INTERMESO

RESTORASI KOTA TUA

Ambisi DKI Bangun Wisata Bahari

Pemerintah DKI sudah menyiapkan rencana untuk merestorasi Pasar Ikan, Pasar Heksagon, dan Gedung Akuarium.

Pemugaran salah satu bangunan di kawasan Kota Tua Jakarta, Selasa, 29 Maret 2016.
Foto: Safir Makki/CNN Indonesia

Rabu, 18 Mei 2016

Bagi para arkeolog yang lama meneliti kawasan Kota Tua Batavia, penataan perkampungan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, memberi berkah tersendiri. Setelah beberapa pekan bekerja meratakan bekas perkampungan dan mengeruk kanal di depan Museum Bahari, tersembul struktur bangunan yang memanjang. Itulah Benteng Dalam, peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda, yang berada di bawah Gedung Akuarium. Benteng itu hilang akibat ulah warga yang secara bergelombang datang dan menghuni kawasan tersebut sejak 1966. Mereka setahap demi setahap menguruk bekas kanal menjadi hunian.

"Itu fondasi jembatan yang pernah menghubungkan ‘Pulau’ Pasar Ikan dengan daratan depan gudang rempah yang sekarang menjadi Museum Bahari," kata arkeolog Universitas Indonesia, Candrian Attahiyat. Struktur bangunan tersebut memiliki panjang kurang-lebih 10 meter dan lebar 2 meter.

Masuk ke sana ibaratnya nerakanya macet. Kalau itu terbenahi, orang akan welcome.”

Kepala Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua Norviadi Setio Husodo saat ditemui terpisah secara gamblang mengatakan penataan kawasan Pasar Ikan menjadi semacam blessing in disguise atau berkah tersembunyi. “Membuat bangunan bersejarah yang berpuluh tahun tertimbun dapat terlihat kembali," kata Norviadi kepada detikX di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Jumat, 13 Mei lalu.

Kabar soal penemuan Benteng Dalam VOC semula disampaikan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota sehari sebelumnya. Penemuan itu membuat dia kian bersemangat menata kawasan tersebut. Selanjutnya, Ahok memastikan penataan akan melibatkan tim arkeolog dari Universitas Indonesia untuk membantu merestorasi benteng tersebut.

Dua menara Masjid Luar Batang di antara permukiman kumuh warga. Pemerintah Provinsi DKI berencana menata permukiman tersebut dalam waktu dekat.
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

"Kami mau bentuk tim arkeolog untuk kerjain. Waktu penggalian sudah ketemu, ada dinding yang menunjukkan pintunya bulat. Ternyata sudah tenggelam 2 meter di bawah muka laut. Ada fotonya zaman Belanda. Kita mau bikin kalau bisa rekonstruksi walau harus turun 2 meter," kata Ahok.

Untuk menopang upaya restorasi benteng, rencananya akan dibangun tanggul untuk memompa air keluar. Air laut yang menutupi benteng akan dibuang ke laut atau Sungai Pakin.

Apa yang disampaikan Ahok sepertinya merupakan bagian dari saran-saran Candrian. Kepada detikX pada awal Mei lalu, mantan Kepala Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta itu menyarankan, sebelum dilakukan proses restorasi bangunan, yang perlu ditangani pertama kali adalah lingkungannya. Sebab, kawasan Pasar Ikan adalah daerah yang sering terendam saat air laut pasang maupun musim hujan. "Bisa juga dilakukan berbarengan buat tanggul, pasang pompa, restorasi, sehingga bangunan yang sudah dipugar terendam lagi," katanya.

Tanggul yang dibangun pun sebaiknya tidak terlalu tinggi. Sebab, dulu orang-orang bisa langsung melihat laut dari jalan atau Pasar Ikan. Selain itu, citra Pasar Ikan dan Sunda Kelapa yang tidak aman, kumuh, dan tidak tertib perlu diubah citranya.

Gedung Pasar Heksagon di Pasar Ikan yang akan direstorasi menjadi pusat penjualan cendera mata
Foto: Screenshot video

"Terakhir adalah kemacetan. Masuk ke sana ibaratnya nerakanya macet. Kalau itu terbenahi, orang akan welcome. Sejelek-jeleknya gedung, orang tetap akan datang," ujar Candrian. Harapannya, ke depan, keramaian publik tidak hanya terfokus di Taman Fatahillah, tapi juga bergeser di kawasan Pasar Ikan.

Menurut Norviadi, Pemerintah Provinsi DKI memang sudah menyiapkan rencana-rencana untuk merestorasi bangunan Pasar Ikan, Pasar Heksagon, dan Gedung Akuarium, yang selama ini terbengkalai, bahkan sudah hancur. Bangunan yang sangat parah kerusakannya atau hancur akan dibangun kembali seperti bentuk aslinya dengan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan sekarang. "Konsepnya adaptive reuse," ujar Norviadi.

Pasar Pelelangan Ikan nantinya dapat dijadikan pusat kuliner yang terkait dengan wisata bahari atau pasar yang berhubungan dengan perikanan. Pasar Heksagon dapat difungsikan sebagai pusat cendera mata yang berhubungan dengan pariwisata kemaritiman. Sedangkan Gedung Akuarium, yang telah hancur, akan dibangun kembali dan difungsikan sebagai tempat penelitian yang terkait dengan kemaritiman. Setelah seluruh bangunan selesai direstorasi, kawasan tersebut akan dijadikan satu kesatuan wisata sejarah Kota Tua.

Selebaran bentuk penolakan atas rencana penataan permukiman Luar Batang
Foto: Muhammad Danial (magang)

Kepala Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua Norviadi Setio Husodo
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Di era kolonial Belanda, kata Norviadi, para pedagang melintasi Sunda Kelapa, gudang rempah yang sekarang menjadi Museum Bahari, galangan kapal, masuk ke kanal berdagang dengan perahu kecil ke arah selatan melalui Jalan Kali Besar sampai ke Glodok. Di tempat itu, terdapat pusat tekstil. “Akan dikembangkan kembali kawasan mulai Pelabuhan Sunda Kelapa, Pasar Ikan, kawasan Taman Fatahillah, ke Glodok menjadi satu rangkaian wisata sejarah di Kota Tua," ujarnya.

Norviadi memperkirakan dana untuk merevitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta mencapai Rp 200 miliar dan tidak memakai dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI, melainkan dana program sosial (CSR) perusahaan-perusahaan.

Hingga pekan lalu, sebagian warga yang huniannya dirobohkan masih melawan keputusan Pemerintah Provinsi DKI. Mereka mendirikan tenda-tenda di lokasi bongkaran dengan sokongan sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat, bahkan dari Prabowo Subianto.

Petugas membongkar bangunan di kawasan Kampung Akuarium, Pasar Ikan, Jakarta Utara.
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Merespons hal itu, Ahok tegas akan segera menertibkannya. "Mau tenda siapa pun ya, kalau dia enggak mau pergi, pasti kami tertibkan.”

Selain Kampung Akuarium Pasar Ikan, pemerintah DKI berencana menata perkampungan Luar Batang. Terkait rencana itu, hampir segenap warga menolaknya. Sejumlah elite politikus, tokoh muslim, hingga organisasi keagamaan, seperti Majelis Ulama Indonesia, sudah memperlihatkan dukungan kepada warga. Mereka menilai upaya penataan yang akan dilakukan hanya akan merampas hak-hak warga dan menguntungkan sekelompok masyarakat lain yang secara ekonomi berkelebihan.

Selain aneka spanduk penolakan terhadap pemerintah, khususnya ditujukan kepada Gubernur Ahok, di sekitar Masjid Luar Batang tertempel poster-poster kepemilikan lahan di sekitar Luar Batang. Salah satu poster menggambarkan lahan Luar Batang sudah dikelilingi apartemen-apartemen mewah milik pengembang swasta, seperti Podomoro.



Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.