INTERMESO
RESTORASI KOTA TUA
Pernah beberapa kali dipugar, 90 persen bangunan Masjid Luar Batang tak lagi bernilai sejarah.
Masjid Luar Batang di kala senja
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikXMata Yunus Ahmad separuh terpejam. Mulutnya komat-kamit mendaraskan doa dengan lirih. Sesekali matanya terbuka melihat kitab kecil di tangan kanannya. Di dekatnya, belasan orang lainnya melakukan hal serupa. Mereka duduk bersila di pinggir makam Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah al-Aydrus di ruangan sisi kiri serambi Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.
Makam tertutup kain hijau, sementara pada nisan yang diletakkan pada dinding tertulis "Inilah Nama Keramat Luar Batang Walijallah Alhabib Husein B. Abubakar B. Abdillah Al-Aydrus Jang Telah Wafat Pada Hari Kamis 27 Puasa 1169 Berbetulan 24 Djuni 1756".
Yunus bukan peziarah dari Jakarta. Dia datang dari Pekalongan, Jawa Tengah, bersama seratusan peziarah lainnya menggunakan dua bus berukuran besar. Pemuda berusia 26 tahun itu harus mengeluarkan Rp 300 ribu untuk berziarah ke sejumlah masjid dan makam di wilayah Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta selama dua hari. "Tidak termasuk biaya makan dan lain-lain," ujar Yunus kepada detikX, Kamis, 5 Mei 2016. Sekitar 5.000 peziarah setiap bulan datang mengunjungi makam dan masjid di Kampung Luar Batang itu.
"Bahkan diperkirakan pada saat-saat tertentu bisa dua kali lipatnya," ujar sekretaris Masjid Luar Batang, Mansur Amin. Puncak kunjungan, ia melanjutkan, terjadi pada saat haul Habib Husein pada 24 Juni. "Bisa sampai ribuan orang dalam sehari dan banyak yang tak bisa masuk dalam masjid."
Para peziarah berdoa di depan makam Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah al-Aydrus
Foto: Muhammad Danial (magang)
Bukan cuma warga biasa, sejumlah tokoh pun pernah berziarah ke makam tersebut. Habib Husein bin Hasan, salah seorang pengurus masjid, antara lain menyebut Joko Widodo. Hal itu dilakukan sewaktu kampanye mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Namun, sejak terpilih menjadi gubernur hingga sekarang menjadi presiden, Jokowi tak pernah lagi datang ke Luar Batang.
Kepingin kita sih Pak Jokowi hadir. Kan dulu, waktu sebelum jadi (gubernur), diangkatnya dari menyekar ke sini, ha-ha-ha...."
“Kami beberapa kali mengundang beliau buat hadir kemari, tapi tidak pernah hadir. Kepingin kita sih Pak Jokowi hadir. Kan dulu waktu sebelum jadi (gubernur), diangkatnya dari menyekar ke sini, ha-ha-ha…,” kata Husein.
Ketokohan Habib Husein bin Abubakar juga menarik para peziarah dari mancanegara, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, bahkan Iran dan Irak. L.W.C. van der Berg dalam buku Hadramaut terbitan 1886 menulis kesaksian tentang para peziarah Habib Husein bin Abubakar. "Tidak hanya golongan pribumi, namun juga Cina campuran dan indo berziarah memohon keberhasilan dalam usaha mereka, dan sebagainya. Penjualan benda-benda keramatnya mencapai 8.000 gulden setahun."
* * *
Mansur Amin, sekretaris Masjid Luar Batang
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX
Habib Husein bin Hasan, salah satu pengurus Masjid Luar Batang
Foto: Muhammad Danial (magang)
Banyak versi mengenai keberadaan Kampung Luar Batang dan Masjid Luar Batang ini. Mansur Amin menyebutkan cikal bakal Kampung Luar Batang sudah tampak sejak abad ke-12. Sebab, kampung tersebut tidak bisa dipisahkan dari Pelabuhan Sunda Kelapa, yang saat itu telah ramai dikunjungi pelaut Nusantara dan pedagang mancanegara.
"Dampak ramainya pelabuhan melahirkan permukiman yang ada di sekitarnya, sehingga sangat diyakini minimal abad ke-12 Kampung Luar Batang sudah ada, tapi namanya saat itu belum Luar Batang," ujar Mansur, yang juga Ketua Sunda Kelapa Heritage. Setelah berdirinya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), wilayah itu dipakai sebagai tempat penampungan sementara bagi awak kapal orang pribumi Nusantara yang akan memasuki pelabuhan dan disebut Kampung Baru.
Habib Husein bin Abubakar sendiri, menurut Mansur, merantau dari Hadramaut, Yaman, sekitar usia remaja. Lama perjalanannya ke Batavia sekitar 16 tahun setelah sempat singgah di Gujarat, Aceh, Banten, Jawa Timur, dan Cirebon. Diperkirakan tiba di Kampung Baru pada 1736. Ia kemudian mengajari orang-orang berdoa. "Kabarnya, sebelum Habib Husein datang, sudah ada langgar, yang kemudian dipugar jadi masjid," ujar Mansur.
Habib Husein juga diceritakan memiliki beberapa mukjizat, yang membuat petinggi pemerintah kolonial Hindia Belanda takjub. Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff bahkan kemudian menghibahkan tanah untuk dijadikan tempat tinggal. Nama Kampung Baru akhirnya berubah jadi Luar Batang ketika Habib Husein wafat. "Saat akan dimakamkan di Tanah Abang, berkali-kali jenazahnya tidak ada dalam keranda, akhirnya diputuskan dimakamkan dalam kamarnya."
Kultur itu hanya bisa lestari jika penduduk di sekitarnya tetap ada. Masjid, kalau tidak ada penduduknya, juga tidak hidup. Itu jadi satu kesatuan."
Namun sejarawan Adolf Heuken dalam bukunya, Mesjid-mesjid Tua di Jakarta, menuliskan, Luar Batang sesudah pertengahan abad ke-17 diuruk dan baru boleh dihuni oleh orang dari Cirebon sejak 1730. Hal itu, tulis Heuken, sesuai dengan resolusi Gubernur Jenderal dan Dewan tertanggal 13 Desember 1720. Orang Cirebon tersebut bertugas membersihkan mulut Kali Ciliwung dari lumpur supaya kapal bisa sampai ke Pasar Ikan. Daerah Luar Batang sendiri, menurut Heuken, artinya daerah yang terletak di luar batang besar yang menutup pelabuhan pada malam hari. Wilayah ini terbentuk dari urukan dan endapan lumpur yang terbawa ke muara yang semakin menjorok ke utara. Terbentuk perlahan-lahan sejak 1650 sampai 1700.
Heuken juga mengungkapkan sejarah Masjid Luar Batang belum dapat disusun dengan jelas karena sumber-sumber historis yang tersedia bertentangan dengan pandangan umum saat ini. Sumber-sumbernya pun kurang lengkap. L.W.V. van der Berg menuliskan Habib Husein bin Abubakar meninggal pada 1798 setelah mengajar bertahun-tahun. Ada lagi koran Bataviasche Courant tertanggal 12 Mei 1827 yang memuat artikel Habib Husein wafat kurang-lebih tahun 1796 di rumah Komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid.
* * *
Pedagang berjualan di area luar Masjid Luar Batang
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX
Masjid Luar Batang dan makam di dalamnya merupakan cagar budaya yang ditetapkan sejak 1993. Namun masjid tersebut sudah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran besar pertama terjadi pada masa Gubernur Wiyogo Atmodarminto, yang dimulai pada 6 September 1991. Lalu, enam tahun kemudian, saat Surjadi Soedirdja memimpin Jakarta. "Tahun 2002 kembali dipugar dengan menaikkan lantai sekitar 1 meter," kata Mansur. Fauzi Bowo kemudian menambahkan dua menara megah, yang dibangun dalam kurun waktu satu tahun. Pemugaran demi pemugaran itu praktis hanya menyisakan sebuah menara kecil di sisi sebelah selatan masjid.
Arkeolog Universitas Indonesia, Candrian Attahiyat, mengatakan saat ini 90 persen Masjid Luar Batang merupakan bangunan baru. Ia mengaku pernah berkukuh meminta agar bangunan masjid lama dipertahankan. "Alasan mereka, ini kan tempat ibadah, perlu perkembangan. Mau orang ibadah kebanjiran," ujarnya.
Seharusnya, kata Candrian, ada solusi yang lebih elegan untuk menjembatani keinginan memperluas masjid dan mempertahankan bangunan masjid bersejarah itu. Pemerintah dulu seharusnya mencarikan lahan baru di sebelahnya untuk perluasan area. "Dari segi bangunan, saya kecewa," ujar mantan Kepala Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta itu.
Namun, di sisi lain, dia mengaku masih cukup senang dengan kultur lama yang tetap terjaga, yakni peziarah yang datang dari berbagai tempat. "Kultur itu hanya bisa lestari jika penduduk di sekitarnya tetap ada. Masjid, kalau tidak ada penduduknya, juga tidak hidup. Itu jadi satu kesatuan," kata Candrian.
Reporter: Muhammad Danial, Pasti Liberti Mappapa
Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.