INTERMESO

Mantan OB,
Pencipta Lagu
Bertarif Rp 100 Juta

Menjadi pencipta lagu termahal tak membuat Ishak kehilangan jati diri. Tetap suka nongkrong dan makan di warteg.

Foto : dok. pribadi Ishak

Senin, 30 Mei 2016

Anda pernah mendengar lagu dangdut Sakitnya Tuh di Sini, Goyang Dumang, Perawan atau Janda, atau Hamil Duluan? Ya, empat lagu tersebut lagi ngehit beberapa waktu belakangan ini. Dalam setiap panggung hajatan, ruang karaoke, dan acara keriaan lainnya, empat lagu ini pasti dinyanyikan.

Di situs berbagi video YouTube, Sakitnya Tuh di Sini, Goyang Dumang, dan Perawan atau Janda, yang dilantunkan penyanyi Cita Citata, paling banyak ditonton. Masing-masing dilihat 66.041.847 kali, 42.109.646 kali, dan 40.586.205 kali. Dahsyat, kan? Sedangkan lagu Hamil Duluan milik Tuty Wibowo baru disaksikan 2.139.875 kali.

Meski begitu, bila ditanya siapa sang pencipta lagu, niscaya kebanyakan penikmatnya akan menggeleng. Baik YouTube maupun mesin pencari Google tak mencantumkan namanya, entah kenapa.

Siapa sangka, pencipta keempat lagu tersebut, sebelum menjadi mahasiswa seperti saat ini, pernah menjadi pesuruh di kantor atau istilah kerennya office boy (OB). Namanya Ishak, kelahiran Serang, Banten, 27 Mei 1984. Ia menjadi OB di perusahaan rekaman Maheswara Music sejak 2004 hingga 2009.

Ishak
Foto: dok. pribadi

Ishak mengaku lagu Hamil Duluan dan Perawan atau Janda dibuat berdasarkan realitas di masyarakat. Ketika draf lagu itu disodorkan ke produser, ia sempat mendapat olok-olok. “Emang lu tahu beda rasanya perawan atau janda?” begitu dia menirukan olok-olok si produser. Ishak menggeleng.

Saya belum pernah hamilin orang. Saya juga belum pernah rasain yang namanya perawan atau janda itu gimana."

“Saya belum pernah hamilin orang. Saya juga belum pernah rasain yang namanya perawan atau janda itu gimana,” ujarnya diiringi tawa saat berbincang dengan detikX, Kamis, 26 Mei  2016.

Ia mengaku belajar membuat lagu dari musikus Tjahjadi Jayanata, yang dijumpainya di studio Maheswara pada 2007. Lagu pertama yang dibuatnya adalah Jangan Gila Dong, yang dinyanyikan Lolita. Lagu itu dibuat masih dalam bimbingan Tjahjadi.

Berikutnya, Ishak membuat karya secara mandiri, di antaranya Alay, Bang Jali, Cabe-Cabean, serta empat lagu yang jadi hit tersebut. “Sejak 2008, sudah ada sekitar 100 lagu yang saya buat,” ujarnya.

Cita Citata
Foto: Gus Mun/detikcom

Dari sejumlah lagu yang jadi hit, boleh jadi Sakitnya Tuh di Sini menjadi yang paling berkesan bagi Ishak. Selain membuat namanya melambung dan diperhitungkan para penyanyi serta kalangan produser rekaman, lagu itu mengantarkannya meraih dua penghargaan. Pada 2015, ia terpilih sebagai Penata Musik Dangdut Terbaik dan Pencipta Lagu Dangdut Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia Awards.

Meski begitu, ia tetap tak melupakan peran Tjahjadi sebagai mentornya. Keduanya masih terlibat dalam kerja sama membuat lagu, seperti Dear Mantan, yang dinyanyikan Meymey, dan Kesayangannya Aku oleh Elsa. Hingga 23 Mei, lagu Dear Mantan berada di peringkat pertama dari 12 lagu nada sambung pribadi Telkomsel. “Alhamdulillah no. 1. Terima kasih, mantan,” tulis Ishak di akun Twitter-nya.

Foto: Ishak terpilih sebagai Penata Musik Dangdut Terbaik dan Pencipta Lagu Dangdut Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia Awards 2015.
Foto: dok. pribadi

Ishak juga berusaha memegang teguh nasihat Tjahjadi agar tidak egois dalam membuat lagu. Idealisme tetap harus diperjuangkan, tapi pendapat dan selera pendengar serta penikmat musik juga harus diperhatikan. “Kadang kita buat lagu enak buat kita, tapi tidak bagi orang lain. Kita sebagai pembuat lagu kan kadang-kadang telinga ini sudah terlalu jenuh,” ujarnya.

Seiring dengan meroketnya prestasi Ishak, jejaka yang tengah menimba ilmu manajemen keuangan di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini disebut-sebut sebagai pencipta lagu dengan bayaran termahal saat ini. Kisarannya Rp 75-100 juta. “Itu kalau sampai masternya,” ujar Ishak. Dia antara lain melayani pembuatan lagu untuk produser rekaman Sani Music, Musica, Triniti, dan perusahaan rekaman lainnya.

Meski tergolong anak muda kaya raya, Ishak mencoba tetap rendah hati. Ia tak mau terjebak dalam hidup foya-foya. Ia mengaku masih suka nongkrong di pinggir jalan bersama teman-temannya dan makan di warung Tegal. Honor menulis lagu dan penghargaan lainnya ia tabung untuk masa depannya. “Ya, alhamdulillah, saya sudah punya rumah dan mobil sendiri,” ujarnya tanpa menyebutkan jenis mobil yang biasa dikendarainya pulang-pergi Serang-Jakarta.



Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.