INTERMESO
PANAMA PAPERS
"Kami bertemu dan setelah itu tak pernah berpisah.... Dia sudah seperti saudara bagiku.”
Sergey Roldugin (kanan), Vladimir Putin, Dmitry Medvedev
Foto: ReutersSuatu siang tiga tahun lalu, seorang kawan lama menghubungi Sergey Pavlovich Roldugin. Kawan lama itu meminta Sergey menggelar konser mini di depan teman-temannya. Sang kawan lama itu adalah Vladimir Putin, kini Presiden Rusia.
Sergey membawa tiga musikus muda—seorang violis, pianis, dan pemain klarinet—ke kediaman resmi Presiden Rusia di pinggiran Kota Moskow, Novo-Ogaryovo. Sergey dan tiga temannya memainkan komposisi karya Mozart, Tchaikovsky, dan Carl Maria von Weber.
Dua malam berturut-turut Sergey bermain di depan Presiden Putin dan teman-temannya. "Mereka semua orang terkenal," kata Sergey kepada New York Times beberapa waktu lalu. Mereka, tentu saja, orang-orang yang sangat berkuasa di Negeri Beruang Merah dan sangat tajir.
Sergey sendiri bukan orang "sembarangan" di Rusia. Dia memang "hanya" pemain cello dan mantan Rektor Konservatori Saint Petersburg. Tapi bukan jabatannya itu yang membuat dia jadi "bukan sembarang orang". Sergey sudah lama sekali kenal dengan Presiden Putin. Bahkan namanya paling banyak disebut dalam biografi Vladimir Putin, orang paling berkuasa di Rusia, First Person.
Kami bertemu dan setelah itu tak pernah berpisah.... Dia sudah seperti saudara bagiku. Saat itu, jika aku bingung mencari tempat tidur, aku akan pergi ke rumahnya untuk tidur dan makan."
Sergey Pavlovich Roldugin
Presiden Vladimir Putin menghadiri rapat persiapan peringatan Hari Kemenangan.
Foto: Reuters
Sergey bertemu dengan Putin di Leningrad (kini Saint Petersburg) pada 1977. Kakak Sergey, Yevgeny, merupakan teman sekelas Putin di sekolah calon anggota Dinas Intelijen Uni Soviet (KGB) di Leningrad. Sejak saat itu, Sergey, yang setahun lebih tua, jadi sobat karib Putin dan bertahan sampai detik ini.
"Kami bertemu dan setelah itu tak pernah berpisah.... Dia sudah seperti saudara bagiku. Saat itu, jika aku bingung mencari tempat tidur, aku akan pergi ke rumahnya untuk tidur dan makan," kata Sergey seperti dikutip Guardian. Dia tak akan ragu turun tangan membantu saat Putin muda yang memang berdarah panas terlibat perkelahian. "Dia orang yang sangat gigih seperti bulldog."
Sergey pulalah yang jadi makcomblang bagi Putin dan Lyudmila Shkrebneva, pramugari Aeroflot. Sergey, yang ingin memamerkan mobil barunya, Lada Zhiguli, mengajak serta Lyudmila berkeliling Leningrad. Di sepanjang perjalanan, Sergey sengaja membiarkan gadis itu duduk di samping Putin. Beberapa tahun kemudian, perwira KGB itu melamar Lyudmila. Saat Maria Putina, putri pertama mereka dibaptis, Sergey pulalah yang jadi wali baptisnya.
Setelah pensiun dari KGB dengan pangkat letnan kolonel, Putin terjun ke politik. Karier politik Putin meroket luar biasa cepat. Pada 1994, dia dipilih menjadi Wakil Wali Kota Saint Petersburg, kota kelahirannya. Hanya dalam lima tahun, Vladimir Putin sudah melompat ke lingkaran paling dalam kekuasaan Rusia sebagai Wakil Perdana Menteri.
Kurang dari empat bulan kemudian, Putin dipilih sebagai pelaksana Presiden Rusia, setelah Boris Yeltsin, Sang Presiden, mundur tak terduga. Sejak hari itu, Putin tak pernah beringsut lagi dari jantung kekuasaan Kremlin. Mantan intel KGB di Jerman Timur itu bersumpah akan membabat habis perusahaan-perusahaan kroni yang menguasai perekonomian Rusia setelah Uni Soviet tumbang.
Ya, konglomerasi baru yang tumbuh menggurita setelah Uni Soviet bubar itu memang diinjak dan disikat oleh Putin. Tapi Putin menggantinya dengan "peliharaan”-nya sendiri, geng pengusaha dari Saint Petersburg. Satu di antara kelompok pengusaha yang melesat membuntuti karier politik Putin adalah para pemegang saham Bank Rossiya.
Dari bank kelas gurem di Saint Petersburg, hanya dalam belasan tahun, berkat "jalan tol" yang disediakan oleh Presiden Putin, aset bank itu menggelembung menjadi hampir Rp 150 triliun. Padahal, semula para pendiri dan pemegang saham bank itu hanyalah "bankir" kemarin sore. "Dari bukan siapa-siapa, orang-orang ini menjadi triliuner bersama Putin," kata Sergei Aleksashenko, mantan Wakil Menteri Keuangan Rusia.
Yury Kovalchuk, pemegang saham terbesar Bank Rossiya dan sering disebut sebagai "kasir”-nya Putin, sebelumnya merupakan fisikawan di Institut Ioffe. "Aku tak pernah tahu nama-nama seperti Kovalchuk," kata Mikhail Kasyanov, mantan Perdana Menteri Rusia.
Nama lain yang ada dalam daftar pemegang saham Bank Rossiya adalah Nikolay Shamalov, tetangga Putin di Saint Petersburg. Pada Februari 2013, dalam sebuah pesta yang sangat tertutup di pinggiran Kota Saint Petersburg, Kirill Shamalov, menikahi Katerina Tikhonova, putri bungsu Vladimir Putin.
Vladimir Putin bersama Night Wolves
Foto: Huffington Post
Tak ada tamu yang boleh mengantongi ponsel atau kamera. "Penjaga bersiaga di setiap sudut, mencegah tamu-tamu mendekati mempelai," ujar seorang tamu kepada Reuters kala itu. Kirill merupakan putra kedua Nikolay. Kini Kirill, 33 tahun, dan kakaknya, Yury Shamalov, menjadi pejabat tinggi di sejumlah perusahaan negara Rusia. Kurang dua tahun setelah menikahi Katerina, Kirill membeli saham perusahaan raksasa petrokimia Sibur Holding senilai US$ 1,75 miliar atau Rp 23 triliun.
Terselip di antara pengusaha-pengusaha tajir "binaan" Putin, ada nama Sergey Roldugin di daftar nama pemegang saham Bank Rossiya. Pemain cello itu mengempit 3,2 persen saham Bank Rossiya, menjadikannya seorang miliuner. "Aku butuh uang. Sebab, sedikit sekali uang dalam kesenian," kata Sergey. Untuk membeli saham Bank Rossiya, Sergey mengaku pinjam duit dari kiri-kanan.
Tapi, kepada New York Times, ia membantah kabar bahwa kini telah kaya raya. "Aku punya mobil, punya apartemen, tapi tidak punya duit berjuta-juta rubel," kata Sergey. "Lihat.... Bahkan cello milikku ini pun barang bekas."
* * *
Dokumen-dokumen yang diterima harian Jerman, Süddeutsche Zeitung, beberapa tahun lalu itu menunjukkan bahwa ada "bau asam" dalam hubungan Sergey dengan kawan lamanya, Vladimir Putin. Tak benar pula bahwa Sergey tak punya duit berjuta-juta rubel.
Dalam bocoran dokumen yang diperoleh Süddeutsche Zeitung itu, ada nama Sergey Roldugin dalam sejumlah transaksi bernilai jumbo. Penelusuran International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) bersama gabungan wartawan dari pelbagai media di sejumlah negara menemukan transaksi bernilai lebih dari US$ 2 miliar lewat beberapa perusahaan yang dikendalikan oleh Sergey dan Rotenberg bersaudara: Boris dan Arkady Rotenberg.
Rotenberg bersaudara merupakan pengendali perusahaan raksasa konstruksi Rusia, Stroygazmontazh alias SGM. Keduanya sudah lama sekali kenal Vladimir Putin. Boris merupakan teman Presiden Putin sejak remaja. Mereka sama-sama tergila-gila pada judo. Sama halnya Putin, Rotenberg bersaudara lahir dan tumbuh besar di Saint Petersburg.
Presiden Vladimir Putin dan pembalap F1 Lewis Hamilton
Foto: Getty Images
Paling tidak, menurut Panama Papers, dokumen bocoran dari kantor pengacara Mossack Fonseca yang berbasis di Panama, duo Rotenberg mengendalikan tujuh perusahaan yang semuanya terdaftar di British Virgin Islands. Pulau kecil di Kepulauan Karibia ini memang kondang sebagai surga orang-orang kaya yang ingin menghindari pajak atau menyembunyikan duit. Sedangkan Sergey Roldugin memiliki tiga perusahaan: Sonnette Overseas, International Media Overseas, dan Raytar Limited.
Penelusuran wartawan Novaya Gazeta, media Rusia yang turut bergabung dalam tim ICIJ, rekening-rekening perusahaan milik Sergey itu jadi tempat penampungan duit-duit yang mengalir dari perusahaan-perusahaan milik konglomerat Rusia seperti Rotenberg bersaudara, Suleiman Kerimov, dan Alexei Mordashov. Duit bejibun itu mengalir lewat rupa-rupa manipulasi transaksi yang sangat rumit dan berbelit. Hampir dalam setiap transaksi ada jejak orang-orang dari Bank Rossiya.
Dalam satu transaksi pada 2010, misalnya, perusahaan yang dikendalikan Sergey dan terdaftar di Panama setuju membeli saham perusahaan energi Rusia, Rosneft, dari perusahaan offshore lain, Dino Capital. Pengacara yang mewakili Sergey mengirim dua kontrak sekaligus kepada kantor Mossack Fonseca. Satu kontrak untuk pembelian saham, satu kontrak untuk membatalkan kontrak pertama. Sebagai "imbalan" atas kontrak-kontrak ganjil itu, Sergey akan menerima US$ 750 ribu atau Rp 9,8 miliar.
Transaksi-transaksi itu sangat mencurigakan.... Dan mestinya langsung menyalakan ‘lampu merah’ setiap bank yang dipakai."
Mark Pieth, profesor kriminologi dari Universitas Basel, SwissPraktek transaksi tipu-tipu seperti ini, menurut Novaya, adalah modus yang sering dipakai untuk mencuci duit-duit tak halal dari Rusia. "Transaksi-transaksi itu sangat mencurigakan.... Dan mestinya langsung menyalakan ‘lampu merah’ setiap bank yang dipakai," kata Mark Pieth, profesor kriminologi dari Universitas Basel, Swiss, setelah mengamati transaksi-transaksi tersebut.
Satu transaksi lain pada Juli 2007 melibatkan Sonnette Overseas milik Sergey sama ganjilnya. Ceritanya, Sonnette mendapat utang dari Levens Trading senilai US$ 6 juta atau Rp 79 miliar dengan bunga 2 persen per tahun. Entah bagaimana ceritanya, satu bulan kemudian, utang itu diputihkan alias dianggap lunas setelah Sonnette membayar US$ 1. Ya benar, cukup satu dolar saja. Levens adalah perusahaan yang dikendalikan oleh Alexey Mordashov, triliuner Rusia pemilik perusahaan baja Severstal.
Polisi berdiri di samping gambar Presiden Vladimir Putin di Moskow.
Foto: Reuters
Dicegat reporter Novaya, Sergey Roldugin berkelit. "Kawan-kawan, sejujurnya aku tak bisa berkomentar saat ini. Aku harus memeriksa dulu mana yang bisa aku komentari dan mana yang tidak bisa," kata Sergey. "Aku paham topik ini sangat serius.... Dari mana uang itu? Siapa yang punya? Aku tahu itu semua. Tapi ini masalah yang rumit."
Presiden Putin membela teman lamanya itu. Menurut Putin, Sergey merupakan musikus hebat. Putin juga tahu temannya itu punya saham minoritas di Bank Rossiya. Tapi Sergey, menurut Putin, tak punya uang sebanyak yang diberitakan. Semua uang yang diperoleh sebagian besar juga dipakai Sergey untuk membiayai hobinya bermusik.
"Aku bangga punya teman seperti dia," kata Presiden Putin seperti dikutip ABC. Dia malah menuding mereka yang membocorkan dokumen dan menyebarkan dugaan korupsi itu sebagai lawan yang berusaha menggoyang Rusia. "Mereka berusaha menggoyang Rusia dari dalam."
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.