INTERMESO

Mengajar Anak Tentara, Mengelola Panti Jompo

Selepas dari Pulau Buru, Lukas Tumiso berbisnis bahan bangunan. Dibantu pelawak, diganggu preman.

Lukas di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi, Jakarta Pusat.
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Senin, 11 April 2016

Di aula Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi, Jalan Kramat 5 Nomor 1C, Jakarta Pusat, Lukas Tumiso dan beberapa temannya duduk meriung menyaksikan acara televisi. Kotak ajaib temuan John Logie Baird asal Skotlandia itu menjadi satu-satunya sumber informasi dan hiburan bagi para penghuni panti tersebut. Maklum, sejak kembali dari pembuangan di Pulau Buru atau penjara lainnya, keluarga dan kerabat mereka umumnya sudah tidak ada karena berbagai alasan.

Lukas menghuni panti itu sejak 2004 atas permintaan Ribka Tjiptaning. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu meminta lelaki berusia 76 tahun tersebut membantunya mengelola panti yang khusus menampung para eks tahanan politik. Bangunan untuk panti dibeli oleh Taufiq Kiemas pada 2003, dan diresmikan sebagai panti oleh mantan presiden KH Abdurrahman Wahid pada 8 Februari 2004.

"Saya di sini bantu-bantu nyapu dan bersih-bersih, sambil sesekali ikut aksi," kata Lukas saat berbincang dengan detikX akhir Maret lalu. "Saya seolah kembali ke habitat," ujarnya.

Semasa muda, Lukas adalah guru sekolah dasar di Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur. Sebagai guru, dia tergabung dengan Persatuan Guru Republik Indonesia Non-vaksentral. Di sela-sela mengajar, dia nyambi kuliah di Jurusan Ilmu Hukum Universitas Res Publica, Surabaya. Dua bulan pasca-Gerakan 30 September 1965, tentara menangkapnya sepulang kuliah. “Saya dituding sebagai anggota Partai Komunis Indonesia,” ujar Lukas mengenang.

Sejatinya, dia adalah aktivis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia, yang dikenal militan membela Sukarno. Tapi, oleh tentara kala itu, mungkin organisasi itu dianggap sama dengan PKI. Karena itu, Lukas harus mendekam di penjara Korem Baladika Jaya, Malang, penjara Kali Sosok (Surabaya), lalu di Nusakambangan (Cilacap).

Pramoedya Ananta Toer dan Profesor Dr Soeprapto
Foto: Repro buku Laporan Pertama dari Pulau Buru karya Djamal Marsudi

Pada Agustus 1969, Lukas dipindahkan ke Pulau Buru, Maluku, dan ditempatkan di unit III bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Bersama Pram, dia dibebaskan pada Desember 1979. "Kami bebas, tapi sebenarnya tidak bebas," kata Lukas.

Kami bebas tapi sebenarnya tidak bebas."

Bukan cuma tak leluasa bergaul, mencari pekerjaan untuk menafkahi diri sendiri pun sulitnya bukan main. Hampir semua instansi pemerintah maupun swasta dipastikan langsung menolak menerima kehadiran para eks tahanan politik. Sialnya, mereka tak bisa menghindar karena pada identitas pribadi jelas tertera kode ET alias Eks Tapol. Karena itu, kebanyakan alumni Pulau Buru boleh dibilang mati secara perdata.

Beruntung, Lukas punya sohib selebritas. Dia adalah Ayub Abdul Djalal (Jalal), pentolan grup lawak Surya Group. Komedian bertubuh tambun yang biasa berpakaian khas orang Madura itu memodalinya sebuah truk. Oleh Lukas, truk itu disewakan kepada para penjual pasir, semen, dan material bangunan lainnya di Surabaya. "Hasilnya sangat bagus," ujarnya.

Namun dia harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan kota itu. Usahanya yang terus berkembang menjadi incaran para preman. Hampir setiap hari preman datang silih berganti untuk meminta ini-itu dengan berbagai dalih. Lukas, yang pernah merasakan kerasnya kehidupan di Pulau Buru, lama-lama tak sudi meladeni tingkah mereka. Ia langsung mendatangi pentolan preman itu dan menantangnya adu jotos. Jalan kompromi akhirnya didapat. Lukas tak keberatan merekrut beberapa dari mereka untuk dijadikan tenaga pengamanan.

Tahanan politik memanggul cangkul bersiap menuju lahan persawahan.
Foto: Repro buku Laporan Pertama dari Pulau Buru karya Djamal Marsudi

Hampir empat tahun berdagang bahan bangunan, Lukas merasa menjadi pedagang bukanlah dunianya. "Saya menjadi ganas dan harus siap perang terus," katanya. Dia akhirnya memutuskan menjual tiga truk yang dimilikinya, dan kembali ke habitatnya menjadi guru. Tapi alih profesi itu tak berjalan mulus. Sebagai eks tahanan politik, ia tak diizinkan oleh aparat keamanan bekerja di bidang yang berhubungan dengan masyarakat.

Tapi Lukas tak putus akal. Menjelang ujian sekolah, dia mendekati Komandan Rayon Militer tempatnya biasa melapor. Ia menawarkan diri untuk memberikan les privat kepada anak si komandan yang masih duduk di sekolah menengah pertama. Dalam perjalanannya kemudian, Lukas mendapat kepercayaan mengajar anak-anak keluarga tentara lainnya. Dalam sepekan, setiap sore dia bisa mengajar di tiga tempat berbeda dengan jumlah murid hampir 20 orang. Aktivitas mengajar privat dilakukannya sampai tahun 2000.

Saat liburan panjang sekolah tiba, Lukas memanfaatkannya untuk membantu sastrawan Pramoedya Ananta Toer menyelesaikan buku-bukunya. "Saya bantu bikin kronik kliping surat kabar, buku-buku yang belum diedit saya baca lagi," ujarnya.

Eh, romo itu bilang, 'Dasar komunis!'"

Lukas lalu aktif di Yayasan Penelitian Korban Kekerasan dan Pembunuhan (YPKP) 65 sebagai sekretaris jenderal untuk wilayah Jawa Timur. Atas permintaan Pram sebagai pendiri YPKP, ia diminta membantu Sulami Djoyoprawiro menjalankan yayasan di Jakarta. Mereka dilantik di depan Danielle Mitterrand, istri mantan Presiden Prancis Francois Mitterrand, pada awal September 2000. Daniella adalah Presiden France Libertés, sebuah lembaga hak asasi manusia.

Keberadaan Lukas di YPKP 65 tak lama. Perbedaan pandangan soal organisasi membuatnya berseteru dengan Sulami. Lukas akhirnya dipecat dari YPKP 65. "Saya itu idealis. Jadi saya berusaha menerapkan teori organisasi dalam praktek," katanya. Dia lantas kembali ke kota asalnya. Tak lama, ia bergabung dengan lembaga usaha pengembangan bidang pertanian milik salah satu yayasan sekolah Katolik di Malang. Dia membantu menanam bunga krisan di Pasuruan, Jawa Timur, dan Bali.

Peta proyek resettlement Pulau Buru
Foto: Repro buku Laporan Pertama dari Pulau Buru karya Djamal Marsudi

Karakternya yang keras kerap membuatnya berbeda pendapat dengan pimpinan yayasan. Ia misalnya menentang keputusan yayasan membeli lahan baru dengan memakai uang koperasi karyawan. "Eh, Romo itu bilang, ‘Dasar komunis!’” Lukas pun meradang dibuatnya dan keluar dari yayasan tersebut keesokan harinya.

Tapi Gusti Allah mboten sare. Ketika Lukas dalam kondisi tak menentu itu, Dia mengulurkan tangan lewat Ribka Tjiptaning, yang orang tuanya disebut-sebut terlibat dalam Gerakan 30 September.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.