INTERMESO

Kami Perawan Tua dan Kami Bahagia

"Laki-laki Cina takut kepadaku, secara emosional maupun finansial."

Seorang calon mempelai perempuan berfoto di reruntuhan rumah di Shanghai, Cina, tahun lalu.
Foto: Getty Images

Selasa, 7 Juni 2016

Orang-orang memanggilnya Guru Gu. Tapi jangankan ruang kelas, satu orang murid pun dia tak punya. Guru Gu memang bukan seorang guru. "Pekerjaan”-nya malah sangat jauh dari profesi mengajar.

Setiap Sabtu, saat panas terik atau hujan deras, Guru Gu akan beredar di Taman Rakyat, Shanghai, Tiongkok. Dengan kemeja warna terang menyala, jas abu-abu gelap mengkilat, dan topi lebar warna merah bertengger di kepala, Guru Gu sangat mudah dikenali di antara kerumunan di Taman Rakyat.

Guru Gu adalah seorang makelar jodoh alias makcomblang. Setiap Sabtu, dia akan beredar di Pasar Jodoh di Taman Rakyat untuk mencari "klien". Ada banyak makcomblang lain seperti Guru Gu yang berebut menawarkan jasa di Pasar Jodoh. Di belakang Guru Gu, berderet-deret papan memajang daftar "klien" Guru Gu.

Satu "klien”-nya menawarkan diri seperti ini, "Laki-laki, lahir di Shanghai tahun 1982, punya pekerjaan stabil, belum pernah menikah, tidak merokok, dan tidak minum minuman beralkohol.” Menurut Guru Gu, iklan mencari jodoh yang baik tak terlalu berlebihan, tapi juga tak tampak kelewat merendahkan diri.

Video: YouTube SK-II

Biodata para pencari pasangan di Pasar Jodoh di Shanghai
Foto: Prexamples

"Gaji mereka tak perlu terlalu tinggi, tapi juga tak boleh terlalu kecil," kata Guru Gu, kepada WorldPost, beberapa bulan lalu. Guru Gu menarik ongkos sekitar Rp 200 ribu untuk satu kali jasa mencarikan jodoh ini. Entah hanya "jual kecap" untuk jasanya, menurut Guru Gu, dia nyaris selalu berhasil mencarikan jodoh bagi anak-anak yang dititipkan kepadanya.

Rata-rata bukan para bujangan, duda, janda, atau anak perawan yang beredar mencari jodoh di Taman Rakyat. Justru orang tua mereka yang sibuk pasang mata mencarikan pasangan untuk anaknya. Jin Lei, misalnya, datang ke Taman Rakyat demi mencari suami untuk putrinya. Anaknya "sudah" 28 tahun, dan kelewat sibuk dengan pekerjaannya di Hong Kong.

Ada banyak bursa jodoh di kota-kota lain di Cina serupa dengan Pasar Jodoh di Taman Rakyat, Shanghai. "Anak-anak perempuan enggan membuka mulutnya untuk mengatakan, ‘Aku menginginkan seorang pacar.’ Makanya kami ada di sini untuk membantu mereka," kata Jin Lei. Yang jadi soal, putrinya tak tahu sang ibu tengah sibuk memburu calon suami untuk dia.

Biasanya Jin Lei baru memberi tahu anaknya jika dia sudah membuat janji untuk mempertemukan calon suami itu dengan putrinya. Barangkali lantaran dijodohkan tanpa persetujuannya, putri Jin Lei tak pernah mau menemui calon suami hasil perburuan ibunya. "Sebenarnya tak seburuk itu.... Di sini ada yang sudah sepuluh tahun mencari jodoh untuk anaknya dan belum menemukan calon," Jin Lei menghibur diri.

Suasana Pasar Jodoh di Shanghai
Foto: XiexieShalom

Urusan jodoh, terutama bagi para perempuan di Daratan Tiongkok, memang urusan yang bikin runyam, bikin hidup nelangsa. Bagi perempuan-perempuan Cina, angka 27 merupakan angka "keramat". Ketika umur 27 telah lewat dan tak ada suami atau pacar yang siap menikahi, keluarga dan orang-orang di sekitar akan memberinya stempel sheng nu alias perawan tua atau perawan tak laku.

Bukan cuma sang perawan yang tertimpa beban cap perawan tua, tapi juga orang tua dan keluarganya. Zhang Lin, 38, sudah 11 tahun tinggal dan bekerja di sebuah kampus di Beijing. Dia hidup sendiri. Selama itu pula tak sekali pun ayahnya datang berkunjung. Sang ayah malu dengan status perawan tua Zhang Lin.

"Dari empat anaknya, aku satu-satunya yang belum menikah. Kata ayahku, karena aku tak punya keluarga, dia tak ada alasan untuk datang berkunjung," kata Zhang Lin kepada Al-Jazeera. Getir. Di mata keluarga dan orang-orang, menjadi perawan tua sudah seperti aib, sama seperti dosa. "Orang-orang selalu berpikir pasti ada yang salah dengan dirimu. Bahwa menjadi perawan tua merupakan kesalahanmu."

Ibunya hanya sekali berkunjung empat tahun lalu. Dari koran, sang ibu mendengar cerita soal bursa jodoh di Taman Zhongshan, Beijing. Ibunya sangat berharap Zhang Lin mendapatkan calon suami di bursa jodoh itu. Dengan menebalkan muka menahan malu, Zhang terpaksa mengikuti ibunya ke Taman Zhongshan.

Selama dua jam, dia berdiri di belakang ibunya, menunggu ada orang tua lain atau makcomblang datang menawarkan calon suami. Perasaannya sungguh tak keruan. "Aku merasa dipermalukan, sangat tertekan, dan marah. Aku merasa seperti pecundang yang datang untuk menjual diri," kata Zhang Lin. Acara mencari jodoh itu jadi bencana. Zhang Lin menolak menikah dengan laki-laki yang dipilih ibunya. Sang ibu marah besar dan tak mau lagi datang berkunjung.

* * *

Pasangan pengantin berfoto di Thames Town, Kota Songjiang, Cina, 2015.
Foto: Getty Images


Pada pukul 10 malam, Loretta Xu Liang, 32 tahun, baru tiba di apartemennya di tengah Kota Shanghai dan merebahkan diri di sofanya yang empuk. Sehari-hari gadis lajang itu memang selalu pulang setelah malam sangat larut.

Hampir tak ada waktu untuk mencari suami. "Laki-laki Cina takut kepadaku, secara emosional maupun finansial," kata Loretta kepada Post Magazine. Dengan penampilan menarik, Loretta memang sangat percaya diri. Gajinya juga bisa bikin laki-laki jeri. Gajinya sebulan sekitar 35 ribu yuan atau Rp 75 juta, hampir sembilan kali pendapatan rata-rata warga Tiongkok.

Faye Yang, 30 tahun, bernasib serupa. Kendati punya paras menarik, Faye masih melajang. Beberapa laki-laki yang semula dijodohkan oleh ibunya semuanya mundur setelah tahu pekerjaan gadis itu. Faye bekerja sebagai profesor muda di sebuah universitas. "Mereka mundur setelah tahu aku punya gelar doktor," kata Faye. Gadis pintar, dalam banyak kasus, membuat laki-laki gentar.

Pada April lalu, perusahaan kosmetik asal Jepang, SK-II, membuat video soal perempuan-perempuan Cina yang masih melajang dan hidup dalam tekanan sosial seperti Faye Yang, Loretta Xu, Zhang Lin, dan jutaan perempuan lain yang bernasib sama.

Seorang perempuan di Cina
Foto: E-Spaces

"Video ini menunjukkan perempuan-perempuan pemberani yang menghadapi tekanan sosial untuk menikah sebelum usia 27 tahun sehingga tak mendapat julukan sheng nu," kata Markus Strobel, Presiden SK-II, dikutip BBC. Di YouTube, video sepanjang 4 menit itu sudah ditonton lebih dari 2.100.000 kali. "Kami ingin menginspirasi perempuan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri."

"Kamu terlalu pemilih.... Aku tak bisa mati dengan tenang sebelum kamu menikah," ujar seorang tua kepada putrinya dalam video itu. Perempuan Cina yang belum menikah, kata seorang perempuan, dianggap tidak lengkap. Tidak menikah juga diperlakukan seperti satu dosa. "Salah satu tanda anak durhaka adalah tidak menikah.”

Padahal, sama seperti perempuan di mana pun, mereka juga menginginkan cinta sejati. "Saya tak ingin menikah hanya demi pernikahan," kata satu perempuan. Satu perempuan lain yang juga masih melajang yakin dia bisa hidup bahagia sekalipun tanpa suami.

Elissa, 31 tahun, menikmati hidup sebagai gadis lajang. "Aku bisa melakukan apa pun yang aku suka," kata Elissa. Laki-laki yang cocok, menurut dia, akan ketemu pada waktunya nanti. Sekarang dia memilih menikmati hidup. "Aku menyukai pekerjaanku dan banyak temanku juga masih melajang.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.