INTERMESO

Sutami, Kurang Gizi Karena Sakit Gigi

Empat belas tahun menjadi menteri tak membuat Ir Sutami kehilangan jati diri. Pekerja keras, sederhana, dan tak suka memanfaatkan fasilitas negara.

Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Ir Sutami meresmikan sistem pengairan fondasi Kali Konto, Siman, Kediri, Jawa Timur, 16 November 1973.
Foto: Perpustakaan Nasional

Selasa, 26 April 2016

Insinyur Sutami tak cuma dikenal dengan karya-karya monumentalnya, seperti Jembatan Semanggi dan kubah gedung MPR/DPR, tapi juga kesehariannya yang amat sederhana. Bila sedang bekerja, dia kerap kali lupa waktu untuk makan, dan cuma meminta dibelikan menu apa saja yang ada di warung terdekat.

“Bapak juga tergolong pemalu. Bila sedang blusukan ke daerah-daerah dan ada warga yang menawari makan, porsi yang diambil pun ala kadarnya, sekadar menghormati,” kata Emir Sanaf saat berbincang dengan detikX di Bandung, Kamis, 14 April 2016. Alumnus Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung pada 1971 itu punya kedekatan khusus dan sudah dianggap sebagai anak oleh Sutami.

Akibatnya kemudian, para dokter sempat mendiagnosis Sutami mengalami kekurangan gizi. Namun, secara formal, lelaki kelahiran Solo, 19 Oktober 1928, itu didiagnosis dan dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, karena penyakit lever selepas menjadi Menteri Pekerjaan Umum. Pada 1976, Sutami pernah berobat ke Amerika Serikat dan Jepang. Dari hasil pemeriksaan, dia didiagnosis terkena penyakit lever, sehingga harus menjalani beberapa kali perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta.

“Bapak meninggal karena kanker hati, sirosis, hatinya mengeras. Tapi memang ada dokter yang bilang secara gizi juga kurang,” kata Emir.

Tentang buruknya pola makan Sutami, Menteri Pekerjaan Umum Purnomosidi Hadjisarosa, yang pernah beberapa tahun menjadi staf Sutami, memberikan kesaksian senada. Ia menilai atasannya itu terlalu keras bekerja dan sedikit abai terhadap kesehatannya. Kenyataan itulah yang membuat bekas atasannya tersebut kemudian mengidap penyakit lever hingga maut menjemputnya pada 13 November 1980.

Sutami bersama istri dan kelima anaknya
Foto: Reno Hastukrisnapati/repro majalah Prisma, 1991

“Beliau paling sulit dalam soal makanan. Faktor inilah yang membuat Pak Sutami begitu cepat mengidap lever, tidak sebanding apa yang dia makan dengan kalori yang dikeluarkan,” ujar Purnomo, yang menggantikan Sutami sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada 1978-1983, seperti dilaporkan Sinar Harapan edisi 15 November 1980.

Sutami memilih membeli mobil dengan harga diskon ketimbang menerima gratis dari pengusaha."

Hendropranoto Suselo, yang menjadi Kepala Bagian Perencanaan pada Direktorat Jenderal Cipta Karya pada 1974-1984, mengungkapkan, Sutami sangat selektif dalam hal makanan karena punya masalah dengan gigi. Tapi entah kenapa, insinyur sipil lulusan ITB pada 1956 itu sangat takut berhubungan dengan dokter gigi.

“Karena giginya yang bermasalah itu, otomatis beliau susah makan, selain juga karena terlalu asyik bekerja sehingga sering telat makan. Jadi makanan beliau itu kemungkinan pilih-pilih karena faktor giginya itu,” tutur Hendro.

Indikasi lain kesederhanaan Sutami, menurut Hendro, yang meraih master pekerjaan umum dari Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 1969, adalah kondisi rumahnya di Jalan Imam Bonjol Nomor 24, Jakarta. Tembok di beberapa ruangan “dihiasi” noda tetesan air akibat atap rumah bocor.

Ir Sutami memperoleh gelar doctor honoris causa dalam ilmu teknik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 3 Maret 1976.
Foto: Reno Hastukrisnapati/repro majalah Prisma, 1991

Di ruang kerja Departemen Pekerjaan Umum 
Foto: Reno Hastukrisnapati/repro majalah Prisma, 1991

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara J.B. Sumarlin, Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, Menteri Perhubungan Roesmin Nuryadin, dan Menteri Pertambangan Subroto (membelakangani kamera) memayungi peti jenazah Ir Sutami di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, 13 November 1980.
Foto: Koleksi Emir Sanaf

Dalam artikel bertajuk “Sutami: Sosok Manusia Pembangunan” di majalah Prisma pada 1991, Hendropranoto juga mengungkapkan, selepas menjadi menteri, Sutami mengembalikan semua fasilitas yang diterima dari negara. Ketika kemudian ada pengusaha yang bersimpati dan menawarinya sebuah mobil baru, Sutami menolaknya. “Dia hanya memilih minta diskon dari harga indent.”

Saat sakit pun, menurut Emir, Sutami tak terlalu mengharapkan fasilitas kesehatan dari negara. Ia mengenang, saat bapak angkatnya itu siuman beberapa hari sebelum mengembuskan napas terakhir di RS Cipto Mangunkusumo, Sutami justru membisikkan agar keluarga tidak lupa membayar biaya rumah sakit.

“Bapak tidak mau meminta-minta kepada negara. Beliau menjadi menteri karena mau mengabdi bagi pembangunan negara dan bangsa. Bukan untuk mengumpulkan fasilitas, apalagi memperkaya diri sendiri,” ujar Emir.

Beliau menjadi menteri karena mau mengabdi bagi pembangunan negara dan bangsa. Bukan untuk mengumpulkan fasilitas, apalagi memperkaya diri sendiri."

Sebelum wafat, kepada keluarganya Sutami pernah menyatakan tak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Namun, ketika ada tawaran dari pemerintah untuk memakamkan Sutami di kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah, istri dan anak-anaknya keberatan. Sebab, hal itu akan menyulitkan mereka untuk berziarah karena aktivitas mereka semuanya di Jakarta. Akhirnya disepakati jenazah Sutami dimakamkan di Tanah Kusir dengan inspektur upacara Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Jenderal M. Panggabean.

Tapi, yang paling berkesan bagi Emir Sanaf, saat pemakaman Sutami, ada empat menteri yang memegang bendera Merah Putih untuk memayungi peti jenazah. Mereka adalah Menteri Perhubungan Marsekal Roesmin Nuryadin, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara J.B. Sumarlin, Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, dan Menteri Pertambangan Subroto. “Itu menunjukkan betapa Bapak sangat dihormati para koleganya,” ujar Emir.

Sutami menikah dengan Sri Maryati dan dikaruniai lima anak, yakni Suzy Indrawati yang menjadi arsitek, Dwi Susilowati (insinyur sipil), Diah Irawati (dokter gigi), Maryono (Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti), dan Ria Shintawati (Teknik Sipil Trisakti).


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.