INTERMESO

Mereka Muslim, Mereka Pilih Donald Trump

“I’m a muslim and I love you.... You're the next President.”

Senin, 14 Maret 2016

Hampir seperempat abad lalu, Mike Tyson, mantan juara dunia tinju kelas berat, dijebloskan ke penjara lantaran terbukti memperkosa Desiree Washington. Sejak hari itu, Tyson tak pernah bisa kembali ke puncak kejayaannya.

Di penjara—karier Tyson yang tengah terjun bebas ke dalam jurang—menemukan Islam. “Aku bersyukur menjadi seorang muslim.... Allah tidak membutuhkanku, tapi aku butuh Allah,” kata Tyson, kepada FoxNews, beberapa tahun lalu. Sudah sekian lama Tyson berkawan dengan Donald Trump, triliuner properti yang kini tengah bersaing menjadi calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik.

Sebagian besar pertarungannya di atas ring tinju, menurut Tyson, digelar di hotel atau kasino milik Trump. Tapi bukan itu yang menjadikan Trump kawan baiknya. “Dengar... aku keturunan kulit hitam brengsek dari bagian paling miskin di kotaku. Tapi, saat kami bertemu, dia menyalamiku dan hormat kepada keluargaku. Tidak ada orang lain, bahkan Barack Obama sekalipun, melakukannya,” kata Tyson.

Trump terang-terangan memamerkan sikap anti-Islam dan tak peduli dicap rasialis."

Karena itu, tanpa ragu, Tyson siap memberikan suaranya untuk Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Dia tak peduli pada komentar-komentar miring Mister Trump terhadap Islam dan warga muslim Amerika. “Presiden Obama bilang dalam pidatonya bahwa muslim adalah pahlawan olahraga kita. Apa olahraga yang dia maksud dan siapa atlet itu?” Trump menulis di Twitter tiga bulan lalu.

Mungkin Donald Trump lupa, atlet muslim seperti Muhammad Ali, Hakeem Olajuwon, Shaquille O'Neal, dan Kareem Abdul-Jabbar pernah “bertarung” dan “berkeringat” untuk bendera Amerika. Trump terang-terangan memamerkan sikap anti-Islam dan tak peduli dicap rasialis.

Jika terpilih menjadi penguasa Gedung Putih, Trump berniat menutup pintu Amerika bagi imigran muslim. Tyson tak percaya Trump bakal sungguh-sungguh melarang imigran muslim datang ke Amerika. “Tak akan terjadi. Kongres tak akan mengizinkannya,” kata Tyson. Suara Mike Tyson terang tak mewakili suara muslim di Amerika. Tapi ternyata dia bukan satu-satunya muslim Amerika yang terpikat pada gaya Donald Trump.

Poster film Muslims are Coming, di stasiun bawah tanah New York.
Foto: Mike Segar/Reuters

Sebagai prajurit, Farhaj Hassan, 39 tahun, pernah dikirim berperang untuk Amerika di Irak. Tapi muslim Syiah yang taat ini juga pernah menggalang gugatan terhadap Kepolisian New York. Setelah serangan teroris pada 11 September 2001, Kepolisian New York terus memata-matai komunitas muslim di kota itu. Warga muslim Amerika, menurut Farhaj, mestinya tak boleh diperlakukan seperti seorang tersangka sebelum ada bukti kuat.

Pernah diperlakukan seperti tersangka teroris, anehnya, kali ini Farhaj malah mendukung Donald Trump. “Aku akan memilih Trump.... Siapa yang lebih baik dibanding seseorang yang tak punya kepentingan tertentu?” Farhaj, seperti dikutip IBTimes, memberikan alasan.

Padahal, di mata Farhaj, Donald Trump seperti “badut yang mengamuk” setiap kali berkampanye. Dia tentu punya kalkulasi bagaimana Donald Trump, yang begitu telanjang menunjukkan ketidaksukaan terhadap Islam dan warga muslim, jadi pilihan untuk Presiden Amerika mendatang. Tapi, dibanding Hillary Clinton, calon terkuat kandidat presiden dari Partai Demokrat, menurut Farhaj, Mister Trump masih lebih baik.

“Aku punya masalah lebih besar dengan kebijakan pro-Yahudi Hillary Clinton ketimbang retorika Donald Trump,” kata Farhaj. Seperti halnya Mike Tyson, Farhaj percaya sebagian besar pernyataan bombastis Donald Trump soal Islam hanyalah “jualan” masa kampanye dus tak akan pernah terlaksana.

* * *

Foto: Spencer Platt/Getty Images

Biarkan orang-orang terus mencaci, Donald Trump terus melontarkan pernyataan penuh prasangka terhadap Islam dan warga muslim.

“Aku pikir Islam membenci kita,” kata Mister Trump kepada Anderson Cooper, pembawa acara di CNN, beberapa hari lalu. Tapi, kata Trump, yang dia musuhi bukan semua muslim, tapi “hanya” muslim radikal. “Masalahnya, sangat sulit memisahkan mereka. Sebab, kita tak tahu muslim seperti apa seorang muslim itu.”

Meroketnya popularitas Mister Trump membuat cemas Ramadhan Saeed Shakir dan tetangga-tetangganya di Islamville, perkampungan muslim di South Carolina. “Tentu saja kami merasa tak aman dan tak nyaman,” kata Ramadhan, pemimpin kampung muslim itu. Padahal Ramadhan dan sebagian besar warganya adalah warga Amerika tulen. Mereka lahir dan tumbuh besar di Amerika. “Dia tak ada beda dengan Ku Klux Klan dan para bigot lainnya.”

Dia sering mengatakan hal-hal yang benar gila, dan aku berpikir, ‘Ya, Tuhan.’ Lalu Trump mulai menjelaskan dan semuanya terasa masuk akal."

Donald Trump, yang berjanji akan menjadikan “America great again”, memang punya gaya. Dia pengusaha kaya raya, dia juga kondang di layar televisi sebagai pembawa acara The Apprentice. “You're fired” adalah kalimat kondang Trump di televisi. Suka atau tak suka, gaya Trump yang sodok kanan, sodok kiri, sikut sana, hajar sini, ternyata disukai banyak orang di Amerika.

Hingga pekan ini, posisi Trump paling unggul di antara calon lain dari Grand Old Party, Partai Republik: Ted Cruz, Marco Rubio, dan John Kasich. “Dia sering mengatakan hal-hal yang benar gila, dan aku berpikir, ‘Ya, Tuhan.’ Lalu Trump mulai menjelaskan dan semuanya terasa masuk akal,” kata Teresa Collier, 65 tahun, kepada Washington Post.

Foto: Spencer Platt/Getty Images

Barangkali “retorika” itu pulalah yang ditelan warga muslim Amerika seperti Farhaj. Survei paling anyar Council on American-Islamic Relations (CAIR) terhadap 1.850 warga muslim Amerika menunjukkan, Hillary Clinton punya pendukung muslim terbesar, disusul lawan utamanya di Partai Demokrat, Bernie Sanders, yang keturunan Yahudi.

Di antara semua calon republiken, Donald Trump-lah yang paling populer di kalangan muslim. Lebih dari sepersepuluh responden menyatakan akan memilih Trump untuk kursi nomor satu di Gedung Putih. Saba Ahmed, 31 tahun, salah satunya. Pengacara hak paten dan pendiri Koalisi Muslim Republiken itu kini aktif berkampanye untuk Donald Trump. Absurd memang bagaimana mereka bisa memilih Donald Trump.

Protes anti-Trump di Kansas
Foto: Dave Kaup/Reuters

Saba mengaku kecewa berat terhadap Partai Demokrat dan Presiden Barack Obama. “Dulu warga muslim memberikan semua suaranya untuk Obama, tapi dialah yang gencar mengirimkan pesawat tanpa awak untuk menyerang Pakistan dan Afganistan,” kata Saba. “Kebijakan luar negeri Presiden Obama adalah bencana.”

Bagi muslim republiken, menurut survei CAIR, urusan ekonomi jauh lebih penting ketimbang urusan lain, bahkan fobia terhadap Islam sekalipun. Urusan perut inilah, kata Mohammed Elibiary, konsultan keamanan dan antiterorisme, yang dipercaya oleh komunitas muslim pendukung Partai Republik sebagai salah satu sumber kebencian terhadap Islam.

I’m a muslim and I love you.... You're the next President,” Elhamy Ibrahim, 62 tahun, berteriak dari bawah podium ke arah Donald Trump saat berkampanye di Pantai Myrtle, South Carolina. Pengusaha kelahiran Mesir ini percaya, Donald Trump bakal membuat ekonomi Amerika, yang bertahun-tahun lunglai, bisa kembali perkasa.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban


Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.