INTERMESO
Batman Vs Superman
“Gua lebih suka Batman karena lebih manusiawi.... Gua ngeliatnya anti-hero.”
Foto: HitFlix
Senin, 28 Maret 2016That's how it starts. The fever, the rage, the feeling of powerlessness that turns good men... cruel.”
Barangkali kata-kata Alfred Pennyworth di atas benar adanya. Bahkan Superman dan Batman pun manusia biasa yang bisa gelap mata. Bisa merasa tak berdaya. Tapi lantaran hal itulah, lantaran superhero juga punya sisi lembek, barangkali yang membuat mereka dicintai.
“Gua lebih suka Batman karena lebih manusiawi.... Gua ngeliatnya anti-hero. Orang biasa yang enggak punya kekuatan apa-apa,” kata Galih Aristo, 34 tahun, pendiri Gotham Citizen Club. Galih terpikat pada The Dark Knight bukan lantaran film trilogi yang disutradarai Christopher Nolan. Dia suka Batman setelah bermain game Arkham Asylum.
Kadang pula, suka superhero seperti Superman tak perlu banyak alasan dan tak usah pakai pertimbangan rumit. Suka ya suka saja. Titik. Trisandita Syavira, 20 tahun, misalnya. Dia mengaku sudah lama sekali jatuh cinta pada Clark Kent. “Pertama melihat Superman, wow… keren, ya,” kata Trisandita. “Aku dulu histeris dengan lambangnya.... Mungkin karena lambangnya huruf S, sama kayak namaku.”
Bagi sebagian orang, cinta superhero ini dimulai sejak masih kecil dan terus dibawa sampai tua. Ryo Satryo Diposayoga, kini sudah 41 tahun, kenal Superman sejak masih belum bisa membaca. “Sebagai seorang anak, melihat orang bisa terbang ya pasti senanglah. Apalagi warna kostumnya mencolok, biru-merah. Belum lagi Superman sangat kuat,” kata Ryo, pendiri Superman Fans of Indonesia.
Bagi Galih atau Ryo, barangkali juga tak penting-penting amat ketika Batman dan Superman harus berkelahi dalam film Batman Vs Superman: Dawn of Justice, siapa yang jadi pemenangnya. Mereka lebih tertarik menikmati filmnya dan selanjutnya, serahkan saja kepada sang sutradara, Zack Snyder, untuk menentukan akhir cerita.
Resep mengadu Batman dan Superman ini rupanya sangat mangkus menjaring penggemar superhero. Sampai Ahad kemarin, angka-angka yang terus mengalir memberikan kabar gembira untuk DC Comics. Dalam sepekan saja, sudah ada US$ 424 juta atau Rp 5,6 triliun hasil penjualan tiket Dawn of Justice dari seluruh dunia.
Robin Rosenberg sudah lama meneliti mengapa kita tergila-gila pada superhero. Dr Robin berulang kali jadi pembicara di televisi dan sejumlah kampus di Amerika Serikat soal psikologi superhero. Menurut Dr Robin, penggemar superhero butuh sesuatu yang baru.
Anggota penggemar Batman, Gotham Citizen Club
Foto: Muhammad Danial
Trisandita Syavira, salah satu penggemar Superman
Foto: Fakhriyani Shafa
Pernak-pernik terkait Superman
Foto: Fakhriyani Shafa
Di komik, pertarungan di antara superhero bukan hal baru. Tapi, di layar bioskop, baru kali ini Batman berkelahi melawan Superman. “Sungguh membosankan menyaksikan superhero melawan para penjahat sepanjang waktu.... Jadi apa lagi yang lebih menarik ketimbang konflik di antara superhero?” kata Dr Robin kepada MTV. Menyaksikan dua jagoan bertarung, menurut dia, seperti mengintip drama tokoh-tokoh politik atau orang-orang ngetop dalam kehidupan sehari-hari.
* * *
Di balik Superman yang dahsyat, ada Jerry Siegel dan Joe Shuster. Keduanya manusia biasa, sama-sama keturunan Yahudi dari keluarga miskin. “Joe adalah karbon kopi dariku,” kata Jerry kepada Nemo pada 1982.
Saat masih di bangku sekolah dasar, Jerry yang pendek dan berkacamata adalah murid yang pemalu dan canggung. Bukan cuma sering jadi bahan olok-olok teman-teman sekolah, dia juga jarang diperlakukan dengan manis oleh gurunya. Suatu kali, Jerry minta izin ke luar kelas untuk buang air kecil.
“Tidak,” jawab sang guru. Mungkin dia mengira Jerry hanya berpura-pura. Bocah itu, yang memang sudah kebelet pipis, tak sanggup lagi menahan berkemih. Dia ngompol di atas kursinya dan jadi ledekan teman-temannya. “Keluar dari kelas dan pulang ke rumah,” ibu gurunya menyuruh Jerry. Puluhan tahun kemudian, Jerry masih terus mengingat kejadian itu. “Aku masih bisa merasakan bagaimana jadi seorang korban,” kata Jerry.
Berita Joanne Siegel
Foto: JimNolt
Tak cuma sekali Jerry jadi bahan olok-olok. Setelah naik kelas dan badannya tumbuh makin besar, dia masih terus dirisak (bully). “Siegel... Seagull,” teman-temannya mengolok. Jerry makin ciut melihat angka-angka ujiannya yang lebih sering mendapatkan nilai D, bahkan F. “Aku tak pernah meminta bentuk fisik seperti ini. Bukan aku yang memahat hidungku, bukan aku yang mencetak daguku,” Jerry menulis seperti dikutip Salon. Berkhayal dan melamun jadi pelariannya dari dunia nyata.
Superman alias Clark Kent adalah impian mereka, sekaligus mimpi Jerry Siegel dan Joe Shuster. “Saat di SMA, aku membayangkan suatu hari akan bekerja sebagai wartawan,” kata Jerry. Sama seperti sosok Clark. Dia berkacamata, agak pemalu, dan wartawan untuk harian Daily Planet.
Jalan hidup Clark juga mirip dengan Jerry. Mereka sama-sama kehilangan ayahnya saat masih sangat belia. “Ada hubungan di sini... kehilangan ayah menjadi sumber inspirasi Superman,” kata Gerard Jones, penulis buku Men of Tomorrow: Geeks, Gangsters and the Birth of the Comic Book.
Superman dan Lois Lane dalam film Man of Steel (2013)
Foto: Wikipedia
Jerry tak jauh-jauh mencari sumber inspirasi untuk “peran utama” perempuan dalam Superman: Lois Lane. Dia adalah Joanne Kovacs. Gadis itu sempat menjadi model untuk si tukang gambar, Joe Shuster. “Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengan Jerry di kamar Joe. Dia adalah model untuk Superman. Dia berdiri di sana bergaya seperti Superman hendak terbang,” kata Joanne. Pada 1948, Joanne dan Jerry menikah.
Ibunya, menurut Laura Siegel Larson, putri pasangan Jerry-Joanne, bukan cuma model fisik bagi Lois Lane. “Sejak pertama kali ayah bertemu dengan ibuku, karakter dialah yang disuntikkan ke dalam sosok Lois Lane.... Ibuku orang yang gigih, bersemangat, dan berani,” kata Laura kepada Los Angeles Times. Persis seperti Lois Lane.
Reporter: Muhammad Danial, Fakhriyani Shafa (magang)
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.