INTERMESO

Dari Ujungberung ke Pentas Eropa

Kerap dilarang manggung di kota sendiri, Burgerkill dan Jasad akhirnya “ngamen” ke sejumlah kota di Indonesia. Juga menjadi trigger untuk go international.

Foto: YouTube
Selasa, 29 Maret 2016

Pada 9 Februari 2008, sebelas penonton tewas saat band metal Beside menggelar konser peluncuran album Against Ourselves di gedung Asia-Africa Culture Center. Akibatnya, selama dua tahun Pemerintah Kota Bandung melarang festival band musik metal. Alih-alih mematikan kreativitas semua anggota komunitas musik underground di sana, larangan itu justru melecut semangat mereka melahirkan terobosan.

Hasilnya, band Jasad dan Burgerkill malah kerap diundang tampil di kota-kota lain di seantero Nusantara. Bahkan, "Larangan itu justru menjadi trigger Burgerkill untuk go international,” kata Eben, gitaris Burgerkill.

Pada 2009, ia dan kawan-kawan diundang manggung di Soundwave Festival, Australia. Tahun berikutnya, mereka kembali tampil untuk Big Day Out Festival di Negeri Kanguru. Sementara itu, band Jasad terpilih untuk tampil di Thailand dan Malaysia. Pada akhir Juli 2015, Burgerkill tampil di Wacken Open Air di Jerman. Wacken Open Air merupakan festival musik metal terbesar dan tertua di dunia. "Festival itu sudah 26 tahun. Berlangsung empat hari. Penontonnya setiap hari kira-kira 80 ribu orang. (Tiket) sold out setiap hari," ujar Eben.

Presiden Jokowi memakai kaus Napalm Death saat kampanye. Jika benar fans Napalm Death, Jokowi seharusnya tak mendukung hukuman mati."

Seminggu kemudian, Burgerkill bersama Jasad manggung di Bloodstock Open Air di Derbyshire, Inggris. Jasad baru saja tampil di Obscene Extreme di Republik Cek. Tur di Eropa, Burgerkill dan Jasad membawa bendera "Bandung Blasting". "Dua band, satu kota, satu negara, datang main di satu festival. Itu kan jarang terjadi," ujar Eben. "Itu yang menjadi jawaban keraguan orang-orang tentang musik ini."

Video: Burgerkill TV

Prestasi-prestasi itu merupakan alat untuk menepis stigma kekerasan yang biasa dialamatkan kepada komunitas musik metal. Sebab, band metal sebenarnya merupakan band yang menghargai hak asasi manusia.

Dalam wawancara dengan majalah metal terbesar Metal Hammer pada 23 Juni 2015, Eben menunjukkan Napalm Death sebagai salah satu band yang menentang diberlakukannya hukuman mati. "Presiden Jokowi memakai kaus Napalm Death saat kampanye. Jika benar fans Napalm Death, Jokowi seharusnya tak mendukung hukuman mati," katanya. Ia pun mafhum jika stigma tersebut akan terus melekat. "Memang harus diakui, extreme music for extreme people," ujar Eben. "Not for ordinary people."

Namun vokalis band Jasad, Muhamad Rohman alias Man “Jasad”, tak ingin menepuk dada. Ia bahkan ogah kiprah band-nya, yang beraksi membawa Merah Putih, disebut telah mengharumkan nama Indonesia di kancah musik metal. "Kami bukan jualan parfum di sana. Lebay (berlebihan) sebutan itu di tengah kita yang bau kelek (ketiak) ini," ujarnya berseloroh dalam jumpa pers di Kafe The Panas Dalam, Bandung, 14 September 2015.

Para personel band Jasad.
Foto: dok. pribadi Jasad

Terbentuk pada Mei 1995, personel Burgerkill semula terdiri atas Eben, Ivan, Kimung, dan Dadan. Nama Burgerkill merupakan pelesetan dari nama restoran makanan siap saji asal Amerika, Burger King. Pada awal 1997, mereka merilis single pertama lewat underground phenomenon Richard Mutter, yang merilis kompilasi CD beberapa band Bandung.

Pada awal 1999, mereka mendapat tawaran dari perusahaan rekaman independen Malaysia, Anak Liar Records. Hasilnya, bersama band Infireal asal Malaysia dan Watch It Fall dari Prancis, meluncur album Three Ways Split. Tahun berikutnya, Burgerkill merilis album perdana mereka dengan judul Dua Sisi oleh Riotic Records. Juga merilis single Everlasting Hope Never Ending Pain lewat album kompilasi Ticket to Ride.

Sedangkan Jasad, yang berdiri sejak 1990 dengan formasi awal Yuli, Tito, dan Faried, ada yang menganggap grup band ini sebagai ikon suksesnya sebuah akulturasi antara budaya Barat dan lokal. Merekalah yang meretas penyisipan unsur budaya Sunda di antara “kebrutalan” dan kebisingan musik metal.


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo setelah menyaksikan konser Guns N' Roses di Ancol, Jakarta Utara, 16 Desember 2012.
Foto: dok. detikcom


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa, Sudrajat
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.