RUBRIK

DI BALIK CAPTAIN AMERICA

Menghajar Hitler, Melawan Batman, Komunis, dan Teroris

"Captain America tidak pro-pemerintah Amerika, dia pro-Amerika."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 28 April 2016

Ide Captain America muncul di kepala Joseph "Joe" Simon saat dia tengah naik bus kota di Kota New York. Sebagai keturunan Yahudi, Joe langsung terbayang siapa musuh utama Captain America.

"Captain America memang diciptakan sebagai musuh terbesar Fuhrer, Adolf Hitler," kata Joe Simon, dikutip New York Daily, beberapa tahun lalu. Bersama Jack Kirby, Joe Simon menciptakan Captain America, yang diterbitkan pertama kali oleh Timely Comics pada Maret 1941. Di sampul edisi perdana Captain America, pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler, dihajar Steve Rogers alias Captain America.

Saat itu Amerika belum ikut berperang melawan Jerman dan negara sekutu-sekutunya. Tapi orang-orang yang membenci Hitler tak terhitung banyaknya. Edisi perdana Captain America ini laku hampir satu juta kopi. "Aku orang yang patriotik.... Aku dan Jack sama-sama membaca koran dan tahu apa yang terjadi di Eropa," kata Joe. "Para pendukung Nazi di Amerika sewot melihat pemimpin besar mereka dijadikan bahan lelucon."

Saya, Steve Rogers—Captain America—bersumpah akan tunduk kepada Presiden Amerika Serikat. Dan akan berusaha sepenuh tenaga, menjaga, melindungi, dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat."

Tak seperti superhero lain dari DC Comics, seperti Superman dan Batman, yang hidup di Gotham dan Metropolis, dua kota yang tak nyata, Captain America dan beberapa superhero Marvel Comics hidup di "dunia nyata". "Di dunia Superman, tak ada sesuatu bernama komunisme.... Superman tak pernah terlibat urusan politik," sejarawan Mike Benton, menulis dalam bukunya, Superhero Comics of the Silver Age.

Seperti kata Joe Simon, musuh terbesar Captain America pada edisi-edisi awal adalah Adolf Hitler. Pada edisi ke-2, Captain America bersama sohibnya, Bucky, mengejar miliuner Henry Baldwin, yang bekerja untuk Adolf Hitler. Dalam edisi ke-3, yang terbit pada Mei 1941, Captain America bertarung melawan Red Skull alias Johann Schmidt, salah satu agen Hitler.

Sampul komik Captain America melawan komunis
Foto: Timely

Captain America
Foto: DigitalSpy

Musuh-musuh Captain America memang bukan pencoleng-pencoleng yang sembunyi dalam kegelapan di antara gang-gang sempit atau gorong-gorong bawah tanah. Dia adalah seorang prajurit. Lawan-lawannya adalah Red Skull yang bekerja untuk Nazi, tentara Jepang yang mengoperasikan kapal selam Dragon of Death, dan pembelot Inggris dan Prancis yang bekerja untuk Nazi.

Foto: DisneyInfinity

"Saya, Steve Rogers—Captain America—bersumpah akan tunduk kepada Presiden Amerika Serikat. Dan akan berusaha sepenuh tenaga, menjaga, melindungi, dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat," kata Captain America. Steve Rogers sendiri, seperti dia tuturkan di komik edisi ke-109, sebenarnya bukan orang yang haus darah dan doyan perang. "Aku benci perang dan pertumpahan darah sia-sia, tapi aku tak bisa tinggal di belakang saat orang lain berangkat perang."

Setelah Perang Dunia II usai, Jepang dan Nazi tak lagi jadi musuh bebuyutan, Captain America kehilangan musuh besar. Baru pada edisi ke-76, yang terbit pada Mei 1954, Captain America menemukan musuh baru: agen-agen komunis. Hari-hari itu, Amerika memang tengah dibayangi "hantu" bernama komunisme. Adalah Senator dari Wisconsin, Joseph McCarthy, yang gembar-gembor soal penyusupan agen-agen komunis di Amerika.

Komunisme itu rupanya juga menjadi "hantu" bagi Captain America. Tugas baru Captain America pada edisi itu dan beberapa edisi berikutnya adalah memburu para commie, sebutan bagi para intel-intel komunis. Tapi tiga edisi commie smasher ini rupanya gagal total. Marvel tak meneruskan versi antikomunis Captain America setelah edisi ke-78.

Sejak 1960-an, Captain America tak lagi menjadi pemburu agen-agen komunis. Bahkan, saat Amerika terlibat dalam perang di Vietnam, Captain America tak ikut-ikut berperang melawan Vietkong. Captain America tak lagi berperang "atas nama" Amerika lagi. Bahkan, pada 1996, DC Comics dan Marvel mengadu para superhero mereka. Captain America diadu dengan Batman.

Adegan Captain America menghajar Hitler
Foto: Timely

Perang melawan terorisme, yang gegap gempita ditabuh Amerika sejak serangan ke gedung kembar WTC pada 11 September 2001, ikut menyeret Captain America. Pada volume 4 nomor 1 dan dua nomor selanjutnya yang terbit mulai Juni 2002, sepuluh bulan setelah peristiwa 11 September, Captain America menjadi pemburu teroris. Musuh utamanya adalah Faysal al-Tariq. "Apakah kami dibenci lantaran kami bebas—bebas dan makmur?" Captain America bertanya-tanya soal motif teroris yang menyerbu Amerika.

"Captain America tidak pro-pemerintah Amerika, dia pro-Amerika," kata Axel Alonso, pemimpin redaksi Marvel Comics, kepada USNews, dua tahun lalu. "Dia bertindak yang terbaik bagi warga Amerika." Lewat Captain America, menurut Alonso, Marvel turut menyuarakan kritik warga Amerika terhadap perang melawan terorisme, yang acap kali membabi buta.

"Warga berdebat soal, ‘Seberapa besar mereka bersedia mengorbankan kebebasan demi memperoleh rasa aman?’” kata Alonso. "Setiap kali naik kereta, mereka harus melewati pemeriksaan tas."


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.