INTERMESO

Murid Bung Karno, Penyokong Tan Malaka

S.K. Trimurti menilai pendirian Tan Malaka lebih teguh ketimbang Sukarno.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 21 April 2016

Surastri Karma Trimurti lahir dari keluarga priayi. Sewaktu lahir di Sawahan, Boyolali, Jawa Tengah, pada 11 Mei 1912, ayahnya, Salim Banjaransari Mangunsuromo, adalah seorang carik yang kemudian menjadi asisten wedana atau camat. Setelah tamat Sekolah Ongko Loro (Tweede Inlandsche School), atas kehendaknya sang ayah, Trimurti masuk Sekolah Guru Putri (Meisjes Normaal School) di Jebres, Solo. Menurut Mangunsuromo, guru adalah jabatan yang sesuai bagi perempuan. "Saya sendiri melihat segi baiknya menjadi guru," tulis Trimurti dalam Memoar: Senarai Kiprah Sejarah.

Empat tahun Trimurti tinggal di asrama. Dia lalu lulus dengan predikat terbaik dan langsung diterima menjadi guru di Sekolah Latihan. Tak betah dianggap remeh karena terlalu muda, Trimurti pindah mengajar ke Sekolah Ongko Loro Alun-Alun Kidul di Solo. Kemudian ke sekolah khusus anak perempuan, Meisjesschool di Banyumas.

Guru macam diriku dianggap bisa menghasut anak-anak kecil untuk berpolitik dan mengadakan perlawanan."

Banyumas menjadi tempat persemaian politik bagi Trimurti. Dia kian akrab dengan buku-buku, terutama buku politik. Buku-buku membuka mata dan pikiran Trimurti muda adanya ketimpangan akibat kolonialisme. "Saya menyaksikan sendiri bagaimana Belanda memperlakukan rakyat Indonesia. Betapa sombongnya gaya mereka memanggil kami. Inlanders," ujar Trimurti.

Dia lantas masuk perkumpulan Rukun Wanita dan sering hadir dalam rapat-rapat Budi Utomo cabang Banyumas. Rapat-rapat Partai Indonesia (Partindo) pun dikunjunginya dan ikut kursus-kursus politik partai itu. Kebetulan Sukarno, yang baru keluar dari penjara, memilih bergabung dengan Partindo karena kecewa pada Partai Nasional Indonesia.

Perkenalan pertama Trimurti dengan Sukarno terjadi melalui pidato-pidato yang menggelegar di radio. Ia sangat terpikat. Ketika mendengar kabar dari rekannya sesama guru, Suprapti, bahwa Sukarno akan mengadakan rapat besar Partindo di Purwokerto, Trimurti pun mengikutinya meski hanya kebagian duduk di bagian belakang.

Pidato Sukarno yang berani menyindir kolonialisme dan imperialisme membuatnya kian kagum. Karena itu, Trimurti lantas bergabung dengan Partindo dan bertekad menjadi murid politik Sukarno. Ia juga nekat berhenti sebagai guru. Bersama Suprapti, pada 1933 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kursus kader. Mereka tinggal di sebuah rumah di Jalan Astana Anyar Nomor 66/21.

Upacara pengibaran bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1945. S.K. Trimurti dan Fatmawati (berkerudung) berdiri membelakangi kamera.
Foto: Repro buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946

Saat itu, Sanusi Pane mendirikan Sekolah Perguruan Rakyat di Jalan Pasirkaliki. Trimurti pun membantu mengajar atas saran Sukarno. Murid-muridnya kebanyakan dari anak-anak orang perjuangan. Namun dia tak bisa lama mengajar di sana. "Guru macam diriku dianggap bisa menghasut anak-anak kecil untuk berpolitik dan mengadakan perlawanan," tulisnya dalam artikel "Hidupku Sebagai Wartawan Pejuang".

Sebelum mengajar di Sekolah Perguruan Rakyat, Trimurti pernah berpidato di depan rapat umum Partindo atas permintaan Bung Karno. Jantungnya berdegup kencang menerima permintaan mendadak tersebut. Soal kejahatan penjajah Belanda dipilih sebagai tema pidatonya. “Itu yang paling gampang,” ujarnya.

Tinggal kasih bumbu perjuangan rakyat dan pengisapan si penjajah. Tentu saja menunjukkan beberapa angka sebagai bukti."

S.K. Trimurti

Tapi, akibatnya, ia harus bolak balik menjalani interogasi dan baru dilepaskan intelijen Belanda karena dianggap masih di bawah umur. "Nona masih anak-anak, lebih baik Nona meneruskan sekolah saja daripada dihasut Sukarno."

Dianggap lulus berpidato, berikutnya Trimurti diminta Sukarno menulis artikel di majalah Fikiran Ra'jat. Kali ini ia sempat menepis permintaan tersebut karena merasa tak punya kemampuan. Tapi Si Bung mendesak dan meyakinkan bahwa, bila mencoba menulis, dia pasti akan mampu. Trimurti pun teringat ketika pertama kali belajar mengetik di Banyumas setahun sebelumnya. Semuanya dimulai dari nol. "Jika aku dulu dapat memaksa diriku, mengapa sekarang tidak?" ia membatin.

Dia lantas menulis artikel riwayat penjajahan Hindia Belanda. "Tinggal kasih bumbu perjuangan rakyat dan pengisapan si penjajah. Tentu saja menunjukkan beberapa angka sebagai bukti," kata Trimurti. Mulai saat itu, kepercayaan dirinya semakin bertambah. Sayangnya, pada tahun itu juga Sukarno kembali ditangkap Belanda. Aktivis Partindo pun dilarang bersidang dan berkumpul.

Sampul majalah Fikiran Ra'jat
Foto: Repro buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Dalam artikel "Pengalaman Bersama Bung Karno dan Detik-detik Proklamasi" Trimurti mengakui perkenalan dan pergaulan dengan Sukarno berhasil membentuk wataknya menjadi tahan uji. Dari seorang pegawai negeri yang biasa selalu tunduk, ia menjadi mandiri dan bisa mengeluarkan pendapat tanpa takut menghadapi risiko.

Sejarawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Ipong Jazimah, yang juga penulis biografi S.K. Trimurti Pejuang Perempuan Indonesia, menuturkan, menjadi anak didik langsung Sukarno membuat gaya berjuang Trimurti tak jauh berbeda dengan gurunya itu. “Senang menyerempet bahaya,” ujarnya kepada detikX.

Beberapa hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Trimurti datang berkunjung ke rumah Menteri Luar Negeri Ahmad Subardjo di Jalan Cikini Raya Nomor 80, Jakarta. Biasanya dia datang untuk meminjam buku. Subardjo memperkenalkannya dengan pria bernama Husein, yang bekerja di tambang batu bara di Bayah, Banten.

Menurut Harry A. Poeze dalam buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, Trimurti menyebut Tan Malaka sebagai manusia yang bersih, yang menyerahkan segala-galanya untuk cita-citanya, tidak ada kepentingan pribadi, dan tidak kenal lelah bekerja untuk persatuan. "Beliau seorang intelek, yang bukan termasuk piringan hitam yang hanya mengulang-ulang," kata Trimurti.

Nona masih anak-anak, lebih baik Nona meneruskan sekolah saja daripada dihasut Sukarno."

Sikap Tan itulah yang membuat Trimurti terkesan. Trimurti, yang kemudian menjadi anggota Partai Buruh Indonesia, pun akhirnya tak segan menyokong Tan, meski Tan tak sejalan dengan Sukarno. Tan mendirikan Persatuan Perjuangan pada Januari 1946 di Purwokerto karena tak setuju dengan jalan diplomasi yang ditempuh pemimpin Republik: Sukarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir.

Pada 12 Februari 1946, dalam pertemuan di Balai Mataram, Yogyakarta, Persatuan Perjuangan menyusun nama-nama pimpinan. Tan Malaka menjadi promotor, sementara Trimurti terpilih menjadi komite kerja ekonomi, Chairul Saleh di bidang politik, Wali al-Fatah bidang penyelesaian perselisihan, Sakirman mengurusi pertahanan, dan Sukarni menjadi sekretaris umum. "Trimurti mempunyai hubungan baik dengan seluruh kalangan kaum radikal," tulis Poeze.

S.K. Trimurti (ketiga dari kiri) saat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Foto: Repro buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946

Namun, saat Poeze mewawancarai Trimurti pada 1980, Trimurti mengaku tidak ingat lagi apa tugasnya dalam organisasi Persatuan Perjuangan saat itu. "Barangkali saat itu komite-komite kerja tidak terlalu berkembang."

Perintis Gunawan, anak Slamet Gandhiwijaya, kawan seperjuangan Trimurti, mengatakan rasa hormat dan kagum Trimurti pada Sukarno dan Tan Malaka sama besarnya. Perintis pernah menjadi murid Trimurti pada 1977 selama dua tahun. "Bu Trimurti bilang (Sukarno dan Tan Malaka) separuh-separuh. Tapi, bedanya, Tan Malaka lebih teguh pendirian," ujar Perintis kepada detikX di kantornya Kamis, 14 April 2016.


Reporter: Pasti Liberti Mappapa 
Penulis/Editor: Sudrajat 
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.