INTERMESO
Di lingkungan masyarakat Ujungberung yang religius, ratusan grup band metal berdiri. Mandiri berkat bisnis kreatif.
(Dari kiri) Ramdan, Andris, Vicky, Agung, Eben
Foto: dok. Burgerkill
Rasanya azan magrib belum lama terngiang di telinga ketika sekelompok pemuda berbaju hitam memasuki Studio Extend di Ujungberung, Bandung, Kamis, 25 Februari, malam. Tak lama berselang, suara gitar melengking-lengking berpadu dengan gebukan drum yang cepat. Dari ruang kontrol yang berbatas kaca, tiga remaja khusyuk mengamati band yang sedang berlatih itu. "Ujungberung memang surga musik metal," kata Chairul Imam, satu dari tiga pemuda itu, kepada detikX
Kesadaran itulah yang mendorong dia bersama Fajar Zulvikar dan Bisma Bayu berniat merekam album pertamanya di Studio Extend. Mereka, yang tergabung dalam band metal Heugard, masih berstatus pelajar sekolah menengah atas di Subang, sekitar 70 kilometer dari Bandung. "Bukannya di Subang enggak ada studio, tapi Ujungberung tempatnya kokolot (sesepuh) musik underground," kata Imam. "Jadi sekalian belajar."
Mereka merekam lagu-lagu dengan biaya sendiri, mendistribusikan sendiri. Pokoknya semua do it yourself."
Penulis buku Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur, Iman Rahman Angga Kusumah, menduga musik metal pertama kali masuk dan berkembang di kawasan itu pada akhir 1980-an. Kehadiran Guns N’ Roses, Metallica, dan Bon Jovi, yang amat digemari di Indonesia, menjadi pemicunya. Band beraliran musik supercepat dan berisik itu bermunculan di Ujungberung pada 1990, seperti Orthodox, Funeral, Necromancy, dan Jasad. Grup musik ini memainkan lagu band metal dari luar negeri, seperti Napalm Death, Sepultura, dan Megadeth.
Iman alias Kimung, yang saat itu masih di bangku sekolah menengah pertama, terkagum-kagum melihat penampilan Jasad saat manggung dalam sebuah festival musik rock di alun-alun Ujungberung. "Saya masih ingat alun-alun dipenuhi pemuda gondrong berpakaian hitam-hitam," katanya.
(Dari kiri) Ferly, Rohman, Yuli Darma, Abaz
Foto: dok. Jasad
Uniknya, perkenalan para pionir musik metal di Ujungberung berawal dari tren radio amatir di lingkungan anak muda saat itu. Mereka berbincang mengenai musik, saling tukar informasi, dan akhirnya bertemu, membuat band, dan membangun komunitas. Komunitas ini menamakan diri Bandung Death Metal Area atau Bedebah, dan sempat menjadi program siaran radio Salam Rama Dwihasta di Suka Asih pada 1992-1993. Pada akhir 1993, berdiri Studio Palapa milik Memet Sjaf untuk berlatih musik. "Studio itu awalnya untuk latihan dangdut," ujar Kimung.
Tapi, melihat banyak studio yang menolak band metal dengan memasang stiker "No Underground", Memet justru membuka pintu. Dia sepertinya punya naluri yang kuat melihat potensi anak-anak muda di Ujungberung. Studio Palapa pun kemudian menjadi semacam kawah candradimuka hingga melahirkan band besar dengan musikus jempolan serta para kru yang solid. Studio ini pulalah yang kemudian merilis kaset metal pertama di Indonesia.
"Mereka merekam lagu-lagu dengan biaya sendiri, mendistribusikan sendiri. Pokoknya semua do it yourself," kata Kimung. Dari 10 band independen di Indonesia yang tercatat majalah Hai pada 1995, tiga di antaranya berasal dari Ujungberung, yakni Sonic Torment, Jasad, dan Sacrilegious.
Kelak dari studio ini juga muncul band Burgerkill. Pionir band metal Indonesia di festival internasional ini didirikan Kimung, Ariestanto atau Eben, Ivan, dan Dadan. Pada 1998, tercatat ada 20 band metal aktif di Ujungberung. Satu dekade kemudian tumbuh menjadi 300-an band. Namun yang aktif mengeluarkan album hanya sekitar 50 band. "Siapa sangka, di wilayah yang masyarakatnya religius ini bisa tumbuh band metal sebanyak itu dan bisa hidup berdampingan," kata Kimung, mantan basis Burgerkill.
Guru besar ilmu filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Profesor Bambang Sugiharto, menilai musik metal di Ujungberung berkembang karena secara umum masyarakat di sana merupakan kaum tersisih. Dalam ketersisihan itu, mereka harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup. Akhirnya muncul sifat-sifat agresif, dan agresivitas itu tersalurkan lewat musik metal. “Itu kemudian menjadi energi yang memacu mereka di bidang musik,” ujarnya.
Para musikus metal di Ujungberung juga kemudian lebih berkonsentrasi pada kualitas musikalitasnya, bukan isu pemberontakan terhadap tatanan sosial, sehingga pemuda-pemuda masjid pun bisa bergabung. Bambang melanjutkan, hal lain yang sangat menarik adalah kedekatan mereka dengan budaya tulis-menulis. Sebab, beberapa pentolannya adalah sarjana yang cerdas dan intelek.
“Mereka mampu melahirkan buku-buku dan film bagus. Mereka mandiri bukan dengan mengamen, tapi entrepreneurship. Merintis bisnis-bisnis kreatif berupa clothing dan album,” katanya.
Upaya menggabungkan musik metal dengan penggalian alat musik tradisi, seperti karinding, menurut Bambang, membuat musik metal bisa menjadi sangat “nyunda” di tangan mereka. Mereka juga mampu menjalin jejaring musik metal dunia bukan hanya pada level performance, tapi juga pada level intelektual dengan menjadi pembicara di konferensi-konferensi internasional soal musik metal.
Burgerkill
Foto: dok. pribadi
* * *
Poster besar sejumlah band metal terpampang berdampingan dengan kaligrafi “bismillah” pada dinding hijau Pisces Studio. Di ruang tunggu hanya ada empat bangku panjang dari bambu. Sedangkan di pojok ruangan ada pemanas air dan lemari pendingin yang mati. Pintu masuknya tak lebih tinggi dari badan orang dewasa, sehingga siapa pun yang mau masuk harus menundukkan kepala. Tapi studio sederhana ini pernah menjadi markas sejumlah grup band metal Ujungberung, seperti Jasad dan Burgerkill.
Mereka mandiri bukan dengan mengamen, tapi entrepreneurship. Merintis bisnis-bisnis kreatif berupa clothing dan album.”
Sebagian besar musikus metal dari Ujungberung menganggap studio milik Dani "Papap" Kadarusman itu titisan dari Studio Palapa. Soalnya, sebagian besar peralatan Studio Palapa dijual kepada Papap pada Februari 1997. Papap pernah selama 17 tahun menjadi drumer band Jasad. Kini dia membentuk band baru: Dismemberment Torture. "Sebelum punya studio sendiri, Burgerkill dalam seminggu beberapa kali latihan di sini. Begitu juga dengan Jasad," ujar Papap.
Suasana ruang tamu di Pisces Studio, Ujungberung
Foto: Pasti Liberti M./detikX
Burgerkill kini punya studio sendiri di kawasan Turangga, Buah Batu, Bandung. Lokasinya persis di samping kediaman Eben, gitaris Burgerkill. Komunitas metal di Bandung, kata dia, sempat mengalami berbagai masa sulit. Mulai tak mendapat tempat di media, ancaman dari kelompok agama garis keras, larangan manggung, sampai stigma kekerasan yang melekat pada musikus dan penggemar musik metal.
Semua itu justru membuat komunitas metal Ujungberung melalui Extreme Noise Grinding dan kemudian menjadi Ujungberung Rebels kreatif. Mereka menggagas terobosan dengan mengadakan festival sendiri: Bandung Berisik. Juga merintis media dan mendirikan perusahaan rekaman sendiri. "Perjalanan main musik metal di Indonesia itu tidak mudah, industrinya belum jadi. You have to build your own economy dan itu tidak mudah, bangun jaringan sendiri," kata Eben kepada detikX di kediamannya Jumat, 4 Maret.
Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan
kekinian.