INTERMESO
Takut perjuangannya terganggu, Trimurti pernah berniat tak menikah. Bercerai setelah sang suami terpikat pada besannya sendiri.
Foto: Screenshot HUT AJI
Aktivitas Trimurti di bidang jurnalistik dan politik untuk perjuangan kemerdekaan membuatnya galau dalam soal asmara. Ia khawatir hal itu akan membuat pengabdian pada perjuangan tak bulat. Trimurti pun sempat berpikir akan hidup selibat. Padahal sejumlah pria silih berganti datang mendekatinya.
"Tadinya aku bertekad tidak mau kawin. Sebab, pembentukan keluarga tentu akan mengurangi konsentrasiku kepada perjuangan. Aku harus hidup sendiri, apa pun yang akan terjadi. Aku ambil contoh cara hidup seorang pastor...," tulis Trimurti dalam Hidupku Sebagai Wartawan Pejuang.
Dalam suatu pertemuan aktivis Partai Gerakan Rakyat Indonesia di Semarang, ia bertemu dengan Mohammad Ibnu Sayuti atau Sayuti Melik. Keduanya terlibat dalam diskusi-diskusi hangat mengenai strategi dan politik. Pertemuan demi pertemuan berikutnya mereka lalui. Hingga di tengah-tengah sebuah perdebatan, Sayuti tiba-tiba meminangnya. "Kelihatannya kita bisa bekerja sama. Bagaimana kalau kau menjadi istri saya?"
Saya tidak dapat berdiri di atas dua perahu. Dengan ini saya menyatakan saya berdiri di samping suami saya!"
Trimurti terperangah. Dia belum memikirkan soal perkawinan. Karena itu, dia hanya menjawab, "Nanti saya pikirkan dulu." Setelah berpikir semalaman, akhirnya Trimurti menerima lamaran itu.
Tak ada pohon mawar yang tak berduri. Kisah cinta mereka menerjang tembok besar. Ayah Trimurti, Mangunsuromo, ingin putrinya itu menikah dengan laki-laki sederajat. Tapi Trimurti nekat. Pernikahan pun akhirnya digelar di rumah kawan Sayuti, Kartopandoyo, tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Kakaknya, Suranto, bertindak sebagai wali nikah.
S.K. Trimurti diapit oleh Perdana Menteri Amir Sjarifuddin dan Presiden Sukarno setelah dilantik sebagai Menteri Perburuhan pada Oktober 1947.
Foto: dok. Perpustakaan Nasional
Sayang, pasangan aktivis ini tak pernah tenteram dalam menjalani pernikahan. Silih berganti mereka harus mendekam dalam penjara. Mulai zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, sampai setelah kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, revolusi sosial bergejolak di beberapa daerah. Di Pekalongan, Jawa Tengah, pada Oktober 1945 meletus Peristiwa Tiga Daerah. Sayuti bersama Jaksa Agung Suprapto diutus pemerintah untuk meredakan kekacauan. Ketegangan pun terjadi ketika Sayuti ditolak. Dia diculik dan hendak dibunuh di alun-alun. Untungnya ada eks Digulis (orang yang diasingkan ke Boven Digul, Papua), Suwignjo, yang datang membujuk para penculiknya.
Trimurti, yang berada di Semarang, cemas akan keselamatan suaminya. Membawa dua anaknya yang masih kecil, dia berangkat ke Pekalongan. Trimurti mendapat kabar bahwa suaminya akan kembali ditangkap pemberontak. Ketika bertemu dengan suaminya, dia sengaja tak mengatakan rencana pemberontak itu kepada Sayuti. Trimurti tahu watak suaminya keras. Sayuti pasti akan tetap tinggal dan menantang mereka.
Trimurti hanya menyarankan suaminya pergi ke Yogyakarta menyusul Suprapto untuk memberikan laporan kepada pemerintah pusat. "Kalau perlu, meminta bala bantuan untuk mencegah timbulnya bentrokan," ujar Trimurti dalam biografinya. Sayuti setuju. Esok harinya, datanglah rombongan mencari Sayuti.
* * *
Saya tak setuju lelaki beristri lebih dari satu. La, Bung Karno merasa saya sedang menyindirnya."
Awal 1965, Sayuti menulis sebuah serial di Suluh Indonesia, kemudian disambung di Berita Indonesia, berjudul "Belajar Memahami Sukarnoisme". Sayuti berpendapat bahwa Marhaenisme tidak dipengaruhi oleh Marxisme-Leninisme. Artikel itu kemudian dikutip berbagai media di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. "Artikel itu merupakan tonjokan bagi Partai Komunis Indonesia, yang selama ini menafsirkan pikiran Sukarno dengan tambahannya sendiri," tulis Trimurti dalam memoarnya.
Melalui artikel di Harian Rakyat, PKI pun menyerang Sayuti. Dukungan pun datang dari Adam Malik, yang mendirikan Badan Pendukung Sukarnoisme. Trimurti, yang masih menjadi anggota Gerwani, pun tak luput dari kritik. Saat itu Gerwani, yang juga didirikan Trimurti, sudah dikuasai kader-kader PKI. Trimurti mengambil keputusan meninggalkan Gerwani. “Saya tidak dapat berdiri di atas dua perahu. Dengan ini saya menyatakan saya berdiri di samping suami saya!"
Sayuti Melik dan S.K. Trimurti
Foto: Screenshot HUT AJI
S.K. Trimurti dan anak pertamanya, Musafir Karma Budiman, 1939.
Foto: dok. Perpustakaan Nasional
* * *
Pernikahan Sayuti-Trimurti goyah ketika Sayuti jatuh cinta pada Siti Rancari, yang tak lain adalah besannya sendiri. Rancari adalah ibu Sri Harjanti, mantan istri Musafir Karma Budiman, anaknya. Trimurti akhirnya bercerai pada akhir 1969. Ia menilai perkawinan adalah bentuk sebuah kongsi untuk bisa mengerjakan sesuatu bersama. Tapi, ketika sesuatu sudah tak mungkin dikongsikan, ia tak mau memaksakannya.
“Perceraian kami sama sekali tak ada urusannya dengan soal pandangan politik. Yuti menyukai wanita lain. Buat saya, kehidupan tidak bisa diparo-paro begitu. Jadi sekaligus saja saya serahkan ia kepada Siti Rancari. Tak apa, saya realistis saja," tulis Trimurti dalam memoarnya.
Perintis Gunawan, anak Slamet Gandhiwijaya, kawan seperjuangan Trimurti, menuturkan tidak ada yang berubah pada diri Trimurti pascaperceraian. "Beliau manusia mandiri dan merdeka," ujarnya kepada detikX.
Trimurti memang perempuan yang antipoligami. Dia konsisten terhadap apa yang menjadi prinsipnya. Sebelumnya, Trimurti pernah mengkritik praktek poligami gurunya, Sukarno, lewat sebuah wawancara dengan wartawan. Kritik itu membuat Sukarno marah sampai tak menegurnya.
"Ada wartawan yang mewawancarai saya dan menanyakan soal poligami. Saya katakan terus terang, saya tak setuju lelaki beristri lebih dari satu. La, Bung Karno merasa saya sedang menyindirnya," ujar Trimurti.
Sikapnya soal poligami Sukarno juga terdapat dalam artikel “Sukarno Si Pria”. Di situ Trimurti menulis, "Kalau Bung Karno misalnya, waktu belakangan ini suka kawin, ya kalau orang kelaparan, mau makan kadang-kadang lebih dari satu piring, kita bisa memberi excuse-lah. Cuma, ini jangan ditiru tiap orang."
Reporter: Pasti Liberti Mappapa
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.