INTERMESO
"Ketika Oliver Golden mengatakan bahwa tak ada segregasi rasial di Uni Soviet, aku tak percaya. Tapi terbukti bahwa dia sepenuhnya benar."
Foto: Calvert Journal
Rabu, 20 April 2016Namanya Yosif Stalin, kini 84 tahun dan tinggal di Kremlin. Tapi Yosif tak ada hubungan kerabat sama sekali dengan Joseph Stalin, diktator yang berkuasa di Uni Soviet hampir seabad silam.
Nama lengkapnya Yosif Stalin Kim Roane. Kulitnya hitam legam dan dia seorang pensiunan guru. Jangan pula terkecoh, Kremlin tempat tinggal Yosif bukan di Moskow, Rusia, melainkan sebuah kampung di Westmoreland, Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat.
"Orang-orang memanggilku Joe," kata Yosif, kepada Guardian, pekan lalu. Sudah tak ada logat Rusia dalam bahasa Inggrisnya. Padahal, ketika pertama kali tiba di Kremlin saat baru berumur 6 tahun, Yosif hanya bisa bercakap dalam bahasa Rusia.
Para warga Amerika ini lebih suka mencari pekerjaan di negara di mana kemiskinan sudah jadi hal biasa, bahkan rela antre untuk mendapatkan makanan, ketimbang tetap tinggal di Amerika dalam keputusasaan."
Yosif Stalin memang bukan kerabat Joseph Stalin, tapi Joe punya hubungan erat dengan Uni Soviet, negara yang sudah berkeping-keping lebih dari seperempat abad lalu. Kendati warga Amerika dan hampir seluruh hidupnya dihabiskan di Amerika, Yosif Stalin lahir di Uni Soviet. Ayahnya, Joseph Jephtro Roane, lahir pada 1905 di Kremlin, Virginia.
Pada awal 1930-an, ketika Joseph Roane baru saja menikah dengan Sadie Vivian Russell, ekonomi Amerika tengah sakit berat. Kendati punya gelar ahli tanaman dari Universitas Negeri Virginia, Joseph sulit mendapat pekerjaan. Bukan cuma lantaran ekonomi sedang lesu, tapi terutama karena warna kulit Joseph yang legam. Amerika kala itu memang masih sangat rasialis.
Lewat seorang teman, Joseph berkenalan dengan Oliver Golden, sesama ahli tanaman keturunan Afrika lulusan Tuskegee Institute. Frustrasi menghadapi rasialisme di Amerika, keturunan budak dan veteran Perang Dunia I itu menemukan "pelarian" dalam komunisme. Setelah "lulus" dari sekolah Marxisme-Leninisme di Rusia pada 1928, Oliver resmi menjadi anggota Komunis Internasional (Comintern). Salah satu tugasnya adalah merekrut orang-orang keturunan Afrika yang punya keterampilan khusus dan kecewa terhadap sistem kapitalisme di Amerika. Untuk memimpin kelompok ini, Oliver membujuk mantan dosennya, George Washington Carver.
George, keturunan Afrika di Uni Soviet
Foto: Calvert Journal
"Semua anggota kelompok ini akan dipilih dan harus mendapat persetujuan Anda," Golden menulis surat kepada George Washington, seperti dikutip Joy Gleason Carew dalam bukunya, Blacks, Reds, and Russians: Sojourners in Search of the Soviet Promise.
Kepada Joseph Roane dan 12 warga Amerika keturunan kulit hitam, Oliver menjanjikan mereka kontrak pekerjaan di Uni Soviet selama tiga tahun. Tak cuma bakal menerima gaji US$ 100 setiap bulan, mereka dan keluarganya bakal mendapat fasilitas rumah lengkap dengan isinya dan pembantu rumah tangga.
Pada November 1931 yang dingin, rombongan ahli tanaman kulit hitam dari Amerika itu tiba di Leningrad. Pada bulan-bulan itu, rombongan-rombongan lain dari Amerika—tukang kayu, tukang batu, pekerja tambang, ahli mesin, dan sebagainya—juga tiba di kota-kota lain di Uni Soviet. Saat ekonomi Amerika sedang lesu kurang darah, Soviet dan Revolusi Merah-nya menjadi lilin dalam kegelapan.
Ruth Kennell dan Milly Bennett, dua reporter Washington Post, melaporkan dari Moskow gelombang demi gelombang kedatangan buruh dari Amerika ke Soviet. "Para warga Amerika ini lebih suka mencari pekerjaan di negara di mana kemiskinan sudah jadi hal biasa, bahkan rela antre untuk mendapatkan makanan, ketimbang tetap tinggal di Amerika dalam keputusasaan," mereka menulis di harian itu.
Yelena Khanga, cucu Oliver Golden
Foto: Calvert Journal
Bukan cuma gaji yang membawa Joseph dan istrinya berlayar ribuan kilometer ke Uni Soviet. "Aku masih muda dan ingin melihat dunia lain.... Aku pikir tawaran itu merupakan satu-satunya kesempatan yang pernah datang," kata Joseph seperti dikutip Yelena Khanga, cucu Oliver Golden, dalam bukunya, Soul to Soul: A Black Russian American Family 1865-1992.
Soal ideologi, bagi Joseph dan teman-temannya, tak seberapa penting. "Kami tak berasal dari satu partai politik.... Kami semua kulit hitam dengan sikap hidup yang berbeda-beda," kata George W. Tynes, salah satu anggota rombongan, seperti dikutip Lawrence Journal, puluhan tahun lalu.
George sebenarnya berasal dari keluarga lumayan berada di Roanoke, Virginia, dan lulus dari Universitas Wilberforce. Tapi dia punya satu masalah, sama seperti Joseph: kulitnya kelewat gelap. Bagi George, cita-cita revolusi "merah" di Uni Soviet untuk membentuk masyarakat komunis yang setara, bebas dari diskriminasi kelas sosial dan rasial, membuat dia tak berpikir panjang lagi untuk berkemas ke Uni Soviet. "Ide untuk pergi ke negara di mana tak ada rasialisme dan kesempatan bekerja dalam kesetaraan adalah mimpiku sepanjang hidup," kata George.
Di tanah "merah", mereka berpisah jalan. Dari Tashkent di Uzbekistan, Joseph, Sadie, dan George naik kereta ke kota kecil Yangiyul. Oliver dan istrinya, Bertha Byalek, keturunan Yahudi, ditempatkan di Pusat Riset Kapas. Tugas mereka adalah menemukan bibit kapas yang bisa berproduksi lebih banyak lagi.
"Mereka bekerja dari pagi hingga malam..... Pada malam hari, di bawah pohon mulberi di tepi sungai, mereka bernyanyi lagu-lagu blues," harian lokal Tashkent Pravda menulis soal Oliver dan anak buahnya.
Kerja keras mereka berbuah manis. Bibit kapas hasil penyilangan oleh tim Oliver Golden bisa menghasilkan bola-bola kapas 25 persen lebih banyak ketimbang bibit lokal. Bahkan sampai hari ini, menurut Bekjon Toshmuhammedov, profesor biologi di satu kampus di Tashkent, bibit kapas hasil riset tim kulit hitam dari Amerika itu masih jadi andalan petani kapas di Uzbekistan.
Joseph, Sadie, dan putra mereka, Yosif Stalin, yang lahir setahun setelah pasangan tersebut tiba di Soviet, menikmati hidup di negara komunis itu. Yosif masih ingat betul masa kecilnya yang singkat di Uzbekistan, kala itu masih bagian dari Uni Soviet. Di Yangiyul, Yosif bisa berlarian sepuasnya di ladang dan hutan, kadang bermain di barak tentara tak jauh dari rumahnya.
Ayahku tak bisa membayangkan punya istri kulit putih, anak kulit hitam, dan hidup di Amerika."
Lily Golden, putri tunggal Oliver GoldenMereka menikmati hidup sebagai orang bebas, nyaris tanpa diskriminasi rasial. "Ketika Oliver Golden mengatakan bahwa tak ada segregasi rasial di Uni Soviet, aku tak percaya. Tapi terbukti bahwa dia sepenuhnya benar," Joseph Roane mengenang. Selama enam tahun di Soviet, hanya sekali Joseph menemui perlakuan rasialis.
Suatu kali, Joseph bersama seorang teman berniat mencukur rambut di Moskow. Di dalam kios cukur, sudah ada dua orang kulit putih tengah dicukur. "Apa yang dikerjakan dua negro ini di sini? Keluar sana!" salah satu dari mereka menghardik Joseph dan temannya. Setelah Joseph menjelaskan siapa mereka kepada tukang cukur, justru dua orang itu yang diusir. Ternyata dua orang rasialis itu warga Amerika.
Elena Peter, keturunan Afrika di Uni Soviet
Foto: Calvert Journal
Tapi masa-masa indah itu hanya berumur pendek. Joseph Stalin, yang memerintah Uni Soviet dengan tangan besi, tengah getol-getolnya menyikat lawan-lawan politiknya. Siapa saja lawan politik yang dicurigai menunjukkan gelagat membangkang dibunuh tanpa ampun. Operasi bersih-bersih Stalin juga berimbas pada keluarga Yosif Stalin dan keluarga kulit hitam lain dari Amerika. Mereka hanya diberi dua pilihan: menjadi warga negara Soviet atau angkat kaki.
Keluarga George Tynes, Oliver Golden, dan beberapa keluarga keturunan Afrika memilih tinggal di Soviet. "Ayahku tak bisa membayangkan punya istri kulit putih, anak kulit hitam, dan hidup di Amerika," kata Lily Golden, putri tunggal Oliver. Joseph, Sadie, dan si kecil Yosif Stalin pilih pulang kembali ke kampung asal, Kremlin di Virginia, pada 1937.
Mengikuti jejak sang ayah, Yosif Stalin juga menjadi guru di Kremlin. "Di sini tak ada yang memanggilku Stalin.... Bahkan banyak orang yang tak tahu Stalin. Tak jadi soal, toh itu hanya nama," kata Yosif Stalin, 84 tahun, pekan lalu.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.