INTERMESO
Bung Karno mempercayakan sejumlah proyek besar kepada Sutami. Soeharto mengakuinya sebagai pejuang pembangunan.
Ilustrasi: Edi Wahyono
Selasa, 26 April 2016Ketika rezim Orde Baru berkuasa, mereka yang pernah dekat dengan Bung Karno umumnya tersingkir dari lingkar kekuasaan. Tapi tidak demikian dengan Ir Sutami. Posisinya sebagai menteri sejak 1964 tetap bertahan hingga 1978, di bawah komando Soeharto.
Pada usia 36 tahun, Sutami ditunjuk Bung Karno sebagai menteri negara untuk urusan penilaian konstruksi pada 1964. Hal ini dapat dipahami mengingat prestasi yang telah ditorehkan Sutami meski usianya tergolong masih belia. Salah satunya adalah pembangunan Jembatan Semanggi yang spektakuler, indah, dan unik. Bung Karno pun kemudian mempercayakan beberapa proyek besar lainnya kepada Sutami, seperti pembangunan jembatan di atas Sungai Musi dan kompleks gedung MPR/DPR (Conefo).
“Bapak sering diajak makan pagi di Istana atau di Riung Gunung (Puncak, Bogor) bersama Bung Karno dengan hidangan ketela yang mengepul,” kata Sri Maryati, istri Sutami, dikutip Hendropranoto Suselo dalam majalah Prisma, 1991.
Bapak sering diajak makan pagi di Istana atau di Riung Gunung (Puncak, Bogor) bersama Bung Karno dengan hidangan ketela yang mengepul."
Saat ditemui detikX pada Rabu malam, 20 April, Hendro, yang telah berusia 76 tahun, masih tampak bugar. Semasa Sutami menjadi Menteri Pekerjaan Umum, alumnus Institut teknologi Bandung pada 1965 itu menjabat Kepala Bagian Perencanaan di Direktorat Jenderal Cipta Karya 1974-1984. Puncak karier Hendro adalah sebagai tenaga ahli internasional pembangunan kawasan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Nagoya, Jepang, 1995-2000.
Arsitek Friedrich Silaban punya andil dalam mempromosikan Sutami kepada Bung Karno pada awal 1960. Sejak masih mahasiswa, Sutami kerap bertandang ke kediamannya di Gedong Sawah II Nomor 19, Bogor. “Menurut teman-temannya, Sutami mahasiswa yang brilian. Saya sudah memperkirakan dia bakal menjadi penerus Roosseno sebagai ahli beton,” ujarnya seperti diwartakan Sinar Harapan edisi 15 November 1980.
Menteri Pekerjaan Umum Ir Sutami (di belakang Ibu Tien) saat mendampingi Presiden Soeharto meresmikan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, 1 Agustus 1969.
Foto: Reno Hastukrisnapati/repro majalah Prisma, 1991
F. Silaban saat memenangi sayembara desain Masjid Istiqlal.
Foto: dok. Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal
Roosseno Suryohadikusumo, dosen Sutami semasa di ITB
Foto: Rektorkita.itb.ac.id
Sebagai arsitek, Silaban pernah beberapa kali berbeda pendapat dengan Roosseno, dan Sutami yang membelanya. Saat Tugu Selamat Datang tengah dibangun di depan Hotel Indonesia, misalnya, tiba-tiba Roosseno menyatakan patung karya Edy Sunarso itu akan roboh. Alasannya, desain konstruksi beton untuk pembuatan tugu tak sesuai. Silaban kemudian meminta Sutami sebagai Direktur Utama Hutama Karya membuat kajian pembanding. “Ternyata, dari perhitungan Sutami, (patung) tak ada masalah. Patung itu tak akan roboh meski dengan desain pertama,” tutur Silaban.
Begitupun ketika Silaban merencanakan tugu Irian Barat di Lapangan Banteng, ia meminta Sutami membuat perhitungan betonnya. Sebab, kala itu, Roosseno juga sempat mengatakan konstruksi penyangga patung tidak kuat dan patung bakal roboh. Ternyata, dari hasil perhitungan Sutami, tugu itu masih berdiri megah hingga sekarang.
Meskipun di lapangan Silaban dan Sutami berbeda pendapat dengan Roosseno, permasalahan tak pernah dibawa ke ranah pribadi. Hal itu bisa dilihat dengan sikap Sutami yang berkenan menghadiri pengukuhan Roosseno sebagai guru besar teknik Institut Teknologi Bandung pada 25 Maret 1977.
“Waktu itu Bapak sengaja mengosongkan jadwal aktivitasnya sebagai menteri agar bisa hadir di ITB,” kata Emir Sanaf saat berbincang dengan detikX di Bandung, Kamis, 14 April lalu. Alumnus Teknik Sipil ITB 1971 itu punya kedekatan khusus dan sudah dianggap sebagai anak oleh Sutami.
Sutami mahasiswa yang brilian. Saya sudah memperkirakan dia bakal menjadi penerus Roosseno sebagai ahli beton.
Ketika Sutami wafat pada 13 November 1980, Roosseno balik memuji muridnya itu sebagai pekerja keras yang brilian. “Ia mempunyai ideologi, tidak mencari uang, tapi memajukan negara. Saya melihat itu dalam kesederhanaan hidupnya yang tidak ada yang luks, tidak ada yang aneh-aneh,” ujar Roosseno.
Emir menyebut profesionalisme dan tidak berpolitik menjadi salah satu kunci keberhasilan Sutami menapaki kariernya sebagai menteri di dua rezim. Akibat terlalu fokus terhadap tanggung jawab profesionalnya sebagai menteri, boleh dibilang Sutami tak terlalu mempedulikan masalah politik. Indikasinya, dalam Pemilu 1977, di TPS Departemen Pekerjaan Umum, Golongan Karya justru kalah suara dibandingkan dengan suara Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia. “Itu yang sempat saya dengar waktu itu,” ujar Emir.
Ir Sutami didampingi Gubernur DKI Ali Sadikin meresmikan instalasi air minum Pejompongan II di Pejompongan, Jakarta, 16 Januari 1973.
Foto: dok. Perpustakaan Nasional
Tapi kekalahan Golkar itu tak ada kaitannya dengan posisi Sutami, yang tak lagi masuk kabinet pada periode 1978-1983. Sebab, Sutami justru pernah tiga kali mengajukan pengunduran diri kepada Soeharto tapi selalu ditolak. “Saya pernah dikasih lihat salinan surat pribadi Bapak,” ujar Emir. Ia mengungkap masing-masing alasan pengunduran diri tersebut, tapi menolak dikutip. “Sudah menjadi masa lalu,” ujarnya.
Sementara itu, Hendropranoto menyebut loyalitas Sutami kepada pemimpin membuatnya bisa dipercaya dan dihormati atasan. Ia merujuk sikap Presiden Soeharto yang menjenguknya saat Sutami sakit, dan sempat memerintahkan agar diobatkan ke Amerika. Selain itu, setahun setelah Sutami wafat, Soeharto mengabadikan namanya untuk waduk Karangkates di Malang, Jawa Timur.
“Kita semua merasakan rintisan pembangunan proyek-proyek besar yang diilhami pikiran karya-karya Sutami. Beliau telah mematrikan namanya sebagai pejuang pembangunan yang besar,” ujar Soeharto saat meresmikan nama Sutami untuk Karangkates pada 16 April 1981.
Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.