INTERMESO

ORANG AFRIKA DI RUSIA

Bukan Surga Kulit Hitam Lagi

"Tinggal di Rusia seperti hidup dalam neraka di bumi.... Mereka tak suka warna kulit kami."

Foto: RFERL

Rabu, 20 April 2016

Puluhan tahun lalu, tak sedikit orang kulit hitam, orang-orang keturunan Afrika, yang tersihir oleh "janji-janji" revolusi Bolshevik—revolusi komunis di Uni Soviet yang menjanjikan masyarakat yang setara tanpa kelas sosial, tanpa diskriminasi rasial.

Lahir di Jamaika, Robert Robinson belajar mekanika mesin selama empat tahun sebelum berangkat ke Amerika Serikat pada akhir 1920-an. "Begitu tiba di Amerika, aku segera mengirimkan surat lamaran pekerjaan ke sejumlah perusahaan.... Tapi, setiap kali aku datang ke perusahaan, mereka akan bilang bahwa lowongan itu sudah ditutup," kata Robinson seperti dikutip Joy Gleason Carew dalam bukunya, Blacks, Reds, and Russians: Sojourners in Search of the Soviet Promise.

Walaupun punya keahlian dan keterampilan, Robert kesulitan mendapatkan pekerjaan di Amerika. Dia memang punya satu "masalah" besar: kulitnya hitam gelap. Bisa dihitung dengan jari perusahaan-perusahaan Amerika yang bersedia mempekerjakan orang-orang kulit hitam, kecuali untuk rupa-rupa pekerjaan "kasar" bergaji kecil.

Foto: RFERL

Satu di antara sedikit perusahaan itu adalah Ford Motor di Detroit. Setelah berulang kali mencoba, Robert berhasil menembus Ford Motor sebagai tukang sapu. "Aku tak bodoh... Ford Motor merupakan milik dunia orang-orang kulit putih," kata Robert. Berkat kegigihannya, Robert merangkak dari tukang sapu hingga menjadi tenaga mekanik. Dia menjadi orang kulit hitam di antara ratusan orang-orang kulit putih.

Tapi Uni Soviet menyodorkan "proposal" kontrak kerja yang jauh lebih menggiurkan. Di Ford Motor, Robert membawa pulang gaji US$ 140 per bulan. Tukang-tukang rekrut dari negara komunis itu menawarkan angka US$ 250 per bulan plus rumah beserta pembantu rumah tangga dan mobil. Semuanya tak perlu bayar. Dia juga dijanjikan mendapat 30 hari cuti dalam setahun.

Dapat gaji tinggi, bebas dari diskriminasi, apa lagi yang dicari. Robert segera angkat koper dan naik kapal ke Uni Soviet. Di atas kapal Rykov, dia sempat mengalami perlakuan kurang pantas dari pekerja kulit putih asal Amerika. Saat Robert duduk bergabung di meja makan, orang-orang itu buru-buru berdiri dan pindah meja. Awak kapal dari Uni Soviet segera datang dan menghardik penumpang rasialis itu.

"Kamerad, kalian semua diundang bekerja di Uni Soviet. Dalam sistem Soviet, kami tak membedakan orang berdasarkan kebangsaan atau warna kulit. Semua orang di Uni Soviet setara," kata sang awak kapal. Robert hanya duduk bengong melihat seorang kulit putih membelanya. Saat tiba di Leningrad dan mengikuti tur keliling kota, Robert makin jatuh cinta pada Soviet. "Di Rusia, tak ada tur khusus untuk orang kulit putih. Aku tak disuruh duduk di bangku paling belakang."

Diperlakukan buruk di negeri sendiri dan disodori gaji tinggi di negeri, orang-orang kulit hitam di Amerika berbondong-bondong berangkat ke negara komunis Uni Soviet. Pada Maret 1932, Walter Duranty, wartawan New York Times menulis, jumlah pekerja dari Amerika yang tiba di Soviet masih sekitar 1.000 orang setiap pekan. Tapi angka itu terus bertambah.

Pemerintah Kota Moskow sampai perlu mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak pendatang dari Amerika di Jalan Vuysofsky. Orang-orang melihat negara komunis yang masih muda itu sebagai tanah harapan. "Kami menyambut kedatangan semua orang yang tak takut menghadapi kesulitan-kesulitan dan siap menyumbangkan tenaga untuk Uni Soviet," kata Nikolai Bukharin, salah satu pemimpin Soviet, kepada Moscow News, kala itu.

Seorang keturunan Afrika di Rusia diapit dua perempuan Rusia
Foto: anafricaninrussia

Penyanyi dan aktor kulit hitam kondang, Paul Leroy Robeson, yang datang ke Moskow pada Desember 1934, terkagum-kagum melihat bagaimana Soviet memperlakukan orang-orang keturunan Afrika. "Di sini, di Moskow, aku merasa bukan seorang negro, melainkan seorang manusia untuk pertama kalinya dalam hidupku.... Di sini, aku bisa berjalan dengan penuh martabat," kata Robeson, dikutip Martin Duberman dalam bukunya, Paul Robeson.

Tak sedikit di antara orang-orang keturunan Afrika yang mempersunting gadis kulit putih Rusia."

Homer Smith, pemuda kulit hitam lulusan sekolah jurnalistik di Universitas Minnesota, tak pernah bisa mendapatkan pekerjaan sebagai wartawan di Amerika. Di kampung halamannya, Homer sempat bekerja sebagai karyawan rendah di kantor pos. Di kantor pos Soviet, dia diperlakukan dengan penuh hormat. Homer punya tiga anak buah.

Hari pertama di kantor barunya di Moskow, Homer menulis daftar barang yang dia butuhkan. "Tak kusangka, hanya dalam seminggu, mereka sudah memenuhi semua permintaanku," kata Homer. Hanya dalam beberapa bulan, tanggung jawab dan wewenang Homer meluas hingga keluar dari Kota Moskow. Warna kulitnya yang legam sama sekali tak jadi soal, bahkan memberikan keuntungan.

"Jika ada negro antre di toko, orang-orang Rusia itu akan menggandeng tangannya dan menawarkan antrean paling depan. Demikian pula jika antre di restoran atau tukang cukur, orang-orang Rusia akan mengalah dan mendahulukan orang-orang kulit hitam," kata Homer. Tak sedikit di antara orang-orang keturunan Afrika ini, termasuk Homer, yang mempersunting gadis kulit putih Rusia. Satu perkara yang bisa membuat mereka kehilangan nyawa jika dilakukan di Amerika. Pada 1938, Homer menikah dengan Marie Petrovna.

Anak-anak muda keturunan Afrika di Rusia
Foto: Calvert Journal

* * *

Pengalaman pertama Juldas Okie Etoumbi naik kereta di Moskow jadi pengalaman yang bakal sulit terhapus dalam memorinya. Beberapa tahun lalu, mahasiswa pascasarjana di Universitas Persahabatan Rakyat asal Gabon itu berdiri berimpitan dalam kereta Metro Moskow.

Lantaran kereta berhenti mendadak, tak sengaja Juldas memegang tangan seorang laki-laki kulit putih. Tanpa banyak kata, laki-laki itu buru-buru menarik tangannya, mengambil sapu tangan dari kantong baju, dan dengan lagak demonstratif, mengelap bagian tangan yang terpegang Juldas.

Mukhtar Ahmed Osman punya pengalaman lebih buruk di Moskow. Sekelompok remaja kulit putih menghajar Mukhtar habis-habisan hingga tak sadar dan membiarkannya tergeletak di atas salju. Tak ada orang yang mau menolong mahasiswa kulit hitam asal Somalia tersebut.

Remy Bazie, 29 tahun, mengalami hal nyaris serupa. Beberapa pemuda Rusia menghajar Remy dengan balok besi. Dokter harus memasang pelat logam untuk menyambung rahang imigran asal Pantai Gading ini. "Aku sudah sering mengalami perlakuan buruk, tapi kejadian ini yang paling buruk," kata Remy, kepada LATimes.

Yelena Khanga, cucu Oliver Golden, jadi pembawa acara di televisi
Foto: RFERL

Entah apa yang terjadi, Rusia tak lagi Rusia seperti yang dituturkan Homer Smith dan Paul Robeson puluhan tahun silam. Rusia bukan lagi rumah yang ramah bagi orang-orang dengan kulit gelap seperti Remy, Mokhtar, dan Juldas. Sejak 2010, menurut lembaga SOVA, sudah ratusan kasus kekerasan terhadap orang-orang kulit hitam dilaporkan kepada polisi. Rata-rata kasus itu berakhir masuk laci dan dikunci.

Bahkan Anna Veres, perempuan kulit putih asli Rusia, juga ikut diperlakukan buruk lantaran dia menikah dengan laki-laki keturunan Afrika. "Teman-temanku tak mau lagi bersalaman denganku," Anna menulis di RealnoeVremya, dua pekan lalu. Daftar perlakuan rasis itu makin panjang. Belakangan, Anna diminta mundur dari pekerjaannya. Direktur rumah sakit juga menolak menandatangani surat lahir supaya anaknya bisa masuk taman kanak-kanak. "Tak ada tempat untuk orang seperti kalian," Anna mengutip kalimat direktur rumah sakit.

"Tinggal di Rusia seperti hidup dalam neraka di bumi.... Mereka tak suka warna kulit kami. Pergi ke luar rumah bisa jadi masalah bagi kami. Jika kalian keluar dari rumah, ada kemungkinan kalian tak akan pulang kembali," kata Osman Kamara, 36 tahun. Osman sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Rusia setelah lari dari perang di Liberia. Orang-orang sering memanggil dia “obezyana”. Semula Osman menyangka artinya orang kulit hitam. Dia salah. dalam bahasa Rusia, obezyana artinya monyet.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.