INTERMESO
DI BALIK PEMILIHAN PRESIDEN FILIPINA
“Selama aku menjadi wali kota, kalian menjadi target yang sah untuk dibunuh."
Foto: Reuters
Rabu, 11 Mei 2016Kini Alfredo Siojo Lim sudah renta dan bukan lagi sosok menakutkan di Manila, ibu kota Filipina. Sekarang umurnya 86 tahun. Tapi, 30 tahun lalu, Alfredo adalah "Dirty Harry" bagi Manila.
Di layar bioskop, "Dirty" Harry Callahan, yang diperankan oleh Clint Eastwood, merupakan detektif di Kepolisian San Francisco yang ditakuti berandal kecil-kecilan, begal, pembunuh, hingga bandar narkotik. Untuk menumpas kejahatan di kotanya, Dirty Harry tak banyak omong. Dia lebih banyak bicara dengan pistol Magnum ketimbang dengan mulutnya.
Di Manila, Jenderal Alfredo juga tak suka banyak cakap saat berurusan dengan para pencoleng. "Bagaimana mungkin aku bisa melindungi orang-orang baik di negara ini jika aku bersikap lunak kepada mereka? Satu-satunya bahasa yang dipahami oleh penjahat-penjahat ini adalah bahasa kekerasan," kata Alfredo, dikutip AsiaWeek, belasan tahun silam.
Rodrigo Duterte
Foto: Getty Images
Tak cukup hanya mengandalkan ancaman pistol polisi, atas nama keamanan Manila, Alfredo tutup mata terhadap kasus-kasus pembunuhan para bandit di kotanya oleh "polisi-polisi" partikelir. Memang tak ada bukti keterlibatan langsung Alfredo dengan kelompok-kelompok "polisi" swasta ini. Tapi sangat jarang berkas kasus-kasus pembunuhan ini sampai ke meja pengadilan.
Bertahun-tahun kemudian, setelah Alfredo melepas seragam polisi, lahir "Dirty Harry-Dirty Harry" baru di kota-kota lain di Filipina.
* * *
Puluhan tahun lalu, pada 1980-an, Kota Davao di Pulau Mindanao adalah kota "kematian", juga "ibu kota pembunuhan" di Filipina. Pemberontak komunis, kelompok militan Islam, geng-geng kriminal, dan tentara pemerintah menjadikan jalan-jalan di kota itu bak medan perang. Masing-masing kelompok menegakkan "hukum" versi mereka dengan senjata. Tinggal rakyat jelata yang terjepit di antara mereka.
Dengan sokongan pemerintah, Letnan Kolonel Franco Calida membentuk "geng" Alsa Masa alias Kebangkitan Massa untuk melawan geng kriminal dan pemberontak komunis. Pengaruh kelompok ini cepat sekali menggelembung. "Mereka bisa melakukan apa pun dan tak akan ada yang menghalangi," ujar seorang simpatisan kelompok "kiri" kepada Chicago Tribune kala itu.
"Kami terang sudah menang perang," Franco Calida memproklamasikan kemenangannya. Di setiap pojok Kota Davao, gampang sekali dijumpai anggota Alsa Masa berpatroli sembari menenteng senjata. "Tanpa Alsa Masa, Kota Davao akan menjadi kota paling berbahaya di dunia," kata Pastor Ugmad, seorang penjual minuman. Dia memuja Franco Calida seperti memuja seorang pahlawan. "Dia adalah godfather kami."
Saat Rodrigo Duerte terpilih sebagai Wali Kota Davao pada 1988, dia berjanji akan menyetip cap buruk yang bertahun-tahun disandang Davao. "Sejak hari pertama, aku menyatakan Davao akan menjadi tempat yang sangat berbahaya bagi para bandit. Aku berkata kepada para kriminal itu, mereka bisa mati setiap saat di kota ini," kata Rodrigo seperti dikutip Washington Post beberapa tahun kemudian.
Rodrigo tak asal berjanji. Dia menepati janji kampanyenya. Hari ini Kota Davao merupakan salah satu kota paling aman di Filipina. Tapi keamanan itu harus ditebus dengan harga sangat mahal. Sejumlah organisasi, seperti Human Rights Watch dan Preda, juga sebagian warga Davao, menuding Rodrigo "memelihara" pasukan algojo untuk menyapu bandit-bandit dari jalanan kota itu.
Mereka yang setuju dengan kebijakan tangan besi Rodrigo menyebut kompi algojo ini sebagai Suluguon sa Katawhan alias "Pelayan Masyarakat". Tapi media, juga mereka yang tak setuju dengan cara Rodrigo, menjulukinya Death Squad, Pasukan Kematian.
Menurut hasil penelusuran Human Rights Watch, bukan cuma bandit besar yang "dihukum mati" oleh algojo-algojo ini. Tak sedikit warga sipil, juga berandal-berandal kecil, yang jadi korban pembunuhan serampangan "polisi partikelir" ini. Sepanjang 1998 hingga 2015, ada 1.425 orang yang jadi korban pembunuhan Pasukan Kematian, 57 orang di antaranya perempuan. Ada pula 132 orang berumur kurang dari 17 tahun, seperti empat bersaudara Alia.
* * *
Rodrigo Duterte memberikan suara dalam pemilihan Presiden Filipina di Davao pada 9 Mei 2016.
Foto: Reuters
Ketika Bobby Alia keluar dari penjara pada 2002, ibunya, Clarita Alia, mengajak putranya itu berkemah di makam dua kakak Bobby, Richard dan Christopher. Bobby, kala itu baru 14 tahun, dipenjara lantaran terlibat dalam pencurian.
Kepada Bobby, Clarita tak henti-hentinya menasihati supaya putranya itu mawas diri dan berhati-hati. Dia tak ingin Bobby bernasib sama seperti dua kakaknya. Beberapa bulan sebelumnya, polisi Kota Davao datang ke rumah Clarita mencari Richard, 18 tahun. Anak ini memang bandel. Dia menjadi anggota geng Notoryus dan berulang kali berurusan dengan polisi.
Polisi datang untuk menangkap Richard. Namun Clarita menolak menyerahkan putranya. "Oke, kamu tak mau menyerahkan anakmu. Tapi waspadalah, karena anakmu akan terbunuh satu per satu," Clarita kepada Human Rights Watch menuturkan ancaman seorang perwira polisi di Davao.
Suatu sore beberapa hari kemudian, Richard memberi tahu ibunya hendak membeli minuman bersama teman-temannya. Beberapa jam kemudian, seorang tetangga datang ke rumah Clarita membawa kabar buruk: Richard tewas ditikam orang. Sejak hari itu, persis seperti ancaman sang polisi, satu demi satu empat putra Clarita mati.
Tiga bulan setelah kematian Richard, Christopher Alia, 17 tahun, menyusul sang kakak. Dia juga tewas ditikam pisau. "Aku benar-benar takut. Aku sadar, mereka mulai membunuh anakku satu demi satu," kata Clarita. Beberapa petugas kepolisian datang ke rumahnya. Alih-alih mengumpulkan keterangan saksi mata, seorang polisi malah bertanya kepada Clarita, "Apa yang terjadi? Siapa yang membunuh anakmu?"
Pendukung Rodrigo Duterte memberikan suara dalam pemilihan Presiden Filipina pada 9 Mei 2016.
Foto: Reuters
Belum juga dingin kasus pembunuhan Richard dan Christopher, Bobby, yang baru keluar dari penjara, menemui nasib seperti dua kakaknya. Dua minggu setelah Christopher mati ditikam di Pasar Bankerohan, Kota Davao, di tempat yang sama Bobby menemui ajal. Dia juga tewas ditusuk pisau. Menurut penuturan sejumlah saksi mata kepada Clarita, pelaku pembunuhan Bobby punya hubungan dekat dengan polisi setempat.
"Aku memilih tak menyampaikan informasi itu kepada polisi," kata Clarita. "Dia dekat dengan polisi dan polisi tahu persis siapa pelaku pembunuhan anakku." Tiga pembunuhan remaja ini tak pernah tuntas diusut polisi Davao. Lima tahun setelah kematian mereka, satu lagi anggota Alia bersaudara, Fernando, saat itu 15 tahun, juga mati dibunuh orang tak dikenal.
Dia dekat dengan polisi dan polisi tahu persis siapa pelaku pembunuhan anakku."
Lengkap sudah duka nestapa Clarita Alia. Laporannya ke Komisi Hak Asasi Manusia Filipina juga tak ada hasilnya. Sampai hari ini kasus pembunuhan empat Alia bersaudara tetap remang-remang, demikian pula ratusan kasus pembunuhan lain di Davao.
Menurut hasil penelusuran Human Rights Watch, sebagian anggota kompi algojo Pasukan Kematian ini merupakan mantan milisi komunis. Ada pula bandit-bandit yang dipaksa menjadi algojo. Komandan Pasukan Kematian, yang biasa dipanggil Amo, biasanya polisi aktif atau purnawirawan polisi. Amo-lah yang mengatur semuanya: menyediakan senjata, latihan, dana, dan kendaraan. Amo-pulalah yang menudingkan telunjuk siapa korban berikutnya.
Teman-temannya, menurut Anthony, bukan nama sebenarnya, tak punya banyak pilihan selain menjadi anggota Death Squad. Ketimbang jadi bandit dan ujung-ujungnya mati konyol, menjadi prajurit Death Squad terang lebih "menjanjikan". "Ini pekerjaan ilegal yang paling aman dengan bayaran lumayan bagus.... Mereka paham, orang yang mungkin akan menangkap mereka adalah bos mereka sendiri," kata Anthony.
Paman Anthony, Angela, menuturkan, baru dua bulan bebas dari penjara karena terlibat pembunuhan saat ditawari menjadi anggota Pasukan Kematian. "Dia diminta menjadi algojonya," kata Angela, juga bukan nama sebenarnya. Nyaris tak ada anggota Death Squad yang tertangkap dan diadili. Padahal acap kali mereka mengeksekusi mati korban-korbannya di siang bolong.
Tak pernah terbukti ada hubungan antara Rodrigo Duterte dan Death Squad. Tapi, selama tujuh periode dia menjabat Wali Kota Davao, Death Squad tak pernah tersentuh. Rodrigo Duterte, sekarang hampir pasti akan menjadi Presiden Filipina, berulang kali terang-terangan memberi angin bagi operasi tembak mati bandit di kotanya.
Mereka yang mati dibunuh, kata Rodrigo, memang layak mati. "Jika kalian seorang penjahat atau anggota sindikat yang mengincar orang-orang tak bersalah di kotaku, maka selama aku menjadi wali kota, kalian menjadi target yang sah untuk dibunuh," kata Rodrigo, dikutip Philippine Inquirer, enam tahun lalu. Orang-orang pun memberinya julukan The Punisher, Dirty Harry dari Davao.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.