Awal-Orba-Warga-Mulai-Huni-Pasar-Ikan

INTERMESO

RESTORASI KOTA TUA

 Pasar Ikan Diserobot Sejak Bung Karno Jatuh

Banyak warga menguasai lahan Pasar Ikan setelah Orde Lama runtuh pada 1966 dan setelah Soeharto lengser pada Mei 1998.

Puing-puing rumah yang telah rata dengan tanah di Kampung Akuarium 
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Rabu, 18 Mei 2016

Caryo menatap nanar ke arah puing-puing ratusan rumah di Kampung Akuarium, Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara. Dia menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya tiga rumahnya kini rata dengan tanah. Dua rumah di antaranya baru selesai dibangun lima tahun lalu dan kemudian dikontrakkan. "Ratusan juta rupiah saya keluarkan untuk membangun rumah habis hilang dalam sehari," katanya kepada detikX, Kamis, 28 April lalu.

Gedung Akuarium pada 1924  
Foto: Repro buku Indische Zeevisschen 

Pria separuh baya yang mengaku sehari-hari berdagang di Pasar Heksagon itu mencoba bertahan di sana dengan mendirikan sebuah gubuk kecil di tepi jalan. Sejumlah alat berat milik Pemerintah Provinsi DKI menghancurkan rumah Caryo dan ratusan rumah lain yang didiami sekitar 300 keluarga pada 11 April lalu. Mereka dituding menempati tanah milik negara di atas "Pulau" Pasar Ikan, yang akan direvitalisasi sebagai kawasan wisata bahari.

"Pulau" itu terletak di antara Museum Bahari, yang dulu merupakan gudang rempah milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), dan Pelabuhan Pasar Ikan, yang kini bernama Pelabuhan Sunda Kelapa. "Pulau" itu bukan hasil reklamasi, tapi terbentuk secara alamiah akibat sedimentasi tanah yang dibawa aliran sungai menuju muara. "Itu terbentuk menjelang akhir abad ke-18," ujar arkeolog Universitas Indonesia, Candrian Attahiyat.

Kampung Akuarium, Pasar Ikan, bukan hasil reklamasi, tapi terbentuk secara alamiah karena sedimentasi menjelang akhir abad ke-18."

Selain permukiman, belakangan warga juga membangun jembatan kecil dari "pulau" Pasar Ikan menuju Kampung Luar Batang. Semula di pulau itu cuma ada tiga bangunan utama, yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare. Pasar Ikan, yang kemudian menjadi tempat pelelangan ikan, berada di sisi sebelah selatan, Pasar Heksagon di bagian tengah, dan Gedung Akuarium di sebelah utara. Pasar Ikan merupakan bangunan yang pertama kali didirikan di “pulau" itu.

Sebelumnya, Pasar Ikan atau vischmarkt merupakan pindahan dari sebelah timur Kali Ciliwung. Saat pertama kali dibangun, Pasar Ikan berbentuk huruf “U”. Salah satu sisinya kemudian amblas karena tepat berada di tepi laut. "Pemerintah Hindia Belanda akhirnya memotongnya dan sisa satu baris saja," ujar Candrian.

"Pulau" Pasar Ikan dari udara pada 1949 masih bersih dari hunian penduduk 
Foto: Repro buku Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun

Sementara itu, Pasar Heksagon (berbentuk segi enam) merupakan pasar modern dengan gaya arsitektur Indisch, yang dibangun pada 1926-1927. "Kalau ada pasar, berarti dekat situ ada permukiman. Permukimannya ya di Luar Batang," Candrian menjelaskan. Saat itu, ia melanjutkan, pemerintah Hindia Belanda membangun 37 pasar modern di Batavia secara serentak, termasuk Pasar Heksagon. "Pasar Heksagon dibangun dengan kayu, sementara Pasar Gondangdia pakai beton," ujar mantan Kepala Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta ini.

Sayang, Gedung Akuarium tak lagi berdiri lagi. Tapi Kurdi, warga di Jalan Kembung, masih ingat masa kecilnya pada pertengahan 1960-an. Gedung Akuarium merupakan tempat bermain favoritnya setiap sore bersama kawan-kawannya. Ia tinggal di Jalan Kembung, kampung seberang Museum Bahari. "Seingat saya, banyak ikan aneh yang dipamerkan di Gedung Akuarium," ujarnya. "Belum lagi halaman gedung yang rimbun dengan pohon-pohon besar."

Video : A. Triyanto/20detik

Menurut Candrian, Gedung Akuarium dibangun sekitar 1922. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan tempat itu sebagai Balai Penelitian Kelautan. Dua puluh tahun kemudian, Bung Karno melukiskan kondisi Pasar Ikan sebagai "...kawasan itu disesaki kios-kios yang menjual hasil laut. Airnya kotor. Daun-daunan, kepala ikan, dan sampah terapung di permukaan air. Bau amis dari ikan mati memenuhi udara. Namun, selagi aku dibantu menaiki anak tangga dari batu yang menuju ke daratan, aku berpikir, 'Inilah pemandangan paling indah yang pernah kulihat dalam hidupku,'" tulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno melanjutkan, “Petang itu, udara panas terik dan kami bergerak melewati iring-iringan perahu penangkap ikan dan sampan-sampan nelayan yang berbau anyir, di luar akuarium yang dibuat di dalam dok dan pelabuhan Pasar Ikan yang begitu sempit, hingga tidak mungkin dua perahu berpapasan.”

Ikan lepu tembaga, salah satu koleksi Gedung Akuarium
Foto: Repro buku Indische Zeevisschen

Bung Karno, yang datang bersama istrinya, Inggit Garnasih, disambut Bung Hatta, Mr Sartono (pengacaranya saat menyampaikan pleidoi “Indonesia Menggugat” di Bandung), serta bekas iparnya, Anwar Cokroaminoto.

Memasuki era kemerdekaan, pemerintah Indonesia tidak mengubah fungsi gedung tersebut. Karena lingkungan dan kondisinya terpelihara dengan baik, tempat tersebut lantas menjadi primadona pariwisata di Jakarta. "Semacam Sea World di Ancol sekarang, saat itu memang satu-satunya di Indonesia. Kalau masuk, pengunjung pasti takjub," ujar Candrian. Meski tempatnya sederhana, tuturnya, pengunjung yang datang tak pernah berhenti mengalir, apalagi saat libur dan akhir pekan. "Saya sampai tidak bisa napas karena desak-desakan."

Meski airnya kotor dan bau amis, pada 1942 Bung Karno menyebut Pasar Ikan sebagai pemandangan paling indah yang pernah dilihat dalam hidupnya."

Situasi mulai berubah setelah pergantian rezim pada 1966. Pedagang kaki lima lama-kelamaan membangun warung semipermanen di setiap sudut. Bahkan kemudian ada yang membangun rumah-rumah bedeng. "Akhirnya turun-temurun karena tidak tahu sejarah sebelumnya dan kemudian mengklaim daerah situ," ujar Candrian. Seiring dengan semakin tidak terkendalinya kawasan tersebut, pesona Gedung Akuarium sebagai tempat wisata turut memudar. Gedung Akuarium tak lagi didatangi, dan sekitar awal 1970 resmi tidak terpakai lagi.

Situasi itu dimanfaatkan penduduk yang berdatangan dan membuat rumah di kawasan itu. Permukiman terus menjamur mengepung Gedung Akuarium dan pendatang menjadikannya sebagai tempat tinggal. Kepadatan semakin parah setelah lengsernya Soeharto pada Mei 1998. "Pergantian rezim biasanya ditandai dengan kemerdekaan orang-orang mengklaim tanah. Dipikirnya reformasi merupakan kebebasan mengambil tanah. Ada yang kosong, lantas ambil," kata Candrian. Warga pun menamakan lokasi itu sebagai Kampung Akuarium. Kepadatan itu terang saja memperparah kondisi Gedung Akuarium. Kebakaran yang beberapa kali melanda kampung padat itu membuat bangunan bersejarah tersebut kini rata dengan tanah dan hanya tinggal nama.

Puing bekas bangunan yang dirobohkan di dalam kompleks Pasar Ikan 
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Candrian Attahiyat, arkeolog Universitas Indonesia
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Padahal, sebagaimana Museum Bahari, Gedung Akuarium merupakan bangunan cagar budaya yang ditetapkan oleh Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja pada 1993 bersama-sama dengan Pasar Heksagon, Pasar Ikan, dan 200 bangunan tua lainnya.



Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE