kebebasan memilih mata pelajaran. Juga tak terlalu banyak tugas seperti di Indonesia. "Tapi pilihan ekskul (ekstrakurikuler) dan sports club banyak." Setahun di Watertown, kini Rian kuliah di semester II Jurusan Manajemen Keuangan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
* * *
Kisah Yayasan Hoshizora berawal dari Kota Beppu di Prefektur Oita, Jepang. Di kota yang terletak di bagian barat Jepang itu berdiri Ritsumeikan Asia Pacific University, tempat sejumlah anak muda asal Indonesia menuntut ilmu. Megarini Puspasari dan Reky Martha masing-masing mengambil jurusan Asia Pacific International Management dan Asia Pacific Studies.
Para penerima beasiswa Scholar4ID angkatan 2012
Foto: dok. Scholar4ID
Saat mengambil kelas non-governmental organization yang diampu seorang profesor asal Filipina, keduanya disarankan melakukan sesuatu bagi sesamanya di Tanah Air. Hal semacam itu banyak dilakukan diaspora Filipina yang sukses. Atas nasihat sang profesor, Reky dan Megarini lalu mengajak sejumlah kawan lainnya, seperti Wenda Gumulya, William Widjaja, dan Ahmad Bukhori, yang sama-sama punya semangat untuk berbagi.
"Saya merasa sangat bersyukur bisa belajar sampai ke tingkat tinggi, dan ingin membantu adik-adik yang terancam putus sekolah," kata Reky saat berbincang dengan detikX seusai acara “Philanthropy Learning Forum 7” pada Selasa, 31 Mei lalu.
Acara bertajuk “Filantropi Diaspora: Potensi, Tantangan, dan Strategi Mobilisasinya” yang berlangsung di kantor United Nations Development Programme, Jakarta, itu menampilkan Dino Patti Djalal (Indonesia Diaspora Network), Al Busyra Basnur (Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri), H Zakarsyih Nurdin (Ketua Umum Sulit Air Sepakat, Sumatera Barat), dan Reky sebagai narasumber.
Reky Martha bersama adik-adik bintang
Foto: dok. Hoshizora
Rian Nur Hidayat bersama keluarga Bill Jorden saat bersekolah di Watertown, New York, Amerika Serikat
Foto: dok. pribadi
Gagasan Reky dan teman-temannya sederhana. Mereka mengumpulkan 1.000 yen per orang tiap bulannya untuk beasiswa. Jumlah itu setara dengan satu kali makan siang di Jepang sehingga agak ringan. Namun jumlah itu setara dengan uang sekolah satu bulan di sekolah negeri di Indonesia. "Kami tidak bilang, ‘Sisihkan dong 1.000 yen’, tapi bilang, ‘Simpan dong uang lunch sekali’."
Mereka lantas menamakan komunitas relawan itu dengan Hoshizora, yang resmi dibentuk pada 2 Mei 2006. Hoshi artinya bintang, sementara zora berarti langit. "Langit yang berbintang. Kami mau anak Indonesia punya mimpi yang tinggi, setinggi bintang di langit dan cemerlang seperti bintang," kata Reky.
Mereka lantas mengumpulkan 150 mahasiswa Indonesia dan memaparkan proyek tersebut. Ada yang antusias, tak sedikit pula yang ragu. Namun tekad untuk menjalankan Hoshizora sudah tak terbendung. Tepat tanggal 20 Mei 2006, generasi pertama kakak dan 14 adik bintang diluncurkan di tengah berbagai keterbatasan.
Selain memberikan beasiswa, komunitas ini juga membangun penyadaran bahwa hubungan pemberi dan penerima beasiswa bukan semata soal uang. Tapi ibarat adik dan kakak. Untuk menjalin hal itu, kedua pihak harus saling berkomunikasi lewat surat. "Itu yang menjaga semangat adik-adik untuk memilih belajar, begitu pula menjaga motivasi kakak," ujar Reky.
Wisata pedesaan yang merupakan salah satu unit usaha Hoshizora sebagai social enterprise.
Foto: dok. Hoshizora
Sesi wawancara dalam proses seleksi adik bintang
Foto: dok. Hoshizora
Ketika para pendirinya lulus dan pindah dari Beppu, masalah mulai muncul. Reky, yang lulus pada 2007, bekerja di Osaka. Dua kali dalam sebulan, setiap Jumat sore, ia menumpang kapal selama 12 jam menuju Beppu. Senin pagi harus cepat balik ke Osaka untuk kerja. Pada 2010, ia harus melanjutkan studi di University of British Columbia di Vancouver, Kanada. Akhirnya disepakati komunitas diubah menjadi yayasan pada 2012 dan dikelola dengan profesional karena jumlah adik bintang terus bertambah. Mereka meminta bantuan dana dari beberapa lembaga donor untuk biaya operasional. "Agar uang beasiswa tetap utuh," kata Reky.
Kini yayasan berbentuk social enterprise itu punya sejumlah bidang usaha, seperti rumah makan, peternakan, dan wisata pedesaan, untuk menyokong kegiatan operasional yayasan.
Rahmaniar Husein, kakak bintang generasi pertama dengan adik bintang Arif Setiawan, menyatakan rasa bahagianya bisa terlibat dalam Yayasan Hoshizora. "Saya bisa menyaksikan Adik Arif tumbuh dan berkembang dari anak yang kurang beruntung menjadi berprestasi," ujarnya.
Memasuki usia 10 tahun, Hoshizora sudah mendukung lebih dari 1.500 anak untuk melanjutkan sekolah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah timur Indonesia. Kakak bintang tercatat 1.078 orang, tersebar di 16 negara di Eropa, Amerika, dan Asia.
Dengan tagline “Jangan Berhenti Bermimpi”, enam sarjana Indonesia lulusan Nanyang Technological University (NTU), Singapura, mendirikan Scholar4ID pada 2011. Tujuan utamanya adalah membantu dan memotivasi para pelajar di pelosok Nusantara menggapai mimpi-mimpi mereka. Sekolah menengah atas di Solo, Jawa Tengah, dan Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi target pertama.
“Di Pontianak waktu itu saya bertemu Hedi. Tubuhnya kecil, bicara terbata-bata, dan mengaku senang badminton tapi enggak tahu siapa itu Taufik Hidayat. Sekarang dia kuliah di UGM dapat beasiswa full,” tutur Dimas Harry Priawan kepada detikX beberapa waktu lalu. Ia tercatat sebagai pencetus dan pendiri Scholar4ID bersama Januardy Djong, Dewa Pramayoga, Cobysot Avego Putro, Egtheasilva Artella, dan Prayudi Utomo.
Menurut Dimas, pembentukan Scholar4ID tak lepas dari pengalaman pribadinya. Semasa tahun pertama di SMA Jakarta, ia mengaku sebagai pribadi yang pemalu, tak terlalu pintar, dan kemampuan bahasa Inggris juga masih tergolong belepotan. Tapi, saat iseng-iseng mengajukan beasiswa ke Singapura, ternyata ia dan dua temannya dinyatakan lulus. Di Negeri Singa, wawasannya terbuka lebar bahwa perguruan tinggi terbaik bukan cuma Universitas Indonesia.
“Saya jadi tahu ada NTU, NUS (National University of Singapore), bahkan Harvard. Jadi ini bukan semata soal pintar, tapi soal mimpi dan peluang untuk mewujudkannya,” ujar Dimas.
Reporter: Melisa Mailoa, Pasti Liberti Mappapa
Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.