INTERMESO
DI BALIK PEMILIHAN PRESIDEN FILIPINA
“Aku akan menjadi diktator, tak diragukan lagi. Tapi hanya untuk melawan kekuatan setan.”
Kampanye Rodrigo Duterte di Silang, Filipina, pada 22 April 2016
Foto: Reuters
Kata orang-orang tua, mulutmu bisa jadi harimaumu. Jika tak hati-hati, apa yang keluar dari mulut bisa berubah jadi “harimau” dan menerkam kita. Tapi Rodrigo Duterte sepertinya tak pernah takut pada “harimau” itu.
Dia berkata-kata dan berpidato seolah-olah tak banyak pikir akan seperti apa buntutnya. Rodrigo seperti memuntahkan apa saja yang terlintas dalam kepalanya. Di depan ribuan pendukungnya di Kota Taguig pada Desember tahun lalu, mantan Wali Kota Davao itu mengumbar rahasia kamar tidurnya dengan enteng saja.
Tanpa sungkan, dia membiarkan seorang perempuan duduk di pangkuannya dan difoto banyak orang. “Orang bertanya-tanya apakah aku pantas jadi presiden dan apa yang bisa aku lakukan untuk Filipina? Mereka mengatakan bahwa aku seorang womanizer.... Itu benar. Benar sekali,” Rodrigo mengakui, seperti dikutip Philippine Inquirer.
Jika kalian ingin aku menjadi presiden, kalian harus tahu semua hal mengenai kehidupanku."
Walaupun tak muda lagi—kini dia 71 tahun—Rodrigo mengaku sekarang ada empat perempuan dalam hidupnya. Dia mengaku punya dua “istri”. Satu istri yang dia maksud adalah Elizabeth Zimmerman. Pasangan ini bercerai pada tahun 2000. Satu lagi “istri”-nya adalah seorang perawat, Cieleto “Honeylet” Avanceña. Rodrigo dan Cieleto tak pernah resmi menikah, tapi mereka punya satu orang putri, yakni Veronica Duterte.
“Jika kalian ingin aku menjadi presiden, kalian harus tahu semua hal mengenai kehidupanku,” kata Rodrigo. Menurut hasil penghitungan suara dalam Pemilihan Presiden Filipina, Rodrigo unggul lumayan jauh dari dua lawan utamanya, Manuel Roxas dan Grace Poe. Bisa dipastikan, Rodrigo akan segera pindah berkantor ke Istana Malacanang, kantor dan kediaman resmi Presiden Filipina.
Jauh-jauh hari, supaya urusan tak runyam, Rodrigo mengatakan bahwa bukan Cieleto, bukan pula Elizabeth, yang akan menjadi Ibu Negara Filipina jika dia terpilih menjadi presiden. Dia sudah meminta putrinya, mantan Wali Kota Davao, Sara Duterte Carpio, untuk menjadi first lady. Urusan ini sepertinya bakal sedikit merepotkan setelah Sara menolak permintaan ayahnya. “Aku tidak tertarik,” kata Sara kepada Philippine Inquirer.
Rodrigo tentu tak akan meminta pacar-pacarnya untuk menjadi ibu negara. Menurut Rodrigo, dia punya dua orang pacar perempuan. “Yang satu bekerja sebagai kasir, satu lagi penjaga toko kosmetik di mal,” kata Rodrigo. “Yang bekerja di toko kosmetik umurnya lebih muda, tapi yang lebih tua lebih cantik.”
Rodrigo Duterte memberikan salam kepada pendukungnya di Malabon, Filipina, pada April 2016.
Foto: Reuters
Pacar-pacarnya itu, menurut Rodrigo, tak dihidupi dengan uang pemerintah. “Semuanya dari gaji dan uangku,” kata Rodrigo. Tempat tinggal mereka juga hanya di rumah kontrakan sederhana, yang disewa 1.500 peso atau sekitar Rp 450 ribu per bulan.
Rodrigo juga menolak membelikan pacarnya mobil. “Sebab, perjalanan kami hanya dari rumah kontrakan ke hotel,” kata Rodrigo, disambut siulan dan gelak tawa pendukung-pendukungnya. “Saat aku masih muda, aku akan menginap bersama pacarku. Tapi sekarang aku sudah tua, hanya bisa sebentar saja.”
Guyonan-guyonan agak “jorok” seperti itu sudah jadi hal biasa bagi Rodrigo. Satu hal yang tak akan pernah dilontarkan lawan-lawan politiknya. Pada sebuah acara pernikahan massal misalnya, dari atas panggung, Rodrigo menawarkan diri menjadi kado bagi mempelai-mempelai perempuan. “Aku tak punya banyak uang, tapi aku bisa memberikan hal lain kepada istri kalian, hanya untuk istri kalian,” Rodrigo bercanda.
Pantas atau tak pantas lelucon-lelucon Rodrigo Duterte, pendukung-pendukungnya tak peduli. Dia tetap melenggang ke Malacanang.
* * *
Bahkan Presiden Benigno Aquino III pun cemas jika Rodrigo Duterte adalah orang yang akan menggantikannya di Istana Malacanang.
“Sekarang, saat kita menikmati kebebasan, orang yang sering bertindak seperti diktator memimpin dalam jajak pendapat,” Presiden Aquino memperingatkan soal kemungkinan Rodrigo menjadi Presiden Filipina, Rabu pekan lalu. “Mari kita pilih orang bukan lantaran dia populer, karena dia pintar bernyanyi, karena dia penuh kejutan.” Peringatan Presiden Aquino gagal menghentikan laju “kereta” Rodrigo Duterte.
Rodrigo memang tak cuma galak di mulut. Dia tak peduli terhadap kekhawatiran orang bahwa dia akan menjadi diktator seperti Ferdinand Marcos puluhan tahun lalu. “Aku akan tegas. Aku akan menjadi diktator, tak diragukan lagi. Tapi hanya untuk melawan kekuatan setan—kriminalitas, narkoba, dan korupsi di pemerintahan,” kata Rodrigo, dikutip CNN, Selasa kemarin.
Bukan cuma mulutnya yang seperti tanpa rem, jejak Rodrigo Duterte selama 22 tahun memimpin Kota Davao di Pulau Mindanao membuat banyak orang waswas. Saat Rodrigo Duterte terpilih sebagai Wali Kota Davao pada 1988, dia berjanji akan menyetip cap buruk yang bertahun-tahun disandang Davao.
“Sejak hari pertama, aku menyatakan bahwa Davao akan menjadi tempat yang sangat berbahaya bagi para bandit. Aku berkata kepada para kriminal itu, mereka bisa mati setiap saat di kota ini,” kata Rodrigo seperti dikutip Washington Post, beberapa tahun kemudian.
Rodrigo tak asal mengumbar janji. Dia menepati janji kampanyenya. Hari ini, Kota Davao merupakan salah satu kota paling aman di Filipina. Tapi keamanan itu diperoleh dengan meninggalkan jejak berdarah. Sejumlah organisasi, seperti Human Rights Watch dan Preda, juga sebagian warga Davao, menuding Rodrigo “memelihara” pasukan algojo untuk menyapu habis bandit-bandit dari jalanan kota itu.
Menurut hasil penelusuran Human Rights Watch, bukan cuma bandit-bandit besar yang “dihukum mati” oleh algojo-algojo ini. Tak sedikit warga sipil yang tak jelas kesalahannya, juga berandal-berandal kecil, yang jadi korban pembunuhan serampangan “polisi partikelir” ini. Sepanjang 1998 hingga 2015, ada 1.425 orang yang korban pembunuhan Pasukan Kematian, 57 orang di antaranya perempuan. Ada pula 132 orang berumur kurang dari 17 tahun.
Gambar Rodrigo Duterte di antara kandidat Presiden Filipina
Foto: Reuters
Rodrigo tak pernah menunjukkan penyesalan soal orang-orang yang mati di kotanya itu. Menurut Rodrigo, mereka yang dibunuh Death Squad alias Pasukan Kematian itu memang layak mati. Bahkan, dalam satu wawancara khusus dengan media lokal di Davao tahun lalu, entah serius atau hanya melontarkan ancaman kosong, Rodrigo berniat menerapkan taktik serupa jika terpilih menjadi Presiden Filipina.
“Jika ada kesempatan Tuhan menempatkanku di sana, hati-hati, karena angka 1.000 orang yang mati dibunuh itu akan menjadi 100 ribu orang. Kalian akan melihat ikan-ikan di Teluk Manila makin gemuk.... Di sanalah aku akan membuang mereka,” kata Rodrigo kepada Kickerdaily. Pesan-pesan Rodrigo dalam kampanye terakhir pekan lalu sama sekali tak berubah. “Lupakan soal hak asasi manusia. Jika aku terpilih pindah ke Istana Presiden, aku akan mengulang apa yang aku kerjakan sebagai wali kota.”
Dua orang bocah bermain dengan poster Rodrigo Duterte
Foto: Reuters
Kata-kata Rodrigo barangkali memang menyeramkan, tapi jutaan pendukungnya sama sekali tak takut. “Dia wali kota yang hebat untuk kotanya dan dia pemimpin rakyat sebenarnya.... Hanya pelanggar hukum yang harus khawatir terhadapnya,” ujar Lina Abunda, seorang pemilik toko, kepada Telegraph.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.