INTERMESO

PANAMA PAPERS

Ratu Setrum Kena Setrum

"Kalian bisa menyebut dana itu untuk ‘memutar roda’.... Atau boleh juga menyebutnya sebagai dana lobi untuk membuka jalan.”

Li Xiaolin, putri mantan Perdana Menteri Cina Li Peng
Foto: Feng Li/Getty Images

Rabu, 13 April 2016

Namanya boleh rapat para petinggi Partai Komunis Cina, tapi nama tak jadi halangan bagi sebagian peserta untuk tampil berkilau, serbamewah, serbawah. Rakyat biasa di Tiongkok sampai punya julukan bagi rupa-rupa rapat petinggi Partai Komunis di Balai Agung Rakyat, Beijing, itu: Beijing Fashion Show.

Yang Lan, penyiar televisi dan anggota delegasi Konferensi Pertimbangan Politik Rakyat Cina, datang ke Balai Agung mengenakan jaket Giorgio Armani sembari menenteng tas Marc Jacobs. Di situs Neiman Marcus, harga jaket Armani seperti yang dipakai Yang Lan berkisar Rp 50 juta. Sebagai selebritas kondang di layar televisi, Yang Lan, 48 tahun, yang dijuluki Oprah Winfrey dari Cina, memang biasa tampil gemebyar.

Li Xiaolin, 54 tahun, bukan bintang televisi, bukan pula bintang film, tapi soal gaya tak kalah dari Yang Lan. Beberapa tahun lalu, Li datang rapat ke Balai Agung Rakyat dengan jas rancangan Emilio Pucci. Lehernya dilingkari kalung mutiara Chanel. Untuk dua barang ini saja, Nyonya Li paling tidak mesti merogoh isi dompetnya 22 ribu yuan atau Rp 45 juta.

Mereka terang hanya pamer kekayaan."

Zhang Xinke, perancang busana Cina

Li Xiaolin, kini Wakil Presiden China Datang Corporation—perusahaan listrik yang sepenuhnya dikuasai pemerintah Tiongkok—memang tak pernah tampil ala kadarnya. Saat jadi pembicara dalam satu acara di Hainan, Nyonya Li tampil dengan busana rancangan Azzedine Alaïa. Di antara langganan perancang fashion keturunan Tunisia ini antara lain Michelle Obama, penyanyi Lady Gaga, dan bintang film Marion Cotillard.

Gaya wah wakil-wakil rakyat di negara komunis ini tentu mengundang komentar. "Mereka terang hanya pamer kekayaan," Zhang Xinke, perancang busana, menulis di Sina Weibo, seperti dikutip Wall Street Journal. Zhang mengkritik Li Xiaolin yang datang ke Kongres Nasional Perempuan Cina Ke-11 beberapa tahun lalu dengan mengenakan mantel bulu. Warga lain menulis sinis soal gaya Li Xiaolin di Sina Weibo, "Busana dari daerah mana yang dia pakai?"

Li Xiaolin
Foto: Feng Li/Getty Images

Nyonya Li memang bukan dari keluarga jelata. Ayahnya, Li Peng, pernah menjadi orang kedua paling berkuasa di Tiongkok setelah Deng Xiaoping. Saat menjabat Perdana Menteri Cina dari 1988 hingga 1998, dengan tangan besi, Perdana Menteri Li memerintahkan Tentara Rakyat Cina menggilas demonstrasi mahasiswa di Lapangan Tiananmen.

Seperti sang ayah, demikian pula sang anak. Li Peng meniti karier di perusahaan listrik dan bertahun-tahun kemudian mengendalikan gurita perusahaan-perusahaan listrik negara yang menerangi Daratan Cina. Kedua anaknya, si sulung, Li Xiaopeng, dan adiknya, Li Xiaolin, juga meniti karier di perusahaan setrum negara hingga jadi bos besar.

Saat jadi bos nomor satu di Grup Huaneng, orang-orang menjuluki Xiaopeng dengan sebutan Raja Setrum Asia. Sang adik, sama gagahnya, mendapat julukan Ratu Listrik dari Cina ketika menjadi bos China Power International Development. Apakah Raja dan Ratu Setrum ini menunggangi pengaruh ayah mereka, sulit dibantah.

Sekarang Ratu Setrum itu kembali jadi sorotan, tapi bukan lantaran busana yang dia kenakan. Nama Li Xiaolin ada dalam bocoran dokumen dari kantor pengacara asal Panama, Mossack Fonseca, yang diperoleh harian Jerman, Süddeutsche Zeitung. Selain Nyonya Li, ada nama Jasmine Li dalam dokumen Panama. Jasmine adalah cucu Jia Qinglin, mantan anggota Komite Tetap Politbiro, organisasi tertinggi dalam Partai Komunis Cina.

Li Peng, mantan PM Cina (kedua dari kanan)
Foto: Feng Li/Getty Images

Li Xiaolin bersama suaminya, Liu Zhiyuan, menurut dokumen-dokumen dari Panama itu, merupakan pemilik Cofic Investments, perusahaan yang terdaftar di British Virgin Islands. Pulau kecil di Kepulauan Karibia ini memang kondang sebagai surga orang-orang kaya yang ingin menghindari pajak atau menyembunyikan duit.

Pengacara yang mewakili Nyonya Li menulis e-mail kepada Mossack Fonseca bahwa perusahaan tersebut menampung dana atas "jasa" menjembatani impor mesin-mesin industri dari Eropa ke Cina. Semula perusahaan itu didaftarkan tanpa mencantumkan nama pemilik atau bearer share.

Baru pada 2009, ketika pemerintah British Virgin memperketat aturan pencucian uang, kepemilikan Cofic dialihkan ke Foundation Silo, yayasan yang terdaftar di Vaduz, Liechtenstein, negara kecil di Eropa. Bisa ditebak, pemilik yayasan ini adalah Li Xiaolin dan suaminya. Pemerintah Tiongkok, juga pasangan Liu Zhiyuan dan Li Xiaolin, sama-sama bungkam soal isi dokumen Panama.

Jia Qinglin, mantan anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Cina
Foto: Guang Niu/Getty Images

Bukan kali ini saja nama Li Xiaolin dikaitkan dengan transaksi-transaksi "mencurigakan" dan rekening-rekening gemuk di luar negeri. Tiga tahun lalu, nama Nyonya Li muncul di dokumen pengadilan dalam kasus sengketa antara bos Grup Orient, Zhang Hongwei, dan mantan anak buahnya, Bill Zhao.

Li Xiaolin, menurut dokumen itu, punya andil memperkenalkan bos perusahaan asuransi asal Swiss, Zurich Insurance, dengan Bill Zhao dan pemilik perusahaan asuransi New China Life, Zhang Hongwei. Kepada pengadilan, Bill menuturkan, teman sekolahnya, Li Xiaolin, menghampirinya dalam satu pesta jamuan kenegaraan pada Oktober 1995 dan menawarkan "kesempatan bisnis".

Bos Zurich, Bill mengutip Li Xiaolin, berniat masuk ke Cina. Kala itu, bisnis asuransi masih tertutup bagi perusahaan asing. Bill meneruskan informasi itu kepada bosnya, Zhang Hongwei. Setelah beberapa kali diskusi, tercapai kesepakatan. Zurich bersedia mengirim US$ 16,9 juta atau Rp 222 miliar ke satu rekening Credit Suisse di Bahama untuk 20 persen saham New China. Lantaran investor asing dilarang memiliki saham perusahaan asuransi Cina, saham itu "dititipkan" ke New China Life.

Duit dari Zurich inilah yang mengalir ke mana-mana, termasuk untuk "uang saku" bagi sejumlah petinggi Partai Komunis. "Kalian bisa menyebut dana itu untuk ‘memutar roda’.... Atau boleh juga menyebutnya sebagai dana lobi untuk membuka jalan Zurich masuk pasar asuransi di Tiongkok," kata Hugh Mo, pengacara Bill Zhao, seperti dikutip Telegraph.

Beberapa tahun kemudian, Zurich memanen hasil transaksi itu dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Li Xiaolin, lewat Sina Weibo, membantah terlibat transaksi itu. Dia mengatakan tak kenal dan tak punya hubungan sama sekali dengan bos Zurich maupun Orient.

Xi Jinping dan Peng Liyuan
Foto: David Gray/Reuters

Kendati besar di industri setrum, jejak Li Xiaolin ada di banyak tempat. Pada 2014, Konsorsium Wartawan Investigasi Internasional (ICIJ) menemukan jejak Li Xiaolin di dua perusahaan cangkang alias shell company yang terdaftar di British Virgin Islands: Tianwo Holdings dan Tianwo Development. Tercantumnya nama Li di dua perusahaan itu memang tak berarti dia terlibat kejahatan. Tapi buat apa Li Xiaolin punya dua perusahaan di British Virgin Islands?

Belum dingin berita itu, Si Ratu Setrum kembali tersengat laporan ICIJ. Kali ini nama Li Xiaolin dan suaminya muncul di bocoran dokumen yang ditelusuri wartawan-wartawan ICIJ sebagai pemilik rekening bank di Swiss. Menurut ICIJ, Li Xiaolin dan Liu Zhiyuan membuka rekening HSBC di Swiss pada 2001. Selama periode 2006-2007, lima rekening atas nama Metralco Overseas, perusahaan asal Panama yang dikendalikan pasangan Li-Liu, berisi duit US$ 2,48 juta atau Rp 33 miliar. Pada 2012, Li Xiaolin menutup Metralco. Seperti juga sebelumnya, Li Xiaolin pilih bungkam ketimbang menanggapi berita tersebut.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.