image for mobile / touch device
INTERMESO
Selain Hercules dan jalan Cawang-Priok, Amerika disebut-sebut membantu pembangunan Jembatan Semanggi. Bagian dari barter pembebasan mata-mata mereka, Allen Lawrence Pope?
Foto: dok. JFKLibrary
Selasa, 19 April 2016Ketika mantan Menteri Pekerjaan Umum Ir Sutami meninggal pada 13 November 1980 karena sakit lever, sejumlah media menuliskan catatan mereka untuk mengenang jasa-jasanya. Harian Merdeka edisi 15 November 1980 dalam artikel berjudul “Sutami, Seorang Teknisi Monumental Telah Berpulang”, misalnya, menulis bahwa pembangunan Jembatan Semanggi pernah disebut-sebut merupakan bagian dari uang tebusan Amerika Serikat bagi pembebasan pilot mereka, Allen Lawrence Pope.
Untuk diketahui, pesawat yang diawaki Pope, B-26 Invader, ditembak jatuh TNI di Maluku pada 18 Mei 1958. Saat itu Pope, pensiunan militer Amerika, tengah menjalani misi pengeboman CIA buat menyokong pemberontakan Perdjuangan Rakjat Semesta alias Permesta. Pemerintah Amerika tentu tak tinggal diam, dan Presiden Sukarno tak mau melepasnya secara gratis.
Heli ini status resminya adalah hadiah dari Kennedy untuk Bung Karno, tapi sejatinya bagian dari barter dengan Pope."
Konon, upaya barter itu kemudian dibahas dalam kunjungan Sukarno ke Amerika pada 18-25 April 1961. Kala itu Presiden John F. Kennedy sepakat memberikan bantuan kepada Indonesia berupa 10 Hercules tipe B, (8 kargo dan 2 tanker) serta pembangunan jalan bypass dari Cawang ke Tanjung Priok. Selain itu, ada helikopter Bell-47 J2A Roger, yang kemudian menjadi heli kepresidenan. Heli yang dinamai Walet itu hingga kini masih teronggok di salah satu hanggar Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung.
“Heli ini status resminya adalah hadiah dari Kennedy untuk Bung Karno, tapi sejatinya bagian dari barter dengan Pope. Itulah salah satu kelebihan diplomasi Bung Karno,” ujar Bambang Avianto, putra sulung Marsekal Pertama Joko Nurtanio, kepada detikX beberapa waktu lalu.
Si Walet, helikopter hadiah dari Presiden John F. Kennedy untuk Presiden
Sukarno, tersimpan di hanggar Pangkalan Udara Husein
Sastranegara, Bandung.
Foto: Dikhy Sasra/detikcom
Setahun setelah pertemuan Sukarno dan Kennedy, Allen Pope diam-diam diselundupkan ke Bandara Kemayoran menuju Amerika pada Februari 1962. Sebelum Pope dipulangkan, Sukarno berpesan, ”Jangan muncul ke publik, jangan membuat cerita aneh-aneh. Pulang dan menghilanglah dan kami akan melupakan semuanya,” ujarnya seperti ditulis dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adams, edisi revisi 2014, halaman 327.
Secara resmi, Presiden Sukarno tak pernah mengungkapkan adanya barter pengembalian mata-mata CIA itu dengan sejumlah proyek pembangunan di Tanah Air. Ketika putra sulungnya, Guntur, menanyakan isu barter tersebut, Sukarno cuma tertawa. “Mudah-mudahan Amerika kirim Pope yang lain. Kalau ia tertangkap nanti, aku minta tukar dengan Ava Gardner dan Yvonne de Carlo,” jawabnya seperti ditulis Guntur dalam buku Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku. Ava Gardner adalah aktris kenamaan Hollywood kala itu, sedangkan Yvonne de Carlo adalah aktris asal Kanada.
Sedangkan dalam buku Sisi Lain 45 Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum pada 2010, disebutkan bahwa dana pembangunan Jembatan Semanggi sebesar Rp 16,9 miliar berasal dari pinjaman Jepang.
Kawasan Jembatan Semanggi saat masih dalam proses pembangunan.
Foto: repro buku Sisi Lain 45 Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum

Wajah kawasan Jembatan Semanggi pada akhir 1960-an
Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto (repro: Prisma, 1991)
Wajah kawasan Jembatan Semanggi pada awal 1980-an
Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto (repro: Prisma, 1991)
Sementara itu, pembangunan jalan layang di atas Jembatan Semanggi murni dibiayai pihak swasta, yakni PT Mitra Panca Persada. Perusahaan itu milik Mori Company asal Jepang, yang berniat menambah koefisien lantai bangunan, dari 7 menjadi 13. Dengan penambahan itu, menurut Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah, perusahaan tersebut wajib membayarkan dana pembangunan kepada pemerintah DKI sebesar Rp 580 miliar.
Beberapa waktu sebelum diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Raya Brigjen Soemarno pada 19 Juli 1962, Jembatan Daun Semanggi menjadi tempat rekreasi warga Ibu Kota pada malam hari. Di atas jembatan yang sangat megah dan indah itu, tulis harian Suluh Indonesia edisi 2 Juli 1962, “rakyat datang berduyun-duyun untuk sekadar berjalan-jalan hilir-mudik sepanjang jembatan. Selain menikmati udara malam dan pemandangan yang sangat indah, melepaskan pandangan mata sebebas-bebasnya di bawah gemerlapnya lampu-lampu neon warna-warni yang mengelilingi daerah sekitar tempat itu.
Warga biasa datang sejak petang hari ketika matahari hendak mulai terbenam. Warga yang tergolong kaum berada datang dengan mengendarai mobil, sedangkan warga jelata umumnya datang dengan berjalan kaki, naik becak, atau bus kota. Mereka, lelaki dan perempuan, tak terkecuali tua dan muda, asyik pelesir di sekitar jembatan kebanggaan nasional itu. Dari atas Jembatan Daun Semanggi ke arah Jalan Sudirman, orang dapat melihat gedung Hotel Indonesia yang megah tinggi menjulang ke angkasa raya. Juga gemerlap lampu-lampu neon, dan lampu-lampu dari mobil-mobil aneka ragam yang berlalu lalang seolah tiada terputus”.
Dengan tingkat kepadatan arus lalu lintas seperti sekarang, hal semacam itu mustahil dilakukan meski jalur layang di atas Semanggi punya posisi lebih tinggi.
Reporter: Melisa Mailoa/Sudrajat
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.