INTERMESO
"Aku bukan pelacur.... Aku hanya menyewakan waktuku, bukan tubuhku."
Foto: Getty Images
Tahun baru Cina mestinya jadi saat untuk bersukacita bagi warga Tiongkok. Pulang kampung, bertemu dengan orang tua dan sanak saudara. Tapi tidak bagi sebagian perempuan di Negeri Panda, bahkan bagi perempuan secantik Zheng Dandan.
Mudik tahun baru malah bikin dia senewen. Setiap kali hendak pulang ke rumah orang tuanya di Tangshan, Provinsi Hebei, gadis yang baru merintis karier di dunia film di Ibu Kota Beijing itu mesti mempersiapkan semua jawaban untuk berondongan pertanyaan dari orang tuanya.
Pertanyaan kedua orang tuanya sebenarnya itu-itu saja, nyaris sama dari tahun ke tahun. "Apakah kamu sudah bertemu dengan seseorang?" Pertanyaan ini jadi hal rutin setiap tahun. Seperti semua orang tua di Cina, orang tua Zheng Dandan juga tak mau anak gadisnya menjadi sheng nu, perawan tua yang tak laku.
Tahun baru akan tiba. Khawatir ditertawakan lantaran masih sendirian? Tertarik menyewa pacar? Jadwalku masih terbuka dan aku siap mendiskusikan apa saja jasa yang aku tawarkan."
"Orang tuaku menikah saat mereka baru berumur 20 tahunan. Pikiran mereka sangat kolot," kata Dandan kepada Sydney Morning Herald beberapa bulan lalu. "Mereka berpendapat bahwa berkeluarga harus diutamakan ketimbang mengejar karier. Tapi anak-anak muda seperti aku ingin mengejar karier dulu sebelum berumah tangga."
Urusan jodoh ini jadi runyam lantaran mencari pasangan di Tiongkok sepertinya makin lama makin susah. Menurut angka dari Biro Nasional Statistik Cina, satu dari lima perempuan berusia 25-29 tahun di negeri itu berstatus lajang dan ada 7,4 persen perempuan berumur 30-35 tahun yang belum menikah. Padahal, gara-gara kebijakan satu anak, ada lebih banyak laki-laki di Tiongkok.
Punya penampilan kurang menarik kadang bikin susah cari jodoh. Tapi punya paras menawan dan gaji besar juga bisa membuat perempuan Cina sama susahnya mendapat jodoh. Di lingkungan yang cenderung hipergami, bahwa seorang perempuan harus menikah dengan laki-laki yang punya status sosial-ekonomi lebih tinggi, gaji besar dan pendidikan tinggi seorang perempuan kadang malah membuat laki-laki "lari".

Foto: Getty Images
Wei Pan mengalaminya sendiri. Gadis yang punya gelar doktor biomedis itu pernah berkencan dengan seorang guru sekolah dasar. Setelah beberapa kali bertemu, Wei Pan merasa cocok, tapi laki-laki itu malah menjauh. "Aku tak mencari laki-laki yang sempurna. Aku juga bukan perempuan yang sempurna," kata Wei Pan kepada The Atlantic. Dia hanya berharap bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa mengimbanginya secara intelektual dan punya penghasilan tak terlalu jauh dari gajinya.
Loretta Xu Liang, 32 tahun, dari Shanghai, punya masalah serupa. "Laki-laki Cina takut kepadaku, secara emosional maupun finansial," kata Loretta kepada Post Magazine. Dengan penampilan menarik, Loretta memang sangat percaya diri. Gajinya bisa bikin laki-laki "ngeri". Gajinya sebulan sekitar 35 ribu yuan atau Rp 75 juta, hampir sembilan kali pendapatan rata-rata warga Tiongkok.
* * *
Bagi Zhi Hao, 38 tahun, tahun baru Cina adalah saatnya mengeruk rezeki. Lajang ini tak menjual rupa-rupa barang yang biasa dipakai untuk merayakan tahun baru Cina. Yang dia jual adalah "jasa" sebagai pacar, bahkan suami, sewaan. Ketimbang terus-menerus "diteror" pertanyaan soal jodoh, sebagian gadis di Cina memilih menyewa pacar palsu demi menyenangkan hati orang tua mereka.
Ketika tahun baru tiba, Zhi Hao akan mengiklankan diri di jejaring sosial, seperti QQ, untuk menjadi pacar atau suami "gadungan" untuk dipamerkan di depan para orang tua. "Ini bisnis yang bagus.... Banyak gadis yang membutuhkannya," kata Zhi Hao dikutip SBS. "Aku membantu mereka memecahkan masalah dan aku mendapatkan uang sebagai imbalannya."

Foto: Getty Images
Selama sepekan penuh, Zhi Hao akan berpura-pura menjadi pacar atau suami siapa pun gadis yang menyewa jasanya. Karyawan bagian penjualan itu memasang tarif lumayan mahal, sekitar US$ 160 atau Rp 2,1 juta per hari. Rata-rata setiap tahun baru, dari jasa pacar palsu ini, Zhi Hao bisa mengantongi duit sekitar US$ 1.000 atau Rp 13,4 juta.
Sui Wei, yang umurnya jauh lebih muda ketimbang Zhi Hao, pasang harga jauh lebih mahal untuk jasanya sebagai pacar atau suami gadungan. "Aku pasang tarif berkisar RMB 1.000-10.000," kata Sui Wei kepada Financial Times. Sekitar Rp 2 juta hingga Rp 20 juta per hari. Menurut Sui, dia pasang harga berbeda tergantung siapa perempuan yang memakai jasanya. "Aku kasih harga lebih murah untuk pegawai kantor biasa, dan kasih harga lebih mahal untuk perempuan-perempuan kaya."
Di QQ, juga di sejumlah situs jodoh, ada banyak laki-laki yang menawarkan jasa serupa dengan Sui Wei dan Zhi Hao. "Tahun baru akan tiba. Khawatir ditertawakan lantaran masih sendirian? Tertarik menyewa pacar? Jadwalku masih terbuka dan aku siap mendiskusikan apa saja jasa yang aku tawarkan," seorang pemuda menulis iklan di Weibo.

Foto: Getty Images
Sebagian besar pacar gadungan ini bukan pengangguran. Mereka punya pekerjaan tetap, bahkan kadang juga punya pacar. Matthew Fan, 29 tahun, dari Chongqing, bekerja sebagai manajer dan punya pacar. Sang pacar tentu tak tahu pekerjaan tambahan kekasihnya itu.
Sudah beberapa kali tahun baru Fan menawarkan jasa sebagai pacar sewaan. "Aku ingin punya penghasilan tambahan saat baru lulus kuliah," kata Fan. Pekerjaan sampingan ini relatif gampang dan duitnya lumayan besar. Fan membatasi jasa yang dia berikan "maksimum" hanya pelukan. "Aku bukan pelacur.... Aku hanya menyewakan waktuku, bukan tubuhku."
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.