INTERMESO
Di Jakarta, Bekasi, hingga Purwakarta, laskar-laskar pimpinan kiai dan para jawara pernah bersatu memerangi Belanda.
KH Noer Ali, Chairil Anwar, dan H Darip Klender
Kedua mata H Huriyani Arif memicing, keningnya ikut berkerut. Beberapa kali putra keenam H Muhammad Arif alias Haji Darip itu membaca uraian biografi singkat sang ayah dalam buku Pahlawan Santri Tulang Punggung Pergerakan Nasional karya Munawir Aziz. Dalam buku yang dirilis pada Sabtu, 7 Mei 2016, itu, Darip termasuk satu dari 29 santri yang berperan dalam revolusi kemerdekaan Indonesia.
“Waduh… sembrono nih yang nulis, kagak bener nih ceritanye,” kata Huriyani, yang biasa disapa Haji Uung. DetikX menemuinya seusai menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Ma'mur, di depan Stasiun Klender, Jakarta Timur, Jumat, 13 Mei 2016. Dia merasa keberatan dengan penulisan istilah “gerombolan” yang disematkan pada sang ayah dan kakeknya, H Kurdin. “Babeh sama Engkong bukan pemimpin gerombolan, itu kesannya jahat, kriminal. Babeh sama Engkong itu jawara. Beda banget itu,” ujar Uung.
Ia (Darip) berhasil memadukan kriminalitas dan patriotisme, yakni hanya dengan menjarah orang-orang yang berkulit terlalu terang atau terlalu gelap.”
Ia juga mengoreksi nama kelompok gerombolan pimpinan sang kakek, yang disebut “Gempur”, padahal seharusnya “Bengkur”. Juga penulisan nama sahabat sang ayah, KH Hasbiyallah, yang seharusnya KH Hasbullah. “Bengkur itu kan diambil dari nama Engkong, Kurdin,” Uung menegaskan.
Lelaki kelahiran Purwakarta pada 1947 itu kemudian menuturkan sepak terjang Haji Darip di era revolusi fisik. Sebagai pendekar silat, kata Uung membuka cerita, Darip tak cuma disegani warga sekitar Klender, tapi juga hingga ke Jatinegara, Pulogadung, Cilincing, dan Bekasi. Selain ilmu silat dan punya jimat kekebalan, Darip makin disegani karena cukup mumpuni dalam ilmu agama. Maklum, saat masih remaja, ia telah bermukim selama tiga tahun di Mekah, Arab Saudi. Di sana Darip menimba ilmu keislaman dari para ulama terpandang negeri itu.
Darip pernah bekerja sebagai pegawai perusahaan kereta api pemerintah dan menjadi pedagang serta juragan terkenal. Tak aneh bila pada masa revolusi, lelaki kelahiran Klender sekitar 1900 itu tergolong juragan besar yang sangat disegani di Klender. Darip terlibat dalam mogok buruh kereta api pada 1923 yang diprakarsai Partai Komunis Indonesia. Lalu, pada masa revolusi 1945, dia membentuk Barisan Rakyat Indonesia untuk mengawasi lalu lintas di jalan utama Jakarta bagian barat.
Robert Cribb dalam buku Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 terbitan Masup Jakarta, 2010, menyebut Muhammad Arif alias H Darip sebagai pentolan gerombolan di Klender yang memainkan peran utama dalam revolusi 1945 di Jakarta. Cribb juga menggolongkan Darip sebagai bandit nasionalis yang berperan signifikan dalam perjuangan revolusi sosial ketimbang sebagai oportunis seperti yang banyak dilakukan para bandit lainnya.
“Ia berhasil memadukan kriminalitas dan patriotisme, yakni hanya dengan menjarah orang-orang yang berkulit terlalu terang (Cina, Euroasia, dan Eropa) atau terlalu gelap (Ambon dan Timor),” tulis Cribb di halaman 68.
Berbeda dengan para kiai atau ulama lain yang mengelola pesantren, Haji Darip tidak. Hal itu, menurut Ahmad Fadli H.S., penulis buku Ulama Betawi, 2011, karena Darip harus berpindah-pindah bersama para pengikutnya dalam bersiasat menghadapi Belanda. Pascarevolusi, dia hanya mengajar mengaji seperti ustad-ustad di kampung pada umumnya dari sebuah musala kecil tak jauh dari Stasiun Klender. Musala kecil itu kini sudah menjadi masjid besar berlantai tiga yang dikelola Haji Uung.
Pada saat terjadi revolusi fisik melawan Jepang dan Belanda, Darip bersama sahabatnya, Haji Hasbullah, membentuk Bara (Barisan Rakyat). Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di Kota Jakarta. Saat Belanda menyerbu Klender, Darip dan pasukannya hijrah ke beberapa tempat, seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang, hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Dari tempat persembunyiannya—dengan pangkat letnan kolonel tituler—ia bermarkas di Purwakarta dan menyusun strategi melawan NICA Belanda.
Menurut Cribb, saat menghadapi tentara Belanda, yang mendompleng Sekutu pada Maret 1946, Haji Darip membagikan bambu runcing berkekuatan magis kepada para pengikutnya. Pada 1948, anak buahnya ada yang berkhianat sehingga Darip disergap Belanda di hutan jati daerah Sadang, Purwakarta, bukan di Cirebon seperti ditulis Munawir Aziz dalam bukunya. Darip dijebloskan ke penjara di Glodok dan bebas pada akhir 1949.
Sastrawan Chairil Anwar menulis puisi Karawang-Bekasi itu antara lain untuk mengabadikan patriotisme Kiai Noer Ali.”
Pada 13 Juni 1981, ia meninggal dan dimakamkan di tempat pemakaman wakaf Ar-Rahman, Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung, bersebelahan dengan makam salah satu istrinya, Hj Hamidah. Namanya cuma diabadikan sebagai nama jalan kecil di belakang Pasar Klender. “Babeh berjuang dengan ikhlas, bukan buat dijadiin pahlawan. Terserah pemerintah aja, kite keluarga kagak mau minta-minta,” ujar Uung.
Menurut Cribb, sebagai jawara asal Klender, Darip pernah bekerja sama dengan Kiai Noer Ali, yang menguasai kawasan rawa-rawa utara Bekasi. Haji Darip adalah sekutu yang menguntungkan karena telah menerima kiriman senjata dari pemimpin revolusi fisik di Jawa Timur, Dr Mustopo, sebagai kontribusi terhadap perjuangan di Jakarta.
Suasana di Jalan KH Noer Ali, di sisi Kalimalang, Bekasi
Foto: Muhammad Danial (magang)
Noer Ali, yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional pada 2006, orang tuanya berasal dari Klender. Menurut sejarawan Bekasi, Ali Anwar, selain mendirikan Pondok Pesantren At-Taqwa di Bekasi, pada masa revolusi Noer Ali bersama Jenderal Oerip Soemohardjo terlibat dalam pembentukan laskar Hizbullah Sabilillah Jakarta Raya. Dia juga memimpin pertempuran melawan Belanda di Pondok Ungu, Bekasi, pada 29 September 1945.
Saat Belanda kembali datang dengan mendompleng tentara Sekutu, Noer Ali tampil memimpin gerilya laskar rakyat Bekasi Hizbullah di Karawang dan Bekasi, 1947-1948. “Kiai Noer Ali juga yang memprovokasi Belanda dengan mengerahkan rakyat untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Rawa Gede. Belanda marah dan membantai ratusan warga setempat, tapi akibatnya dunia marah pada Belanda,” ujar Ali, yang menulis biografi KH Noer Ali, Ulama-Pejuang pada 2006.
Politikus senior A.M. Fatwa, yang pernah menjadi murid Noer Ali, terkesan oleh caranya mendidik para santri. Tidak menggebu-gebu tapi sangat menyentuh, dan semangat juang yang diajarkan tertanam mendalam. Noer Ali membangun pesantren secara bertahap. Ia mulai mengajar santri di masjid, setelah muridnya banyak, lalu mendirikan madrasah dan kemudian pesantren.
Pada masa revolusi, kata Fatwa, Noer Ali adalah tipe ulama pejuang yang tak bisa tenang melihat kezaliman terpampang nyata di depan mata. Sepak terjangnya melawan Belanda juga terpantau dan menginspirasi Bung Tomo. Tak mengherankan bila setiap kali Bung Tomo menggelorakan semangat rakyat melalui radio, nama Noer Ali asal Betawi kerap disebut-sebut sebagai rujukan. “Sastrawan Chairil Anwar menulis puisi Karawang-Bekasi itu antara lain untuk mengabadikan patriotisme Kiai Noer Ali bersama pasukan gerilya yang dipimpinnya,” ujar Fatwa.
Nanang Supriyatna, yang pernah nyantri di Pondok Pesantren At-Taqwa pada 1989-1995, mengenang Kiai Noer Ali sebagai sosok penuh wibawa. Gaya mengajarnya tak menggebu-gebu seperti orator. “Beliau membuka kitab dan membaca kalimat demi kalimat, lalu menceritakan riwayat tentang hadis tersebut,” ujarnya.
Reporter/Penulis: Muhammad Danial, Pasti Liberti Mappapa
Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.