image for mobile / touch device
image 1 for background / image background
image 2
image 4

INTERMESO

Mimpi Berhijab Seorang Balerina

“Jika orang lain berhak mengenakan pakaian serbaterbuka, aku juga berhak memakai busana tertutup.”

Foto: dok. Stephanie Kurlow

Jumat, 18 Maret 2016

Di beberapa negara, menjadi seorang muslim memang bukan urusan gampang. Apalagi jika punya cita-cita menjadi balerina, tapi sekaligus ingin menjadi seorang muslimah yang taat.

Di Texas, Amerika Serikat, ada Hiba Awad, di Sydney, Australia, ada Stephanie Kurlow. Kedua remaja muslimah ini bercita-cita jadi balerina. “Aku sudah menari sejak umur 2 tahun.... Menari selalu menjadi bagian penting dari hidupku,” kata Stephanie, kini 14 tahun, kepada Refinery29.

Video: YouTube

Ayahnya asli Australia, sementara ibunya keturunan Rusia, negara yang kondang dengan Balet Bolshoi-nya. Selama bertahun-tahun, Stephanie berlatih balet dan menari bersama Riverside Theatre. Tapi masalah datang saat Stephanie memeluk Islam pada 2010. Hijab yang dia kenakan tak mendapat tempat di Riverside.

Hijab dan balet memang dua dunia yang belum pernah bertemu. Padahal Stephanie tak ingin meninggalkan balet. “Menari seperti terbang untukku. Dia membuatku merasa bebas,” kata Stephanie kepada NewYorkDailyNews beberapa pekan lalu. “Tapi aku juga ingin tampil sederhana dan menjaga harga diri.... Hijab merupakan bagian dari diriku dan mewakili bagian indah dari agama yang aku cintai.”

Aku percaya, hijab hanya menutupi tubuhku, tapi tidak pikiran, hati, dan bakat."

Stephanie Kurlow

Gara-gara urusan hijab ini, Stephanie sempat berhenti menari, libur dari balet. Pada 2012, ibunya mendirikan Australian Nasheed & Arts Academy. Di akademi ini, anak-anak berlatih balet, bela diri, dan seni Aborigin, dengan gaya busana macam apa pun.

“Di sini, tak ada orang bertanya mengapa seorang anak mengenakan pakaian seperti apa pun.... Jika orang lain berhak mengenakan pakaian serbaterbuka, aku juga berhak memakai busana tertutup. Aku percaya, hijab hanya menutupi tubuhku, tapi tidak pikiran, hati, dan bakat,” kata Stephanie.

Foto: dok. Stephanie Kurlow via Instagram

Foto: dok. Stephanie Kurlow via Instagram

Foto: dok. Stephanie Kurlow via Instagram

Sejak akhir Januari lalu, lewat situs LaunchGood.com, Stephanie menggalang dana sebesar Aus$ 10 ribu atau Rp 100 juta supaya dia bisa menempuh sekolah balet. Sampai Kamis lalu, dia sudah mengumpulkan Aus$ 6.000. Jika sudah mengantongi ijazah balet, Stephanie berniat mendirikan sekolah balet di Sydney untuk semua orang dari semua agama.

“Aku tak mau perlakuan diskriminatif menghalangi seseorang menjadi berbeda dan mengejar mimpinya,” kata Stephanie. “Aku yakin, suatu hari nanti semua anak akan punya kesempatan untuk menjadi atau menciptakan sesuatu, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai dan keyakinannya.” Menjadi seorang muslim atau muslimah, kata Stephanie sepenuh hati, tak harus menghalangi seseorang menjadi apa pun.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.